Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Masa Depan


__ADS_3

Siti pun dengan langkah tergesa-gesa menuju ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu. Tidak lama kemudian, Siti muncul diikuti oleh Rayan di belakangnya dengan sebuah tas kresek di tangannya.


"Rayan, ayo makan bareng sekalian," ajak Ardi.


"Terima kasih, Om. Niatnya sih mau ajak Prima buat makan di luar, ternyata masakan di rumah ini sepertinya enggak kalah enak," sahut Rayan yang seperti mau menolak, tetapi tergiur juga.


"Ya udah ngapain pakai mikir, makan saja yang sudah ada di depan mata. Kamu bawa apa tuh?" tanya Dewi.


Rayan duduk di kursi yang kosong. "Ini martabak, Tante. Ada martabak telur juga martabak manis. Prima bilang Tania enggak mau makan nasi," jawab Rayan.


"Biar Siti yang bawa ke atas, kamu mau makan nasi pakai apa?" tanya Dewi mengambilkan nasi dan lauk buat Rayan.


"Saya bisa ambil sendiri kok, Tante," tolak Rayan.


Mendengar namanya disebut, Siti kembali mendekat ke ruang makan. "Ada apa, Bu?" tanyanya.


"Tolong bawakan martabak ini untuk Mbak Tania ke kamarnya," suruh Dewi menyerahkan bungkusan kepada Siti.


"Baik, Bu," sahut Siti menerima bungkusan tersebut.


Siti pun berlalu meninggalkan ruang makan, naik ke lantai dua menuju ke kamar Tania. Tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, Siti mengetuk pintu langsung melangkah menghampiri Tania yang masih bersandar di sandaran ranjang sambil bermain dengan ponselnya.


"Mbak, ini martabak dari Mas Rayan," ucap Siti menyodorkan bungkusan yang dibawanya.


"Mas Rayan sudah datang?" sahut Tania setengah bertanya menerima pemberian dari Siti dan langsung membukanya dengan antusias.


"Iya, Mbak. Ayo dimakan mumpung masih hangat," timpal Siti yang melihat martabak tersebut terasa menggiurkan di lidah.


"Ayo ambil, Mbak Siti. Segini banyak aku pasti tidak bisa menghabiskannya. Emh ... Mbak Siti makan yang manis saja ya. Aku yang telur juga habis," ucap Tania dengan mulut penuh dengan martabak telur.


"Kalau Mbak Tania nggak mau martabak manisnya, mendingan Mbak Siti bawa ke bawah saja Mbak. Biar Mbak Siti makan bareng Mas Karim," usul Siti.


"O ... ya sudah ambil saja, Mbak. Aku makan martabak telur juga sudah kenyang kok," sahut Tania.


Dengan senang hati Siti mengambil sekotak martabak manis yang masih terbungkus rapi di dalam plastik kresek untuk dibawanya dimakan bersama sang suami tercinta, Karim.


"Terima kasih, Mbak Tania," ucap Siti.


Tania hanya mengangguk sebagai jawaban karena mulutnya sudah penuh dengan makanan. Ia menikmati martabak pemberian Rayan, sepertinya rasa mualnya sekarang lagi libur karena PPKM.


*****


Nadhif kembali memasukkan motornya ke halaman rumah itu. Lalu mengikuti langkah pak satpam.


"Maaf, Pak Ardan, ini pemuda yang anda maksud," ucap Pak Sam.


"Terima kasih, Sam. Kamu silakan kembali ke pos," ucap Ardan.


"Terima kasih, Pak," sahut Pak Sam lalu melangkah ke luar.


Sudah berbagai perasaan negatif berkecamuk di pikiran Nadhif. Apa yang akan dilakukan oleh pria paruh baya di depannya ini terhadapnya. Perasaan grogi juga ikut mendominasi. Ia menundukkan kepalanya, takut untuk memandang pria tersebut


"Silakan duduk, Nak!" ucap Ardan.

__ADS_1


Nadhif duduk di hadapan pria tersebut. "Terima kasih, Tu ... Pak Ardan?" sahut Nadhif yang nampak terkejut setelah melihat wajah pria tersebut. Ternyata pria paruh baya di depannya ini adalah dosen pembimbing skripsinya, yang sampai saat ini belum mau meng-ACC skripsi bab terakhirnya padahal menurut Nadhif sudah benar.


"Saya Ardan adik kandung Ardiansyah bos kamu di Ardimart. Bagaimana kabar kamu Nadhif?" Tanya Ardan dengan seutas senyum di bibirnya.


"Alhamdulillah sehat, Pak," jawab Nadhif. "Ternyata Aghni itu keponakan Pak Ardan?" imbuhnya setengah bertanya.


"Betul. Kamu sibuk sekali ya, hingga melupakan revisi skripsi kamu?" tanya Pak Ardan yang hampir mirip seperti sebuah kesimpulan.


"Begitulah, Pak. Pekerjaan saya di minimarket semakin banyak, hingga saya belum sempat memperbaiki skripsi saya," sahut Nadhif tersipu.


"Saya kasih kamu waktu satu bulan lagi. Jika dalam kurun waktu satu bulan ini kamu belum bisa merevisi skripsi kamu, dengan sangat terpaksa kamu harus mengulangnya dari awal dengan judul yang berbeda," ancam Pak Ardan.


"Iya, Pak. In sya Allah saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini,' sahut Nadhif pasti.


"Ya sudah, kamu masih ada tugas di minimarket 'kan? Silakan, kamu boleh kembali ke tempat kerja kamu," suruh Pak Ardan.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucap Nadhif mohon pamit. Ia langsung berdiri hendak ke luar. Namun, belum sempat ia melangkah.


"Loh Pak, tamunya kok sudah disuruh pulang? Terus teh ini mubazir dong," seru Bi Sumi dari arah dapur membawa nampan berisi teh manis dan camilan.


"Hahaha ... Nadhif, sepertinya kita ditakdirkan untuk ngobrol lebih lama lagi. Silahkan duduk kembali, Nak!" kelakar Pak Ardan meminta Nadhif untuk kembali duduk. Nadhif pun duduk kembali.


Bi Sumi meletakkan teh manis dan camilan yang dibawanya di meja. Lalu segera meninggalkan ruang tengah setelah mempersilakan.


"Diminum, Nak. Oh iya, kamu aslinya asal mana?" Tanya Pak Ardan mulai mengakrabkan diri.


"Saya dari Indramayu, Pak," jawab Nadhif setelah menyeruput teh hangat yang disajikan oleh Bi Sumi. "Apa Pak Ardiansyah juga aslinya berasal dari Bandung juga Pak?" tanyanya balik.


"Iya, beliau asli sini juga. Rumah ini juga warisan turun-temurun orang tua kami. Namun, dia mengadu nasib di Jakarta. Usahanya mulai berkembang setelah kelahiran Aghni, gadis yang kamu ikuti tadi," tutur Pak Ardan panjang lebar menjawab pertanyaan Nadhif.


"Ah, kamu ini penasaran sekali sama keponakan saya ya?" sergah Pak Ardan. Nadhif pun dibuat tersipu karena ketahuan kepo terhadap Aghni. "Dia itu mau tinggal sama saya karena melarikan diri dari perjodohan dengan pemuda pilihan papanya," tutur Pak Ardan melanjutkan.


Mendengar penuturan Pak Ardan bahwa Aghni sudah dijodohkan dengan seorang pemuda oleh papanya, seketika membuat hati Nadhif menciut, berarti ia sudah tidak punya kesempatan untuk mendekati gadis tersebut.


"Tapi kamu tenang saja, kemarin Aghni cerita sama saya, kalau Rayan tunangannya sudah melepaskannya minggu lalu, sebelum dia kembali ke sini," imbuh Pak Ardan.


Seketika hati Nadhif kembali menghangat.


"Tapi, apa kamu yakin orang tua Aghni akan menerima kamu sebagai menantunya? Secara kamu 'kan cuma seorang manager toko miliknya."


Pertanyaan Pak Ardan kembali membuat hati Nadhif menciut. "Saya juga tidak berpikiran ke arah situ kok, Pak. Saya baru bertemu dengan Aghni untuk pertama kalinya, setelah saya melihatnya saat pesta ulang tahun ARD's Corp waktu itu," sanggah Nadhif. "Maaf, Pak. Tehnya sudah habis, saya permisi. Tidak enak sama karyawan lainnya kalau saya terlalu lama meninggalkan toko," pamitnya.


"Iya, Nadhif. Silakan! Jangan lupa segera direvisi skripsi kamu!" ucap Pak Ardan mengingatkan.


"In sya Allah, Pak. Terima kasih atas waktunya," ucap Nadhif.


Nadhif meraih punggung tangan sang dosen lalu menciumnya. Pemuda itu kemudian keluar dari dalam rumah, menaiki motornya. Sebelum meninggalkan halaman, Nadhif menyempatkan diri memandang ke arah lantai dua, sebuah kamar dengan lampu masih menyala dan tampak tirai yang terbuka. Namun, ia tidak melihat seorang pun di sana.


"Tadi seperti ada orang di sana," gumamnya. Pemuda tersebut pun langsung tancap gas meninggalkan kediaman Pak Ardan.


Sementara setelah kepergian Nadhif, Pak Ardan menaiki anak tangga menuju ke kamar keponakannya. Di sana lampu sudah dimatikan dan Aghni sudah bergelung di dalam selimut. Pak Ardan duduk di sisi ranjang.


"Om tahu kamu belum tidur, orang barusan om lihat dari luar kamar lampu masih menyala," tebak Pak Ardan. Ia meraih remote control lalu dengan sekali tekan lampu kamar tersebut menyala kembali.

__ADS_1


Aghni pun menggeliat memandang ke arah omnya. "Om kenal dia?" tanyanya ambigu.


"Dia siapa?" tanya Pak Ardan pura-pura tidak tahu dengan pertanyaan Aghni.


"Orang yang Om interogasi barusan," sahut Aghni.


"Interogasi? Kata-kata kamu kok seperti menyamakan Om dengan polisi yang menanyai tersangka," sergah Pak Ardan.


"Terserah om deh mau bilang apa. Om kenal sama orang tadi atau tidak? Manajer Ardimart yang tadi ngintili Aghni," tanya Aghni lagi.


"Kamu tadi nguping pembicaraan om ya?" Pak Ardan malah balik menuduh Aghni.


"Ngapain pakai nguping orang om bicaranya juga keras-keras enggak bisik-bisik, di ruang tengah lagi enggak di ruang tamu, Tante juga pasti dengar," sanggah Aghni tersipu mencoba mengelak tuduhan omnya.


"Heleh ... Pasti nguping. Dia itu mahasiswa om yang lagi bimbingan skripsi. Kamu suka dia?" tanya Pak Ardan menatap tajam Aghni.


Aghni tidak menjawab. Ia hanya diam saja memainkan kuku-kuku jari tangannya.


"Dulu kamu menolak Rayan karena alasan ia umurnya jauh di atas kamu. Sekarang apa bedanya sama Nadhif? Umurnya sama, Rayan masih skripsi, Nadhif pun juga masih skripsi. Rayan anak orang kaya, sedangkan Nadhif cuma manajer toko milik papa kamu. Apa kamu yakin papa kamu bakal merestui?" tutur Pak Ardan panjang lebar diakhiri dengan pertanyaan.


"Kalau menurut Om dia orang baik, Aghni yakin papa pasti merestui. Dia cuma jadi manajer toko karena dia cuma lulusan SMA, tetapi sekarang dia 'kan lagi skripsi, bentar lagi S1. Apa Om lupa kalau mama dulu itu hanya seorang pembantu rumah tangga? Tetapi papa bisa menerimanya 'kan?" tutur Aghni mengeluarkan argumen nya. Pak Ardan mendengarkan perkataan keponakannya tersebut dengan seksama.


"Baiklah, Om akan dukung kamu," ucap Pak Ardan menghibur keponakannya. Aghni seketika tersenyum mendengarnya. "Heh, kamu jangan senang dulu!" sergahnya.


Aghni dibuat melongo oleh perkataan omnya. Baru saja hatinya dibuat melambung tinggi hingga ke angkasa, sekarang malah dijatuhkan lagi ke dasar sumur.


"Om akan beri dia beasiswa untuk kuliah S2 bahkan S3 kalau dia mau, ke luar negeri," tukasnya seketika mengikis senyum di bibir Aghni.


"Om kok gitu?" Aghni mengerucutkan bibirnya.


"Aghni, kamu ini masih SMA. Belum boleh cinta-cintaan. Masa depan kamu dan masa depannya masih panjang," timpal Pak Ardan.


"Hahaha ... Apaan? Belum boleh cinta-cintaan, tetapi sudah dijodoh-jodohkan," cebik Aghni mencibir.


"Cuma empat tahun, Aghni. Kalau prestasinya bagus juga bisa selesai lebih cepat," ucap Pak Ardan tanpa menghiraukan cibiran keponakannya.


"Kalau dia dapat cewek di luar negeri gimana?" tanya Aghni khawatir.


"Berarti dia bukan jodoh kamu, kamu harus terima itu." Pak Ardan menyimpulkan.


"Om ...." Aghni merajuk manja.


"Hahaha ...." Pak Ardan hanya menanggapi Aghni dengan tawa.


"Pa!" tiba-tiba seorang perempuan muncul di ambang pintu.


"Sebentar, Ma. Keponakanmu yang manja ini lagi jatuh cinta," seru Pak Ardan yang langsung mendapat pukulan di lengannya.


"Aduh, kamu boleh menyusulnya kuliah di luar negeri juga kok kalau kamu sudah lulus SMA," ucapnya Pak Ardan menghibur.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2