Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Pabrik Anak


__ADS_3

Sekitar pukul dua siang mobil yang dikemudikan Rasya memasuki halaman vila di Bandung dan berhenti. Rasya tersenyum mendapati Nadia yang masih terlelap. Tangannya terulur untuk membuka sabuk pengaman dan membelai lembut pipi wanita muda itu, mencoba untuk membangunkannya.


"Sayang, bangun udah sampai nih," ucapnya lirih. Namun, mungkin karena saking lembutnya Rasya membangunkan Nadia hingga wanita muda tersebut tetap bergeming.


Rasya pun dengan tanpa rasa terpaksa keluar dari pintu di samping kanannya lalu memutari bagian depan mobil sampai di pintu samping kiri dan membuka pintu tersebut. Rasya menggendong tubuh Nadia dengan sigap dan membawanya menuju ke dalam vila. Dari arah pintu masuk Bi Titin tergopoh-gopoh menyambut majikannya.


"Tolong ambilkan barang-barang kami, bawa masuk ke dalam ya, Bi," pinta Rasya saat berpapasan.


"Baik, Den," sahut Bi Titin.


Rasya melanjutkan langkahnya masuk ke dalam vila menuju ke kamar mereka di lantai dua. Ia membaringkan tubuh Nadia di tempat tidur. Setelah itu ia menerobos masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Nadia membuka matanya, memandang ke sekeliling. Ia mengenali ruangan tempatnya kini berbaring. Ruangan hasil desainnya bersama suaminya. Tidak ada Rasya di tempat itu, tetapi pendengarannya menangkap suara gemericik dari kamar mandi di kamar tersebut. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Rasya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Serta handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya.


"Mas, kok cuma pakai handuk begitu sih?" tanya Nadia yang sebenarnya mengandung protes.


Dahi Rasya mengernyit. "Terus? Mas harus pakai handuknya dikemben? Enggak cucok deh ah," sergah Rasya menirukan gaya manusia transgender.


"Ih, Mas menggelikan deh. Bikin Nanad jijai," sahut Nadia tertawa. "Bukan begitu maksud Nanad," sanggahnya.


"Terus kenapa, Sayang? Kamu terang**ng? Kepengen ya?" cerocos Rasya menggoda.


"Ih, enggak juga. Mas kepedean deh," sergah Nadia.


"Pasti kamu lagi kepengen kan? Tapi kamu empet karena kamu lagi diblokir," tebak Rasya mendekat ke arah Nadia lalu menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah perempuan itu.


"Mas jangan macam-macam deh. Atau Mas yang akan sengsara sendiri nanti," ancam Nadia mencoba berpaling dari hadapan Rasya. "Maksud Nanad apa Mas Rasya enggak kedinginan? Soalnya Nanad kan lagi enggak bisa menghangatkan," imbuhnya.


Rasya menegakkan tubuhnya. Melangkah menjauh dari Nadia berjalan ke arah lemari pakaian l alu membukanya. "Habis ini Mas mau nyari durian di kebun belakang biar badannya hangat. Mau ikut enggak?" tanyanya sambil memilih baju yang ia tinggal di lemari buat dipakai kalau mereka tinggal di villa ini. Karena Bi Titin belum membawa kopernya ke kamar yang mereka tempati. Mungkin masih sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Kalau mau ke kebun kenapa udah mandi. Enggak sekalian nanti sore saja mandinya? Nanti di sana banyak nyamuk," sergah Nadia.


"Gerah tahu? Lagian Kita ke kebun 'kan enggak manjat pohon, yang manjat Mang Dudung. Kita cuma mau menikmati durian," timpal Rasya yang kini tengah memakai jaket Hoodie.


"Kita? Mas pede banget kalau Nanad mau ikut ke kebun," sanggah Nadia.


"Ya udah kalau enggak mau, kamu mas tinggal di villa sendirian tidak apa-apa kan? Tapi ingat kamu hanya boleh istirahat tidak boleh kemana-mana," tukas Rasya.


"Kok gitu? Nanad kan pengen lihat danau, pengen sampai sore melihat sampai matahari terbenam di danau, Mas," protes Nadia.


"Besok pagi saja ke danaunya. Sekarang Mas lagi pengen makan durian. Masa kamu enggak mau nemenin?" sergah Rasya.


"Perutku masih sedikit sakit, Mas. Kenapa enggak makan duriannya di rumah saja sih?" ucap Nadia meminta lebih.


"Kan harus ngambil di kebun dulu, Sayang. Memangnya langsung bisa sampai di sini?"


"Tinggal nyuruh Mang Dudung, beres 'kan," ucap Nadia enteng.

__ADS_1


"Mas kasihan kalau Mang Dudung ngurus sendirian, Mang Dudung kan sudah tua."


"Ya udah sana pergi, tapi jangan lama-lama ya. Dan bawain Nanad durian yang enak, yang legit, manis pahit deh pokoknya yang enak," pinta Nadia dengan gestur tangan mengusir.


"Baiklah, tapi janji ya enggak boleh kemana-mana! Awas kalau keluar sendirian," ancam Rasya sambil melangkah keluar dari kamar.


Sepeninggal Rasya, Nadia hanya mendengus kesal. "Huh! Sendirinya pergi, tetapi aku enggak boleh pergi."


******


Sementara itu di sebuah kamar hotel di Jakarta, dua orang berlainan jenis sedang bercengkrama.


"Mas, kita kan belum jenguk Nanad. Gimana keadaannya?" ucap Prima.


"Nanadnya udah pergi ke Bandung, Ay," timpal Rayan.


"Kenapa Mas enggak cerita sejak tadi sih, Pipim kan pengen lihat keadaannya," Rajuk Prima memanyunkan bibirnya.


"Lah, kamu saja baru bangun jam sebelas setelah pertempuran kita habis subuh tadi," elak Rayan mengerlingkan matanya menggoda istrinya. "Yang penting keadaannya sudah membaik dan dia bisa menerima apa yang sudah terjadi," Rayan berusaha membujuk Prima.


"Kasihan Nanad ya, Mas. Udah dua tahun menanti buah hati, sekarang ketika dia hamil dan belum menyadarinya malah udah diambil lagi sama Yang Maha Kuasa," sesal Prima.


"Mudah-mudahan Nanad segera hamil lagi bareng sama kamu, Ayang. Yuk bikin lagi," goda Rayan tersenyum jahil.


"Ih, mau bikin aku enggak bisa bangun!" ketus Prima menepis tangan suaminya yang mulai kembali ge*ayangan.


"Tapi Pipim belum siap punya anak, Mas. Pipim pengen lulus kuliah dulu baru punya anak," tolak Prima.


"Lah, gimana donk? Udah terlanjur masuk itu bibitnya mungkin juga lagi diproses pesanan kita," timpal Rayan terkekeh. "Nanti kalau udah ngalamin siap enggak siap juga siap, Ay."


"Pipim takut enggak bisa ngurus, Mas," keluh Prima.


"Kan masih ada bunda sama ibu, pasti mereka juga tidak akan tinggal diam," hibur Rayan.


******


Di rumah keluarga Baskoro


Rania dan Bu Nastiti sedang membantu Nina memasak di dapur.


"Mas Rasya bawa Mbak Nadia kemana sih, Bu? Jauh-jauh aku boyong suami dan anak-anak kemari kan supaya bisa mengenal lebih dekat sama Mbak Nadia," cecar Rania pada Bu Nastiti saat mereka membantu Nina memarak di dapur. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu seketika tersenyum menanggapi pertanyaan anak perempuan satu-satunya yang datang dari Jawa Tengah tersebut.


"Mas Mu bilang mau pulang ke Bandung biar lebih tenang sampai Mbak Nanad sembuh, kalau di sini terlalu ramai katanya," sahut Bu Nastiti.


"Bandung?" Rania tampak kaget.


"Iya. Memangnya kamu enggak tahu kalau Mas Rasya membangun vila di kebun durian yang tidak jauh dari danau dan perkebunan teh?"

__ADS_1


"Oo, iya. Rania pernah dengar Mas Rasya cerita sih. Jadi Mas Rasya ke sana? Rania jadi pengen nyusul ke sana deh," cetus Rania.


"Ayo, besok kita rame-rame ke sana! Kita kasih kejutan kakak kamu," Bu Nastiti memberikan usulan.


"Si Linda bagaimana, Bu? Bapak beri tindakan apa sama saudara jahat itu? Kenapa dia tidak dimasukkan ke penjara saja sih?"


"Bapak kamu mungkin enggak enak sama paman kamu, Rania. Tapi si Linda sudah dipecat dari perusahaan dan untuk sementara jabatan sekretaris kosong," sahut Bu Nastiti. "Mungkin nunggu adikmu Rayan selesai bulan madu. Nanti sekalian dia yang memilih sekretaris baru karena dia yang akan menggantikan bapak kamu sebagai direktur utama," imbuhnya lagi.


"Kenapa bukan Mas Rasya yang dijadikan direktur utama, Bu? Dia kan anak tertua," sergah Rania.


"Kalau Mas Rasya mu mau, dari dulu dia ditawari jabatan itu juga tidak pernah mau. Malah lebih memilih pekerjaan jadi dosen yang gajinya tidak seberapa," sahut Bu Nastiti.


"Biarlah Bu, yang penting Mas Rasya bahagia. Masih mending gaji jadi dosen kan ketimbang guru ngaji," timpal Rania mengingat pekerjaan suaminya.


Berkali-kali Pak Baskoro menawarkan jabatan di perusahaan kepada Hamdan - suami Rania, tetapi laki-laki tersebut selalu menolak dengan alasan tidak ada yang meneruskan untuk mengurus pondok pesantren yang didirikan oleh ayahnya.


"Kalau suami kamu tidak mau, apa kamu juga tidak bisa membantu? Masa kamu cuma dijadikan sebagai pabrik anak saja apa tidak capek? Mbok ya sekali-kali kamu mikirin diri kamu sendiri tho, Nduk. Eman-eman ijazah kamu yang S2 itu lho," timpal Bu Nastiti kasihan melihat anak gadis satu-satunya yang sejak menikah dan punya anak tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri.


"Ibu jahat sekali sih bilang kalau Rania dijadikan sebagai pabrik anak, kalau Mas Hamdan dengar bisa tersinggung nanti," sergah Rania. Nina yang mendengar perdebatan kedua anak dan ibunya itu hanya urun tawa.


"Lalu apa sebutannya kalau bukan pabrik anak? Umur baru 32 anak sudah mau lima," kilah Bu Nastiti.


"Yah, gimana lagi? Lha wong abinya Zidan melarang Rania untuk pakai KB, haram katanya," ucap Rania.


"Lahiran di sini saja, nanti anak mu biar diadopsi sama Mas Rasya dan Mbak Nanad buat pancingan. Terus kamu ikut KB," cetus Bu Nastiti.


"Enggak ah, Bu. Anak Rania empat kan laki-laki semua. Rania lagi pengen anak perempuan. Kalau yang ini nanti lahir perempuan terus udah kadung diserahin sama Mbak Nanad, Rania pasti akan menyesal dan kecewa, Bu," tolak Rania. "Lagian Mbak Nanad udah ketahuan hamil kan, pasti tidak lama lagi juga hamil kembali," lanjutnya.


"Biar kamu bisa mengurus tubuh kamu, Rania. Kamu perlu perawatan, sekali-kali memanjakan diri ke salon, spa, shoping-shoping," cetus Bu Nastiti.


"Mana ada istri ustadz bergaulnya sosialita sih, Bu?" kilah Rania.


"Eh, jangan salah! Ustadz juga manusia, Rania. Memangnya kamu tidak dengar? banyak ustadz yang diam-diam menikah tanpa izin dari istri pertamanya, karena mungkin salah satu alasannya istri pertama tidak pandai merawat diri," timpal Bu Nastiti.


"Ibu jangan nakut-nakutin dong. Mana mungkin Mas Hamdan seperti itu? Memangnya dia tidak menghargai pengorbanan Rania selama ini, meninggalkan kekayaan warisan keluarga hanya demi mengabdi kepadanya. Kalau sampai itu terjadi awas saja," ucap Rania gemas sambil mengulek bumbu.


"Makanya sedia payung sebelum hujan. Kamu rawat tubuh kamu supaya suamimu lebih sayang sama kamu," cetus Bu Nastiti lagi.


.


.


.


TBC


semoga dapat mengobati kangen kalian☺️

__ADS_1


__ADS_2