
Rayan kembali melanjutkan langkahnya ke food court dan langsung menuju ke meja tempat duduk yang dipakainya tadi. Namun, tas dan laptopnya sudah tidak ada di sana.
Rayan berdiri mematung memandang meja yang kosong. Seorang perempuan berusia 30 tahunan menghampirinya.
"Rayan, ini tas dan laptop kamu." Wanita itu menyerahkan laptop dan tas milik Rayan.
"Terima kasih, Mbak Frida," ucap Rayan pada wanita tersebut yang ternyata adalah pengelola food court.
"Kamu ini teledor ya, untung pegawai aku mengenali kamu sebagai anak pemilik mall ini," Frida kembali mengingatkan.
"Iya, Mbak. Tadi sepertinya masih ada teman-temanku di sini. Ternyata sekarang mereka sudah pada pergi. Aku tadi juga lupa menitipkan tas dan laptop aku ke mereka. Sekali lagi terima kasih, Mbak Frida," ungkap Rayan panjang lebar.
"Iya, sama-sama. Total tagihan kamu sudah dibayar teman kamu tadi, padahal Mbak sudah bilang enggak usah," ungkap Frida lagi.
"Kalau git---"
Ucapan Rayan terputus saat ponsel di dalam saku celananya bergetar.
"Rayan, tolong antar kami pulang sekarang," pinta Abizar langsung saat panggilannya terhubung.
"Loh, kenapa enggak jadi nonton?" tanya Rayan keheranan.
"Ada tamu dari jauh di rumah Om Ardi," jawab Abizar.
"Oh, baiklah. Tunggu aku di tempat tadi saja, Bizar. Di depan pintu masuk," pinta Rayan.
Sambungan telepon terputus. Rayan menggendong tas punggungnya. "Aku pamit ya, Mbak Frida," ucapnya pada wanita yang sekarang masih setia berada di hadapannya.
"Silakan, Ray."
Rayan bergegas melangkah menuju ke basemen parkir, masuk ke dalam mobil milik keluarga Ardiansyah yang dibawanya. Ia menjalankan mobil tersebut keluar dari basemen, lalu menghentikannya di tempat ia tadi menurunkan Abizar dan para adik sepupunya. Ia kembali melajukan mobil tersebut setelah para penumpang naik semua.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarainya telah sampai di halaman kediaman keluarga Ardiansyah, Rayan menghentikannya. Para penumpang keluar dari dalam mobil. Rayan teringat kalau ia harus segera berbicara dengan Aghni sebelum gadis itu kembali lagi ke Bandung dan susah untuk dihubungi.
"Aghni! Tunggu!" seru Rayan dari dalam mobil mencegah Aghni untuk masuk ke dalam rumah. Seketika Aghni menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rayan.
Rayan membuka pintu mobil di samping kanannya, keluar dan langsung menutup pintu tersebut. Gegas ia melangkah menghampiri Aghni yang berdiri mematung menunggunya.
"Aku ingin berbicara sama kamu. Kita selesaikan urusan kita," ungkap Rayan.
Selesaikan? "Baiklah, ayo kita ke taman belakang rumah," ajak Aghni pada tunangan yang tidak pernah dianggapnya tersebut.
Aghni melangkah lebih dulu, sementara Rayan mengikutinya dari belakang.
"Mbak Siti, tolong bikinkan es jeruk peras dua ya! Tolong bawa ke taman belakang!" pinta Aghni pada asisten rumah tangga di rumahnya saat berpapasan.
"Baik, Mbak Aghni," sahut Siti.
Setelah sampai di taman belakang rumah, Aghni mencari tempat duduk yang nyaman. Ia memilih untuk duduk di tepi kolam ikan yang biasa dipakai sang Mama untuk terapi. Kakinya ia ongkang-ongkangkan di air kolam sambil menikmati gigitan ikan-ikan kecil tersebut. Rayan pun melakukan hal yang sama. Aghni nampak lebih lembut dari biasanya yang ogah-ogahan saat diajak bertemu dengan Rayan. Apa perasaannya sekarang telah berubah dalam hitungan jam? entah lah ....
Mereka tampak terlihat baik-baik saja tidak seperti orang yang sedang bermusuhan. Terkadang mereka tertawa cekikikan karena merasa geli kulit kakinya kena gigitan ikan-ikan kecil tersebut.
__ADS_1
"Tadi katanya mau bicara, memangnya Mas Rayan mau bicara apa?" tanya Aghni setelah beberapa saat.
"Emm ..., Om Ardi, Papa kamu bilang sama aku kalau beliau tidak pernah memaksa tentang pertunangan kita, semua terserah kita. Beliau juga bilang tidak mau kalau nantinya sampai kita menikah akan bernasib sama seperti pernikahan kakak kamu, Bram dengan Niken." Rayan menjelaskan secara terperinci.
"Jadi?" tanya Aghni menjeda kalimat Rayan.
"Jadi mulai sekarang, Aku akan ... Melepaskan mu," tukas Rayan dengan menekankan kata melepaskan mu.
Kedua mata Aghni seketika berembun, entah ia merasa sedih atau bahagia dengan lepasnya dari ikatan pertunangan dengan laki-laki yang saat ini masih berada di hadapannya. "Terima kasih, Mas."
Ucapan Aghni terhenti seketika karena ia tidak bisa menahan embun di matanya kini telah berubah menjadi anak sungai di pipinya. Ia pun tiba-tiba berlari meninggalkan Rayan yang kebingungan dengan sikap mantan tunangannya tersebut.
"Aghni! Aghni!" panggil Rayan. Namun Aghni tidak mempedulikan lagi panggilannya kini.
Dari dalam rumah Siti membawa Nampan berisi es jeruk dan buah-buahan. "Mbak Aghni, ini es jeruknya sudah jadi. We lha ..." ucapnya heran melihat sikap anak majikannya.
"Es jeruknya, Mas Rayan," Siti meletakkan nampan berisi Es jeruk yang di bawanya di gazebo sambil menawarkan es tersebut kepada Rayan.
"Terima kasih, Mbak," sahut Rayan.
Sementara Aghni sampai di ruang tengah ia langsung memeluk Abizar yang sedang duduk di sofa menonton televisi sambil menangis sesenggukan.
"Kakak, hiks hiks hiks ...."
Abizar mengelusnya punggung Aghni. "Kenapa kamu? Datang-datang nangis sesenggukan enggak jelas?" tanya Abizar heran dengan adik sepupunya yang tiba-tiba menangis. Seketika orang-orang yang ada di ruangan tersebut memandang ke arah Aghni dan Abizar. Sudah ada Hisyam dan Rosiana, orang tua Sisi juga di sana.
Aghni masih terus menangis belum mau menjawab pertanyaan Abizar. Sementara yang lain masih menunggu penjelasan darinya. Sesaat Aghni mulai tenang. Ia melepas pelukannya dari Abizar. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sebelum memulai berbicara.
"Aku ... sudah jadi janda, Kak," ucap Aghni pada Abizar.
"Kapan kamu nikah, Aghni? Kok Sisi nggak diundang? Tiba-tiba sudah menjadi janda saja," celetuk Sisi dengan logat Jawanya yang langsung mendapat pelototan dari Aghni.
"Mas Rayan sudah melepaskan ku," ungkap Aghni.
Seisi ruangan kembali tertawa.
"Aghni, bukannya ini yang selama ini kamu inginkan? Sekarang kamu sudah mendapatkannya, kenapa malah menangis? Janda itu kalau perempuan sudah menikah lalu bercerai, kalau hanya lepas dari pertunangan ya tidak ada yang namanya janda," tutur Abizar mencoba menghibur adik sepupunya.
"Tapi nanti Aghni pasti dapat predikat 'prawan tukang tampik' seperti yang pernah Simbah katakan sama Aghni," Aghni merajuk manja. Ia masih terngiang-ngiang pesan yang disampaikan oleh Simbah putrinya sebelum acara pertunangannya dengan Rayan.
"Tidak apa-apa, lama kelamaan seiring berjalannya waktu, predikat itu juga pasti akan hilang dengan sendirinya sejalan dengan kamu melupakan predikat itu sendiri." Abizar masih berusaha menghibur Aghni.
"Oalah Aghni, Sisi kira sedih karena berpisah sama Mas Rayan yang ganteng itu. Ternyata cuma takut dikatakan tukang tampik tho," celetuk Sisi.
"Terima kasih, Kak. Aghni sekarang lebih tenang," ucap Aghni pada Abizar dengan mata yang sekarang lebih berbinar.
"Sekarang kamu kembali ke taman belakang rumah, minta maaf sama Rayan. Kamu belum sempat meminta maaf kan atas perlakuan buruk kamu terhadap dia selama ini?" saran Abizar.
Aghni mengangguk tanda setuju dengan saran yang Abizar berikan. Ia menghapus sisa-sisa air matanya. Lalu bangkit dari sofa dan melangkah kembali menuju ke taman belakang rumah. Di sana Rayan tengah duduk dengan santai di gazebo sambil menikmati es jeruk dan cemilan yang dibawakan oleh Siti.
Aghni menghampiri gazebo, lalu duduk di hadapan Rayan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Mas Rayan, aku mau minta maaf. Aku sadar selama ini sikap dan perlakuanku terhadap Mas Rayan selalu kasar dan tidak mengenakan hati," tutur Aghni pelan.
Rayan pun mendongakkan kepalanya menatap Aghni. "Sama-sama, Aghni. Mungkin sejak kita bertunangan membuat kamu tidak nyaman, tetapi kita masih bisa jadi teman 'kan?" tanya Rayan.
"Iya lah, Mas. Apalagi sekarang Mas Rayan 'kan yang antar jemput Kak Tania kuliah," sahut Aghni.
"Oke kita berteman, deal?" ajak Rayan dengan mengacungkan jari kelilingnya berharap Aghni menyambut jari tersebut.
"Deal," sahut Aghni tersenyum mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Rayan seperti anak Sekolah Dasar.
"Sekarang kita 'kan sudah pisah, apa kamu masih tetap sekolah di Bandung, Aghni?" Tanya Rayan, ia hanya ingin tahu apakah Aghni sekolah di Bandung hanya karena menghindarinya.
"Aku tetap mau sekolah di Bandung sampai lulus lah, Mas. Bahkan rencananya aku mau mendaftar kuliah di sana juga. Aku sudah betah tinggal di sana, soalnya di sana hawanya sejuk tidak seperti di sini, panas," jawab Aghni menyampaikan alasan kenapa ia lebih memilih tinggal di Bandung.
Akhirnya mereka bisa bercanda ria tanpa adanya kaca benggala yang menjadi penghalang. Hingga dari dalam rumah Tania datang mendekat ke arah mereka, lalu duduk di samping Aghni.
"Kalian ini bagai pinang dibelah dua ya, benar-benar mirip." Rayan berusaha membedakan kedua kakak beradik berbeda ayah tersebut. Tania dan Aghni saling pandang lalu tersenyum. "Tuh, 'kan. Senyum saja mirip, cuma bedanya lesung pipi Aghni lebih terlihat," imbuh Rayan.
"Mas Rayan, Tania mau tanya boleh?" tanya Tania.
"Tanya apa, Tan? Boleh kok, kalau Mas Rayan bisa jawab akan Mas Rayan jawab. Kalau Mas Rayan enggak bisa jawab ya nanti Mas Rayan tanyakan sama yang lebih berkompeten untuk menjawab," jawab Rayan seperti seorang moderator.
"Besok yang perlu di serahkan ke TU bagian administrasi di kampus apa saja ya, Mas?" tanya Tania.
"Emmm ... paling fotokopi ijazah, transkrip nilai, sama pasphoto, terus nanti di sana mengisi formulir pendaftaran, itu cara manual. Ada juga cara pendaftaran yang online, tetapi untuk saat ini mungkin juga sudah tutup link tersebut." Rayan menjawab apa yang ia ketahui.
"Kalau cara pendaftaran yang online gimana, Mas?" tanya Tania lagi.
"Kalau yang online, kamu haru scan dulu berkas-berkas yang akan dikirim dalam bentuk PDF file, lalu kamu buka website universitas, di sana pasti ada link pendaftaran. Tinggal isi link saja, selesai," terang Rayan lagi.
"Tapi berkas-berkasnya masih di rumah Mas Rifki," keluh Tania.
"Besok saja pagi-pagi sekalian berangkat kita ambil. Kalau sekarang kamu pasti sudah capai, Mas juga sudah capai," cetus Rayan.
"Iya, Mas," Tania menyetujui.
"Kalau sudah tidak ada keperluan lagi, Mas Rayan pamit pulang ya, Tania ... Aghni," pamit Rayan.
"Iya, Terima kasih ya, Mas," ucap Aghni.
"Sama-sama, Aghni," sahut Rayan.
"Tania juga ngucapin terima kasih, Mas. Sampai ketemu besok pagi," ucap Tania.
"Oke," sahut Rayan singkat.
Rayan bangkit dari duduknya, melangkah melewati dalam rumah. Aghni dan Tania mengikuti di belakangnya. Rayan berpamitan dengan orang tua Tania dan Aghni serta para sanak familinya yang tengah berkumpul di ruang tengah. Setelah itu ia menaiki motornya yang sejak pagi ia parkir di garasi, melajukan motor tersebut meninggalkan kediaman keluarga Ardiansyah.
.
.
__ADS_1
.
TBC