
Sejenak mereka terdiam hanyut dalam perasaan masing-masing.
"Prima, akhir pekan ini kita jalan bareng yuk!" ajak Rayan memulai pembicaraan.
"Nanti aku tanya Nadia ya, Mas. Dia mau atau enggak?" sahut Prima.
"Enggak usah ajak Nadia. Kita berdua saja, gimana mau enggak?" bujuk Rayan.
"Ehmm ... , tapi gimana ya?" gumam Prima berfikir. "Kita lihat sikon nanti saja ya, Mas," Akhirnya Prima memberikan jawaban meskipun masih bermakna ambigu.
"Oke, aku tunggu," timpal Rayan tersenyum.
"Mas Rayan masih mau di sini? Aku sebentar lagi masuk nih," tanya Prima.
"Ayo kita keluar bareng saja," ajak Rayan.
Sebelum keluar dari perpustakaan Prima menaruh kembali buku yang diambilnya ke atas rak. Mereka lalu keluar beriringan menyusuri koridor kampus. Prima menghentikan langkahnya saat berada di depan ruang dosen.
"Kenapa berhenti?" tanya Rayan kepada gadis yang mulai menggantikan posisi Aghni, tunangannya di hatinya.
"Barangkali Nadia belum ke kelas, kita tunggu sebentar ya, Mas," sahut Prima. Rayan mengangguk setuju.
"Nad, aku di depan ruang dosen nih, kamu udah ke kelas belum?" tanya Prima dalam sambungan teleponnya.
"Belum, Prim. Tunggu sebentar ya, aku pamit ke Pak Rasya dulu," jawab Nadia.
"Iya, aku tunggu tapi cepetan," timpal Prima.
"Iya-iya."
Tuut ...
Prima langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Masih di dalam katanya, Mas." Prima melaporkan hasil interogasi lewat teleponnya kepada Rayan.
"Ya udah, kita tunggu," sahut Rayan sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok.
Pintu masuk ruang dosen dibuka dari dalam, munculah Nadia. Tidak lama kemudian di belakangnya muncul juga Rasya yang juga hendak ke kelas yang akan ia isi.
"Kamu masih di sini, Ray? Belum ke kantor?" tanya Rasya menyapa adik bungsunya.
"Iya baru dari perpustakaan, Mas," jawab Rayan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Mereka melangkah beriringan, sementara Nadia dan Prima berjalan di belakang mereka.
"Sudah selesai pekerjaan kamu, Nad?" tanya Prima kepada Nadia.
"Tinggal tujuh jilid lagi, nanti sore mau aku terusin selesai kelas," jawab Nadia sambil melangkah.
Rasya memisahkan diri menuju ke ruangan yang ia tuju, sedangkan Rayan mengantar Nadia dan Prima sampai di depan pintu ruangan kelas mereka. Padahal tidak diantar juga enggak apa-apa kan, Rayan?
__ADS_1
"Aku pulang duluan ya, sampai ketemu lain waktu ya, Prima, Nadia," pamit Rayan.
"Iya, Mas Rayan. Titi deje ya," sahut Nadia.
"Hahaha, iya Nad. Kalian juga hati-hati," sahut Rayan sambil berlalu pergi.
Nadia dan Prima masuk ke dalam kelas, mengikuti perkuliahan hingga akhir. Jam tiga sore baru mereka keluar dari kelas.
"Beneran kamu enggak mau pulang bareng aku, Nad?" tanya Prima lagi memastikan kepada Nadia.
"Iya, Prim. Lagian kayak tempat tinggal aku jauh dari kampus ini aja deh," cebik Nadia yang merasa bahwa perhatian sahabatnya ini berlebihan.
"Baiklah, aku pulang dulu ya," pamit Prima akhirnya.
Prima meninggalkan Nadia yang masih mematung di depan ruang A1 memandangi punggungnya hingga hilang menuju ke area parkir kendaraan bermotor. Sementara Nadia, setelah memastikan Prima benar-benar pergi, ia bergegas menuju ke ruangan Pak Rasya kembali menuntaskan pekerjaan yang dari kemarin belum terselesaikan.
Sampai di dalam ruang rektor, Rasya sudah berada di ruangan tersebut. Laki-laki yang berusia 32 tahun tersebut tengah berkutat dengan laptopnya. Nadia melaksanakan sholat ashar lebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaannya. Sepertinya ia mulai nyaman dengan ruangan milik Rasya tanpa rikuh ia melakukan sesuatu saat sang pemilik ruangan tersebut tengah ada di ruangan.
Selesai sholat Nadia langsung duduk dan mulai melanjutkan pekerjaannya. Mereka melakukan pekerjaan dalam diam, khusyuk dengan pikiran masing-masing. Hingga hampir pukul 6 sore, Nadia telah menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Pak, pekerjaan saya sudah selesai, saya mau ijin pulang," ungkap Nadia.
Namun tiba-tiba Rasya merasa perutnya mulas. "Eh, tunggu di sini dulu, saya ke toilet sebentar. Nanti saya antar kamu pulang," cegah Rasya yang langsung ngacir ke toilet.
"Tapi, Pak. Ini sudah mau Maghrib," keluh Nadia, tetapi yang diajak bicara sudah tidak memperdulikannya. "Huh, gimana ini? Pulang saja deh, orang kostan aku dekat juga. Soal sisa honor bisa aku minta besok saja," putusnya pada diri sendiri.
Nadia lalu menghampiri toilet. "Pak, saya pulang ya. Enggak usah diantar, sisa uangnya besok pagi saja," serunya dari luar toilet.
Nadia keluar dari ruangan Rasya. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih lalu lalang di kampus tersebut yang suasananya kini mulai meremang, lampu-lampu belum banyak yang dinyalakan. Suara azan dari kejauhan mulai terdengar. Serangga petang atau yang orang Jawa kenal dengan samber moto mulai menghalangi pandangan, pertanda bahwa waktu maghrib bukan waktu kita berada di jalan.
Nadia semakin mempercepat langkah kakinya. Namun, saat ia baru beberapa langkah menapaki trotoar jalan raya, tiba-tiba ada tiga orang preman dandanan yang mengerikan serta tato di sekujur tubuhnya menghadangnya.
"Hai manis, buru-buru banget mau kemana?" tanya salah seorang di antara mereka.
Nadia tidak menggubris sapaan ketiga laki-laki tersebut, namun ia tetap waspada. Ia tidak merasa takut sedikitpun karena ia sudah memiliki ilmu beladiri, semenjak ia SMP hingga SMA di sekolahnya ia belajar bela diri pencak silat "Pagar Nusa" hingga memiliki sabuk kuning.
Ia hanya menangkis menghindari tangan-tangan yang terus nakal hendak menyentuhnya sambil terus berjalan. Namun, sebuah tangan dari salah satu preman tersebut berhasil menariknya kembali menghadap ketiga preman tersebut.
"Apa sih mau kalian, waktu maghrib bukannya ke masjid. Tolong biarkan saya pulang!" gertaknya.
"Ck ck ck ... , ternyata Lo punya nyali juga ya cewek manis," decak preman yang lainnya.
Nadia masih berusaha menangkis dan melawan serangan dari ketiga preman tersebut dengan senjata tas punggungnya ia ayun-ayunkan. Namun, karena tenaga mereka tidak seimbang, satu lawan tiga, tubuh Nadia terhuyung saat pukulan salah seorang preman tersebut mengenai perutnya. Alhasil sekarang kedua lengannya bisa dengan leluasa dipegang oleh dua orang preman tersebut di sebelah kiri dan kanan dengan kuat, tas miliknya pun terlempar ke pinggir jalan.
"Ternyata selain manis, ilmu beladiri Lo hebat juga ya," tutur seorang preman yang kini berada di hadapan Nadia.
"Tolong lepasin aku, aku mohon. Aku mau pulang sudah Maghrib," rengek Nadia. Namun, preman itu tidak menggubrisnya. Bahkan salah satu preman berhasil menarik kerudung yang dipakai Nadia lalu melemparnya ke jalan.
"Wow ... , punya Lo masih kecil dan ranum, kami bisa membantumu, membuatnya menjadi besar," ucap songong preman yang berada di depan Nadia.
"Cuih, aku tidak mau," tolak Nadia meludahi preman tersebut.
__ADS_1
"Sialan Lo!" hardik si preman. "Seret ke markas!" titahnya pada kedua temannya.
Nadia kini ketakutan, ia hempaskan kedua tangannya mencoba melepaskan pegangan kedua preman tersebut, tetapi tenaganya sia-sia belaka. "Tolong!" teriaknya.
"Heh, gadis bodoh Lo teriak kencang-kencang sekalipun juga nggak bakalan ada yang menolong! Percuma! Buang-buang tenaga saja!" hardik salah seorang yang diyakini Nadia sebagai pimpinan preman.
Kini yang bisa Nadia lakukan hanya gelengan kepala dengan deraian air mata. "Tidak, Mamak tolong aku, Pak Rasya maafkan saya tidak mau menuruti kata-kata Bapak," rintihnya.
"Gimana ini, Bos? Kasihan gadis ini," tanya preman yang memegangi tangan kanan Nadia.
"Gue bilang seret ke markas goblok!" hardik si bos preman.
"Lepaskan gadis itu!" suara bariton seorang pria tiba-tiba terdengar sebelum preman tersebut menyeret Nadia pergi.
"Siapa Lo? Berani-beraninya mengganggu urusan kami!" hardik sang pimpinan preman songong.
"Heh! kamu yang berani-beraninya berbuat onar di area kampusku!" Rasya balas menghardik si preman. "Dasar preman pengecut, beraninya melawan perempuan, keroyokan lagi!" imbuhnya santai.
"Sialan Lo!" umpat bos preman tidak terima.
"Kalau berani ayo kita bertarung secara jantan satu lawan satu, Dasar pengecut!" Rasya terus menghardik, memancing emosi preman tersebut agar segera menyerangnya.
Benar juga, bos preman yang telah terpancing emosi tersebut langsung menyerang Rasya dan dengan sekali tepukan, preman tersebut berhasil dilumpuhkan.
"Ayo kalian berdua maju, jika ingin seperti bos kalian!" tantang Rasya kepada kedua anak buah preman yang memegangi lengan Tania. "Lepasin gadis itu, dan bawa bos kamu pergi! Kalau sampai saya melihat kalian berkeliaran lagi, saya akan pastikan tangan dan kaki kalian akan patah dan kalian akan membusuk di dalam penjara!" ancam Rasya.
"Saya tidak mau membuang waktu maghrib saya dengan percuma untuk mengurusi kalian, lepasin enggak!" bentak Rasya lagi.
"I iya, Tuan," sahut salah seorang preman tersebut ketakutan.
Mereka langsung lari kocar-kacir tunggang-langgang menyeret bos mereka yang tadi sudah terkapar.
Tanpa sadar seketika Nadia menghambur ke dalam pelukan Rasya, menangis tergugu di dada bidang sang dosen yang terasa nyaman untuknya. Rasya sempat kaget atas tindakan gadis kurus tersebut yang secara tak terduga. Namun ia berusaha memahami perasaannya saat ini dan berusaha menenangkan.
Bagaimanapun Rasya sebenarnya menyukai saat Nadia memeluknya, apalagi saat ini gadis tersebut tanpa penutup kepala sehingga ia dapat leluasa menikmati wajah manisnya dengan leluasa. Namun saat ini ia sedang terburu-buru karena waktu maghrib terus berjalan. "Sudah aman, mereka sudah pergi. Ayo saya antarkan pulang," ucapnya agar Nadia mau melepaskan pelukannya.
Nadia yang baru menyadari tindakannya yang salah pun segera melepaskan pelukannya. "Eh, maaf, Pak. Terima kasih atas pertolongan bapak," ucap Nadia menunduk sambil menyeka sisa air matanya.
"Apa perlu diantar ke rumah sakit?" tanya Rasya lagi yang masih menghawatirkan keadaan Nadia yang terluka.
"Tidak perlu, Pak. Saya baik-baik saja," sahut Nadia.
Rasya mencari keberadaan tas punggung dan kerudung Nadia yang dilempar oleh preman tadi ke jalan dan memungutnya. Untung kedua benda tersebut berada di pinggir jalan sehingga masih bisa di selamatkan. Ia lalu menutupkan kerudung tersebut di kepala gadis yang belakangan ini mengusik pikirannya.
.
.
.
TBC
__ADS_1