Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Tiga Bidadari


__ADS_3

"Sudah kebeli semua barang-barangnya, 'kan?" tanya Rayan kepada kedua teman gadisnya saat mereka selesai melaksanakan sholat isya' di mushola yang terdapat di mall.


"Sepertinya sudah semua, Mas," jawab Nadia. "Iya kan, Prim?" Meminta dukungan pada prima.


"Iya, sudah semua kayaknya, Mas," sahut Prima.


"Coba dicek dulu! Kalau sampe ada yang tertinggal 'kan repot," perintah Rayan.


Prima membuka dan membaca catatan daftar barang-barang, sementara Nadia mencari barang yang dibaca Prima dalam tas kresek belanjaan.


"Sudah semua, Mas," ucap Nadia yakin.


"Yuk, kita makan malam di restoran saja," ajak Rayan.


"Enggak di resto dalam mall saja, Mas," cegah Nadia.


"Enggak, kita akan ke restoran favorit ku, kalian pasti juga suka," tukas Rayan yang segera berdiri.


Nadia dan Prima juga bangkit mensejajarkan langkahnya dengan Rayan. Ponsel Rayan berdering, karena suasana mall sangat ramai sehingga tidak terdengar deringnya. Untung saja dapat merasakan getaran ponselnya, karena ponsel tersebut saat ini masih dipegangnya.


"Mas Rasya, ada apa, Mas?" tanya Rayan langsung setelah menggeser ikon hijau.


"Kamu dimana, Ray?" tanya Rasya di seberang sana.


"Di mall pusat, kebetulan udah mau keluar cari makan. Kenapa?"


"Anterin Linda pulang, aku enggak pulang malam ini, kita ketemu di Planet Resto," pinta Rasya.


"Pakai mobil Mas Rasya ya, soalnya aku juga mau nganter kedua teman cewekku," tutur Rayan.


"Iya, pakai saja. Sampai ketemu di Planet Resto," ucap Rasya langsung klik, ia memutus sambungan teleponnya.


Rayan menyimpan ponselnya di kantong tas punggungnya. "Yuk, kita ke Planet Resto!" ajaknya kepada Nadia dan Prima.


Nadia dan Prima hanya menurut saja bagai dua kerbau yang dicocok hidungnya atas ucapan Rayan. Mereka hanya berharap cowok tajir tersebut mau kembali membayar semua tagihan, jangan sampai nanti mereka ditahan oleh pemilik resto untuk mencuci piring gara-gara tidak memiliki uang untuk membayar makanan mahal yang mereka makan. Hadeuh ... no no no!


Kembali Prima berboncengan dengan Nadia mengikuti motor Rayan yang sudah melaju duluan. Rayan menghentikan motornya di halaman parkir sebuah restoran, diikuti oleh Prima. Mereka melangkah masuk ke dalam restoran, Rayan mengajak kedua teman ceweknya ke sebuah ruangan privat untuk keluarga.


"Kenapa harus di ruangan privat, Mas? Kita kan cuma bertiga," tanya Nadia dengan sedikit khawatir atas tindakan Rayan yang baru dikenalnya saat mereka sudah berada di ruangan privat tersebut.


"Sudah nurut saja, nggak usah takut. Aku nggak akan berbuat macam-macam sama kalian, kok," jawab Rayan mencoba menepis kekhawatiran Nadia.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Rayan sambil membuka buku menu.


Nadia dan Prima pun membuka buku menu yang ada di hadapannya.


"Aku enggak kenal semua makanan ini, Mas. Aku takut nanti enggak cocok di lidahku, kan mubazir. Yang penting ada nasinya saja, Mas, sudah lapar banget soalnya. Biasanya selain nasi ya cuma bakso sama mi ayam," jawab Nadia polos.


Rayan tersenyum geli. "Buka lagi buku menunya, di belakang banyak menu nasi. Nasi goreng petai, Mau?" tanya Rayan memastikan.


"Iya, itu saja Mas. Nasi goreng petai sama minumnya es teh manis saja," sahut Nadia.


"Kamu Prima, mau pesan apa?" tanya Rayan beralih pada Prima.


"Aku samain Nadia aja, Mas," jawab Prima.

__ADS_1


"Pada suka petai semua ternyata," ucap Rayan terkekeh.


Seorang pelayan masuk, mencatat pesanan mereka, lalu keluar lagi untuk memproses pesanan tersebut. Tidak lama kemudian Rasya dan Linda masuk ikut bergabung dengan mereka.


"Lho Ray, teman-teman kamu kok seperti mahasiswa baru semua?" tanya Rasya yang mengenali wajah Nadia dan Prima.


"Eh, Pak Rasya," sapa Nadia tersipu karena terciduk sedang jalan bareng adiknya.


Entah mengapa tubuh Nadia terasa panas dingin sekarang, detak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya sejak kedatangan dosennya tersebut. Ia nampak tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.


"Mas Rasya lupa kalau di kampus Ray sudah tidak punya teman seangkatan? Cuma mereka yang mau jadi teman Ray, ya udah jalan sama mereka saja," tutur Rayan.


"Kasihan sekali adik bungsuku ini," ucap Rasya sembari duduk di kursi. Linda duduk di sampingnya.


Nadia mengamati gadis yang duduk di samping Rasya. 'Apa dia istrinya Pak Rasya? Cantik dan masih muda, tubuhnya juga proporsional, Enggak kurus kering kayak aku,' batin Nadia bermonolog.


"Kamu yang dari Indramayu, 'Kan?" tebak Rasya menatap Nadia.


"Kok Mas Rasya bisa tahu kalau Nadia dari Indramayu, aku saja belum tahu," sergah Rayan.


"Kemarin saat dia daftar ulang, Mas sudah ketemu dia di kantin kampus, kalau enggak salah dia berasal dari Indramayu," timpal Rasya. "Tapi benar 'kan kamu berasal dari Indramayu? Siapa nama kamu?" tanya Rasya beralih ke Nadia.


"Nama saya Nadia, Pak. Nama lengkap Asa Nahdiana. Memang benar saya berasal dari Indramayu," sahut Nadia memperkenalkan diri.


"Tuh, kan benar. Kalau kamu siapa namamu?" tanya Rasya beralih ke Prima.


"Saya Prima, Pak. Nama lengkap Prima Putri Aprilia. Lahir dan besar di Jakarta," jawab Prima tersebut.


"Ehm ... Ehm ... , aku enggak diperkenalkan nih?" Linda berdeham karena merasa jadi nyamuk yang tidak dipedulikan.


"Oh iya, Prima. Motor kamu dititipkan di sini saja ya, nanti kamu dan Nadia aku antar pakai mobil Mas Rasya sekalian aku mau mengantar Linda. Besok pagi aku akan suruh orang untuk mengantar motor kamu ke rumah kamu," tutur Rayan.


"Iya, Mas. Aku juga takut pulang malam-malam bawa motor sendirian, tapi besok pagi jam setengah tujuh motorku sudah harus sampai di rumahku ya, soalnya sebelum jam tujuh kan sudah harus sampai di kampus," sahut Prima disertai permintaan.


"Sekarang kamu kirim alamat rumah kamu ke WA aku," pinta Rayan.


"Lah, aku kan belum punya nomor HP kamu, Mas," sergah Prima.


"Ck, siniin HP kamu," Rayan berdecak meminta ponsel Prima. Prima menyerahkan ponselnya kepada Rayan. Rayan membuka membuka ponsel tersebut, tetapi tidak bisa karena layarnya pakai kata kunci. "Ck, password-nya?" pintanya menyerahkan ponsel kembali pada pemiliknya.


Prima meraih ponselnya, menekan password, lalu menyerahkan kembali ponsel yang layarnya sudah terbuka tersebut pada Rayan. Tiga orang pelayan datang mengantarkan makanan yang mereka pesan dan menaruhnya di meja.


Setelah Rayan menyimpan nomor ponselnya di ponsel Prima, ia menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada pemiliknya. "Kamu catat nomor polisi dan alamat rumah kamu di kertas saja, Prim! Biar nanti langsung bisa aku serahkan ke satpam restoran ini," perintah Rayan yang berubah pikiran.


"Baik, Mas," sahut Prima saat menerima kembali ponselnya.


Prima menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong tasnya, kemudian mengambil blok note dan ballpoint, menuliskan nomor polisi motor matic dan alamat rumahnya di blok note tersebut. Ia lalu menyobek kertas yang sudah berisi tulisan tersebut dan menyerahkan kepada Rayan.


"Kunci motor dan kartu parkir nya sekalian," pinta Rayan.


"Oh, iya," ucapnya lalu merogoh kantong kecil sebelah kiri di tas punggungnya, meletakkan dua benda tersebut di atas kertas tadi. Rayan menyimpannya ke dalam kantong tasnya. Mereka sekarang sudah bisa menikmati hidangan yang sudah ada di meja.


Nadia merasa sangat senang, untuk pertama kalinya ia bisa mengecap nikmatnya makanan restoran. Meskipun makanan yang ia pesan hanya nasi goreng petai seperti yang biasa ia buat saat di kampung, tetapi sensasi rasanya sungguh berbeda. Mungkin rasanya tidak akan seenak ini jika makanan ini ia sendiri yang membayarnya. Mungkin juga karena sudah terlalu lapar, ia jadi melupakan rasa gugupnya yang sejak tadi menggelayut di tubuhnya.


Sementara Prima, mungkin makan di restoran sudah biasa baginya. Walaupun orang tuanya cuma seorang pegawai negeri sipil, namun setiap awal bulan mereka selalu menyempatkan mengajak keluarganya makan di restoran.

__ADS_1


Sambil menikmati nasi goreng petainya, mata Nadia menangkap penampakan makanan yang dipesan oleh Linda. Sekretaris bapaknya Rayan tersebut hanya memesan salad dan jus lemon.


"Kenapa, Nad? Kamu pengen juga pesan makanan yang dipesan Linda?" tanya Rayan memperhatikan Nadia yang fokus memperhatikan makanan Linda.


"Enggak kok, Mas. Aku cuma penasaran aja, Mbak Linda apa kenyang makan cuma pakai sayur begitu?" tanya Nadia dengan kepolosannya.


"Oh, aku tidak terbiasa makan nasi lewat jam 6 sore ke atas, takut gemuk," sahut Linda.


Nadia terkekeh mendengar penuturan Linda. "Hehehe, aku malah pengen gemuk, Mbak. Makan berapa banyak pun tetap saja tubuhku kayak papan. Apa aku minum susu penggemuk badan saja ya?" tutur Nadia yang diakhiri permintaan saran.


"Enggak usah neko-neko kamu, Nad! Biar kurus yang penting tubuh kamu sehat, enggak kurus karena penyakit, harusnya kamu bersyukur. Cepat habiskan makananmu, setelah itu aku antar pulang," sergah Rayan.


"Iya-iya, galak banget sih, baru juga kenal," sungut Nadia.


Rasya hanya tersenyum memperhatikan adik bungsu dan teman barunya yang terlihat akrab. Sejak pertama kali melihat gadis tersebut memang ia sudah menaruh ketertarikan. Ingin rasanya ia juga mengakrabkan diri dengan gadis itu. Namun, ada dinding yang berlapis-lapis yang menghalanginya. Pernikahan palsunya dengan Celine yang ingin segera ia akhiri. Batasan antara dosen dengan anak didiknya. Serta jarak umur yang terlalu jauh antara dirinya dengan Nadia membuat Rasya membuang jauh-jauh angan-angan tersebut.


Mengapa Tuhan mempertemukan mereka baru sekarang? mengapa tidak sejak dulu saat Rasya masih muda, seusia Rayan misalnya? Mungkin ia memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Mungkin melihatnya bahagia saja sudah membuat hati Rasya bahagia.


"Sudah habis," ucap Nadia setelah menghabiskan nasi goreng petainya, lalu meneguk es teh manisnya yang sudah melebur semua. Tiba-tiba, Nadia bersendawa dengan sangat keras, ia pun segera menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan tersipu malu.


"Nadia! Jorok ih," cerca Rayan.


"Maaf!" mengatupkan kedua tangan di depan dada memohon maaf kepada semua. "Saya kelepasan, tidak sengaja," imbuh Nadia.


Kembali Rasya hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, Nadia. Namanya juga tidak sengaja," hiburnya.


"Ayo pulang, sudah malam! Kunci mobilnya mana, Mas," ucapnya meletakkan kunci motornya di atas meja.


Rasya meletakkan kunci mobil di atas meja dan meraih kunci motor Rayan. "Hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa 3 bidadari," nasihatnya.


"Iya," sahut Rayan singkat.


"Jangan lupa motor aku loh, Mas," timpal Prima.


"Iya, Sayang," sahut Rayan menutup mulutnya karena keceplosan.


"Ih," cebik Prima.


Mereka keluar beriringan dari dalam ruangan restoran menuju ke tempat parkir. Sebelum meninggalkan restoran tersebut, Rayan menghampiri satpam yang bertugas jaga malam itu, memberikan kunci motor dan kertas catatan dari Prima, memintanya untuk mengantarkan motor Prima ke rumahnya pukul 6 pagi.


"Ingat jangan sampai lupa, jam setengah tujuh motor itu sudah harus sampai di rumah pemiliknya. Awas kalau sampai lupa, aku pecat kamu!"


"Jangan pecat donk, Mas. Iya-iya, aku enggak akan lupa, Bos sangar," sahut satpam tersebut.


Mobil pun perlahan meninggalkan Restoran. Rasya juga meninggalkan tempat tersebut mengendarai motor Rayan.


.


.


.


TBC


Semoga suka, makasih dah mau baca🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2