Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Tiara Sakit


__ADS_3

Pagi-pagi Nina hendak membangunkan Tiara untuk sarapan. Ia masuk ke dalam kamar Tiara, menghampiri gadis itu dan menyentuh punggungnya. Ia kaget ketika kulitnya tidak sengaja menyentuh tubuh gadis kecil itu, suhu tubuh gadis itu panas sekali. Nina tergopoh-gopoh kembali ke dapur untuk memanggil majikannya.


"Bu ... Ibu!" serunya.


"Ada apa, Nina?" Tanya Bu Nastiti yang telah selesai membuat bubur untuk Tiara. Ia segera mematikan kompor, membalikkan badannya ke arah Nina yang berdiri di belakangnya.


"Badan Tiara panas sekali, Bu," jawab Nina.


"Astaga," pekik Bu Nastiti.


Mereka berdua melangkah menuju ke kamar Tiara. Bu Nastiti langsung menghambur ke dekat Tiara dan menyentuh tangan gadis kecil itu. Lalu mengambil termometer digital di kotak obat, menekan tombol on dan menyusupkan ke ketiak lengan Tiara.


Setelah menunggu beberapa saat, ia mengambil termometer tersebut kembali dan melihat hasilnya.


"Astaghfirullah, 39⁰, Nin. Kita bawa ke rumah sakit sekarang, Nin," cetus Bu Nastiti.


"Tapi sarapan buat Bapak dan Mas Rasya belum siap," sanggah Nina.


"Tolong kamu siapkan barang-barang keperluan Tiara selama di rumah sakit, biar Ibu yang menyiapkan sarapan buat Bapak dan Rasya," cetus Bu Nastiti.


"Baik, Bu," sahut Nina.


Bu Nastiti keluar dari kamar Tiara menuju ke dapur. Di ruang makan sudah duduk Pak Baskoro dan Rasya yang sudah siap menyantap sarapan tetapi masih ada yang kurang.


"Ada apa, Bu? Tumben sarapannya belum siap? Apa bapak bangunnya kepagian ya?" cecar Pak Baskoro saat Bu Nastiti melewatinya hendak ke dapur.


"Badan Tiara panas sekali, Pak. Ibu akan bawa dia ke rumah sakit," jawab Bu Nastiti sambil mengusung makanan yang sudah selesai di masak tetapi belum selesai ditata di meja makan.


Bu Nastiti wira-wiri dari dapur ke ruang makan untuk mengambil nasi dan lauk-pauk. Setelah selesai ia lalu duduk di samping Pak Baskoro. Menuangkan nasi dan lauk ke dalam piringnya.


"Rasya, apa Ibu harus berlutut sama kamu? Supaya kamu mau menyusul Nadia ke rumahnya dan membawanya ke sini."


Rasya hanya bisa diam tidak merespon.


"Tiara itu tidak bersalah Rasya, jangan sampai dia menjadi korban karena keegoisan kalian sebagai orang tua. Cukup Nadia saja yang menjadi korban." Bu Nastiti kembali memohon.


"Untuk saat ini Rasya belum bisa berjanji, Bu," sahut Rasya yang begitu terdengar mengecewakan di telinga Bu Nastiti.


"Terserah kamu kalau kamu mau Tiara mati karena busung lapar," sungut Bu Nastiti sembari bangun dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan.


"Tidak sarapan dulu, Bu. Temani bapak kek," pinta Pak Baskoro.


"Ibu sarapan nanti saja saat sampai di rumah sakit, Pak. Panas badan Tiara tinggi sekali, ibu takutnya sampai kejang," seru Bu Nastiti menjawab permintaan suaminya.


"Hati-hati nyetirnya, Bu! Jangan panik," seru Pak Baskoro.


"Iya, Pak," sahut Bu Nastiti berseru juga.


Bu Nastiti melangkah tergesa menuju ke kamarnya untuk mengambil tas. Lalu kembali ke kamar Tiara.


"Ayo, Nin! Kamu yang gendong Tiara, ibu bawa tas," ajak Bu Nastiti saat sampai di kamar Tiara.


Mereka cepat-cepat keluar dari rumah menuju sebuah mobil yang sudah dipanaskan Supri.


"Biar Supri yang nyetir, Bu." Supri menawarkan diri.


"Tidak usah, Supri. Kamu antar Bapak ke kantor saja," tolak Bu Nastiti.

__ADS_1


Bu Nastiti melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia masih bisa berfikir positif, jangan hanya karena panik dengan keadaan Tiara malah akan membuat dirinya celaka.


Kurang lebih butuh waktu tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di area parkir sebuah rumah sakit. Keluar dari mobil, Bu Nastiti dan Nina langsung membawa Tiara ke ruang IGD. Seorang dokter tengah memeriksa keadaan Tiara.


"Gimana kondisi cucu saya, Dok?" tanya Bu Nastiti yang kebetulan masih berada di ruangan IGD menunggui Tiara yang tengah diperiksa.


"Dugaan sementara sepertinya cucu ibu terkena typus. Untuk lebih jelasnya kita tunggu hasil pemeriksaan lab," jawab dokter. Sebaiknya ibu ke bagian administrasi untuk memilih kamar, karena anak ini harus segera dipindahkan ke ruang rawat," imbuh dokter.


"Baik, Dok," sahut Bu Nastiti.


Bu Nastiti menghampiri ruang administrasi yang berada tepat di depan ruang IGD untuk memilih kamar. Tidak menunggu waktu yang lama, Tiara segera dipindahkan ke ruang rawat inap.


*****


Pagi ini matahari nampak bersinar cerah, walau dengan senyum tapi menyengat siapa saja yang bekerja di luar ruangan. Namun, lain bagi seorang Nadia. Meskipun ia kini sudah bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Namun wajahnya masih terlihat murung.


Kedatangan surat pemberitahuan pencabutan beasiswa terhadap dirinya telah membunuh impian dan cita-citanya. Ia tidak bisa lagi meneruskan kuliahnya tanpa beasiswa tersebut. Sementara sisa tabungan milik kakaknya - Nadhif yang diberikan kepadanya mungkin hanya cukup untuk makan dua bulan saja.


"Mamak tidak bisa membantu, Nad. Kalau kamu kuliah di universitas negeri di sekitar sini, mungkin bisa menghemat uang kost dan makan kamu, tetapi kamu kuliah di universitas swasta yang bonafit, mana mungkin kamu bisa membayar uang semesternya tanpa beasiswa. Kecuali kalau kamu bekerja seperti Kakang Nadhif," tutur Mamak panjang lebar pada suatu malam.


"Kang Nadhif kan di samping kerja juga dapat beasiswa, Mak. Kalah Nadia bekerja dengan hanya mengandalkan ijazah SMA, tanpa beasiswa mana bisa membiayai kuliah sendiri," timpal Nadia.


"Sudahlah Nad, lupakan cita-cita kamu yang setinggi langit itu. Kamu ini perempuan, di kampung seorang gadis yang sudah mempunyai ijazah SMA menurut mamak itu sudah berpendidikan tinggi. Kamu bantu Mamak di sawah saja seperti mimik kamu."


Ucapan mamak waktu itu seketika membuat hati Nadia merasa kecewa. 'Kenapa tidak dari dulu Mamak mematahkan semangatku, kalau saja aku tidak kuliah ke Jakarta dan tetap di kampung ini tidak kemana-mana, mungkin sekarang aku masih menjadi perempuan yang normal, tidak harus kehilangan sebelah peranakan ku,' sesalnya dalam hati.


'Aku harus bangkit, aku harus kuat. Bagaimana jika nanti aku jadi perawan tua dan tidak ada yang mau menikah denganku karena aku mandul. Pak Rasya saja yang sekarang seorang duda dan menjanjikan harapan semanis madu sudah tidak mau menanyakan kabarku seperti apa. Masa udah jadi perawan tua ditambah tidak punya apa-apa. Bagaimana jadinya aku nanti kalau mamak dan mimik telah tiada, kemudian Kakang dan adik-adikku sudah memiliki keluarga dan kehidupan sendiri-sendiri. Siapa yang akan mau mengurus masa tuaku kelak? Aku tetap ingin menjadi orang sukses. Aku akan bekerja dan mengumpulkan uang. Kalau uangnya sudah terkumpul aku bisa kuliah tanpa beasiswa sekalipun.' Nadia terus berbicara dengan dirinya sendiri.


'Mungkin Om Ardi bisa memberiku pekerjaan, aku harus menghubungi Tania, biar dia yang memintakan pekerjaan kepada papanya untukku jadi office girl seperti waktu itu pun aku mau, yang penting bisa menghasilkan uang dan halal, atau jadi pegawai minimarket seperti kang Nadhif,' cetusnya.


Nadia membuka ponselnya, mengirim pesan WhatsApp ke Tania.


Anda


[Tan, kemungkinan aku nggak bisa nerusin kuliah lagi bareng kamu. Beasiswaku sudah dicabut karena aku ambil cuti, Tan.]


Tania


[Kita bicarakan lagi nanti sore ya, Nad. Aku mau siap-siap periksa ke klinik kandungan.]


"Maksudku aku mau minta dicarikan pekerjaan, Tan," gumamnya.


Sementara itu, Tania yang mengira Nadia hanya mengadu bahwa beasiswa kuliahnya telah dicabut, tanpa membicarakan kembali dengan Nadia dia langsung menelpon papanya.


"Aku mau telepon Papa Ardi bentar ya, mumpung ingat," pamit Tania pada suami dan mama mertuanya saat berada di dalam mobil perjalanannya menuju ke klinik kandungan.


"Assalamu'alaikum, Tania. Kamu sudah lahiran?" tanya Ardi langsung dalam sambungan telepon.


"Wa'alaikumussalam, belum, Pa. Tapi Tania telepon karena ada sesuatu yang lain. Ini soal Nadia, Pa," jawab Tania.


"Nadia teman kamu yang kena tusuk waktu itu?" tanya Ardi.


"Betul, Pa. Tadi dia bilang kalau beasiswa kuliahnya dicabut karena dia ambil cuti. Dia tidak bisa lagi meneruskan kuliahnya kalau beasiswanya dicabut, Pa," tutur Tania.


"Lalu kamu minta Papa buat membiayai kuliahnya?" tebak Ardi.


"Bukan, Pa. Dia pasti enggak akan mau kalau seperti itu. Tania minta tolong sama Papa untuk mengurus ke bagian administrasi kampus supaya beasiswa Nadia dikembalikan," jelas Tania.

__ADS_1


"Akan Papa usahakan, Sayang. Nama lengkapnya siapa?" jawab Ardi.


"Asa Nahdiana, Pa," jawab Tania.


"Oke, sudah, itu saja?" tanya Ardi.


"Itu saja, Pa. Terima kasih ya, Pa. Assalamu'alaikum," ucap Tania.


"Wa'alaikumussalam."


Setelah menjawab salam, Ardi beralih menelepon seseorang, terhubung.


"Assalamu'alaikum, Om Ardi," suara seseorang menyapa di telepon.


"Wa'alaikumussalam, Rasya. Maaf, apa Om mengganggu kesibukan kamu?" tanya Ardi.


"Sedikit, Om. Kebetulan saya tidak ada jam mengajar. Ada apa, Om?"


"Begini, Om dapat amanat dari Tania, dia bilang beasiswa kuliah yang diberikan kepada Nadia sudah dicabut, apa beasiswa tersebut bisa dikembalikan?" tanya Ardi.


"Nadia?" Hati Rasya bergetar saat menyebut nama tersebut.


"Iya, nama lengkapnya Asa Nahdiana. Om si bisa saja membantu membiayai kuliahnya, tapi Tania bilang dia pasti tidak akan mau," tutur Ardi.


"Nanti saya tanyakan ke bagian keuangan, Om."


"Terima kasih ya, Rasya. Maaf sudah mengganggu."


"Sama-sama, tidak apa-apa, Om. Saya malah senang jika bisa membantu."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah menutup telepon, Rasya segera menekan tombol interkom.


"Ifada, apa pencabutan beasiswa atas nama Asa Nahdiana masih bisa dibatalkan?"


"Maaf, Pak. Sudah tidak bisa, karena berkasnya sudah bapak tanda tangani, dan beasiswa tersebut sudah dialihkan kepada mahasiswa lain."


"Oh, sudah tidak bisa ya," sesal Rasya.


"Iya, Pak. Salinan berkasnya masih ada di meja Bapak, di dalam map warna merah."


"Ya sudah, terima kasih," ucapnya.


Rasya menghembuskan napas lalu menyugar rambutnya dengan kasar.


"Astaghfirullah al'adzim, Nanad. Kenapa harus aku yang selalu menjadi penyebab penderitaan kamu?" sesal Rasya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2