Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Tepar


__ADS_3

Rasya mencari keberadaan tas punggung dan kerudung Nadia yang dilempar oleh preman tadi ke jalan dan memungutnya. Untung kedua benda tersebut berada di pinggir jalan sehingga masih bisa di selamatkan dari lalu lalang kendaraan. Ia lalu menutupkan kerudung tersebut di kepala gadis yang belakangan ini mengusik pikirannya.


"Saya antar kamu pulang," tukasnya sekali lagi sambil menyerahkan tas milik Nadia. Ia bosan dengan sikap gadis itu yang selalu membantah perintahnya.


Mau tidak mau Nadia menuruti kemauan Rasya. Ia mengikuti laki-laki tersebut menuju mobilnya yang tidak jauh dari tempat kejadian perkara tersebut.


"Makanya kalau dibilangin orang tua itu nurut, disuruh nunggu sebentar saja enggak betah," Rasya mulai mengeluarkan omelannya pada gadis yang duduk di sampingnya saat ia tengah mengemudikan mobilnya. Cieee, si bapak dosen bilang dirinya orang tua?


"Maaf," hanya itu kata yang terucap dari mulut Nadia sambil menunduk menyesal.


"Tapi ilmu bela diri kamu boleh juga."


Mata Nadia sesat membola mendengar pujian orang berada di sampingnya, 'Jadi, Pak Rasya melihatku sejak tadi,' Nadia berbicara dalam hati.


"Meskipun tadi sempat kalah dari ketiga preman itu, tapi itu sudah membuat saya salut dan kagum sama kamu, Asa," timpal Rasya lagi.


"Terima kasih, Pak. Atas pujiannya," ucap Nadia menundukkan kepalanya karena malu.


Sampai di tempat kost, Nadia langsung melaksanakan sholat Maghrib tanpa mandi terlebih dahulu karena takut kehabisan waktu sholat. Ia melakukan ritual mandinya setelah melaksanakan sholat Maghrib. Sedangkan Rasya balik lagi ke kampus karena nanti pukul 19.00 harus mengisi kelas ekstensi.


"Nadia, baju aku yang tadi malam aku titipin ke kamu mana?" tanya Sari yang melihat Nadia lewat sehabis dari kamar mandi.


Nadia menoleh, "Masih di tempat jemuran, Mbak Sari. Aku baru saja pulang dari kampus jadi belum sempat angkat jemuran pakaianku," jawabnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kalau di tempat kost Nadia terbiasa melepas penutup kepala. Kecuali kalau ada suaminya Mbak Rumi di rumah.


"Barusan sudah aku cari di tempat jemuran, tidak ada bajuku," protesnya.


'Tuh, kan dari tempat jemuran saja enggak mau bantuin ngangkat jemuranku. Orang kok maunya enaknya sendiri, giliran bantuin orang lain ogah. Hidup saja di hutan sana!" gerutu Nadia dongkol.


Nadia yang hendak ke kamar dengan terpaksa membelokkan langkahnya ke samping kiri rumah, ke tempat ia menjemur pakaian. Untung cuacanya terang benderang, kalau sampai hujan, basah semua 'kan bajunya. Ia baru merasakan susahnya hidup di kota yang serba sendiri-sendiri. Memang benar kata Bang Haji Rhoma irama di ibukota itu hidupnya nafsi-nafsi.


Nadia masuk kembali ke dalam rumah dengan setumpuk pakaian di pelukannya. ia menghampiri Sari yang tengah duduk di ruang tengah. "Ini 'kan punya Mbak Sari," ucapnya sambil menyerahkan setelan kerja berwarna merah marun.


Mata Sari seketika melotot tidak percaya, ia sangat kecewa baju seragam yang sebentar lagi mau ia pakai jadi berubah warna. "Kenapa warnanya jadi merah marun semua? Aku kan nitip buat dicuci," protesnya tidak terima baju seragam kerjanya yang semula berwarna ungu sekarang berubah menjadi merah marun.


"Mbak Sari kayaknya nggak ada bilang mau nitip nyuci semalam." Nadia masih membela diri.


"Ini ada masalah apa sih? Kok ribut-ribut?" Rumi yang masih makan malam mendengar suara ribut-ribut pun segera ke luar.


"Pokoknya aku minta tanggung jawab baju seragamku berubah jadi merah marun begini karena cewek penghuni baru ini, Mbak!" seru Sari sambil menunjuk-nunjuk ke arah Nadia. Nadia jadi merasa terpojok.

__ADS_1


"Ini kenapa, Nad?" Mbak Rumi minta penjelasan terhadap Nadia.


Nadia menghela napas sebelum berbicara. "Mbak Rumi tahu sendiri, kan kemarin sore aku minta ijin pinjam panci untuk merebus zat pewarna kain karena aku mau mewarnai kerudung putihku yang sudah usang?" tanya Nadia pada sang ibu kost panjang lebar.


"Iya? Dan Mbak sudah kasih ijin," sahut Rumi ingin mendengar cerita selanjutnya.


"Nah, tadi malam itu aku enggak nyuci baju, Mbak tapi mewarnai 3 kerudungku ini, pas aku mau ambil ember di tempat cucian, Mbak Sari menghampiriku mau nitip seragam ini, dia yang mohon-mohon dan maksa buat nitip bajunya ini, Mbak. Ya sekalian saja aku warnai. Lagian dia enggak bilang mau nitip nyuci, cuma nitip doang. Karena aku lagi mau mewarnai ya aku pikir Mbak Sari mau nitip mewarnai," terang Nadia panjang lebar.


Devi yang baru saja paham dengan persoalan teman-teman kostnya menjadi tertawa terbahak-bahak. "Makanya jangan suka asal titip kamu, Sari. Kalau enggak mau keluar tenaga mendingan keluar uang, bawa ke laundry. Lagian 'kan kamu kerja, enggak mengharapkan kucuran dana dari orang tua kaya aku dan Nadia. Udah dibantuin kadang enggak ada terima kasihnya lagi," hardik Devi.


"Tuh benar kata Devi, Sari. Nadia enggak salah dalam hal ini, memang kamunya saja yang maunya enaknya doang, enggak mau keluar tenaga, enggak mau keluar uang juga, ini pelajaran buat kamu, makanya jangan suka asal titip," timpal Mbak Rumi memberikan nasihat panjang lebar.


"Udah ah, capek badanku, capek dititipi dan disalahin juga," ucap Nadia yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


'Awas kamu, Nad!" gerutu Sari. Eh, ini anak bukannya minta maaf, malah memelihara dendam. Dendam kok dipelihara, ayam baru tuh dipelihara, bisa dimakan daging sama telurnya.


Sebelum tidur, Nadia melaksanakan sholat isya' terlebih dahulu. Setelah itu ia mengunci pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Tidak memerlukan waktu lama, ia pun segera menjemput impian.


*********


Mbak Rumi sudah terbiasa bangun subuh untuk melakukan rutinitas paginya. Namun hingga hampir pukul tujuh, ia tidak melihat batang hidung penghuni baru rumahnya. Setelah sayur yang dimasaknya matang, ia mematikan kompor, lalu segera beranjak menuju ke kamar Nadia.


"Nadia! Nadia!" panggilnya berulang-ulang seraya mengetuk-ngetuk pintu. "Sudah hampir jam tujuh kok belum bangun kamu?" serunya. Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar. "Nad, kamu sakit?" tanyanya lagi.


"Nad, kamu sakit?" Mbak Rumi melihat Nadia yang masih meringkuk di kasurnya setelah ia berhasil membuka pintu kamar gadis tersebut. Ia menempelkan punggung tangannya ke kening gadis tersebut. "Ya ampun, Nad. Badan kamu panas banget," pekiknya merasakan tubuh Nadia. Lalu ia memanggil Devi sembari mengambil air hangat dari dapur.


"Ada apa, Mbak?" tanya Devi yang baru muncul di ambang pintu kamar Nadia.


"Dev, tolong kamu belikan bubur ayam buat Nadia, pakai uang kamu dulu ya. Badannya panas banget. Biar dia nanti bisa minum obat penurun panas," suruh Mbak Rumi yang kini tengah mengompres badan Nadia.


"Baik, Mbak," sahut Devi. Devi pun segera melaksanakan perintah Ibu kostnya tesebut.


"Badan kamu kenapa bisa panas begini sih, Nad? Ini kulit kamu juga kenapa banyak lebam-lebam?" gerutu Mbak Rumi.


"Euh," hanya lenguhan dan rintihan yang keluar dari mulut Nadia, tetapi mata gadis itu masih tetap rapat.


Devi lekas kembali karena ia harus segera berangkat ke kampus. "Ini, Mbak!" ucapnya sambil menyerahkan bungkusan kepada Mbak Rumi.


"Makasih, Dev. Nanti tolong bilangin temannya Nadia yang suka ke sini itu siapa?" Tanya Mbak Rumi mencoba mengingat sebuah nama.

__ADS_1


"Prima ya, Mbak?"


"Iya, Prima. Bilang ke dia kalau Nadia sakit, terus minta dia supaya mintain ijin buat Nadia ke dosennya, ya!" pinta Mbak Rumi lagi.


"In sya Allah, Mbak. Devi berangkat dulu ya assalamu'alaikum," pamit Devi.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan," ucap Mbak Rumi. "Nad, buka mata kamu! Bangun, makan bubur dulu." Mbak Rumi masih berusaha untuk membangunkan Nadia.


"Badanku sakit semua, Mbak," rintihnya masih dengan mata terpejam.


"Ya udah deh, kalau kamu enggak mau bangun, Mbak panggilkan orang buat bawa kamu ke rumah sakit ya?"


Pertanyaan Mbak Rumi terdengar seperti suara ancaman buat Nadia. Seketika ia membuka matanya. "Jangan donk, Mbak," tolaknya. Mau dibayar pakai apa biaya rumah sakit nanti. Bisa-bisa uang bayaran dari Pak Rasya pun masih nombok.


"Nah, kalau gini kan cakep. Ayo makan bubur, Mbak suapi, habis ini kamu bisa minum Paracetamol," bujuk Mbak Rumi.


Mbak Rumi mulai menyuapi Nadia dengan telaten, namun hanya hitungan ke tiga suapan ia Nadia sudah menutup rapat bibirnya. "Kok buburnya enggak enak ya, Mbak? Kali ini rasanya keasinan," ucap Nadia mengungkapkan apa yang lidahnya rasakan.


Mbak Rumi tersenyum seraya berucap, "Namanya juga orang sakit, makan apapun ya rasanya pasti enggak enak. Bukan buburnya yang nggak enak, tetapi memang lidah kamu yang lagi enggak bisa ngerasain enak."


"Sekarang minum dulu, terus minum obatnya," ucapnya lagi menyodorkan segelas air putih dan sebutir Paracetamol yang masih dalam kemasan.


Nadia melakukan apa yang di instruksikan oleh Mbak Rumi, meminum obat pereda panas. Beberapa menit kemudian ia merasa matanya mengantuk kembali karena efek obat yang ia minum. Nadia pun kembali tertidur pulas.


*********


Sore harinya Rayan menemui kakak laki-lakinya di ruang rektor untuk mengambil berkas proposal kerjasama dengan klien perusahaan Baskoro Groups yang tidak sengaja terbawa. Pemuda itu heran, melihat kakaknya yang sudah kaya, tetapi selalu kerja sampai larut malam.


"Kerja enggak usah ngoyo, Mas. Kekayaan keluarga kita tidak akan habis hanya karena Mas Rasya pulang kerja sebelum Maghrib," sindirnya pada sang kakak.


Sejenak Rasya mengalihkan pandangannya dari laptopnya. "Kamu ini mulai ngaco, kakak kamu ini tidak sedang bekerja Ray, tetapi lebih kepada sebuah pengabdian," sanggahnya.


Rayan yang hendak keluar dari ruangan, tiba-tiba berhenti diambang pintu karena teringat sesuatu. "Oh iya, Mas, laptop Mas Rasya yang ada di perpus rumah yang enggak kepakai itu, apa boleh dijual?" tanyanya.


"Sejak kapan kamu jadi pengepul barang second?" sergah sang kakak.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2