Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Hambar


__ADS_3

"Maaf, Pak, tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita sampai ke jenjang pernikahan," ucapnya dengan bulir air mata yang mulai menyeruak.


"Kenapa, Sayang? Apa tidak ada secuil pun rasa cintamu untuk Mas? Apa kamu merasa Mas ini terlalu tua untukmu? Atau karena Mas seorang duda? Kamu mau memilih calon suami yang sepantaran dengan kamu? Atau kamu mau kita menunda pernikahan sampai kamu lulus kuliah? Mas akan sabar menunggu kalau itu mau kamu," cecar Rasya. Nadia menggeleng tak kuasa menjawab.


Beberapa orang pelayan masuk untuk mengantarkan pesanan makanan mereka dan meletakkannya di meja di hadapan Nadia dan Rasya.


"Dah jangan nangis lagi, makan dulu. Kita lanjutkan nanti. Mas sudah lapar banget nih. Kamu juga pasti belum makan siang 'kan?" ucap Rasya diakhiri pertanyaan. Nadia menyeka air matanya seraya mengangguk.


'Bukan cuma makan siang, dari bangun tidur juga perutku belum kemasukan apa-apa.' Nadia cuma menjawabnya dalam hati.


Mereka menikmati makan siang kembali dalam diam, berkelana dengan pikiran masing-masing. Nadia mempercepat menghabiskan makanannya karena ingin segera menyampaikan maksudnya bertemu dengan Rasya saat ini.


"Lalu apa mau kamu sebenarnya hem?" Rasya bertanya dengan tidak sabar setelah makanannya habis.


Nadia mengumpulkan kekuatannya untuk berbicara. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan.


"Bapak belum pernah meminta aku langsung kepada kedua orang tuaku secara baik-baik, tetapi sekarang bapak sudah terlambat. Mamak sudah menerima khitbah dari seorang laki-laki untukku. Mamak bilang tidak bisa menolaknya," ungkap Nadia kembali menangis.


Pundak Rasya merosot turun seketika mendengar penuturan Nadia. Ia menggenggam erat telapak tangan gadis itu di atas meja. "Sayang, apa kamu tidak ingin memperjuangkan cinta kita? Aku akan bicara baik-baik sama Mamak kalau kita saling mencintai. Mamak pasti bisa mengerti," bujuknya.


"Mamak pasti akan menanggung malu jadi guncingan warga kalau sampai aku menolaknya, Pak. Aku juga tidak mau menjadi anak durhaka yang membangkang perintah orang tua," timpal Nadia.


"Mas mohon, jangan menyerah, Sayang. Kita akan hadapi sama-sama," pinta Rasya.


Nadia menarik tangannya lalu berkata, "Tidak, Pak. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak berjodoh. Saya cuma gadis miskin, tidak cocok bersanding dengan bapak yang orang kaya. Bapak juga tahu sendiri kalau saya perempuan yang mandul tidak bisa memberikan keturunan buat bapak kelak."


Rasya menghela napas berat. "Tapi Mas tidak mempedulikan semua itu, Sayang. Semua yang terjadi padamu Mas lah penyebabnya. Mas mohon jangan menyerah sebelum kita bicara baik-baik dengan Mamak. Mas yakin laki-laki itu belum mengetahui tentang kondisi kamu yang sebenarnya, dia pasti akan mengurungkan niatnya jika tahu bahwa sekarang kamu adalah perempuan yang, mandul," bujuknya panjang lebar.


"Aku akan menunggu hingga saat itu tiba, Pak. Saat dimana dia menolak ku, tetapi bukan aku yang menolaknya. Aku tidak mau membuat mamak sedih. Sebaiknya mulai sekarang kita menjaga jarak, karena Mamak melarang ku untuk berdekatan dengan laki-laki manapun kecuali mahram aku," timpal Nadia.


"Baiklah jika itu memang keputusan kamu, jika memang kita berjodoh pasti Tuhan punya cara lain untuk mempersatukan kita. Tapi Mas mohon, ijinkan Mas memeluk kamu untuk terakhir kalinya sebelum kita berpisah," pinta Rasya.


Nadia bangkit dari duduknya, begitupun Rasya. Mereka melangkah mendekati satu sama lain dan saling berpelukan. Nadia menangis sesenggukan di dada bidang laki-laki itu.


"Asal pak Rasya tahu, aku mencintai Bapak, tanpa memandang umur bapak lebih tua atau setara denganku. Tidak peduli status bapak seorang duda atau perjaka," ucap Nadia menyangkal tuduhan Rasya tadi.


Rasya mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala gadis itu. "Akhirnya kamu mengakuinya juga, Sayang, meskipun sudah terlambat," ucapnya. "Sudah jangan menangis lagi. Sebentar lagi kamu ujian semester, Mas enggak mau nilai kamu turun drastis hanya karena ini. Semoga semua akan baik-baik saja dan semoga hati Mamak luluh," imbuhnya sambil menyeka air mata di pipi gadis itu.


'Iya ya, kenapa aku jadi cewek cengeng gini sekarang, menangis gara-gara cinta?' tanya Nadia pada diri sendiri dalam hati.


Rasya mengurai pelukannya, ia menangkup kedua pipi gadis itu dengan telapak tangannya. "Senyum donk, jangan sedih lagi. Mas enggak mau lihat kamu sedih lagi. Kita akan tetap cari kebaya pengantin buat kamu. Entah dengan siapa pun kamu nanti akan menikah, kamu akan memakai kebaya tersebut," ucapnya menatap lekat-lekat wajah gadis di hadapannya. Nadia pun hanya menurut.


Setelah membayar tagihan pesanan makanan yang mereka makan, Rasya menggandeng tangan Nadia keluar dari ruang makan menuju ke tempat ia memarkirkan motornya. Kemudian mengajaknya ke sebuah butik yang menyediakan baju-baju pengantin dan pesta.


Sesaat Nadia nampak ragu untuk masuk ke dalam butik tersebut saat ia turun dari atas motor di area parkir.


"Ayo!" ajak Rasya seraya menggandeng kembali tangan gadis tersebut.


"Pak Rasya yakin?" tanya Nadia masih di selimuti keraguan. "Nanti kalau enggak kepakai 'kan mubazir, Pak," imbuhnya sambil melangkah.


"Kalau seumpama tidak kepakai, kamu bisa jual lagi," jawab Rasya enteng.

__ADS_1


Seorang pelayan butik menyambut kedatangan mereka. "Selamat datang, Mas dan Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" ucapnya pada Rasya dan Nadia.


"Kami sedang mencari kebaya pengantin, Mbak," jawab Rasya.


"Mau yang model klasik ataukah yang modern?" tanya pelayan butik lagi.


"Bisa kita lihat modelnya seperti apa, Mbak?" Tanya Nadia ikut nimbrung.


"Mari silakan duduk." Pelayan itupun mempersilakan mereka untuk duduk dan menyodorkan dua buah buku katalog butik mereka. "Ini contoh desain kebaya pengantin modern dan yang ini contoh desain kebaya pengantin klasik, Mbak. Silakan dilihat-lihat. Jika tidak ada model yang cocok di hati Mbak kami bisa membuatkan rancangan baru sesuai keinginan Mbak," tuturnya panjang lebar.


"Mbak, kalau pesan kebaya pengantinnya saja tanpa beskap, tetapi ditambah kain jarik sama sarungnya sarimbit adakah?" Tanya Rasya.


"Ada, Mas. Mau pakai tenun songket atau batik?" Tanya pelayan lagi.


"Boleh lihat contoh yang batik, Mbak?" tanya Rasya lagi.


Sang pelayan butik kembali mengambilkan buku katalog. "Ini katalog yang motif batik, Mas. Selain batik khas Betawi, kami mengambil batik canting dari berbagai daerah seperti Cirebon, Pekalongan, Solo, Jogja dan Tuban," ucapnya seraya menyodorkan sebuah buku.


Rasya meraih buku katalog tersebut dan membuka halaman demi halaman. "Saya pilih ini, Mbak," ucapnya sambil menunjuk motif batik yang dipilih.


"Baik, akan saya ambilkan," ucap pelayan tersebut. "Kebayanya jadi yang mana, Mbak?" tanyanya beralih pada Nadia.


"Aku pilih yang ini, Mbak," jawab Nadia seraya menunjuk gambar kebaya pilihannya.


"Baik, silakan ditunggu ya, Mas, Mbak," timpal pelayan butik.


Sambil menunggu pelayan butik menunggu pelayan butik mengambilkan kebaya dan kain batik yang mereka pesan, Nadia merogoh ponselnya. Membuka WhatsApp messenger lalu menulis status di aplikasi tersebut.



"Hah, hidupku, pahit enggak manis enggak," jawab Nadia.


"Sini pandang Mas, pasti akan terasa manisnya," goda Rasya. Nadia pun menoleh ke arahnya dan mendapati wajah tersenyum manis sang dosen.


"Mana?" tanya Nadia pura-pura.


"Sini lebih dekat lagi," suruh Rasya.


Nadia pun hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Namun, karena tak sabar menunggu, Rasya pun menarik tengkuk Nadia dan mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. Nadia terbelalak mendapatkan serangan yang tiba-tiba tersebut. Ia hanya bisa diam dan pasrah atas perlakuan duda tampan tersebut.


"Ehmm ... Ehmmm ...."


Tiba-tiba pelayan butik tadi telah berada di dekat mereka dengan kain batik di tangan kiri serta baju kebaya pengantin yang tergantung pada sebuah hanger di tangan kanannya. Nadia terpaksa mendorong tubuh Rasya untuk melepaskan ciumannya. Pipinya nampak memerah karena malu telah melakukan sesuatu yang tidak pantas di tempat umum. Namun, tidak demikian dengan Rasya, ia malah tersenyum puas menanggapinya.


"Maaf, ini kain dan kebayanya. Silakan dicoba, Mbak. Jika ada yang kurang pas, kami bisa langsung memperbaikinya," ucap pelayan butik nampak terlihat rikuh.


Nadia bangkit secepat kilat, menyerobot hanger kebaya yang diberikan si pelayan butik dan melangkah masuk ke dalam dengan tertunduk. Namun, sampai di dalam ia tidak tahu kamar pasnya berada di mana. Ia belum sempat menanyakannya kepada pelayan butik tadi. Aduh!


"Mbak, kamar pasnya dimana ya?" tanya Nadia pada seorang perempuan yang kebetulan lewat.


"Oh itu, kamar pas, Mbak," jawab perempuan tadi menunjuk sebuah pintu ruangan.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Nadia.


"Sama-sama, Mbak."


Nadia melangkah masuk menuju ke ruangan yang ditunjuk perempuan tadi, membuka pintu, melangkah masuk dan menutupnya kembali. Di depan cermin yang besar ia melepas blus yang ia pakai, mengganti dengan manset dalaman kebaya dan menutup tubuhnya dengan kebaya tersebut.


Nadia mengamati tubuhnya di cermin memindai kebaya yang ia pakai di tubuhnya lalu keluar dari kamar pas untuk menemui pelayan butik yang tadi.


"Mbak, apa ada kebaya ini yang ukurannya lebih kecil? Sepertinya kebaya ini terlalu kebesaran buat saya," tanya Nadia pada pelayan butik.


"Mari ikut saya, Mbak," ajak si pelayan sambil melangkah. Nadia pun mengekor di belakangnya.


Sampai di sebuah ruangan pajang di sana banyak sekali gaun dan kebaya pengantin maupun dress untuk ke pesta.


"Sepertinya kebaya yang Mbak pakai harus banyak dipermak. Mungkin Mbaknya mau memilih yang ukurannya lebih kecil ini banyak, modelnya juga tidak kalah menarik," usul pelayan butik tersebut.


Nadia memilih-milih kebaya yang menggantung di hadapannya dan langsung mencobanya tanpa harus ke kamar pas. Sepertinya ia sudah menemukan kebaya yang pas dan juga cocok di hatinya


"Saya pilih yang ini, Mbak. Saya ganti baju sekalian di kamar pas ya, Mbak," pamit Nadia.


"Silakan, Mbak," sahut pelayan butik.


Nadia langsung menerobos ke dalam kamar pas yang tadi. Beberapa saat kemudian ia keluar lagi sudah dengan memakai baju miliknya kembali. Ia menyerahkan kebaya pengantin beserta mansetnya kepada pelayan butik yang menungguinya di depan pintu kamar. Lalu mereka sama-sama menemui Rasya.


"Mas, jadi ambil kainnya yang itu?" tanya pelayan butik pada Rasya untuk memastikan.


"Iya, Mbak. Tolong kain sarung batiknya dijahit sekalian dan nanti dibungkus secara terpisah ya Mbak," pinta Rasya.


"Baik, Mas," sahut pelayan butik. "Kain jariknya juga mau dilipit sekalian enggak, Mbak?" tanyanya sambil mencatat nota beralih pada Nadia yang sudah bergabung duduk di sofa di samping Rasya.


"Boleh, Mbak." Nadia menyahut.


"Oke, lima belas menit lagi silakan di ambil di kasir ya," ucap pelayan butik menyerahkan secarik nota lalu masuk ke dalam dengan mengangkut kain dan kebaya.


Setelah dari butik kebaya pengantin, Rasya membawa Nadia menuju ke kantor Baskoro Groups untuk menukar motor dengan mobilnya. Rasya meninggalkan Nadia sendirian di lobi kantor.


"Sayang, kamu tunggu di sini dulu, Mas ke atas sebentar. Ini kebayanya kamu pegang," ucapnya menyerahkan sebuah papperbag.


Nadia memandangi punggung Rasya yang masuk ke dalam lift dengan menenteng papperbag berisi sarung batik miliknya. Ia menunggu sambil bermain ponsel agar tidak jenuh. Sepuluh menit kemudian Pria duda tersebut muncul dari dalam lift dengan menenteng beberapa papperbag yang berbeda.


Rasya menggandeng tangan Nadia menuju ke halaman, mobilnya sudah terparkir indah di sana. Ia meletakkan papperbag yang dibawanya di jok bagian belakang, meminta papperbag yang dipegang Nadia, menaruhnya di jok belakang juga.


Pria itu membukakan pintu depan untuk Nadia, menutup pintu kembali lalu memutari mobil bagian depan dan duduk di kursi kemudi.


"Pakai seat belt nya, Sayang," pinta Rasya.


"Kita mau kemana, Pak? Kenapa harus ganti mobil?" cecar Nadia dengan wajah penuh kebingungan.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2