
Di rumah itu suasana nampak ramai, di halaman telah dipasang layos serta dekorasi di dalam dan di luar rumah, memang seperti rumah orang yang akan mengadakan acara hajatan. Mas Har dan Mbak Rumi melangkah terlebih dahulu, sementara Nadia sembunyi di balik tubuh mereka.
"Permisi, Bu. Apa benar di sini rumahnya mamak Gugun?" tanya Mas Har kepada salah seorang ibu yang kebetulan lewat.
"Kalian siapa?" Ibu itu malah bertanya balik.
"Kami ke sini untuk mengantarkan anaknya yang besok mau menikah," jawab Mbak Rumi.
"Nadia? Mana Nadianya?" tanya ibu itu lagi.
"Aku di sini, Wak," sahut Nadia menerobos di antara Mas Har dan Mbak Rumi.
"Lha, ini calon pengantin kok lupa sama rumah sendiri sih, Nad?" sergah ibu itu lagi yang ternyata masih kerabat keluarga Nadia. "Ayo silakan masuk!" ajaknya mempersilakan.
"Terima kasih, Wak," sahut Rumi yang ikutan Nadia memanggil ibu tersebut dengan sebutan Wak. "Mas, tolong bilang kepada pak sopir kalau ini benar mamaknya Nadia! Kasihan dari tadi nungguin," pinta Mbak Rumi pada suaminya.
"Baiklah, ini tasnya kamu pegang," ucap Mas Har meyerahkan tas yang dipegangnya kepada istrinya. Ia pun meninggalkan tempat itu menuju ke halaman tempat mobil travel yang ditumpanginya tadi terparkir.
Nadia mengajak Mbak Rumi masuk dan mempersilakan duduk di atas permadani di ruangan tersebut. Sementara ia masuk ke dalam mencari kamar yang diyakini sebagai kamarnya. Sebuah kamar yang pintunya dihias dengan bunga-bunga dan gorden transparan seperti renda. Nadia membuka pintu kamar itu dan melangkah pelan masuk ke dalam.
Nadia nampak tercengang mendapati sebuah kamar bak kamar hotel. Ukuran kamar yang luas jauh berbeda dengan kamarnya sebelumnya berisi lengkap dengan kamar mandi dan lemari pakaian lima pintu. Dinding kamar itu dilapisi wallpaper berwarna pastel dengan motif bunga-bunga berwarna keemasan.
"Nanti saja mengagumi kamarnya, di depan masih ada Mbak Rumi dan Mas Har yang sedang menunggu," gumam Nadia. Ia pun meletakkan papperbag berisi kebayanya di atas tempat tidur, lalu kembali ke luar untuk menemui Mbak Rumi dan Mas Har. Ternyata Mamak dan Mimik sudah berada di ruang depan berbincang-bincang dengan mereka.
"Mamak, Mimik," panggil Nadia lalu menciumi punggung tangan keduanya secara bergantian kemudian duduk tidak jauh dari mereka. "Kamar buat Mbak Rumi dan Mas Har yang mana, Mik?" tanyanya pada Mimik.
"Antar saja Mbak Rumi dan Mas Har ke kamar di samping kamar baru kamu, Nad. Itu kamar sengaja disediakan buat Kang Nadhif kalau pulang ke rumah," jawab Mimik. "Tehnya dihabiskan dulu Rumi, Har, setelah itu kalian boleh istirahat. Apa kalian sudah makan?" lanjutnya bertanya pada Rumi dan Mas Har.
"Sudah, Mik. Tadi sebelum kemari kita mampir dulu di warung makan saat masih di Cirebon," jawab Mbak Rumi.
"Nanti kalau lapar ambil sendiri saja ya tidak usah disuruh. Di ruang tengah ada, di teras depan juga ada," suruh Mimik.
"Iya, Mik. Terima kasih," sahut Rumi.
"Mamak dan Mimik juga mengucapkan terima kasih pada kalian, sudah menjaga Nadia sampai di rumah ini dengan selamat," timpal Mamak.
"Ah Mamak bisa saja. Nadia itu kan sudah besar bisa jaga diri tanpa kami yang menjaganya, Mak. Hahaha," elak Mas Har diselingi dengan kekehan.
"Ayo, Mbak, Mas!" ajak Nadia seraya bangkit dari duduknya.
Mbak Rumi dan Mas Har juga bangkit hampir bersamaan, melangkah mengikuti Nadia yang telah berjalan lebih dulu masuk ke ruang tengah tanpa melupakan tas jinjingnya. Nadia membuka pintu kamar di samping kamarnya. Ternyata di dalam kamar tersebut hampir mirip dengan kamar Nadia, hanya saja dindingnya hanya dicat berwarna krem, tetapi tidak dilapisi dengan wallpaper seperti kamarnya Nadia.
"Silakan beristirahat, Mbak, Mas. Kalian boleh bikin adik buat Haikal di sini. Buat kenang-kenangan, hahaha," ujar Nadia diselingi candaan. Benar juga enggak apa-apa sih, wkwkwk. "Aku ke kamarku ya, Mbak, Mas. Mau istirahat juga," imbuhnya pamit.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Mbak Rumi dan Mas Har, Nadia keluar dari kamar tersebut dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Mas Har menaruh tas besar di lantai sembarangan, lalu menghempaskan tubuhnya di kasur springbed yang masih terlihat baru.
"Benar tuh, Dek, apa kata Nadia. Sini kita bikin adik buat Haikal yuk!" ujar Mas Har tersenyum jahil sambil menepuk kasur di sampingnya pada istrinya yang masih berdiri mengamati tiap sudut kamar.
"Ini masih siang, Mas, di rumah orang pula. Malu di luar banyak orang, lagian Mas enggak capek apa?" sahut Rumi berusaha menolak.
"Enggak apa-apa lah, kita 'kan sudah disuruh istirahat. Kamu ini menolak permintaan suami dosa lho," timpal Mas Har. "Sini bentar saja, Sayang. Buat menghilangkan capek," seringainya.
Mendengar kata dosa, Rumi pun bergidik. Lagi pula ia memang jarang mendapatkan jatahnya sebagai istri karena pekerjaan Mas Har yang sering ikut proyek ke luar kota. Ia pun mendekat dan ikut berbaring miring di samping suaminya.
"Dulu kamar pengantin kita tidak sebagus ini. Mumpung kita dikasih pinjam kamar yang mewah, kita manfaatkan saja untuk malam pertama kita yang kedua, hehehe," ucap Mas Har yang tertawa sendiri dengan ucapannya.
"Ini kan kamarnya Nadhif, Mas. Mengapa kita yang memakainya sebagai kamar pengantin?" tanya Rumi tersenyum
"Biar saja, Nadhif itu calon menantu orang kaya, mana mungkin nanti menggunakan kamar ini sebagai kamar pengantin mereka?" sahut Mas Har. "Mungkin Haikal enggak dikasih adik karena kita jarang melakukannya, Sayang," lanjutnya sambil melepas kerudung instan yang dipakai Rumi lalu melemparnya sembarangan. Lalu bangkit terduduk untuk melepas gamis yang dipakai istrinya itu.
Mereka bukan pasangan pengantin baru beneran yang melakukannya masih malu-malu. Hanya saja mereka menganggap seperti pengantin baru karena memanfaatkan kamar yang masih baru.
Sementara di samping kamar tersebut. Nadia menghempaskan tubuhnya di kasur springbed queen size barunya. Ia mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut kamar. AC dipasang di dinding atas sebelah utara, di bawahnya juga dipasang TV plasma 42 inci. Pandangannya berakhir pada lemari lima pintu yang berdiri kokoh di sisi kamar. Ia penasaran dengan isinya. Ia pun bangkit, berdiri melangkah mendekati lemari kayu jati dengan ukiran asli dari Jepara.
Dengan pelan Nadia membuka kunci pintu pertama lemari tersebut. Ia terperangah melihat isi di dalam lemarinya. "Ini butiknya siapa yang dipindah ke mari?" gumamnya. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka membuka pintu lemari berikutnya. Pandangannya beralih pada kamar mandi yang pintunya terbuat dari kaca doff.
Nadia kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, ia membuka pintu pelan. Lantai kamar mandi dari keramik bermotif batu kali. Ada shower yang menempel di dinding dan juga bak tempat berendam. sudah ada kelopak mawar merah di air bak tempat berendam tersebut. Di atas bak berendam tersebut terdapat rak yang menempel di dinding lengkap dengan peralatan mandi.
Terdengar pintu kamar Nadia diketuk dari luar.
"Nadia, mimik masuk ya!" seru mimik sambil membuka kamar.
Nadia keluar dari kamar mandi mendapati mimik yang sedang duduk di tepi tempat tidur. "Ada apa, Mik?" tanyanya.
"Duduk sini! Mimik mau ngomong sesuatu," pinta mimik.
Nadia pun duduk di samping mimiknya.
"Kamu sudah tahu siapa calon suami kamu?" tanya mimik.
"Belum," jawabnya disertai gelengan kepala.
"Kamu mau tahu siapa nama calon suami kamu?" tanya mimik lagi.
"Tidak," jawab Nadia kembali disertai gelengan kepala.
"Kenapa," tanya mimik lagi.
__ADS_1
"Nadia kenal atau tidak dengan dia, toh Nadia harus nikah juga sama dia 'kan mik?" jawab Nadia pasrah.
"Nadia, meskipun pernikahan ini bukan kehendak kamu, mimik berharap kamu bisa menjadi istri yang baik, yang sholihah dan patuh pada suami. Cinta itu bisa tumbuh kapan saja kalau sudah saling mengenal," ucap Mimik menasehati.
"Iya, Mik. Nadia akan berusaha melakoni peran sebagai istri yang baik," janji Nadia.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau tahu siapa calon suami kamu, mimik mau kembali ke dapur. Kamu istirahatlah!" ucap Mimik.
"Iya, Mik," sahut Nadia.
Mimik ke luar dari kamar. Setelah kepergian Mimik, Nadia menghempaskan tubuhnya kembali di kasur. Menatap kosong langit-langit di atasnya. Membayangkan entah seperti apa hari esok dan setelahnya akan ia jalani.
*****
Pagi hari sehabis subuh, para perias pengantin sudah datang untuk merias Nadia. Karena akad nikah akan dilaksanakan pada pukul tujuh pagi. Nadia dirias di kamarnya. Selama lebih dari satu jam tukang rias mendandani Nadia dengan sabar. Dan kini dapat dilihat hasilnya, kecantikan Nadia nampak seperti seorang ratu. Mengenakan kebaya dipadukan dengan jarik yang dibelikan oleh Rasya waktu itu dengan hiasan kepala tertutup kerudung. Namun tetap dihias dengan mahkota yang bertahtakan batuan swarovski.
Calon mempelai wanita tersebut duduk ditepi ranjang didampingi oleh Mbak Rumi di samping kiri dan si perias di samping kanan yang nanti akan memandu langkahnya. Nadia nampak gugup dengan perasaan berkecamuk, ingin acara ini segera selesai.
Di ruang depan suasana sudah ramai, sepertinya calon pengantin pria sudah hadir di tempat acara. Tiba-tiba Nindya masuk ke dalam kamar Nadia, mengecek apakah calon pengantin wanita sudah siap atau belum.
"A'ang cantik banget, Nindy sampai pangling. Calon pengantin prianya sudah hadir di depan loh, Ang, tampan banget. Kalau A'ang enggak mau Nikah sama dia, Nindy mau kok gantiin, hehehe," cerocos Nindya menggoda sang kakak.
"Kenapa kamu baru ngomong sekarang? Kalau kamu ngomong dari tadi, kan kamu yang jadi pengantin, kamu yang dirias." Nadia menanggapinya dengan serius.
"Ih, A'ang! Nindy cuma bercanda kok, lulus SMA saja belum kok udah mau Nikah? Apa kata dunia kalau Nindy yang cantiknya mirip A'ang Nadia ini nanti hanya mampu di dapur, di dapur dan di sumur, di sumur dan di kasuur ..." cerocos Nindy lagi menyanyikan lagu yang dulu dipopulerkan oleh Manis Manja grup.
Tiba-tiba salah seorang kerabat Nadia yang lain menerobos masuk. "Ssstttt ... diam jangan berisik! acaranya sudah mau dimulai," ujarnya mengingatkan.
Lantunan ayat suci Al-Quran kini mulai terdengar syahdu. Seorang qori' sedang membacakan surat Ar-Rum ayat 21. Sesaat kemudian Pak Penghulu memandu jalannya proses ijab qobul hingga terdengar kata "Sah!" dari semua yang hadir di acara tersebut. Namun, pikiran Nadia entah terbang kemana sehingga saat nama pengantin pria disebutkan oleh Pak Penghulu, ia pun tidak merespon sama sekali.
Saat pengantin wanita diminta untuk keluar dari kamar, Nadia bangkit. Ia melangkah dengan diapit dan dituntun oleh Mbak Rumi dan si perias di sisi kiri dan kanan sampai di tempat ijab qobul.
Nadia hanya menunduk tidak mampu mengangkat wajahnya. Perasaannya berkecamuk. Matanya terasa berat untuk menatap ke depan. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh si perias kepadanya. Nadia membungkuk, Ia meraih punggung tangan laki-laki yang disodorkan kepadanya lalu menciumnya. Setelah itu ia menegakkan badannya kembali. Sesaat ia merasa pria di depannya menarik dagunya dan mendaratkan ciuman di dahinya, pada posisi seperti ini tanpa ia harus memaksa, matanya bersibobok dengan pria yang statusnya sekarang adalah suami sahnya.
Mata Nadia membulat sempurna saat bertatapan dengan pria tampan yang tersenyum manis dan tulus kepadanya walau tanpa pemanis buatan itu.
"Kamu?!"
.
.
.
__ADS_1
TBC