Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Tugas Perdana


__ADS_3

Satu minggu setelah perayaan pesta ulang tahun ARD's Corp, Rayan mendapatkan kabar baik dari Ardi bahwa ada lowongan sebagai sopir untuknya. Ia diminta untuk menjadi sopir untuk putri pertama istrinya yang sekarang dari suami pertamanya yang belum lama ini ditemukan, Tania.


Tugas Rayan adalah mengantarkan dan menjemput Tania kuliah, sampai Tania bisa mengemudikan sendiri mobil yang sengaja Ardi belikan untuknya. Tania juga didaftarkan oleh papa tirinya tersebut di kampus yang sama dengan Rayan. Jadi nanti dia akan satu kelas dan jurusan dengan Prima dan Nadia.


Sebagai tugas perdana, Rayan besok pagi pukul 9 diminta untuk mengantarkan Tania dan saudara-saudaranya jalan-jalan ke mall, termasuk Aghni yang masih berstatus sebagai tunangan Rayan. Oh iya, berarti Aghni itu kan adiknya Tania dari rahim yang sama tetapi berbeda Ayah.


Rayan memberi kabar kepada Prima dan Nadia bahwa besok lusa akan ada mahasiswa baru di kelasnya. Nadia dan Prima diminta untuk membantu Tania menyelesaikan tugas-tugasnya yang tertinggal selama ia belum masuk kuliah setengah semester ini.


Pagi-pagi sekali Rayan sudah rapi, siap untuk mengantarkan Aghni dan saudara-saudaranya untuk jalan-jalan dan nonton di mall. Ia melajukan motornya menuju ke kediaman keluarga Ardi. Sampai di halaman rumah tersebut sang majikan beserta saudara ternyata belum siap. Hanya ada Abizar yang tengah memanaskan mobil yang hendak mereka pakai untuk jalan-jalan. Rayan menunggu dengan duduk di kursi yang disediakan di teras.


Abizar menghampiri Rayan, duduk di kursi di sampingnya. "Hai, Rayan. Apa kabar?" sapanya.


"Alhamdulillah, baik. Kapan datang? Dari Pekalongan atau Jepang?" tanya Rayan yang memang telah mengenal keponakan dari rekan bisnis papanya tersebut.


"Aku sampai beberapa hari sebelum perayaan ulang tahun ARD's Corp langsung dari Jepang," jawab Abizar. "Oh iya, apa kamu sengaja datang pagi karena mau ikut kita jalan-jalan, Ray," tanya Abizar penuh selidik terhadap tunangan adik sepupunya itu yang datang pagi-pagi.


"Om Ardi yang menyuruhku untuk mengantar kalian ke mall. Aku juga yang akan antar jemput Tania kuliah," tutur Rayan.


Abizar memicingkan matanya tanda keheranan, seorang Rayan Bayu Bagaskara salah seorang pewaris perusahaan Baskoro Groups rela menjadi sopir?


"Apa mereka belum siap, Bizar? Maksud aku Aghni, Tania dan yang lainnya? Aku juga pengen kenal yang namanya Tania itu seperti apa anaknya?" tanya Rayan.


"Sebentar aku panggilkan mereka," ucap Abizar yang berdiri dan masuk ke dalam rumah.


Abizar berdiri di ambang pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang tengah, dia menghela nafas berat.


"Ini, jadi berangkat tidak sih?" tanyanya pada penghuni ruang tengah.


"Memang sopirnya sudah datang, Kak?" tanya Sisi pada Abizar.


"Sudah nungguin di teras dari tadi tuh," jawab Abizar.


"Oo.., Ayo berangkat!" ajak Sisi semangat.


Mereka keluar dari dalam rumah bersama-sama. Sampai di halaman rumah,


"Mana sopirnya, Kak?" tanya Sisi pada Abizar.


"Maaf, saya ditugaskan Tuan Ardi untuk menjadi sopir di keluarga ini, nama saya Rayan," Rayan menjawab pertanyaan Sisi.


"Haha, kukira sopirnya udah bapak-bapak ternyata masih mas-mas to, ganteng lagi," celetuk Sisi yang membuat Rayan tersenyum.


Aris, pacarnya Sisi langsung menarik tangan Sisi.


"Lepasin, Mas!" teriak Sisi meronta-ronta dari genggaman Aris.


"Dasar mata sopiran kamu," hardik Aris. "Nggak bisa lihat ada sopir yang bening," imbuhnya.


"Ih, si Rida pakai baju warna biru, ternyata ada yang cemburu," sahut Sisi. "Memangnya ada yang salah dalam ucapanku?" tanyanya kemudian.


"Di hadapan pacar kamu, berani-beraninya bilang cowok lain ganteng!" ancam Aris.


"Memang dia ganteng, terus aku harus bilang dia enggak ganteng gitu?" tanya Sisi.


Sisi meraih tangan Aris yang satunya.


"Mas, meskipun di luar sana banyak yang lebih ganteng dari Mas Aris, tapi di hati Sisi hanya ada satu yang paling ganteng, cuma Mas Aris seorang kok," tutur Sisi.


Belum sempat Aris menjawab ucapan Sisi, terdengar teriakan Abizar.


"Woy, jadi ikut enggak, atau mau pacaran di rumah saja? Kita tinggal nih," teriak Abizar.


Ternyata yang lain sudah pada masuk ke dalam mobil tinggal menunggu Aris dan Sisi doang.


"Tuh kan, gara-gara Mas Aris," dengus Sisi mengibaskan tangan Aris. "Mas Aris tuh, kayak anak kecil saja," ucapnya saat masuk ke dalam mobil duduk di samping Agni di jok bagian tengah.


Dewi dan Tania duduk di jok paling belakang, sedangkan Abizar duduk di samping sopir.


"Kalau enggak cukup, aku bawa mobil sendiri saja dech," tutur Aris.

__ADS_1


"Cukup kok, Mas. Di sini," ucap Sisi menepuk jok di samping kirinya.


"Cepetan Aris, masuk!" tukas Abizar.


Aris masuk dan duduk di samping Sisi lalu menutup pintu mobil di sampingnya. Mobil melaju pelan membelah jalanan meninggalkan kediaman keluarga Ardiansyah menuju jalan raya ibukota yang tak pernah ada kata sepi.


Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di depan sebuah Mall, Rayan menurunkan mereka di sana, lalu ia memarkirkan mobil yang dikendarainya di basemen parkir.


Setelah memarkirkan mobilnya, Rayan berjalan memasuki food court. Ia berniat menunggu mereka sambil menikmati kopi dan makanan lainnya juga sambil memeriksa email laporan yang dikirim oleh sekretaris barunya.


Waktu telah menunjukkan tengah hari saat mereka memasuki food court yang sama dengan Rayan saat ini. Tiba-tiba Tiara berlari mendekati dan memeluk Tania yang sedang berjalan menuju meja yang kosong.


"Mama!" seru gadis kecil tersebut.


Tania kaget tiba-tiba saja ada gadis kecil yang memanggilnya mama. Dia berjongkok supaya bisa setara dengan gadis tersebut.


"Hai Cantik, siapa namamu?" tanya Tania.


"Aya," jawab gadis kecil tersebut.


"Aya kesini sama siapa? Di mana mama dan papa kamu?" tanya Tania lagi.


"Cama Yanti, Mama," jawab gadis kecil tersebut.


"Ini orang tuanya kemana sih? Kok bisa teledor membiarkan anaknya berkeliaran di tempat keramaian gini," gerutu Tania berdiri menggendong gadis kecil tersebut.


"Udah, kita bawa saja, Sayang. Mama sudah lapar banget nih," bujuk Dewi.


Tania membawa gadis tersebut dan di dudukkan di atas kursi.


"Aya mau makan apa, Sayang?" tanya Tania.


"Tentang doleng, Mama," jawab Aya yang masih cadel.


Tania berfikir sesaat, otaknya menerjemahkan omongan gadis kecil tersebut. "Oh, kentang goreng?" tanyanya kembali pada Aya yang hanya dibalas anggukan oleh Aya. Tania menatap gadis kecil itu.


"Tadi Aya bilang ke sini bareng Yanti, Yantinya ada di mana, Sayang?" tanya Tania lagi.


Tania dan yang lainnya mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjukan oleh gadis kecil tersebut.


"Bagaimana ini, Ma? Kalau orang tua gadis kecil ini tidak menemukannya?" tanya Tania panik.


"Sabar, pasti ketemu," bujuk Dewi.


"Kalau kita bawa pulang nanti disangka penculikan anak, gimana?" tanya Tania lagi.


"Jangan panik, Sayang. Di sini ada CCTV, kalau kita dilaporkan penculikan anak, kan bisa lihat di CCTV siapa yang datang duluan," jawab Dewi mencoba menenangkan Tania.


Tania masih berfikir, takut kalau-kalau ia dituduh melakukan penculikan anak, bisa-bisa ia masuk penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Aduh, bisa hancur masa depannya.


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Makanlah dulu, nanti keburu dingin lho makanannya," bujuk sang Mama.


"Mama, cuapin Aya!" pinta Aya memelas.


"Iya, Sayang. Aa'..," Tania menyuapi Aya dengan tangannya sendiri.


Sementara yang lain hanya menyaksikan interaksi antara kedua orang berbeda generasi tersebut. Sisi dan Aris baru datang bergabung.


"Kak Tania, anak siapa tuh? Anak Kak Tania? Kapan hamilnya? Kok langsung gede?" celetuk Sisi yang sontak mendapat jeweran dari Aris.


Rayan yang baru saja menutup laptopnya, seketika kaget saat melihat keberadaan keponakannya bersama majikannya di food court yang sama dengannya. Rayan mendekat ke arah mereka.


"Tiara!" panggil Rayan.


"Kamu kenal gadis kecil ini, Rayan?" tanya Dewi pada Rayan.


Rayan mengalihkan pandangannya kepada Dewi. "Dia anak dari kakak saya, Nyonya," jawab Rayan.


Rayan memandangi kembali Tiara, ternyata namanya Tiara bukan Aya, hehe....

__ADS_1


"Tiara, Kamu sama siapa kesini?" tanya Rayan pada Tiara.


"Cama Mama, Om," jawab Tiara jujur, jarinya menunjuk ke Tania.


"Tadi sebelum sama Mama sama siapa ke sini?" tanya Rayan yang sok ikut-ikutan Tiara menyebut Tania sebagai Mama.


Mata bulat dan jernih Tiara menatap Om nya. "Cama Yanti," jawab Tiara.


"Sekarang Eyang Putrinya di mana?" tanya Rayan mencoba mengintimidasi.


"Au," jawab Tiara menggelengkan kepalanya.


"Ikut Om, Yuk!" ajak Rayan menggendong keponakannya. "Maaf, Nyonya. Saya mau antarkan Tiara pada Eyang Putrinya dulu," pamitnya.


"Silahkan, Rayan," jawab Dewi.


Sambil berjalan Rayan berusaha menelpon ibunya. Terhubung,


"Ibu dimana?" tanya Rayan langsung setelah terhubung.


"Masih di dalam mall, Sayang. Ada apa?" sahut Bu Nastiti.


"Tidak merasa kehilangan Tiara?" Rayan malah bertanya.


"Tiara tadi sama Nina, sementara ibu mau belanja barang-barang kebutuhan dapur yang sudah pada habis, Ray," tutur Bu Nastiti.


"Tiara sampai di food court sendirian tanpa Nina, Bu. Untung aku melihatnya," ungkap Rayan.


"Astaghfirullah, Ninanya mana?" Bu Nastiti kaget.


"Tidak tahu, Bu. Rayan sudah di mall bagian makanan nih, Ibu dimana?" tanya Rayan.


"Di bagian daging, Nak," jawab Bu Nastiti.


"Ya sudah ibu diam disitu saja, Rayan yang kesitu," pinta Rayan.


Sesaat Rayan bertemu dengan ibunya dan menyerahkan Tiara pada neneknya. Ia menaikkan Tiara di atas troli belanja.


"Tiara jangan kemana-mana lagi, jangan bikin eyang putri shock ya," Rayan menasehati gadis kecil keponakannya tersebut.


"Aya cali mama," jawab Tiara tidak mau disalahkan.


"Iya, papa juga lagi bantu cariin mama buat kamu," timpal Rayan yang geli dengan kata-katanya sendiri.


"Rayan mau kembali bekerja dulu ya, Bu. Sekalian mau ambil laptop Rayan yang masih tertinggal di food court tadi," pamit Rayan pada sang ibu.


"Iya, Ray. Hati-hati," sahut Bu Nastiti.


"Ibu juga hati-hati jaga bocah kecil ini. Jangan sampai teledor," timpal Rayan.


Rayan melangkah meninggalkan Tiara, saat dia di depan food court, tiba-tiba Nina memanggilnya.


"Mas Rayan, Tiara hilang. Tadi dia lari-larian, Mbak Nina enggak sanggup mengejarnya, pas Mbak Nina berhenti, ternyata dia sudah enggak ada," ungkap Nina terengah-engah.


"Sudah sama Ibu di dalam, Mbak. Mbak Nina ke bagian daging saja, Ibu ada di sana," tutur Rayan.


"Alhamdulillah," ucap Nina lega.


"Rayan pamit ya, Mbak," pamit Rayan.


"Terima kasih ya, Mas." Rayan mengangguk. Nina sangat merasa bersyukur si putri ular sudah ketemu.


Rayan kembali melanjutkan langkahnya ke food court dan langsung menuju ke meja tempat duduk yang dipakainya tadi. Namun, tas dan laptopnya sudah tidak ada di sana.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2