
Pagi harinya kira-kira pukul delapan, Rayan beserta Prima dan Nadia hendak bertolak dari Bandung ke Jakarta. Rasya, Amir beserta istri dan anaknya melepas kepergian mereka. Nadhif dan Aghni turut hadir di sana.
"Nanti pas acara wisuda kakang, kamu aku jemput," janji Nadhif pada adiknya.
"Iya, Kang. Selamat ya, akhirnya skripsi kakang di-acc juga. Ternyata ACC bersyarat," sahut Nadia membuat Nadhif mengernyit.
"Maksud kamu?"
Nadia memberikan kode kepada sang kakak untuk mendekatkan telinganya ke mulutnya. Nadia lalu berbisik, "syaratnya harus memacari keponakan dosen pembimbing skripsi kakang yang killer itu."
"Hahaha, sok tahu kamu," ucap Nadhif tertawa.
"Tapi benar kan, Kang," sergah Nadia.
"Gantian lah, Nadhif," pinta Rasya menghentikan acara perpisahan adik kakak tersebut.
"Bapak mau sampai kapan di sini?" tanya Nadia beralih pada dosen pujaan hati.
"Mungkin satu minggu lagi saya akan menengok ke Jakarta," jawab Rasya.
"Nadia pasti akan merindukan Bapak," ucap Nadia tersenyum tetapi dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu hati-hati ya di jalan, jaga diri kamu baik-baik." Rasya memberikan pesan.
"Bapak juga jaga diri di sini," ucap Nadia. "Nadia pamit, Pak," ucap Nadia mencium punggung tangan Rasya.
"Asa!" Nadia yang sudah melangkah, tetapi tangannya ditarik oleh Rasya. Sehingga mau tidak mau ia harus terjerembab jatuh ke dalam pelukan Rasya. Air mata yang ditahannya kini tumpah sudah.
"Saya merasa ini terakhir kali bapak memberikan harapan ke pada saya," ucap Nadia yang terasa ambigu bagi Rasya.
"Nanad, ayo masuk! Nanti keburu panas di jalan," seru Rayan dari dalam mobil.
Nadia pun segera melepas pelukannya dan masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang.
"Kamu hati-hati, Ray bawa mobilnya. Tidak usah ngebut." Rasya menasehati adiknya.
"Siap, Mas Bos," jawab Rayan.
Rayan mulai menjalankan mobilnya, menyusuri jalanan meninggalkan kota Bandung.
Mereka sampai di Jakarta sekitar pukul dua belas siang. Rayan mengantar Nadia ke tempat kost nya terlebih dahulu baru mengantar prima pulang ke rumahnya.
Empat hari kemudian mereka kembali masuk kuliah awal semester dua. Tania juga telah kembali dari kampung halaman.
*****
Mendung menggelayut manja di cakrawala, siap menumpahkan air matanya di siang yang sejak pagi tiada ceria. Seperti para remaja yang sedang putus cinta.
Beberapa hari kemudian, Hari ini Nadia pulang kuliah bersama kedua temannya, Prima dan Tania. Kembali seperti semula, mereka disopiri oleh Rayan, meskipun Rayan telah lulus kuliah. Karena urusan mendadak, Rayan terpaksa harus mengedrop mereka di rumahnya.
"Aku ada meeting dengan klien sebentar lagi, tapi berkas yang harus kubawa tertinggal di rumah, jadi nanti kalian aku tinggal di rumahku selama aku meeting ya, aku sekalian ambil berkas," tutur Rayan sambil mengemudikan mobil.
Prima terbelalak kaget, pasalnya dia belum siap kalau harus bertemu dengan orang tua Rayan dan diperkenalkan sebagai kekasihnya.
Rayan memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. "Ayo turun! Aku buru-buru soalnya."
Rayan meninggalkan mereka yang masih canggung dengan rumah orang tua sopir pribadi Tania yang begitu megah tersebut. Ia langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil berkas. Sekitar dua menit kemudian, Rayan keluar dengan memegang berkas di tangannya.
Rayan melempar berkasnya ke dashboard mobil. Membukakan pintu samping untuk Prima. "Ayo keluar, Ayang Pipim! Mas Rayan buru-buru banget soalnya." Rayan menatap Prima, menarik turunkan kedua alisnya. Prima dengan ragu-ragu untuk turun dari mobil, begitupun dengan Tania dan Nadia.
"Aku pinjam mobil kamu ya, Tan. Kalian sudah ditunggu Tiara di dalam," ucap Rayan.
"Tapi isi bensin lho, Mas!" pinta Tania.
"Kamu ini pelit, kayak bukan anaknya Om Ardi saja. Potong gajiku saja!" seru Rayan langsung pergi bersama mobil Tania.
'Memang aku bukan anaknya,' jawab Tania dalam hati.
Langkah mereka menuju ke pintu rumah Rayan terasa berat sekali, seakan di alas kaki mereka ada satu kilo getah nangka di bawahnya, yang merekatkan sandal atau sepatu dengan paving di halaman. Atau mungkin halamannya mengandung magnet kali ya. Tapi mana mungkin magnet bisa menarik sandal atau sepatu?
"Mama!" teriak seorang anak kecil dari dalam rumah.
__ADS_1
Gadis itu berlari menghampiri Tania dan memeluk kakinya. "Mama Aya ini, Mama Aya ini," teriaknya berulangkali.
Tania melepas pelukan gadis kecil tersebut dan berjongkok. Menatap mata bulat gadis kecil di depannya. "Tiara sama siapa di rumah?"
"Yanti," gadis itu menjawab singkat.
"Tiara bisa tolong Mama? Panggilkan Eyang Putri Tiara," pinta Tania pada gadis kecil tersebut.
"Bica, Mama," sahut Tiaram
Tiara kembali masuk ke dalam rumah untuk memanggil eyang putrinya.
Masih ingat anak kecil yang memanggil Tania "Mama" waktu di Mall kan? Iya betul, itu keponakannya Rayan. Anak dari Rasya Abdillah Bagaskara.
Dari arah ruang tengah muncul seorang wanita cantik sederhana tanpa polesan dengan pakaian yang sederhana, apakah itu mamanya Rayan? kenapa masih sangat muda sekali? mungkin usianya sekitar 35 tahunan.
"Mari silakan masuk, Nona-nona. Nyonya sedang sholat ashar. Saya Nina, pembantu di rumah ini," ucap wanita tersebut dengan tersenyum mempersilahkan Tania dan kedua temannya masuk.
"Terimakasih, Mbak," sahut Tania.
Tania pun mengajak kedua temannya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka dipersilakan duduk di sofa ruang tamu, Nina masih berdiri menunggu.
"Mau minum apa, Nona?" tanya Nina lagi.
"Emm ... air putih saja, Mbak. Tapi jangan panggil kami dengan sebutan Nona. Aku Tania, ini Prima dan sebelahnya Nadia."
"Eh baik, Mbak Tania." Nina kembali masuk meninggalkan ruang tamu.
Tak berapa lama, Tiara keluar lagi dan muncul di ruang tamu dengan tangan kanannya menarik tangan kiri seorang wanita paruh baya.
"Itu Mama Aya, Yanti. Tantik kan?" ucap Tiara kepada sang nenek dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Tania. Tiara melepaskan tangan neneknya, menghampiri Tania dan duduk di pangkuannya dengan berhadapan.
Tania pun dengan gemas menciumi puncak kepala Tiara
"Saya Nastiti, ibunya Rayan juga neneknya Tiara. Tadi Rayan sudah cerita sama ibu kalau kekasihnya ada di depan. Yang mana kekasih anak saya?" tanya neneknya Tiara dengan santun.
Jantung prima berdebar kencang mendengar pertanyaan yang to the poin langsung tertuju terhadapnya. Bibirnya kelu, tenggorokannya seperti tercekat. Dalam hati ia sangat mengutuk Rayan, kenapa ia harus diperkenalkan dengan cara seperti ini, jahat sekali dia.
"Kok pada diam? Mana yang namanya Prima?" Tanya Bu Nastiti.
Tania menggenggam tangan gadis di sebelahnya yang dingin seraya berkata, "Prima?"
"Saya Prima, Tante," ungkap Prima gugup.
Bu Nastiti tersenyum, "Jangan panggil Tante, panggil ibu saja. Lalu Mamanya Tiara siapa namanya?" tanyanya lagi.
"Saya Tania, Tante. Anaknya Mama Dewi." jawab Tania.
"O ... Anaknya Dewi yang baru datang dari Pekalongan? Kok Tiara bisa kenal sama kamu?" tanya Bu Nastiti lagi.
"Kita pernah bertemu waktu di Mall. Benar kan, Tiara?" jawab Tania yang kemudian bertanya kepada Tiara. Tiara mengangguk.
"Saya Nadia, Tante," ucap Nadia padahal belum ditanya. Bu Nastiti tersenyum.
"Mama, di cini ada Dedek?" tanya Tiara pada Tania, Tiara mengelus perut Tania.
Tania menatap lembut Tiara, tersenyum seraya berkata, "Iya, Sayang."
"Aya mau Dedek," ucap Tiara lagi.
Nina datang membawakan minum dan cemilan, meletakkannya di meja.
"Tiara, sini sama Eyang Putri, biar Mama Tiara minum dulu," ujar Bu Nastiti.
"Aya mau cama Mama," ucap Tiara tidak mau dibantah lagi.
"Tidak apa-apa kok, Tante," sela Tania.
"Silahkan diminum, Tania, Prima dan ...."
"Nadia, Tante," timpal Nadia.
__ADS_1
"Oh iya, Nadia. Silahkan."
"Terimakasih, Tante," sahut Nadia.
Ketika mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba Celine nyelonong masuk. Ia mengenakan gaun yang ketat di atas lutut tanpa lengan dengan belahan di dada menampakkan sesuatu yang menyembul di sana. Rambutnya lurus tergerai, dengan warna kecoklatan. Dia memakai sepatu dengan warna senada dengan baju yang ia pakai serta tas branded bergelantung di lengannya.
"Celine?" ucap Bu Nastiti kaget. "Ingat pulang juga kamu," hardiknya.
Tiara yang melihat kedatangan momynya tersebut nampak memeluk Tania erat. "Mama, Aya Atut," ucapnya.
"O em ji, Momy? Ini kan rumah Celine juga," sahut Celine. "Eh, ada banyak tamu rupanya, mau ada pengajian ya, Mom. Kok pada kerudungan semua?" tanya Celine tanpa merasa berdosa.
"Kenalkan, ibu-ibu pengajian. Saya Celine, istrinya Rasya, Momynya Tiara," ucapnya lagi memperkenalkan diri dengan sombongnya.
Tania dan teman-temannya terdiam memandang perempuan terunik di dunia tersebut.
"Maaf aku permisi ke kamar dulu, capek juga habis jalan-jalan dan belanja dari luar negeri," ucap pamit Celine.
"Udah pergi, Tiara Sayang. Mengapa Tiara malah takut?" Tanya Tania selepas Celine berlalu dari tempat tersebut.
"Mommy nakal cama Aya, cuka malah," jawab Tiara polos.
"Ibu juga enggak habis pikir sama Rasya, kenapa wanita yang sudah menerlantarkan anaknya sejak bayi seperti itu masih dipertahankan," decak Bu Nastiti.
"Tiara tenang saja ya, ada Mama Tatan, ini Mama Pipim dan itu sebelahnya Mama Pipim namanya Mama Nanad yang sayang sama Tiara," tutur Tania menghibur Tiara. Aduh, kaki Mama Tatan pegal, Sayang. Tiara sama Mama Pipim dulu ya," bujuknya yang diangguki oleh Tiara.
Prima mengambil Tiara dari pangkuan Tania.
"Ibu permisi mau membantu Nina masak," ucap Bu Nastiti pamit.
"Oh silakan, Bu." Nadia menyahut.
Bu Nastiti meninggalkan mereka di ruang tamu. Kini ketiga nya tengah asik bermain-main dengan Tiara yang lucu dan menggemaskan tersebut.
Sementara di kamar Rasya, Celine menghempaskan tubuhnya di ranjang yang sudah lama tidak ditempatinya semenjak kelahiran putrinya, Tiara.
"Ugh ... lelah sekali, akhirnya aku sampai juga di kota ini. Di mana Rasya? Apa laki-laki tersebut masih saja bekerja keras untuk mengisi rekeningku kembali? Dasar laki-laki bodoh!" gerutunya.
"Eh, tunggu! Cewek di ruang tamu tadi sepertinya sedang hamil. Jangan-jangan dia mau menjerat Rasya untuk memeras hartanya seperti yang pernah aku lakukan terhadap laki-laki bodoh itu dulu. Sehingga sekarang aku susah sekali mendapatkan uangnya lagi," terka Celine dengan pikirannya sendiri.
"Aku harus melakukan sesuatu agar uang Rasya mengalir kembali ke rekening aku. Aku harus menyusun rencana," cetusnya.
Celine terus berpikir hingga ia memutuskan untuk menghubungi seseorang.
"Ada apa, Bos?" tanya seseorang dari seberang telepon.
"Aku ada tugas baru untuk kamu dan anak-anak buah kamu," tukas Celine menjawab pertanyaan orang tersebut.
"Apa itu, Bos?" tanya seseorang itu lagi.
"Kamu harus mengawasi gerak-gerik seseorang, nanti fotonya aku kirim via chat WA," jawab Celine.
"Boleh-boleh, yang penting upahnya memuaskan," pria tersebut mengajukan syarat.
"Beres itu bisa diatur," jawab Celine.
"Jangan lupa DP dulu," cegah pria tersebut.
"Jangan khawatir," sahut Celine.
Celine nampak mengendap-endap ke luar dari kamar, lalu turun ke lantai bawah. Ia terus melangkah hampir sampai di ruang tamu, bersembunyi di balik tembok ruang tengah dan,
Cekrek cekrek
Beberapa bidikan kamera ponselnya ia arahkan ke arah Tania. Lalu ia mengirimkan ke chat WhatsApp ke seseorang yang di telponnya tadi.
.
.
.
__ADS_1
TBC.