Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
73# Tenangkan dia


__ADS_3

Mohon baca chapter sebelumnya ya


***


Hasby dan Nafsah kini berlari bagai di kejar oleh sesuatu, teringat kalau Vanesa masih terkunci di kamar mandi, takutnya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, terlebih lagi wanita itu sudah terkurung begitu lama.


saat sampai di kamarnya, terdengar suara isak tangis tidak jauh dari sana, seketika itu juga, mereka berdua langsung membuka kunci pintu kamar mandi dan menemukan Vanesa dalam keadaan kacau.


Hasby mulai memerhatikan wajah Vanesa dengan posisi terlutut, ia melihat mata wanita itu sudah bengkak, dengan hidung yang memerah dan kantung mata yang besar, Hasby menilai bahwa Vanesa sudah menangis cukup lama.


dengan perasaan bersalah, Hasby pun kini mencoba menuntun Vanesa. " Vanesa... tolong kamu berdiri dulu ya, kita keluar dari sini... ". ucapnya.


masih dalam keadaan menangis tersedu-sedu, Vanesa pun mengikuti Hasby yang menuntunnya untuk duduk di kasur.


" Aku tau aku salah, tapi tolong jangan nangis terus... gadis dewasa kalau nangis lama-lama gak baik lho...". ucap Hasby sambil mengusap pelan rambut Vanesa.


' Uh...seharusnya gua gak ngunci dia di kamar mandi.. ' batin Hasby.


Kali ini, untuk menenangkan Vanesa, Hasby memilih untuk memeluk wanita itu, ini memang sedikit tidak senonoh, tapi demi membuat Vanesa lebih baik, Hasby tidak merasa keberatan dengan hal ini.


perlu waktu beberapa menit untuk Vanesa berhenti menangis, dan saat itu juga Nafsah mengundurkan diri karena tidak ingin mengganggu mereka, takut kalau-kalau Vanesa ingin waktu untuk menenangkan diri, Nafsah keluar setelah ia meletakan segelas air di meja.


setelah keberadaan Nafsah tidak terlihat, kini hanya ada Vanesa dan Hasby saja disana, masih dalam posisi berpelukan, kira-kira mereka berdua sudah diam dalam waktu yang agak lama.


Hingga tiba saat dimana Hasby membuka suara." Vanesa... aku... aku minta maaf ". ucap Hasby di tengah keheningan.


tidak menjawab ulasan Hasby, wanita yang ada di pelukannya ini hanya diam tenggelam di dalam dadanya. Lagi-lagi, keheningan kini menemani mereka berdua, tapi tidak lama kemudian, Vanesa membuka suara walau terkesan seperti gumaman.


" Hiks... Lo gak salah ". ucapnya.


" Hm?... maksud kamu?...".


" Lo gak perlu minta maaf, gua nangis karena gua terlalu penakut..." Ucap Vanesa di sela-sela tangisnya.


" Tapi ini juga salah aku sepenuhnya... kalau aja dari awal aku gak kunci kamu di sana, mungkin sekarang ini kamu gak bakalan nangis sampai matanya bengkak..." ucap Hasby.


" Gua gak papa..." ucap Vanesa singkat.


" Beneran?..." kali ini Hasby bertanya untuk memastikan dan dijawab anggukan oleh Vanesa.


" Oh... kalau gitu... kamu laper gak?"


" Enggak...". Walaupun Vanesa menjawab tidak, tidak lama setelah ia bilang 'enggak', secara tidak sengaja perutnya berbunyi minta diisi, meski suaranya tidak terlalu keras, tapi tetap terdengar sampai ke telinga Hasby.


" Udah... mending kita makan dulu yuk ". ucap Hasby yang kini memandang Vanesa dengan lekat.


" Tapi__..."


" Gak ada tapi-tapian... yang penting, sekarang ini kamu harus isi perut dulu ". ucap Hasby sambil beranjak menuju keluar dengan memegang tangan Vanesa.


" Bisa gak jalannya pelan-pelan aja?, kaki gua masih sakit tau " ucap Vanesa.


" Sakit? coba sini aku liat... ".


saat memeriksa kaki Vanesa, perasaan bersalah Hasby kini muncul lagi, mungkin karena terlalu lama berlutut, kini bagian lutut sampai betis Vanesa menjadi merah dan sedikit lecet, tapi ketika disentuh, permukaannya masih terasa lembut.


' Kulit Vanesa bening juga ya... halus lagi..' batin Hasby.


Berbeda dengan Hasby yang masih fokus melihat kakinya, Vanesa sendiri entah kenapa menjadi sedikit kesal. Melihat Hasby yang menatap kakinya dengan lekat, timbul perasaan kalau pria itu mencoba mengambil kesempatan untuk melihat salah satu tubuhnya.

__ADS_1


" Heh!... udah puas lo liat kaki gua?! ". ucap Vanesa yang saat itu menyadarkan Hasby.


" Eh...itu... em... Hehe... aku gak sengaja ".


" Gak sengaja, gak sengaja... dasar laku mesum! ".


" Itu... aku beneran gak niat Van...".


Tidak mendengar penjelasannya, Vanesa kini berjalan meninggalkan Hasby yang masih berlutut. Jauh di lubuk hati Hasby, ia merasa bahagia melihat Vanesa masih bisa marah setelah dia menangis lama.


' Haha... liat dia marah kayak tadi, gua gak perlu khawatir lagi... ' batin Hasby tersenyum kecil.


***


" Et dah... tu bocah kemana orangnya sih?" ucap Ardi.


tepat setelah Hasby dan Nafsah pergi beberapa waktu yang lalu, saat itu Ardi dan Firdan masih tidak mengetahui kejadian tentang dikuncinya Vanesa di kamar mandi, Agak lama mereka menunggu kedatangan keduanya, namun sekitar 15 menit waktu menunggu pertama, hanya Nafsah lah yang turun dari lantai dua.


" Nafsah... emang mereka berdua lagi ngapain sih?" tanya Firdan karena penasaran.


" Itu... kak Hasby lagi nenangin kak Vanesa yang lagi nangis ".


" Hah? nangis?... si Hasby kenapa bikin nangis anak orang? " kali ini Ardi yang bertanya.


" Jadi kejadiannya kayak gini...._"


Nafsah kini mulai menjelaskan penyebab dirinya dan Hasby mengunci Vanesa, dari mulai karena takut ketahuan Ardi, Firdan serta Savira, sampai-sampai keduanya panik hingga tak berpikir panjang untuk mengunci Vanesa di tempat itu.


Ardi dan Firdan yang mendengar hal ini menjadi heran dengan pemikiran yang ada di kepala Hasby, jika dipikir-pikir lagi, dia kan tidak perlu menguncinya di kamar mandi, bisa dengan hanya mengunci pintu kamar, atau sekedar menyuruhnya bersembunyi.


" Terus... si Vanesa sekarang gimana keadaannya?" tanya Firdan.


" Sekarang sih gak tau... tapi pas tadi aku liat, kayaknya mata dia agak bengkakan deh, mungkin... karena nangis terlalu lama ".


" Mungkin bisa aja... calon bininya ini ". ujar Firdan.


sementara Ardi dan Firdan memikirkan bagaimana cara Hasby untuk menenangkan Vanesa, Nafsah saat itu malah tidak terlalu memikirkannya, teringat jika kakaknya dulu pernah menjadi Play Boy tanpa diketahui, untuk memenangkan hati wanita mungkin tidak terlalu sulit untuknya, tapi agak sedikit rumit jika wanitanya itu adalah Vanesa.


' Moga aja kakak bisa nenangin dia, gua juga sedikit ngerasa bersalah sama kak Vanesa... ' batin Nafsah.


sekitar 10 menit mereka menunggu lagi, akhirnya kedua orang yang dibicarakan tadi pun muncul, dengan kedatangan Vanesa terlebih dahulu, ketiganya menghela nafas lega karena menemukan bahwa Hasby telah berhasil menenangkan Vanesa.


"Maaf ya buat kalian nunggu lama, tadi ada kendala dikit ". ucap Hasby.


" Hm... gak papa ". ucap Nafsah, Ardi dan Firdan secara bersamaan.


pada saat itu juga, Hasby menyuruh Vanesa duduk terlebih dahulu sebelum dirinya pergi entah mau kemana.


" Kak Vanesa... aku minta maaf ya atas kejadian tadi " ucap Nafsah tidak lama setelah kepergian Hasby.


" Gak papa, aku tau kamu gak sengaja " ucap Vanesa dengan muka datar. Mungkin sedikit aneh bagi Ardi dan Firdan yang melihat cara menjawab Vanesa tadi, tapi keduanya berusaha memaklumi karena sudah mengetahui sifat wanita ini dari Hasby beberapa jam yang lalu, dan tidak lama setelah ke empatnya makan, Hasby pun datang dengan membawa kursi yang di pikulnya.


" Kamu mau ngapain bawa kursi?" tanya Nafsah.


" Ya mau di dudukinlah... di sini kan gak ada kursi lagi, kakak bawa aja kursi yang diatas ". jawab Hasby setelah duduk langsung menyantap makanan yang telah disediakan.


' Ini apa perasaan gua aja... apa emang nyata beneran? kok temen-temen nya Hasby gak pada kaget liat gua?' Batin Vanesa.


***

__ADS_1


Malam hari, tepatnya pada pukul 8, Hasby, Vanesa dan yang lain kini sedang berada di ruang keluarga. Dari sejak setelah magrib, Hasby sudah menceritakan kepada Vanesa bahwa Firdan dan Ardi sudah mengetahui hubungan antara keduanya. Sekalian untuk memperkenalkan diri, Hasby saat itu meminta kedua temannya untuk menginap walau hanya semalam.


kabar dari Savira kini muncul setelah pembicaraan ke limanya selesai, wanita itu memberitahu bahwa dirinya akan berada di kota C selama beberapa hari, hal ini terkait dengan pekerjaan Belina, dan kebetulan dirinya sendiri terlibat dalam kerja sama itu.


Mendengar hal ini, Hasby baru teringat bahwa dirinya perlu memberikan penjelasan yang sangat tepat pada Savira, bukan tidak mungkin wanita itu akan syok jika tiba-tiba mengetahui bahwa Hasby sudah memiliki ikat dengan wanita lain, apalagi wanita itu adalah Vanesa.


Dan saat itu juga, Hasby meminta bantuan pada Firdan dan Ardi untuk tidak memberitahu Savira, sebelum ia memberitahu langsung kepada wanita itu.


" Gua ucapin makasih banyak sama kalian berdua, dan juga... buat malam ini, lo berdua tidur di kamar gua ". ucap Hasby.


" Hm? kenapa gak di kamar biasa aja?" tanya Ardi.


" Ya kan kamar itu udah diisi sama Vanesa... ya kali lo mau tidur sama dia? ".


" Gua sih enjoy aja, di hati gua dah ada Nafsah cantik... jadi gak bakalan kegoda sama wanita lain, jadi gak papa lah...". ucap Ardi.


kata-kata yang keluar dari mulut Ardi tadi membuat semua orang yang ada di sana kini menatapnya lekat, tidak seperti Nafsah, Vanesa dan Firdan yang melihat Ardi dengan tatapan tidak percaya, Hasby saat itu entah kenapa terlihat seperti kesal padanya.


" Heh, enak aja lo maen ngomong gak papa, lo kira Vanesa siapa? ". ucap Hasby


" Ya cewek lo lah " jawab Ardi santai.


" Itu tau... ngapain coba ngomong kayak tadi segala? gua smackdown juga ni lama-lama ".


" Yaelah... selow aja Mang, nge gas aja jadi orang... gua itu cuma becanda, ke gitu doang di anggap serius... ".


" Ya lo si... dah tau Hasby ini orangnya panatik, pake segala di becandain..." kali ini Firdan yang berbicara.


" Ya maaf... gua sih tadi cuma asal ngomong doang kok ". ucap Ardi.


" Ngomong asal sih boleh, tapi jaga perasaan pujaan hati lo juga dong Di... no liat si Nafsah ".


penjelasan Firdan tadi membuat Ardi merasa cemas dengan perasaan Nafsah. Dia kini menatap Nafsah sementara untuk memastikan, tapi saat tatapan mereka bertemu, Nafsah saat itu malah memalingkan wajah.


" Aduh, Nafsah cantik... maaf ya, tadi kak Ardi cuma becanda kok, tolong jangan di anggap serius ya..." ucap Ardi yang kini berpindah dan duduk di samping Nafsah.


" Hayo lo... adik gua ngambek..." ucap Hasby menakut-nakuti Ardi.


Beberapa kali Ardi berusaha meminta maaf pada Nafsah, namun wanita itu sama sekali tidak meresponnya, padahal di dalam hati, Nafsah sudah sangat ingin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku kakak pujaannya ini, namun ia bersi keras untuk mempertahankan mimik wajah kesalnya.


Sementara Ardi masih membujuk Nafsah, Hasby meminta untuk pergi ke kamar sebentar untuk berbicara empat mata, dan tentu saja permintaan itu langsung disetujui oleh Firdan.


setelah pergi dari hadapan mereka bertiga, kini Hasby dan Vanesa pun duduk di sofa kamar Hasby.


" Lo mau ngomongin apa sama gua? " Tanya Vanesa.


agak sedikit heran karena Hasby mengajak ia berbicara, tapi bukannya penasaran, perasaan Banesa saat ini malah terkesan seperti gugup. Walaupun wajahnya nampak biasa-biasa saja, tapi detak jantungnya terasa lebih cepat.


' Ini jantung gua kenapa degup kenceng banget ya... apa gua punya riwayat jantungan? ' batin Vanesa.


_______________________________


Halo semua...


ketemu lagi dari udah sekian lama, kali ini aku minta maaf sebesar- besarnya buat kalian.


beberapa bulan terakhir, aku udah gak pernah up lagi, mohon maklum ya, aku kayak gini juga ada alasannya. Karena sibuk PKL, jadi gak sempet buat lanjutin ceritanya, dan lagi pas pulang masih ada acara.


untuk chapter kali ini aku minta maaf kalau ada banyak kesalahan dalam penulisan kata baik itu alur ceritanya yang kurang nyambung, Insa Allah kalau aku udah gak ada urusan lagi, mungkin bakalan revisi.

__ADS_1


jadi, jangan nyerah buat lanjut baca cerita ini ya, maaf udah buat kalian kecewa.


jumpa di chapter selanjutnya...


__ADS_2