Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Rumah Sakit Lagi


__ADS_3

Bu Nastiti dan Nadia kembali duduk. Menunggu perawat yang akan memindahkan Rasya ke ruang rawat inap keluar dari ruang UGD.


"Memangnya tadi Mas Rasya kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?" Bu Nastiti mencoba mengorek keterangan kepada gadis yang masih setia bergelayut di pundaknya.


"Tadi Nadia pulang ke rumah Mbak Rumi, Bu. Tiba-tiba pengen banget nyobain bakso di warung bakso baru depan komplek. Nadia nawarin Mbak Rumi mau enggak makan bakso beranak jontor? Eh, Mbak Rumi malah ngelarang Nadia makan bakso itu. Katanya baru sembuh dari operasi enggak boleh makan makanan yang pedas-pedas." Nadia menjeda kalimatnya.


"Nadia pergi saja nggak peduli omongan Mbak Rumi. La wong dokter yang memeriksa Nadia saja waktu itu bilang enggak ada pantangan makan kok," imbuh Nadia.


"Pas Nadia udah sampai di sana, udah pesan dan pesanan udah datang, tiba-tiba Pak Rasya sudah duduk di depan Nadia saja. Pak Rasya juga sama kayak Mbak Rumi, melarang Nadia makan bakso itu," lanjut Nadia.


"Jadi Mas Rasya yang makan bakso itu karena takut kamu bakal makan tuh bakso?" tebak Bu Nastiti. Nadia pun mengangguk.


'Karena Nadia mengancamnya, Bu,' imbuh Nadia dalam hati.


"Itu bukti bahwa Mas Rasya sangat menyayangi kamu, Sayang. Baginya lebih baik dia sendiri yang merasakan sakit daripada ia melihat kamu yang merasakan sakit," timpal Bu Nastiti meyakinkan Nadia. "Waktu kamu koma saja dia jarang tidur karena menunggui kamu setiap malam, tetapi entah mengapa sejak kamu sadar dari koma malah dia mengabaikan kamu? Ibu juga tidak tahu." Bu Nastiti menambahkan.


"Tapi kenapa dia malah membahayakan dirinya? Padahal kalau Nadia yang makan juga belum tentu sakit juga kan?" tanya Nadia entah pada siapa.


Dua orang perawat keluar dari ruang UGD membawa Rasya menuju ke ruang rawat inap. Bu Nastiti dan Nadia mengikuti dari belakang. Sampai di ruang rawat, Rasya dipindahkan ke atas brangkar.


Setelah kedua perawat itu pergi, Nadia segera menghambur ke arah Rasya, memeluknya sambil menangis sesenggukan. "Maaf!" itulah satu kata yang diucapkannya beberapa kali. Bu Nastiti Hanya tersenyum penuh haru melihat sikap gadis yang sudah dua minggu ini menempati salah satu kamar di rumahnya.


Rasya yang waktu telah sadar pun mengurai lengan yang dipeluk oleh Nadia lalu merengkuh punggung gadis itu. "Ternyata harus sakit dulu ya biar bisa dipeluk sama kamu, Nanad," cicitnya.


Nadia membelalakkan matanya. "Ih!" ucapnya seraya mencubit pinggang Rasya.


"Aw, itu masih sakit, Sayang," pekik Rasya.


"Maaf," ucap Nadia menyesal.


"Aku mau maafin kamu, tapi ada syaratnya," ucap Rasya tersenyum jahil.


"Apa syaratnya?" tanya Nadia.


"Syaratnya gampang, panggil aku Mas Rasya," jawab Rasya mengemukakan syarat.


"Enggak mau," tolak Nadia langsung.


"Kenapa?" Rasya bertanya.


"Takut keceplosan pas di kampus, nanti yang ada jadi bahan bulian para fans berat Pak Rasya," jawab Nadia.


Rasya tersenyum. "Bukannya kamu juga satu golongan sama mereka? Bedanya kamu enggak mau ngungkapin rasa kagum kamu ke aku kayak mereka," ejek Rasya.


"Ih, siapa juga yang kagum sama Bapak?" sergah Nadia tersipu kembali mencubit pinggang Rasya.


"Aw aduh, itu benaran masih sakit, Sayang. Kenapa bagian itu melulu sih yang dicubit?" protes Rasya.


Kruk kruk


"Pak Rasya lapar ya?" Tebak Nadia.


"Iya, tadi siang belum sempat makan karena sibuk nyari kamu," jawab Rasya mencubit gemas hidung Nadia.


"Mau makan apa?" tanya Nadia menawarkan karena belum ada jatah makan dari rumah sakit. Nadia merogoh ponselnya dari dalam tas selempangnya.


"Pesan di Planet Resto saja. Ponselku di mana ya?" ucap Rasya tanpa menjawab pertanyaan Nadia lalu bertanya.


"Mana saya tahu? Tadi yang jemput bapak ke toilet kan dua bodyguard," jawab Nadia.


"Bu, tolong pesan nasi buat Rasya," pinta Rasya beralih pada ibunya.

__ADS_1


"Nasi sama sup saja, mau?" tanya sang ibu.


"Iya, boleh. Sama telur dadar kalau ada," Rasya menyahut.


"Coba pinjam ponsel kamu," pinta Rasya beralih ke Nadia.


"Buat apaan? Nggak boleh," tolak Nadia.


"Buat telepon Pak Supri bentar, pelit ih," decak Rasya.


"Pinjam punya ibu saja yang udah canggih," seringai Nadia.


"Punya ibu 'kan masih dipakai," jelas Rasya sambil berusaha merebut ponsel kentang milik Nadia.


Nadia berusaha mengangkat ponselnya tinggi-tinggi agar jauh dari Rasya. Namun, Rasya bisa juga memegang tangan Nadia yang memegang ponsel. Terjadi tarik menarik antara keduanya, dan ....


Pluk


Ponsel kentang kebanggaan Nadia akhirnya jatuh ke lantai, LCL dan tutup baterenya terpisah dari badan ponsel.


"Ups ... jatuh dech," ucap Rasya menahan tawa tanpa merasa bersalah.


Wajah Nadia kini menjadi bermuram durja. Dengan langkah gontai ia turun dari kursi dan membungkuk mengambil ponselnya lalu melangkah menuju ke sofa duduk di sebelah Bu Nastiti.


"Anak ibu jahat banget sih, senang benar udah membunuh peliharaan Nadia," gerutu Nadia.


Bu Nastiti terkekeh lalu mencoba menghibur gadis di sampingnya. "Sabar, Sayang. Mungkin sudah waktunya hape kentang kamu itu pensiun," ucapnya.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Nadia bangkit untuk membukanya. Seorang pemuda berpakaian seragam Planet Resto berdiri di depan pintu


"Pesanan nasinya Pak Rasya, Mbak," ucap pegawai restoran tersebut memberikan bungkusan berisi makanan kepada Nadia sudah lengkap dengan piring dan sendok makan sekaligus serta air mineral.


Nadia menutup pintu kembali lalu membawa bungkusan tersebut dan meletakkan di atas meja kecil di samping brangkar.


"Sama orang yang enggak kenal saja nyapa Mas," gerutu Rasya.


"Sakarepe isun kunuh," timpal Nadia acuh sambil menuang nasi dan lauk ke atas piring. maksudnya 'terserah saya lah.'


"Apa? Mau disun?" goda Rasya tersenyum jahil menerjemahkan ucapan Nadia dengan bahasanya sendiri.


"Mau disuapin enggak nih? Kalau enggak mau, aku mau sholat ashar," tawar Nadia.


"Kamu sholat saja sana! Aku biar ibu yang suapi," suruh Rasya.


"Baiklah, Nadia ke mushola dulu ya, Bu," pamit Nadia beralih pada Bu Nastiti.


Nadia pun melangkah ke luar dari ruang rawat inap Rasya. Bu Nastiti duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Nadia. Menyodorkan air mineral yang telah diberi sedotan kepada Rasya yang telah berada pada posisi duduk. Rasya pun menyesapnya. Bu Nastiti mulai menyuapi anak sulungnya dengan telaten.


"Kapan kamu akan melamar Nadia?" tanya Bu Nastiti pada Rasya sambil menyiapkan nasi ke mulut Rasya.


"Kalau pembangunan villa sudah selesai 100% Bu, Rasya akan menikahi Nadia," jawab Rasya.


"Tanpa ikatan apapun, apa kamu tidak takut ada laki-laki yang mendahului kamu? Setidaknya ikatlah dia untuk meyakinkan bahwa dia akan menjadi milik kamu, Rasya. Meskipun hanya dengan sebuah cincin." Bu Nastiti memberikan saran.


"In sya Allah, Bu. Nanti segera setelah visitasi akreditasi kampus terlaksana. Sekarang Rasya benar-benar lagi sibuk-sibuknya, eh malah terdampar di sini," jawab Rasya berjanji.


"Kamu itu ceroboh, sudah tahu punya riwayat gastritis kronis kok malah nekat makan makanan yang jadi pantangan," sergah Bu Nastiti.


Tok tok tok

__ADS_1


"Sebentar, ibu lihat siapa yang datang," pamit Bu Nastiti.


Bu Nastiti meninggalkan kursi untuk membuka pintu. Ternyata bodyguard yang tadi menjemput Rasya datang untuk menyerahkan ponsel dan sepatu milik Rasya. Bu Nastiti menerimanya dan langsung menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya. sedangkan sepatu ia letakkan di samping pintu.


Rasya langsung membuka ponselnya, mengetik pesan untuk seseorang di sana. Lalu meletakkan ponsel tersebut di samping bantalnya. Ia kembali berbaring setelah menyelesaikan makannya.


Nadia masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa.


"Kalau mau tidur itu ada bed tambahan, Nad," ucap Bu Nastiti pada gadis yang baru saja duduk di sampingnya.


"Ia, Bu. Terima kasih," sahut Nadia.


"Aku kira kabur kemana kamu, Nad," celetuk Rasya.


"Kabur? Memangnya bapak pikir aku napi apa?" sergah Nadia.


Bu Nastiti hanya geleng-geleng kepala. 'Ini dua anak kalau bertemu kok ya selalu bertengkar,' batinnya.


"Kalau kamu kabur 'kan nggak ada yang bisa hubungi kamu lagi. Coba ponsel kamu bawa sini," pinta Rasya.


"Buat apaan lagi ponsel udah mati juga? Udah aku buang di tempat sampah," sergah Nadia berbohong.


"Enggak percaya, bawa sini atau ambil sim card dan kartu memorinya. Buruan penting!" Rasya masih berusaha meminta.


Tok tok tok


"Paket."


Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan suara seorang kurir mengantarkan paket. Nadia menghampiri pintu dan membukanya.


"Paket delivery order atas nama Pak Rasya, Mbak," ucap seorang pemuda menyodorkan beberapa papperbag saat pintu dibuka.


"Terima kasih, Mas," ucap Nadia menerima papperbag tersebut.


Nadia menutup pintu kembali lalu melangkah menghampiri sofa, duduk dan meletakkan semua papperbag di meja.


"Itu ponsel dan baju ganti buat kamu, Nad," jelas Bu Nastiti.


"Ponsel buat aku, Bu?" tanya Nadia memastikan. Bu Nastiti mengangguk.


"Buka saja, pindahkan kartu sim kamu ke ponsel yang baru," suruh Bu Nastiti.


Nadia meraih tas yang terbuat dari bahan sponbound yang bertuliskan nama counter ponsel dan aksesoris. Ia mendapati sebuah kotak bergambar ponsel yang masih tersegel. Wajahnya kini mulai berbinar. "Terima kasih, Bu," ucapnya.


"Bukan ibu yang membelikan, tetapi Mas Rasya. Bilang terima kasih padanya," elak Bu Nastiti.


Nadia mengalihkan pandangannya kepada Rasya yang sejak kedatangan kurir tadi pura-pura tertidur. "Orangnya lagi tidur," ucapnya.


Nadia pun melanjutkan membuka segel ponsel dan memindahkan sim cart dari ponsel lama ke ponsel barunya.


*****


Hari ini Nadia diantar oleh Pak Supri ke kampus.


"Non Nadia, maaf besok pagi Pak Supri tidak bisa mengantar Non Nadia ke kampus karena harus mengantarkan Pak Baskoro ke luar kota," ucap Pak Supri memberitahu Nadia.


"Tidak apa-apa, Pak. Nanti saya pulang ke kostan saja biar besok pagi berangkat dari sana," sahut Nadia. "Memangnya Pak Baskoro mau pergi ke mana?" imbuh Nadia bertanya.


"Ke Semarang atau ke Sukorejo ya, bapak kok lupa," jawab Pak Supri.


"Kok aneh, ke Semarang kenapa tidak naik pesawat saja, Pak? Apa Bapak enggak capek nyetir?" tanya Nadia merasa ada yang tidak beres.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Non. Saya cuma disuruh," jawab Pak Supri.


Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan gerbang kampus, Nadia meminta turun di sana saja agar tidak mengundang perhatian teman-temannya.


__ADS_2