
Tak terasa perkuliahan Nadia sudah berada di semester enam. Di menjelang akhir semester enam ini, mahasiswa harus menjalani kegiatan PKL di sebuah perusahaan dan nanti diakhiri dengan pembuatan laporan.
Nadia, Tania dan Prima sepakat untuk magang di perusahaan yang sama. Mereka memilih ARD's Corp milik papa tiri Tania sebagai tempat magang dan memilih ditempatkan di divisi manajemen.
Namun, siang itu saat dosen wali mengumumkan tempat pelaksanaan PKL masing-masing mahasiswa, Nadia begitu terkejut mendengar tempat magangnya bukan di ARD's Corp, melainkan di Baskoro Groups. Ia mendapat tempat magang bersama dua teman mahasiswi lainnya tetapi bukan Tania dan Prima. Nadia sempat ingin protes, tetapi ditolak oleh dosen wali yang mengatakan jika ini sudah menjadi keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.
Setelah pembekalan PKL selesai, dengan tersungut Nadia melangkah menyusuri lorong menuju ke ruang rektor. Saat sampai di ruang dosen ia bertemu dengan Bu Siska, beliau bilang jika pak Rasya sedang ada di kantor perusahaan bapaknya.
"Kenapa aku tidak telepon dulu sih?" sesalnya menepuk keningnya sendiri saat melewati koridor hendak kembali ke kelasnya.
Nadia lupa membuka ponselnya. Saat ia membuka ponselnya, ternyata Rasya sudah mengirim pesan WhatsApp untuknya.
SuamiQ
[Sayang, kamu pulang jam berapa? nanti aku jemput. Aku ke kantor Baskoro Groups dulu ada meeting mendadak dengan klien]
Nadia lalu membalas chat dari suaminya.
Anda
[Ini aku sudah mau pulang, Mas. Aku pulang nebeng mobil Tania saja.]
Tania sudah berani menyetir mobilnya sendiri. Setahun setelah kepergian suaminya untuk selamanya karena kebocoran cairan di otaknya, tiga bulan setelah melahirkan anak keduanya, Tania memberanikan diri untuk ikut kursus menyetir mobil. Tidak selamanya ia harus mengandalkan orang lain untuk mengantar dirinya kemanapun.
Sampai di ruang kelas, Nadia mendapati Tania dan Prima masih menunggunya dengan setia.
"Gimana?" tanya Tania mendongak pada Nadia.
"Suamiku sedang ada meeting di kantor Bapak mertua. Aku pulang nebeng kamu ya, Tan," sahut Nadia meminta.
"Ya udah, ayo! Atar juga dari tari merengek minta jalan-jalan beli es krim," timpal Tania.
"Apa Papa Bizar sering mengunjungi Atar, Tan?" Tanya Nadia pada Nadia yang sedang fokus menyetir.
"Sebulan sekali dia mengunjungi keponakannya ke Jakarta," jawab Tania tanpa beralih dari jalanan.
"Kenapa kalian tidak menikah saja, Tan?" tanya Prima menimpali yang berhasil membuat tawa Tania meledak.
"Dia itu kakakku, Pipim," sahut Tania yang belum hilang tawanya.
"Kakak sepupu 'kan, Tan? Edos juga kakak sepupu dan kalian menikah," sela Nadia.
"Beda lah, dulu aku kan enggak tahu kalau Edos itu kakak sepupu aku. Sedangkan Kak Bizar, sejak kecil aku mengenalnya sebagai kakakku dan selamanya status kami tidak akan berubah," tandas Tania.
"Lalu tentang surat wasiat mendiang suami kamu? Apa kamu memilih untuk mengabaikannya?" tanya Prima lagi mengingatkan Tania.
"Entahlah, untuk saat ini aku hanya fokus untuk membesarkan Atar dan kuliah," sahut Tania akhirnya.
"Ingat loh, Tan! Wasiat orang yang sudah meninggal dunia itu harus dilaksanakan. Kalau tidak, arwahnya pasti tidak akan tenang di alam sana," tutur Nadia kembali menasehati sahabatnya.
Tania hanya diam fokus pada jalanan yang panas dan padat akan kendaraan. "Kalian mau pulang ke rumah kalian atau ikut ke rumahku?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Ke rumahmu saja, nanti kita ajak Atar sekalian jalan-jalan ke mall," cetus Prima.
"Iya, aku setuju dengan Pipim," timpal Nadia.
"Gimana kalau suami kamu nyariin, Nanad?" tanya Tania pada Nadia mengingatkan.
"Iya ya. Aku kabarin Mas Rasya dulu dech," putus Nadia.
Ia segera merogoh ponselnya dan mengirim pesan WhatsApp pada sang suami.
__ADS_1
[Mas, aku nggak langsung pulang ya. Mau nemenin Tania ngajak jalan-jalan Atar ke mall.]
Pesan tersebut langsung centang biru pertanda bahwa Rasya telah membacanya. Dan terlihat ia sedang mengetik pesan balasan.
SuamiQ
[Iya, Sayang. Hati-hati! Mas juga mungkin pulang sampai malam. Banyak sekali pekerjaan yang harus Mas kerjakan di kantor Bapak.]
Namun, setelah membalas pesan dari istrinya, Rasya tidak tinggal diam. Ia kembali teringat akan peristiwa penusukan terhadap Nadia dulu. Maka ia memerintahkan bodyguard perusahaan untuk mengawasi Nadia dan teman-temannya dari jauh tanpa sepengetahuan Nadia.
Sampai di halaman rumah Tania langsung keluar dari dalam mobil. Melangkah tergesa ke dalam rumah mencari keberadaan anak sulungnya. Tania menemukan anaknya yang tengah bermain bersama Mbah putrinya - Dewi di ruang tengah.
"Ayo, Sayang! Kita langsung jalan, katanya tadi mau echim," ajak Tania pada Atar yang usianya belum genap dua tahun itu.
"Echim, Nda?" tanya Atar sumringah.
"Iya, tapi jangan banyak-banyak ya! Nanti Atar bisa pilek," cegahnya. Atar hanya mengangguk.
"Mbah putri boleh ikut nggak, Sayang?" tanya Dewi menyela.
"Boleh lah, Ma," jawab Tania.
"Makasih, Sayang. Mama siap-siap dulu ya. Kamu enggak ne*enin Bita dulu?" ucap Dewi lalu bertanya.
"Iya, Ma. Aku bawa Atar ke luar dulu ya biar sana Nanad dan Pipim," sahut Tania.
"Ya udah sana, mama ke kamar ya," pamit Dewi.
Dewi melangkah menuju ke kamarnya, sementara Tania menggendong Atar ke halaman.
"Sini Atar sama Mama Nanad!" ucap Nadia yang membuka pintu mobil dan merentangkan kedua tangannya hendak menggendong Atar.
"Titip Atar dulu ya, Nad. Aku mau ne*enin Bita dulu," pamit Tania. Bita adalah panggilan dari anak kedua Tania dan Edos yang diberi nama Nayra Tsabita.
"Kalau masih nunggu Tania ne*enin Bita, kenapa kita masih di dalam mobil? Ayo, Pim kita keluar. Gerah tahu!"
Nadia keluar dengan beringsut karena masih ada Atar di pangkuannya. Prima juga keluar. Mereka melangkah menuju ke taman dan duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari besi berdampingan.
"Miris ya nasib Tania, usianya sebaya dengan kita, udah punya anak dua. Suaminya dipanggil yang kuasa. Sementara aku yang pengen hamil enggak hamil-hamil," ungkap Nadia membandingkan dirinya dengan Tania.
"Masih mending kamu udah nikah," timpal Prima.
"Eh iya, kapan Mas Rayan pulang? Dia bilang udah selesai S2nya," tanya Nadia.
"Minggu depan katanya. Dia minta kita yang jemput," sahut Prima.
Lima belas menit mereka menunggu Tania, akhirnya ia keluar bersama sang Mama berjalan beriringan.
"Nanad, Pipim, kenapa kalian enggak masuk ke dalam ambil minum?" Tanya Dewi pada kedua sahabat putri bungsunya.
"Di mobil ada kok, Tan," sahut Nadia.
"Ayo!" ajak Tania pada semuanya untuk masuk ke dalam mobil.
Mereka langsung meluncur menuju ke mall langganan. Menghabiskan waktu bermain-main dengan Atar hingga sore hari. Menjelang magrib Tania mengantar Nadia sampai di rumah sang mertua. Nadia langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri sebelum suaminya pulang dari kantor. Ia membuka pintu kamar yang sudah mulai meremang.
Nadia menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar senandung di antara suara gemericik air dalam ritual mandinya. Saat keluar dari kamar mandi Rasya sudah berada di dalam kamar.
"Mas, kok sudah pulang? Tadi bilang mau sampai malam," ucap Nadia yang kini hanya memakai handuk melilit di dadanya.
"Mas mau mandi sekalian memastikan kamu sudah pulang atau belum, tetapi melihat kamu sekarang sepertinya Mas nggak cuma mau mandi saja deh," sahut Rasya tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Ih, kebiasaan deh. Aku enggak mau mandi lagi sebelum sholat maghrib," tolak Nadia.
"Siapa suruh kamu cuma pakai handuk di depan Mas begini," sergah Rasya yang sudah bisa merengkuh tubuh istrinya.
"Tunggu!" seru Nadia teringat sesuatu. "Aku mau protes sama Mas," ungkapnya.
"Protesnya nanti saja, bentar lagi maghrib," tolak Rasya yang tidak ingin pulangnya ke rumah hanya untuk mandi saja.
"Enggak bisa, harus sekarang! Mas kenapa mindahin tempat PKL aku?" tuduh Nadia.
"Kamu nuduh Mas?" sergah Rasya.
"Siapa lagi kalau bukan Mas Rasya? Waktu itu pak dosen wali bilang kita boleh memilih perusahaan mana saja yang kita sukai sebagai lokasi PKL. Aku, Tatan sama Pipim sudah memilih ARD's Corp sebagai lokasi PKL. Eh, tadi siang pak dosen ngumumin lokasi PKL aku di Baskoro Groups. Keputusan sudah final dan tidak dapat diubah lagi," ungkap Nadia panjang lebar.
"Kalian itu mau praktek kerja, Sayang. Bukan mau main-main, jadi kenapa harus bersama terus hemm?" sela Rasya yang sudah melepas tubuh Nadia.
"Tapi kami bisa menempatkan diri kok. Pasti Mas Rasya modus 'kan supaya bisa terus menguntit dan mengawasi aku?" tuduh Nadia lagi.
Rasya menghela napas dalam, mereka kini tengah duduk di sofa. "Memangnya di mana letak kesalahan Mas?" tanya Rasya. Ia menjeda kalimatnya. "Mas pernah hampir kehilangan kamu, Sayang. Mas takut sesuatu terjadi sama kamu lagi jika kamu jauh dari Mas. Perlu kamu tahu, tadi siang saja saat kamu kirim pesan pamit buat jalan-jalan ke mall bersama Tania dan Prima, mas merasa khawatir peristiwa penusukan itu terulang kembali. Makanya Mas sekarang pulang," tuturnya menangkup wajah istrinya.
Nadia terdiam menatap kedalaman mata sang suami yang juga tengah menatapnya.
"Aku mencintai kamu, Asa Nahdiana. Aku tidak ingin jauh darimu. Aku takut kehilangan kamu," ungkap Rasya.
Nadia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rasya dengan erat. Ungkapan perasaan cinta dari Rasya membuatnya panas dingin bagai butiran embun dengan kelopak bunga-bunga menyirami mereka meskipun ini bukan pertama kalinya pria itu menyatakan perasaannya.
Rasya menarik tengkuk Nadia, mendekatkan bibirnya ke bibir gadis. Tidak ada lagi penolakan dari tubuh Nadia. Mereka berdua kini juga tengah diselimuti kabut gairah. Nadia lupa jika kini ia hanya memakai handuk yang melilit di dadanya. Dan karena himpitan dari keduanya lilitan itu kini terlepas. Nadia mendorong tubuh Rasya.
"Udah ah, Mas mandi sana. Bau acem," ucap Nadia. Ia lalu membetulkan lilitan handuknya.
"Nanggung banget sih, Sayang," cicit Rasya dengan tatapan nelangsa.
"Makanya nanti malam enggak usah lembur. Mas kan pernah bilang kekayaan Bapak enggak akan habis tujuh turunan tujuh tanjakan," sergah Nadia.
"Tapi berkasnya harus sudah selesai besok pagi untuk meeting Bapak bersama kliennya," kesal Rasya.
"Ya udah nanti sebelum berangkat lembur, aku kasih bekal deh," janji Nadia akhirnya.
"Janji ya!" pinta Rasya.
"Iya. Udah sana mandi! Aku mau ganti baju. Udah maghrib nih," suruh Nadia lagi.
"Berarti tentang pemindahan lokasi itu, kamu udah enggak marah lagi sama Mas 'kan, Sayang?" tanya Rasya memastikan.
"Iya, aku enggak marah kok karena itu sebagai bentuk kasih sayang Mas terhadap aku," sahut Nadia.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Nadia.
"Makasih, Sayang."
"Harusnya aku yang berterima kasih sama, Mas," ucap Nadia.
Rasya pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
.
__ADS_1
TBC
Terima kasih yang masih setia membaca 😘