
Savira melepaskan rangkulannya dari leher Firdan serta bergegas mengambil jarak darinya, perasaannya saat ini sedikit malu serta bercampur rasa kesal pada Firdan, karena telah berkata hal yang menurutnya memalukan di depan Hasby dan lainnya. Mengingat kejadian beberapa detik kebelakang, wajah Savira menjadi sedikit merona.
" Ih... lo ngapain sih pake ngomong kayak gitu segala?! " ucap Savira.
" Salah lo sendiri... ngapain coba maen rangkul leher orang, untung gua gak sesak nafas " ucap Firdan mengelus pelan lehernya yang terasa agak sakit.
" Kan gua refleks Dan...lagian kan___.... "
" Udah, udah, udah... dari pada kalian berdua berantem, mending kita lanjut nonton aja, gua pusing tau dengernya... " ucap Hasby.
usai Hasby berkata seperti itu, Savira dan Firdan kini membungkam satu sama lain untuk tidak lagi berselisih, serta melanjutkan acara menonton film horor tadi.
alasan Ardi, Savira serta Firdan berteriak sudah jelas karena mereka melihat adegan seram dari film horor tadi, kejadian ini hampir sama dengan kejadian saat Hasby beberapa waktu yang lalu, namun bedanya yang dilakukan Hasby adalah pengalihan untuk Nafsah agar tidak memberitahu hal yang sebenarnya pada ketiga temannya itu.
Saat menonton, sesekali bulu kuduk mereka akan berdiri serta ada perasaan dingin yang merembes di ruangan ini.
(dialog dalam film)
' Sayang, aku takut... mending kita nganunya di tempat lain aja... kata para penduduk di sini, pohon ini ada penunggu nya... '
' tenang aja sayang... di kampung sini cuman tempat ini aja yang gak ramai orang lewat... '
' tapi... '
' sayang...kamu cinta sama aku kan?, kalau bener cinta kamu itu sejati sampai mati, maka buktiin sama aku sekarang juga, waktu ini dan di tempat ini... '
' tapi beneran gak bakalan terjadi apa-apa kan? badan aku merinding sayang... '
' tenang aja... percaya sama aku'
*
" Gini nih, gua paling sebel sama cowok belang kayak gitu, itu lagi si cewek, mau aja di tipu cowok brengsek kayak dia... " ucap Savira di tengah alur film.
" Udah...liat aja alur ceritanya, lagian kan ini cuma film bukan kenyataan... " ucap Firdan.
Savira tidak menjawab perkataan Firdan, melainkan membuang wajah sambil cemberut, hal ini membuat Firdan mengeleng kepala dengan sikap Savira tadi.
' Gini nih...gua ngomong selalu aja salah, emang dasar cewek... ' batin Firdan.
*
(kembali ke alur film)
Wanita tadi, kini perlahan melepaskan pakaiannya, walau masih sedikit takut, tapi ia tetap memberanikan diri agar secepat mungkin membuktikan pada kekasihnya bahwa ia mencintainya dan segera pergi dari tempat itu.
' sayang... kamu jangan tegang gitu dong, aku bakalan pelan kok'
__ADS_1
' iya sayang... aku percaya sama kamu... '
saat si wanita sudah melepas pakaian hampir seluruhnya, kini terlihat si pria sedang membuka kemeja yang ia kenakan dan membuka resleting celananya, tapi...
Huuuuu....huuuuu.....Huuuuu...
' sayang, kamu tadi denger gak?... itu suara apaan? ' tanya si perempuan.
' suara apa say___.... '
ucapan sang pria tidak terselesaikan saat ini, melainkan ia terhenti dengan ekspresi tercengang sambil mata terbelalak serta rasa ketakutan yang dalam kini memenuhi wajahnya.
' Sayang... kamu kenapa diem?...yang, sayang... jawab dong... '
karena tidak mendapat jawaban, wanita itu menguncang tubuh si pria dengan sedikit kasar agar kekasihnya ini sadar, tapi si pria hanya membuka mulut seolah ingin berkata sesuatu tapi tidak ada satu kata yang keluar dari mulutnya.
karena penasaran, Si wanita mengikuti arah pandang si pria, perlahan tapi pasti, pandangan wanita yang awalnya menghadap ke depan kini menoleh ke belakang sedikir demi sedikit, tapi... saat ia menoleh ke belakang.
' kyaaa!!!!....'
DUAAAAAAARRR!!!!!.....
" AAAAAAAAAARGH!!!!!!... "
di tengah alur film, tiba-tiba saja petir menggelegar membuat Hasby serta lainnya teriak karena kaget, bukan hanya hal itu, bersamaan dengan suara petir tadi, lampu yang tadinya menyala menjadi padam, serta terdengar suara rintik-rintik air hujan yang terdengar deras mengenai atap rumah.
" Ya mana aku tau, kan seminggu kemaren kakak ada di rumah sakit... " ucap Hasby.
" Kamu belom bayar kali... " ucap Savira kali ini di tengah kegelapan.
" Woi Savira!... lo jangan kenceng-kenceng nyekek guanya, nanti gua koid gimana?!... emang lo mau tanggung jawab?... " Firdan yang suaranya sedikit terdengar serak.
" Oh sory...gua gak sengaja Dan, tapi gua gak mau lepasin rangkulannya, soalnya gua takut gelap.. " jawab Savira yang masih dalam posisi merangkul leher Firdan walau dalam keadaan gelap.
" Ya jangan kenceng juga kali, terus dada lo lagi-lagi deket muka gua, malah sekarang udah kerasa lembutnya... "
" Firdan!... "
" Ya udah tolong lepasin... " ucap Firdan sekali lagi.
karena desakan dari Firdan, Savira akhirnya melepaskan rangkulannya yang kedua kali, namun setelah itu ia langsung memegang erat lenhfan Firdan, walau sedikit kesal serta malu, namun perasaan itu terturup oleh rasa takut Savira akan kegelapan, jadi Savira harus melakukan hal ini dengan terpaksa.
" Gua udah lepas rangkulannya, tapi gua pinjem tangan lo bentar..." ucap Savira dengan nada acuh tak acuh.
" Terserah lo aja, yang penting jangan kenceng-kenceng megang nya... "
" Iya, iya... bawel banget sih lu... "
__ADS_1
" Lagian lo sih yang nyekek gua duluan " ucap Firdan membela diri.
" Udah, udah... lo berdua kalo berantem udah kayak kucing garong aja ya, mending lo pada diem... jangan kan si Hasby yang baru pulang dari rumah sakit, gua sama Nafsah juga pusing tau dengernya... bisa diem gak si?!..." ucap Ardi dengan tegas.
Mendengar Ardi berbicara dengan nada yang sedikit keras, Savira dan Firdan akhirnya patuh dan diam. Sementara itu, Hasby saat ini sedang mencari ponselnya di tengah kegelapan.
" Kayaknya emang listriknya diputus deh, soalnya hujan petir, lagian listriknya juga belum bunyi kan? " ucap Firdan.
" Bener juga kata lo Dan, Nafsah... hp kakak kamu taro dimana?... " tanya Hasby.
" Oh, masih dibawah kak, tadinya aku mau isi batrai hp kamu... tapi lupa dan malah di tinggal... " ucap Nafsah.
" Hm...Ardi, lo bawa hp kan? gua pinjem bentar buat ambil lilin... " ucap Hasby.
Ardi kini merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan memberikannya pada Hasby, walaupun baru pukul 4 sore, cahaya yang masuk dari luar lewat jendel sangat sedikit, ini juga berkaitan dengan hujan deras saat ini, jadi sinar matahari saat ini sangat minim, sehingga sudah seperti malam hari.
setelah menerima ponsel Ardi, Hasby kini beranjak ke kamarnya untuk mengambil lilin,dan tidak butuh waktu lama, Hasby kembali beberapa menit kemudian.
" Oh iya,Ardi... lo punya korek gak? " tanya Hasby.
" Gua gak punya "
" Loh... kok gak punya sih? "
" Gua kan gak ngerokok, coba tuh tanya si Firdan... " ucap Ardi.
" Sama, gua juga kagak punya... kan lo tau sendiri kita berdua itu berenti ngerokok... " kali ini Firdan yang berkata.
memang benar apa yang dikatakan oleh Firdan, dirinya dengan Ardi sudah lama berhenti merokok, kira-kira dari 5 tahun yang lalu, dan kebetulan karna berhenti nya mereka itu ada kaitannya dengan Hasby.
saat itu, walaupun mereka berdua tidak terlalu sering merokok, tapi sering kali Hasby akan merasakan dampak dari asap rokok yang mereka hisap, walaupun penyakit Hasby tumor yang berapa di kepala, namun biasanya kondisi fisik orang seperti ini akan lebih rentan dari orang pada umumnya.
walaupun asap rokok tersebut hanya terhirup sedikit, namun itu akan berdampak negatif bagi Hasby jika terlalu sering, sering kali ia akan mengalami pusing berat serta dada sesak, sehingga membuat Ardi dan Firdan memutuskan untuk berhenti merokok.
" Ya udah, gua ke dapur dulu... dan kayaknya nanti harus beli korek deh... ". Hasby kini mulai beranjak ke lantai pertama setelah menarik Nafsah untuk ikut dengannya, walau terlihat gelap, tapi Ardi, Firdan dan Savira bisa melihat secara samar dengan dibantu cahaya dari ponsel Savira.
" Ardi, lo ngerasa aneh gak sama Hasby?... " tanya Firdan setelah Hasby tidak terlihat oleh pandangannya.
" Aneh apaan? "
" Sejak tadi gua perhatiin, kenapa Hasby kayaknya selalu bawa Nafsah ya, seakan Nafsah itu gak boleh lepas dari dia...lo ngerti gak?".
" Hm... iya juga ya, kayak ada yang dia sembunyiin... " ucap Ardi.
" Tapi kita jangan dulu suuzon... " kali ini Savira yang berbicara.
" Iya juga dih...".
__ADS_1
Ardi, Savira dan Firdan kini teringat tentang kejadian beberapa jam yang lalu, saat Nafsah akan mulai bercerita tentang masalah yang yang ia dan Hasby alami sekarang-sekarang ini, tepat pada saat ia ingin menjelaskan, secara tiba-tiba Hasby berteriak membuat mereka kaget dan mendesak mereka untuk menunda pembicaraan , awalnya mereka lupa untuk menanyakan hal ini lagi, tapi setelah Firdan berkata demikian, mereka berniat untuk bertanya langsung pada Hasby.