
diusahakan untuk baca chapter sebelumnya ya.
***
" Kamu... mau ngomong apa? " Ucap Hasby.
" Jadi gini... "
Nafsah kemudian menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan sebelumnya, setelah memperhitungkan segalanya dengan Firdan dan Ardi yang rencana ini diketahui juga oleh Savira, Nafsah dan yang lain sudah memutuskan bahwa akan mengkonsultasikan Hasby ke dokter kemoterapi, serta dibantu dengan obat herbal yang akan diminum selama kemoterapi itu di lakukan.
mungkin akan ada sedikit efek samping dari hal ini, yaitu ketika penyakit tumor kambuh, rasa sakit yang akan dialami akan lebih menyakitkan, tapi jangka waktu yang biasanya seminggu sekali kambuh, pasti akan berkurang jika tidak 3 minggu sekali ataupun sebulan sekali.
" Aku minta persetujuan kakak saat ini, mungkin kamu gak semestinya nolak... karena kalau pilih jalan operasi... kemungkinan keberhasilan nya kecil banget, jadi aku mohon sama kakak... tolong jalanin terapi ini ya " ucap Nafsah sambil memegang tangan Hasby yang dingin.
" Aku gak masalah buat lakuin itu, tapi masalahnya... keadaan ekonomi kita gak akan selalu stabil Naf... ada kalanya kita bakalan gak punya uang, saat ini aku masih nganggur serta belum bisa cari uang... dan lagi... aku juga gak mau ngegunain uang Firdan dan Ardi maupun Savira, karena aku udah banyak bergantung sama mereka ". ucap Hasby.
mendengar hal ini, Nafsah tersenyum karena sikap kakaknya yang selalu mandiri dari dulu, sudah diperkirakan bahwa Kakaknya ini akan meragukan metode terapi tersebut, dengan alasan perekonomian mereka yang tidak stabil, Serta pasti membutuhkan jangka waktu yang panjang selama pengobatan.
Walaupun kemungkinan besar Firdan, Savira dan Ardi akan ikut serta membayar biaya pengobatan, tapi bagi Hasby, tidak semestinya mereka selalu bergantung pada mereka bertiga, terlebih lagi ketiganya telah banyak membantu disaat Hasby dan Nafsah kesusahan.
" Kamu tenang aja kak, selagi kamu bisa kasih aku uang sebulan aja 2 juta, kamu pasti bakalan bisa lakuin terapi ini ".
" Apa?!... Nafsah, aku tau kamu itu peduli sama kakak, tapi gak kayak gini caranya, kalau uang segitu kamu bagi buat kebutuhan rumah sama terapi kakak, yang ada kamu bakalan punya beban tambahan ". ucap Hasby.
" Sebenarnya, Selama ini tanpa sepengetahuan kakak, aku dari dulu udah nabung buat biaya operasi kamu, dan alhamdulillah, total uangnya bisa disamain dengan gaji kamu selama 5 tahun saat kerja di restoran dulu". ucap Nafsah sambil tersenyum tipis.
" Apa?!, Lima tahun?..."
Cukup terkejut ketika mengetahuinya, Hasby tidak menyangka bahwa Nafsah telah menabung uang sebanyak itu. Meski Hasby baru bekerja di keluarga Lits tidak kurang dari satu tahun dan mendapatkan gaji yang besar, sebelum itu, dirinya pernah bekerja di sebuah restoran dengan gaji yang relatif lebih tinggi dan kontrak pekerjaan yang lumayan lama, namun dengan suatu alasan, dia pun berhenti bekerja di tempat tersebut.
__ADS_1
Jika dihitung, Dalam sebulan ketika Hasby bekerja di restoran, dia mendapat uang minimal 4 juta rupiah, jika dikalikan 12 bulan dan dikalikan lagi dengan 6 tahun, jadi total semua uang yang Nafsah tabung sekitar 280 juta an.
" Nafsah... kamu selama ini nabung segitu banyak buat aku? ". tanya Hasby.
" Ya iya lah... buat kakak aku yang paling disayang ini, apa sih yang gak bisa Nafsah lakuin? ". ucap Nafsah.
" Tapi uang sebanyak itu, kamu mulai nabung dari umur berapa? ".
" Em... kayaknya... dari pertama kamu kerja deh ".
" Pertama kerja? ".
" Iya, gak lama setelah bunda meninggal... kamu kan pertama kali kerja di cafe kota sebelah, dan dari situ aku udah mulai nabung ".
" ... aku gk nyangka kalau kamu orang yang perhatian banget ".
" Ya iya lah... Nafsah gitu loh, jadi... kakak setuju kan mau pake cara kemoterapi? ". tanya Nafsah untuk memastikan dan dijawab oleh Hasby dengan anggukan dan senyuman.
" Ah... kakak, kamu emang harus nurut kayak gini dong kan gak perlu buat aku bimbang dan khawatir... ". ucap Nafsah masih dengan posisi memeluk kakaknya.
" Uhuk...seneng sih boleh Naf.... ta...tapi badan aku...ukh... udah mau remuk di peluk kamu " ucap Hasby.
mendengar hal ini, Nafsah dengan cepat melepas pelukannya dan nampak Hasby menghela nafas lega karena bisa menghirup udara tanpa beban lagi.
" Hihi... maaf kak, aku gak sengaja, ok... mulai besok, kita temuin dokternya ya...".
melihat Hasby mengangguk, Nafsah kini menjadi senang dan kembali memeluk sang kakak, Hasby pun hanya bisa pasrah ketika melihat adiknya yang kegirangan itu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, dirinya baru teringat bahwa besok ia akan pergi ke rumah keluarga Lits dengan Vanesa, belum lagi Hasby berniat untuk menemui Bayu karena akan membahas suatu hal.
" Nafsah... emang kamu ngambil janji sama dokternya jam berapa? "
__ADS_1
" Hm... katanya sih dia kalau pagi agak sibuk, tapi kalau udah jam Asar dia gak ada kerjaan lagi ".
" Huh... untungnya kakak udah pulang ".
alasan Hasby menanyakan hal ini, karena dirinya saat besok siang pasti sedang ada di rumah Keluar Lits, dan untung nya Nafsah membuat janji pada sore harinya, jadi setelah pulang dari rumah Vanesa, Hasby masih dapat melakukan kemoterapi bersama Nafsah. Belum lagi ia sempat berencana menemui Bayu, membahas tentang bagaimana kelanjutan kuliahnya dan tentu meminta bantuan agar ia bisa mengetahui alasan banyaknya mata-mata yang mengintainya.
" Hm? pulang dari mana? ".
" Rumah Vanesa ".
" Oh... mau bahas tentang hubungan kalian ya ".
" Mana ada... lagian kan mereka gak aku kasih tau, yang tau cuman kamu, Firdan dan Ardi doang kan? ".
" Iya juga sih... terus kamu ke sana mau ngapain? ".
" Mau ngebahas kerjaan ".
" Hm... ya udah, karena kamu besok bakalan sibuk, sekarang mending cepet tidur, oh iya... apa kepala kakak masih sakit ".
" Sekarang udah enggak ".
" Ya udah... aku ke keluar ya, inget... jangan tidur malem-malem, awas aja kalau nanti aku liat kamu masih buka laptop ". ucap Nafsah sambil beranjak keluar.
" Iya bawel ".
setelah tersenyum sejenak pada kakaknya, Nafsah pun keluar dengan menutup pintu meninggalkan Hasby di kamar. Saat sendiri, Hasby kini mengingat memori ketika dirinya masih duduk di bangku SMP, dengan kerja keras dan susah payah, saat itu adalah langkah pertama ia menjadi tulang punggung keluarga setelah ibunya meninggal.
' Hm... gua masih bingung, seingat gua... waktu ayah masih hidup, dia kayaknya punya sebuah perusahaan deh, tapi sekarang sahamnya pada kemana? ' Batin Hasby
__ADS_1
_________________________________________
jumpa di chapter selanjutnya...