Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Latihan


__ADS_3

Nadia hanya menunduk tidak mampu mengangkat wajahnya. Perasaannya berkecamuk. Matanya terasa berat untuk menatap ke depan. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh si perias kepadanya. Nadia membungkuk, Ia meraih punggung tangan laki-laki yang disodorkan kepadanya lalu menciumnya. Setelah itu ia menegakkan badannya kembali. Sesaat ia merasa pria di depannya menarik dagunya dan mendaratkan ciuman di dahinya, pada posisi seperti ini tanpa ia harus memaksa, matanya bersibobok dengan pria yang statusnya sekarang adalah suami sahnya.


Mata Nadia membulat sempurna saat bertatapan dengan pria tampan yang tersenyum manis dan tulus kepadanya walau tanpa pemanis buatan itu.


"Kamu?!" pekik Nadia. "Ih, nyebelin!" serunya memanyunkan bibirnya bersamaan dengan serangan cubitan yang bertubi-tubi ia layangkan dengan kedua jemari tangannya di pinggang pria tersebut.


"Aduh sakit! Udah dong, Sayang!" seru pria tersebut menghalau serangan dari Nadia.


Tukang foto yang mau mengambil pose mereka jadi merasa kebingungan. "Ini gimana ambil gambarnya?" keluhnya.


Nadia menghentikan serangannya, tetapi kini ia beralih menggunakan kakinya untuk menendang berkali-kali kaki pria tersebut. "Kesal, kesal, kesal ih," gerutunya tidak terima.


Capek dengan aksinya, ia menghentikan serangannya. "Aku mau pingsan saja," ucapnya yang sudah merasa kelelahan, sementara perutnya juga belum terisi apapun sejak tadi bangun tidur. Perasaannya campur aduk, ia merasa capek, kesal, sebal dan juga lapar. Satu hal lagi, ia juga merasa dijadikan sebagai bahan permainan membuat air matanya mau tidak mau harus bergulir tanpa bisa ia tahan lagi.


Tanpa aba-aba Nadia menyingsingkan jariknya, lalu secepat mungkin ia berusaha berlari menuju ke kamarnya dan langsung menguncinya dari dalam.


Di dalam kamar Nadia terduduk di lantai membelakangi pintu. Ia meluapkan amarahnya dengan menangis.


Seluruh yang hadir di rumah itu dibuat kalang kabut. Rasya yang mengejar Nadia menjadi kebingungan. Berkali-kali ia mengetuk pintu kamar yang dimasuki oleh istrinya tersebut.


Tok tok tok


"Sayang, buka pintunya donk! Acaranya kan belum selesai, kok sudah kabur?" seru Rasya.


"Terusin saja sendiri!" jawab Nadia dengan suara keras di sela tangisnya.


"Kita belum foto-foto lho!" seru Rasya lagi.


"Aku enggak mau foto-foto. Foto saja sendiri!"


"Kita juga belum tukar cincin, Sayang. Masa Mas harus tukar cincin sendiri juga?" cicit Rasya mencoba merayu Nadia.


"Buka pintunya dong, Sayang! Kalau kamu enggak mau tukar cincin sama Mas, ya terpaksa Mas mau tukar cincin sama Nindya saja deh," seru Rasya pura-pura mengancam. "Nindy, Sini Nin! Yuk kita tukar cincin! A'ang kamu enggak mau tukar cincin sama Mas soalnya," seru Rasya pura-pura mengajak Nindya.


Nindya yang menyaksikan drama tersebut pun mendekat, "Beneran, Mas?" tanyanya pada Rasya sengaja dikeraskan suaranya agar Nadia mendengar.


Rasya mendekatkan jari telunjuknya melintang di kedua bibirnya, memberikan kode agar Nindya mau bekerjasama.


Nadia yang mendengar suara Nindya menyahut dari balik pintu pun merasa tidak terima, dia yang dinikahi kenapa Nindya yang diajak tukar cincin, gerutunya dalam hati. Ia pun bangkit berdiri lalu membuka sedikit pintu di belakangnya. Terlihat olehnya Rasya yang tersenyum menghadap ke arahnya.


"Mana cincinnya?" tanya Nadia dengan menengadahkan tangan kanannya.


"Buka dulu pintunya, Sayang!" suruh Rasya.


Rasya mendorong pintu tersebut. Tanpa mengeluarkan tenaga yang lebih besar ia dapat membuka pintu dengan mudah, lalu menerobos masuk dan menutup kembali pintu dengan punggungnya. Ia segera memeluk gadis itu.


"Pak Rasya jahat," tangis Nadia kembali pecah di dada bidang laki-laki tersebut.


"Maafkan, Mas, tetapi demi Allah, Mas juga tidak tahu apa-apa dengan semua ini. Ini semua Ibu dan Mamak yang mengaturnya, Sayang," jelas Rasya.

__ADS_1


"Aku enggak percaya. Bapak pasti sengaja mempermainkan perasaanku. Bapak pasti senang kan menjadikan aku sebagai boneka mainan?" tuduhnya.


Rasya hanya mendesah pasrah. Ia tidak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana lagi. Sedangkan ia juga sama seperti Nadia, sama-sama sebagai korban.


"Udah donk nangisnya. Jangan membuat Mas terus jadi merasa bersalah. Kita sudah terlanjur menikah, masa kamu masih tidak mau menerimanya juga. Kamu menyesal nikah sama Mas?"


Rasya melepaskan pelukannya, tangannya beralih menangkup kedua pipi gadis yang telah sah menjadi istrinya tersebut. Menghapus air mata yang masih membasahi pipi gadis itu dengan kedua ibu jarinya. "Lupakan pikiran kamu yang merasa dipermainkan itu. Kita ambil hikmahnya saja dari kejadian ini. Sekarang kita sudah menikah. Bukankah itu yang selama ini kita harapkan?" bujuknya.


Nadia mengangguk membenarkan ucapan Rasya. Rasya sudah tidak tahan lagi untuk tidak melu*at bibir gadis itu. Ia pun menempelkan bibirnya ke bibir Nadia. Nadia pun memberanikan diri untuk membalas perlakuan Rasya. Sejenak mereka bertukar saliva. Lidah Rasya menerobos masuk, mengabsen setiap dinding rongga mulut Nadia, terkadang lidah mereka membelit satu sama lain.


Kruk kruk kruk


Tiba-tiba terdengar suara dari perut Rasya. Ia pun melepas pagutannya diiringi dengan tawa keduanya.


"Mas lapar, Sayang. Dari pagi perut Mas belum kemasukan apa-apa," cicit Rasya.


"Tapi mulut pak Rasya seperti habis makan ayam mentah. Bapak seperti drakula, hahaha," seru Nadia menertawakan suaminya. Lipstik Nadia yang berwarna merah cabe itu telah berpindah tempat ke bibir Rasya.


"Hemmm," sungut Rasya menajamkan tatapannya namun tetap tersenyum manis pada Nadia.


Nadia pun menarik tangan Rasya agar mengikutinya melihat wajahnya sendiri di cermin meja rias. Rasya pun tidak dapat menahan tawa melihat wajahnya sendiri, bibirnya belepotan penuh noda lipstik.


"Drakula yang tampan, hahaha ...."


Nadia mengambil tisu basah dari meja rias lalu membersihkan noda lipstik di bibir suaminya.


"Bibir kamu juga belepotan, Sayang. Sini Mas bersihkan," ucap Rasya tersenyum jahil hendak kembali mencium bibir Nadia.


"Habis enggak ada yang nawarin Mas makan. Istri Mas yang seharusnya melayani Mas malah merajuk di dalam kamar," sindir Rasya.


"Sebenarnya aku juga belum makan apa-apa, hahaha," timpal Nadia tanpa sadar tawanya pecah kembali.


Tok tok tok


Terdengar pintu diketuk dari luar dan tangisan seorang bayi.


"Nanad, buka pintunya dong. Aku mau numpang nenenin baby Atar nih sebentar. Kasihan, sudah enggak sabar dia," seru Tania dari luar.


Nadia pun membuka pintu. Nampak Tania sedang berusaha menenangkan anaknya yang baru berusia dua bulan itu sedang menangis.


"Dasar pengantin enggak ada akhlak! Di luar tamu masih banyak kok ya sempat-sempatnya mesra-mesraan di dalam kamar," hardik Tania pada pasangan pengantin baru itu.


"Siapa yang mesra-mesraan? Kita juga udah mau keluar kok mau makan, iya kan, Pak?" elak Nadia menolak tuduhan Tania, mencoba meminta dukungan dari suaminya. Ia menarik tangan suaminya melangkah menghampiri meja makan.


"Udah jadi suami kok masih dipanggil pak, pak saja sih, Nad?" gumam Tania yang masuk ke dalam kamar diikuti oleh Edos di belakangnya. Ia membaringkan baby Atar di ranjang springbed, lalu berbaring miring untuk menyusuinya.


Edos menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia tidak mau ada seseorang yang memergoki istrinya yang sedang menyusui bayinya di dalam kamar. Ia menyusul Tania berbaring di samping baby Atar. Memandangi iri baby Atar yang dengan rakusnya menyedot ASI dari Tania.


Sementara Nadia mengambil sepiring nasi dan lauk untuk dimakan dirinya bersama Suaminya di ruang tengah. Ruangan di dalam rumah Nadia tidak banyak orang karena mereka sedang berada di halaman menyaksikan pertunjukan orkes Tarling dangdut yang sengaja disewa mamak dari Cirebon.

__ADS_1


"Mau lauk apa, Pak? Ikan manyung mau nggak?" tawar Nadia pada suaminya agak keras karena posisi Rasya sedang duduk agak jauh di lantai beralaskan karpet.


"Apa saja terserah kamu, Sayang. Yang penting tidak terlalu pedas," sahut Rasya.


Nadia meletakkan dulu piring yang dipegangnya di depan Rasya, kemudian dia berdiri lagi mengambil mangkuk dan mengisinya dengan gombyang ikan manyung, ia juga menyambar dua gelas air mineral lalu membawanya kembali ke hadapan Rasya. Nadia duduk dengan kesusahan karena ia masih mengenakan jarik yang melilit dari pinggang hingga kakinya. Ia mulai menyuapkan sesendok demi sesendok nasi dan lauk ke mulutnya dan suaminya secara bergantian.


"Mana janjimu? Katanya mau panggil 'Mas' kalau kita sudah sah jadi suami istri." Rasya menagih janji yang selalu diucapkan oleh Nadia di sela makannya.


"Hehehe, belum sempat latihan," sahut Nadia nyengir kuda.


"Kenapa harus pakai latihan? Tinggal bilang 'Mas' pada suami kamu saja. Pada orang yang belum kenal kok begitu mudah," sergah Rasya.


"Tapi aku enggak mau panggil Mas kalau di kampus," tolak Nadia.


"Kenapa enggak mau?" tanya Rasya heran.


"Nanti yang ada aku dibuli sama para penggemar Pak Rasya." Nadia mengemukakan alasannya.


"Yah 'Pak' lagi. Suamimu ini akan melindungi kamu, Sayang," janji Rasya. "Coba latihan dari sekarang!" pintanya.


"Nanti saja setelah selesai makan, takutnya malah jadi tersedak," janji Nadia.


Mereka kembali meneruskan sarapan pagi yang tertunda mereka tanpa berbicara. Namun, sebelum makanan mereka habis Tiara tiba-tiba datang dan duduk di pangkuan ayahnya.


"Papa, Mama Nanad, Aya antuk," ucap gadis kecil itu.


"Bentar ya, Sayang. Mama Nanad cuci tangan dan bawa piring kotor ke belakang dulu," ucap Nadia pada gadis kecil itu.


"Ini Tiara mau ditidurkan di mana, Sayang?" tanya Rasya pada Nadia.


"Di kamar sebelah kamar kita saja, Pak. Ups, Mas," jawab Nadia langsung mengoreksi ucapannya. Rasya hanya tersenyum menanggapinya. Lumayanlah ada peningkatan, batin Rasya.


Nadia mengangkat piring dan mangkok kotor bekas makannya dan membawanya ke dapur. Ia mencuci kedua tangannya di wastafel, lalu kembali ke ruang tengah. Sampai di ruang tengah, Rasya dan Tiara sudah tidak ada di sana. Nadia pun meneruskan langkahnya masuk ke dalam kamar yang berada di samping kamar pengantin. Kamar yang dari kemarin sore dihuni oleh Mbak Rumi dan suaminya.


Di ranjang kamar tersebut nampak Rasya sedang berbaring miring mengelus-elus rambut Tiara yang sudah tertidur. Nadia ikut berbaring di samping Tiara.


"Ini kamar siapa, Sayang?" tanya Rasya pada Nadia.


"Kamar buat Kang Nadhif, dari kemarin siang ditempati sama Mbak Rumi dan suaminya," jawab Nadia.


"Kayaknya habis dipakai buat anuan," terka Rasya. "Kita ikutan anuan di sini, Yuk! Mas kayaknya engga sanggup untuk menunggu sampai nanti malam," ajaknya tersenyum menyeringai. "Atau kita latihan dulu, yuk! Biar nanti malam sudah hafal," imbuhnya menawarkan.


"Latihan?"


.


.


.

__ADS_1


TBC


Terimakasih semuanya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2