Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Balasan buat Linda


__ADS_3

Nina belum juga mengenali Nadia. Bagaimana tidak? Wanita yang ada di hadapannya sekarang ini sedang hamil besar dengan berat badan hampir dua kali lipat dan pakaian jubah yang kebesaran, Nadia juga kembali memakai niqobnya. Sementara Nadia yang dulu lebih suka memakai celana baggy dan kaos lengan panjang, kerudung segiempat dengan tubuh masih kurus ramping seramping kutilang darat.


"Heh, sudah berani datang ke sini kamu!" Ini bukan ucapan Nina, tetapi ucapan seorang perempuan yang juga sedang hamil seperti Nadia.


Perempuan itu berdiri dengan berkacak pinggang di belakang tubuh Nina. Siapa dia kalau bukan Linda. Nina yang mendengar suara di belakangnya segera membalikkan badan.


"Mbak Linda," lirih Nadia sambil menutup mulutnya.


Nadia bukannya takut sama Linda, tetapi ia takut perempuan itu melukai janin yang ada di perutnya. Kalau tidak dalam keadaan hamil pasti sudah dilabrak Linda sekarang.


"Mbak Linda jangan sakiti Mbak Nanad lagi," cegah Nina menghadang tubuh Linda.


Linda tersenyum sinis, ia tidak menggubris ucapan Nina. Linda terus maju dan lengannya menyenggol bahu Nina yang menghalangi langkahnya. "Kenapa? Kamu takut, Nad?" tanyanya. Kamu takut aku membunuh bayi kamu lagi?"


"Mas Rasya!" Nadia berteriak memanggil nama Rasya.


"Dasar manja! Kamu sekarang bisa lihat 'kan? Aku hamil. Lihat kan? Aku tidak bohong dan ini anak Mas Rasya, suami kamu, suami kita, Nadia bod*h!" Linda terus mendekat dan hendak mendorong Nadia. "Mau saja ku dibod*hi sama suami kamu itu," ucapnya lagi menghasut Nadia.


"Mas Rasya!" pekik Nadia yang panik karena Linda terus mendekat.


"Linda!" Rasya yang baru datang dan melihat Linda hendak mendorong Nadia segera menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Aaaargh!" pekik Linda.


"Astaghfirullah!" Nadia kaget karena ada yang menarik tubuhnya.


"Ini Mas Rasya, Sayang. Kamu tidak kenapa-napa 'kan?" Rasya memeriksa keadaan Nadia.


"Tidak apa-apa, Mas. Nanad cuma kaget," sahut Nadia.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau kamu tidak apa-apa." Mereka kini sudah berdiri berhadap-hadapan.


"Mbak Linda, Mas," seru Nadia yang baru saja teringat kepada Linda yang tadi sempat mendorongnya namun dapat dihindari.


Ternyata tidak jauh dari Rasya dan Nadia berdiri sudah banyak orang yang berkerumun. Pak Joko dan Bu Nastiti sudah ada di tempat itu. Pak Supri dan Pak Baskoro baru pulang dari kantor. Alih-alih membuat Nadia celaka malah dirinya sendiri yang celaka. Linda yang tidak siap Nadia yang hendak didorongnya sekuat tenaga ternyata bisa menghindar akhirnya jatuh tersungkur dengan posisi tertelungkup. Tubuhnya kini sudah dibantu untuk telentang, tetapi banyak darah yang keluar dari area selan*kan*annya.


"To-long," rintih Linda. Air matanya deras mengalir.


"Tolong angkat ke mobil saya, Supri, Joko," pinta Pak Baskoro panik.


Bagaimanapun jahatnya perempuan itu, Linda tetap keponakannya dan Pak Baskoro adalah walinya. Ia tidak tega melihat keponakannya dalam keadaan mengenaskan.


"Sya, kamu telpon Fahri segera!" perintah Bu Nastiti kepada anak sulungnya.


"Baik, Bu," sahut Rasya.


"Lek Pur dan Lek Win juga," serunya lagi sambil melangkah ke mobil. Rasya menyahut cepat.


Bu Nastiti segera masuk ke dalam mobil Pak Baskoro dan duduk di kursi penumpang di mana Linda diletakkan. Ia memangku tubuh Linda yang masih terus mengeluarkan darah dari area selan*kan*annya. Pak Supri langsung melajukan mobil keluar dari halaman rumah menuju ke rumah sakit terdekat. Pak Baskoro yang duduk di sampingnya nampak gelisah dan menangis.


"Bu u De, ma a fin Linda," pinta Linda terbata di pangkuan Bu Nastiti.


"Bu De sudah maafin Linda kok. Linda jangan banyak bicara ya. Bertahan ya, Sayang," sahut Bu Nastiti tidak bisa menahan air matanya yang deras mengalir.


Bagaimanapun bencinya terhadap kelakuan keponakannya itu saat masih sehat, tetap saja ia merasa sedih melihat keadaannya yang menyedihkan sekarang.


"Lin-da mm-a-u min-ta ma-af sa-ma Ma s Ra-s-ya," ucapnya terbata menahan rasa sakit yang teramat sangat di tubuhnya.


"Iya, Sayang. Mas Rasya pasti sudah maafin kamu kok. Kamu yang tenang ya, jangan banyak bicara. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit," bujuk Bu Nastiti mencoba menenangkan Linda.


Sampai di rumah sakit Linda langsung ditangani oleh tenaga medis dan dibawa ke UGD. Pak Baskoro dan Bu Nastiti menunggu dengan cemas di depan ruang UGD. Seorang perawat wanita datang menghampiri.


"Keluarga Nyonya Linda?" tanya perawat tersebut.


"Kami keluarganya, Sus," sahut Pak Baskoro dan Bu Nastiti serempak seperti dikomando.


"Suami nyonya Linda mana?" tanya perawat itu lagi.


"Suaminya belum sampai, Sus. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Pak Baskoro.

__ADS_1


"Pasien harus segera dioperasi, Pak. Tolong suami atau keluarganya tandatangani surat persetujuan operasi caesar di ruang pendaftaran. Pasien sudah dibawa ke ruang operasi," pinta perawat menunjuk ke suatu tempat.


"Baik, Sus," sahut Pak Baskoro.


Pak Baskoro dan Bu Nastiti segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang pendaftaran.


"Pak De," panggil seorang pemuda tiba-tiba.


Pak Baskoro menoleh, ternyata Fahri, Lek Pur dan Lek Win datang bersamaan. "Fahri, kebetulan kalian datang. Linda sudah dibawa ke ruang operasi, tetapi proses operasinya harus menunggu surat persetujuan operasinya ditandatangani terlebih dahulu oleh suaminya di ruang pendaftaran," tuturnya.


"Baik, Pakde. Fahri akan ke bagian pendaftaran terlebih dahulu," sahut Fahri. Ia segera berlalu dari tempat itu.


"Pur, Win, kalian tunggu di depan ruang operasi saja langsung. Mas Bas mau mengantar Mbak Nastiti pulang dulu ganti baju. Dia tidak bisa sholat maghrib dengan baju penuh dengan darah begini," tutur Pak Baskoro.


"Iya, Mas," sahut Lek Pur dan Lek Win kompak.


*****


Kembali ke rumah Pak Baskoro. Rasya menggandeng Nadia yang terlihat shock untuk duduk di sofa ruang tamu. Nina muncul dari ruang tengah dengan segelas air putih di tangannya. Mendekatkan gelas tersebut kepada Rasya. Rasya membuka tali cadar yang menutup wajah Nadia lalu mengambil alih gelas tersebut.


"Minum dulu, Sayang biar tenang," ucap Rasya sambil mendekatkan gelas ke bibir Nadia. Nadia pun menerima dan meneguk air putih yang diberikan kepadanya.


"Mas, Nanad takut terjadi apa-apa sama Mbak Linda," ucap Nadia cemas.


"Kamu enggak usah memikirkan itu, Sayang. Linda pasti sudah ditangani dokter. Pikirkan saja bayi yang ada dalam kandungan kamu," bujuk Rasya.


Setelah Nadia lebih tenang Rasya membawanya ke kamar Nadia yang ada di lantai bawah. "Kamu istirahat dulu ya, Mas mandi dulu di lantai atas. Atau kamu mau istirahat di lantai atas saja," tawarnya saat membantu Nadia untuk berbaring.


"Tidak, di kamar ini saja," sahut Nadia.


"Ya sudah, Mas tinggal ya," pamit Rasya. Nadia hanya mengangguk.


Rasya pergi meninggalkan Nadia sendirian di kamar, melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Saat sudah mencapai depan pintu kamarnya, bersamaan dengan itu Prima keluar dari kamar Rayan.


"Mas Rasya, tadi sepertinya ada rame-rame, ada apa?" tanya Prima.


"Linda jatuh saat hendak mendorong Nanad, tetapi gagal," sahut Rasya.


"Sudah dibawa ke rumah sakit," sahut Rasya.


"Astaghfirullah, Kok Mas Rasya enggak ikut ke rumah sakit?" sergah Prima.


"Sudah ada Bapak sama Ibu yang menemani, Nanad ada di kamar bawah, tolong kamu temani ya. Mas Rasya mau mandi dulu," pinta Rasya.


"Oo, Mbak Nanad di bawah. Aku pikir ..." Prima berpikiran kalau Nadia juga dibawa ke rumah sakit hanya nyengir kuda. "Iya, Mas. Aku ke bawah ya," sahut Prima telat.


Rasya hanya tersenyum menghadapi adik ipar dan mahasiswanya yang rada telat itu. "Hati-hati turunnya, Prima. Jangan tergesa-gesa. Ingat kamu lagi hamil," seru Rasya khawatir.


"Ya, udah terlanjur sampai, Mas." Prima berseru juga.


Rasya pun masuk ke dalam kamarnya. Sementara Prima menuju ke kamar tamu yang biasa dihuni Nadia.


"Nad, Nanad, ini Pipim boleh masuk nggak?" Prima berseru sambil mengetuk pintu. Prima tidak memanggil Nadia Mbak jika hanya berdua. Sudah melekat panggilan Nanad jadi kaku kalau pakai embel-embel Mbak.


"Masuk saja, Pim. Pintunya enggak dikunci kok," sahut Nadia.


Prima membuka pintu. Tampak olehnya Nadia tengah berbaring di kasur spring bed. Prima melangkah masuk, tidak lupa menutup pintu kembali terlebih dahulu. Ia mendekat ke arah Nadia yang sedang tiduran. Melihat Prima datang Nadia pun bangkit mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk.


"Nanad."


"Pipim."


Mereka saling memanggil nama panggilan masing-masing dan berpelukan melepaskan kerinduan. Sejenak mereka lupa jika saat ini keduanya tengah berbadan dua. Ada dua nyawa yang terhimpit di dalam perut.


"Eh," ucap Prima melepas pelukannya. "Maaf," imbuhnya.


"Tidak apa-apa, namanya juga kangen lama tidak ketemu jadi lupa. Ini kapan launching?" timpal Nadia mengelus perut Prima.


"Dua bulan lagi. Kamu sendiri?" Sahut Prima lalu bertanya.

__ADS_1


"Sama dong, jangan-jangan kita barengan lahirannya," sahut Nadia.


"Tidak apa-apa barengan, mungkin pas bikinnya juga barengan ha ha ha," timpal Prima disertai candaan.


"Kalau anak yang kita lahirkan nanti mirip papa-papa mereka pasti seperti anak kembar ha ha ha," Nadia juga menghayalkan anak yang akan ia lahirkan nanti mirip seperti anaknya Prima.


Suasana kamar yang tadi mengharu biru kini menjadi riang penuh tawa. Nadia yang tadi sempat shock kini seakan lupa dengan kejadian yang tadi hampir mencelakainya. Obrolan mereka kembali ke semula semasa mereka kuliah bersama dulu. Mereka tidak menyadari jika kegiatan mereka diperhatikan oleh dua pasang mata yang saat ini tengah berdiri bersedekap di ambang pintu.


"Pipim," panggil Rayan. Prima menoleh ke arah sumber suara. Di sana Rasya dan Rayan nampak berdiri menatap kedua wanitanya. Mereka sama-sama memakai baju koko, sarung dan berpeci. "Sholat dulu yuk! Nanti dilanjut lagi ngobrolnya selesai makan malam," suruh Rayan.


"Di mushola rumah ya, Mas," sahut Prima meminta.


"Iya, ayo keluar dulu," Rayan mendekat, mengulurkan tangannya menjangkau Prima.


Prima pun dengan ogah-ogahan beranjak dari tempat tidur Nadia mengikuti kemana saja Rayan akan membawanya.


Setelah Rayan dan Prima pergi, Rasya mendekat lalu duduk di tepi ranjang. "Kamu tidak membawa baju ganti, Sayang?" Tanya Rasya yang melihat istrinya belum ganti baju.


"Bawa tadi di mobil Kang Nadhif, katanya sore ini mau disusulin kemari, tapi kok belum sampai juga ya, Mas?" Sahut Nadia bertanya.


"Sudah kamu hubungi kang Nadhifnya?" Tanya Rasya.


"Belum, mungkin nanti habis maghrib kesininya," sahut Nadia.


"Dihubungi saja dulu, barangkali Kang Nadhifnya lupa," suruh Rasya.


"Masih maghrib, Mas. Takutnya mengganggu waktu sholat mereka," sahut Nadia.


"Kirim pesan atau chat WhatsApp kan bisa Ya udah, pakai kaos Mas, mau? Kalau mau Mas ambilkan," tawar Rasya. "Bawahnya pakai sarung Santi bahan santung, kayaknya dulu kamu punya. Atau mau pinjam punya Prima?" cetusnya.


"Tidak usah pinjam, nunggu kang Nadhif datang saja," tolak Nadia.


Pria itu melangkah mendekati lemari lalu membukanya. Ia mencari pakaian lama Nadia yang sekiranya bisa muat dipakai di tubuh istrinya yang kini besar karena kehamilannya, tetapi tidak ditemukannya karena semua pakaian Nadia dulu berukuran kecil-kecil. Gamis pun juga sudah tidak muat di tubuh gadis itu sekarang.


"Tidak ada yang berukuran besar, Sayang. Sarungnya juga enggak ketemu," keluh Rasya. Sementara Nadia hanya diam malas. Ia memang sudah mandi tadi sewaktu berada di ruangan kantor Rasya sehabis melepas kerinduan berjamaah mereka.


Rasya mendekat ke arah istrinya, kembali duduk di tepi ranjang. Ia mengelus-elus puncak kepala Nadia lalu mencium keningnya.


"Mas belum wudhu?" Tanya Nadia


"Belum, Mas nunggu kamu. Jakarta panas kok kamu malah pakai hitam-hitam begini sih, Sayang," sergah Rasya.


"Namanya juga lagi nyamar buat kasih kejutan," sahut Nadia cuek.


"Tunggu sebentar ya, Mas ambilkan kaos oblong di lantai atas," ucap Rasya lalu meninggalkan Nadia sendirian.


"Sya," panggil seorang wanita saat kaki Rasya hendak menapak ke anak tangga. Rasya pun mengurungkan langkahnya dan menoleh kepada wanita anggun yang telah melahirkannya.


"Iya, Bu," sahut Rasya. "Bagaimana keadaan Linda sekarang?"


Ternyata Pak Baskoro dan Bu Nastiti baru pulang dari rumah sakit. Bu Nastiti mendekat ke arah Rasya.


"Linda sudah mau dioperasi. Kamu mau kemana?" Bu Nastiti menjawab pertanyaan Rasya lalu bertanya.


"Mau ambil kaos oblong Rasya buat dipakai Nanad, Bu. Baju-baju Nanad yang di sini tidak ada yang muat," sahut Rasya.


"Kamu ini sama istri nggak ada perhatiannya, mbok dibelikan baju hamil," sergah Bu Nastiti.


"Sudah banyak waktu di Bandung, Bu. Kopernya Nanad kebawa di mobil Kang Nadhif ke hotel katanya," ungkap Rasya.


"O gitu, ayo ke kamar ibu. Ibu ada beberapa baju hamil buat Nanad. Ibu sengaja beli buat acara tasyakuran tujuh bulanan kehamilannya minggu depan," ungkap Bu Nastiti.


Rasya pun beralih haluan membuntuti wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu ke kamarnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Terima kasih atas kunjungan Anda 😘


__ADS_2