
Hasby keluar dari gua menuju sumber suara yang memanggilnya, sambil dihantui dengan perasaan panik dan khawatir, Ia takut ada hal yang membahayakan Vanesa, meskipun suaranya terdengar tidak jauh dari mulut gua, tapi dari intonasi suara Vanesa yang dengar, kemunggkinan wanita itu sedang dalam kesulitan.
Cukup jauh, sekitar 50 meter dari tempat Ia menyalakan api, Hasby menemukan Vanesa yang kini sedang memandang ke langit.
“ Vanesa... kamu kenapa jauh banget dari gua? Apa kamu gak papa?, kamu gak kenapa-napa kan? “ tanya Hasby sambil memeriksa kondisi Vanesa.
“ Aku gak papa Hasby... “
“ Hah? Terus kamu tadi teriak kenapa? “
“ Ih... mangkanya derengin dulu deh “
Terheran-heran dengan keadaan Vanesa, awalnya Hasby menyangka kalau Vanesa sedang dalam keadaan baik-baik saja, tapi meskipun diluar ekspetasinya, Ia bersyukur kalau wanita yang ada didepannya ini tidak mengalami masalah.
Selanjutnya, saat dimana Hasby merasa lega dengan keadaan Vanesa yang baik, Vaneasa sendiri kini menyuruh pria itu untuk seksama mendengarkan sesuatu, Hasby pun hanya mengikuti perintahnya, namun 5 menit sudah berlalu sejak keduanya diam tanpa berbicara dengan ditemani suara serangga dan kodok, selain suara itu tidak ada hal lain lagi yang mereka dengar.
Hasby pun menjadi bingung “ Em... Vanesa... kita lagi nunggu denger apa? “ ucap Hasby yang sedari tadi diam lalu membuka suara.
“ Shut... jangan berisik Hasby, nanti suaranya gak kedengeran gimana? “
“ Aku gak tau kamu lagi ngapain, tapi setidaknya jangan disini dong ngerjainnya, disini bahaya lho... gak ada penerangan, nahanya lembab plus rumputnya pada tinggi Van... gimana kalau nanti ada uler lewat? “ Ucap Hasby menyakinkan Vanesa untuk pindah tempat.
“ Tapi Hasby...takutnya kalau kita pindah suaranya gak bakalan kedenger...”
“ Emang kamu tadi denger apa? “
Menghela nafas sejenak, Vanesa memberitahu Hasby kalau sebelumnya Ia sayup-sayup mendengar suara helikopter, entah itu ilusi atau bukan, tapi besar harapan Vanesa bahwa helikopter itu adalah tim penyelamat yang akan menyelamatkan mereka berdua. Disisi lain, Hasby kurang yakin kalau pendengaran Vanesa tentang helikopter yang lewat itu benar adanya, secarakan suara helikopter itu sangat keras, jika betul lewat, benda itu masih akan mengeluarkan bunyi setidaknya 30 detik setelah Ia lewat meskipun berakhir dengan suara yang mengecil akibat jarak yang menjauh.
Hasby tersenyum, dirinya cukup prihatin dengan keadaan baik itu Vanesa maupun dirinya sendiri, mungkin karena sudah 4 hari dialam liar membuat keduanya strees dan frustasi.
“ Gak papa Vanesa... mungkin kali ini kamu cuman salah denger aja, tapi Insya Allah... tim penyelamat pasti bakalan nemuin kita cepet atau lambat. “ Ucap Hasby.
Dengan perasaan kecewa, Vanesa kini mengikuti arahan Hasby dan pergi ke dalam gua, mungkin apa yang Ia dengar tadi hanyalah halusinasi semata, terkadang orang yang sedikit strees karena keadaan akan mendengar atau melihat hal-hal yang bahkan bisa dibilang tidak masuk akal.
Saat berjalan menyusuri rerumputan yang tinggi, dengan dibantu leh Hasby yang memegang tangannya, Vanesa sadar bahwa Ia dapat melewati semua ini berkat keberadaan pria didepannya, jika saja Hasby tidak ada dan Ia menjalani keseharian ini sendirian, bukan tidak mungkin Ia akan gila dan berusaha mengakhiri hidupnya.
“ Hasby... makasih ya “ Ucap Vanesa secara reflesk melapalkannya sampai Hasby pun mendengar ucapan tersebut.
‘ Ups... kenapa malah ngomong sih? ‘ Batin Vanesa.
__ADS_1
“ Kamu bialng makasih kenapa? “ Tanya Hasby yang masih berjalan menuntun Vanesa.
“ Eng... enggak papa kok, cumam mau ngomong gitu aja “
“ Tapi masa sih kamu ngomong terima kasih tanpa alasan?... ya kali “
“ Tapi emang nyatanya gitu kok “
“ Hm... boong “ Ucap Hasby berenti sejenak sambil memasang wajah jahil.
Vanesa yang mendapat senyuman itu pun kini menjadi malu dengan dirinya sendiri, karena saking malunya, Vanesa berlari mendahului Hasby menuju gua, Untuk Hasby sendiri Ia kembali dibuat bingung oleh wanita itu, seberapa tidak mau sih dia mengungkapkan apa alasan dibalik Ia berterima kasih tadi?, toh jika Hasby sudah tau dirinyapun tidak akan mempermasalahkan hal tersebut.
Disaat hasby dilanda kebingungan dan rasa geli hati melihat tingkah Vanesa, telinganya menagkap suara sesuatu, seperti suara gemuruh mesin, tapi mesin apa yang akan mucul ditengah hutan seperti ini?, mungkin ini hanya perasaanyan saja.
Kembali melangkah karena melihat Vanesa yang melambaian tangan di mulut gua, Hasby kini beranggapa bahwa dirinya mungkin telah salah mendengar sesuatu, tapi lama-kelamaan suara yang hilang tadi muncul kembali, bahkan terdengar lebih besar, itu terdengar seperti... suara baling-baling yang berputar... berarti itu...
“ Hasby, helikopter... itu suara helikopter... tim penyelamat datang Hasby...kita pulang... kita bakalan pulang”
Dengan antusias, Vanesa mendekati Hasby sambil memegang tangan dengan ceria, bahkan samking bahagia dan terharu, Vanesa sempat mengeluarkan air mata kebahagian, dan disana Hasby pun juga merasa senang sekaligus lega. Meskipun keduanya tidak tahu pasti bahwa helikopter itu adalah tim penyelamat atau apalah itu, namun setidaknya meraka ada harapan untuk ditemukan.
Namun, tinggal satu masalah lagi yang harus dihadapi oleh Hasby dan Vanesa, yaitu untuk memberitahu pilot tentang keberadaan mereka.
Vanesa berteriak dengan kerasnya, namun usaha itu pastilah takkan pernah berhasil, dengan cepat Hasby memutar otak untuk menemukan cara agak mereka dapat diketahui keberadaannya. Pada saat helikopter yang kini mulai mendekat hampir sekitar 500 meter dari tempat mereka berdiri, Hasby menemukan sebuah ide yang menurutnya cukup bagus.
“ Vanesa... apa kamu bawa senter tahan air pas mau hiking di tas? “ Tanya Hasby sambil mengajak Vanesa masuk kegua.
“ Em... bukan senter tahan air, tapi kalau senter biasa aku kayaknya bawa deh “
“ Ok, cari cepet sekarang, aku bakalan cari satu benda lagi buat ngelakuin sesuatu “
Sesampainya didalam gua, Hasby dan Vanesa mengubrak-abrik tas carier mereka, sampai semua berantakan, Vanesa akhirnya menemukan benda yang Ia cari, dan ajaibnya senter itu menyala meskipun nampak redup. Di situasi Hasby, dirinya saat ini tengah mencari sehelai kain yang memiliki warna cerah, namun setelah mencari cukup lama, kain itu tidak ada dalam tasnya, namun sebelum Ia berputus asa, Hasby melihat ada pakaian Vanesa yang berwarna oren cerah, nampak tipis, namun itu sangat berguna untuk sekarang.
“ Vanesa... aku pinjem baju kamu yang ini “ Ucap Hasby.
“ Hah? “
“ Aku pergi duluan “
Segera setelah mengabil pakaian Vanesa, Hasby berlari dengan kencang dan berhenti di salah satu pohon tinggi. Tidak pernah terpikirkan oleh Vanesa, Ia melihat dari kejauhan bahwa Hasby sekarang sedang memanjat pohon setelah Ia melepas alas kakinya, dilihat dari pria itu memanjat, sepertinya Hasby cukup mahir dalam hal ini.
__ADS_1
Tepat setelah mencapai puncak pohon, Hasby menyalakan senter dan mengarahkannnya ke aras baju yang ia lambai-lambaikan, dari situ Vanesa mengerti mengapa Hasby perlu kain untuk membuat tanda, meskipun senter dapat mengeluarkan cahaya, namun dengan jangkauan yang tidak jauh, besar kemungkinan tim penyelamat tidak akan menyadari keberadaan mereka, namun beda halnya jika sedikit cahaya diarahkan pada kain atau media yang memiliki warna cerah, meskipun tidak terlalu terang, namun ketika melihat cahaya seperti itu di tengah hutan seperti ini, tim penyelamat pasti akan melihatnya walaupun dari jarak yang jauh.
Sesuai harapan Hasby, Helikopter yang awalnya mengarah ke arah utara kini mulai mendekat setelah Ia melambaikan kain terangnya itu, Ia sangat bersyukur sampai terharu, meskipun berharap agar selamat dari sini, namun jika memikirkan kemungkinannya, Ia dan Vanesa sudah bisa bertahan 4 hari saja sudah keajaiban, apalagi mereka selamat dari sungai yang sempat menghayutkan mereka, mungkin dalam kasus tertentu, mereka ini adalah sedikit dari banyaknhya orang yang hanyut di sungai dan ditemukan di hutan.
Bukan hanya Hasby, Vanesa yang saat ini berada dibawaha pohon Yang Hasby naiki melompat kegirangan seperti anak kecil, saking bahagianya, wanita itu melompat sambil teriak “ Hasby... kita selamat.. kita bakalan pulang Hasby, yey... kita pulang... pulang kerumah “
Masih dengan sorakannya, Hasby tersenyum melihat wanita itu dan masih melambai-lambaikan kain tadi, dalam hati, Ia sangat berterimah kasih kepada yang maha kuasa.
‘ Ya Allah.. terima kasih karena telah menyelamatkan hambamu yang lemah ini, sungguh engkau maha yang mengasihi dan menyayangi makhluk mu ‘ Batin Hasby.
***
Nafsah, Ardi, Firdan dan Savira dikejutkan dengan laporan bahwa telah ditemukan dua orang yang ditemukan para tim penyelamat di dalam hutan, meskipun tidak tahu pasti bahwa kedunya belum terkonfirmasi bahwa itu adalah Hasby dan Vanesa, namun dilihat letak ditemukannnya mereka, posisi tersebut tidak jauh dari sungai, namun masalahnya lokasi tersebut sangat jauh dari tempat Hasby dan Vanesa jatuh.
5 menit setelah mendapat kabar tersebut, keempatnya pergi ke kantor pusat tim prnyelamat yang sebelumnya mereka sedang berada di tempat kejadian. Dengan adanya laporan tersebut, mereka berharap kalau orang itu adalah Hasby dan Vanesa.
Tidak lupa pula dan dengan inisiatif mereka, Nafsah menelpon Bayu, Jordan dan Zihan untuk memberitahu apa yang terjadi dan memberitahu dengan jelas keadaan satt ini, dirinya menghimbau agar jangan dulu terlalu senang, karena dirinya sendiri belum tahu pasti bahwa kedua orang itu adalah Hasby dan Vanesa atau bukan.
Sesampai di kantor pusat...
“ Permisi pak, saya Firdan yang sebelumnya dapat laporan kalau ada dua orang yang ditemukan dihutan, boleh saya langsung ngeliat orang itu? “ Tanya Firdan pada seorang stap.
“ Ouh... tuan Ambara ya?, baik, biar saya anter...”
Firdan dan yang lain dituntun menuju sebuah ruangan, saat stap tersebut hendak membuka pintu, entah kenapa ada perasaan gelisah yang hebat saat itu, mereka takut jika seandainya dua orang yang ada didalam bukan Hasby dan Vanesa, namun sebelum itu mereka bertekad jika saja kronoligi buruknya terjadi, mereka akan tetap mencari Hasby dan Vanesa sampai kapanpun.
“ Hachim... aduh, hidung aku gatel “
Baru setengah stap itu membuka pintu, terdengar suara orang yang bersin yang berasal dari ruangan itu, Firdan, Ardi, Nafsah dan Savira sangat terkejut, itu adalah suara orang yang paling mereka rindukan, dengan sigap bahkan samai menyelang stap untuk masuk duluan, keempatnya lari sambil air mata mengalir.
Begitu masuk dan melihat dua orang yang ada disana, tangis Nafsah meledak yang sebelumnya dia membeku sejenak dan berlari ke arah pria yang sebelumnya tersenyum. Sama halnya dengan yang namun tidak memeluk pria itu, mereka menangis bak anak kecil yang terharu ketika bertemu dengan ibunya yang pulang dari suatu tempat.
‘ Terima kasih ya Allah... terima kasih, terima kasih banyak ‘ Batin Nafsah sambil memeluk lelaki itu.
________________________________
untuk chapter yang ini, maaf ya kalau dirasa singkat banget, biasa... suka kehabisan kata buat ngerangkainya... hihi...
untuk selanjutnya, jangan pernah bosen ngikutin cerita Hasby dan yang lain ya, jumpa di chapter selanjutnya...
__ADS_1