Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
99# Hangat


__ADS_3

Pandangan yang tidak terlalu jelas, adalah sensasi yang dirasakan oleh seorang pria disebuah ruangan, hanya ditemani kesepian dan penerangan dari satu lampu tanpa adanya jendela dan pentilasi udara, pria itu menunduk dengan wajah datar. Tidak pernah disangka oleh dirinya sendiri, hidup yang mulanya normal-normal saja kini terhapus oleh perbuatan yang sebelumya Ia lakukan, meskipun ada rasa penyesalan dihatinya, tapi jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi?, hal yang hanya bisa dia lakukan saat ini hanya patuh, patuh pada seseorang yang harus Ia percaya meskipun tidak tau orang itu akan menghianatinya atau tidak.


Pada saat masih meratapi kesalahan, datang tiga orang masuk kedalam yang membuat fokus pria itu berpindah pada mereka, dilihat dari cara ketiganya berpakaian, mungkin saja mereka ini adalah orang baru yang akan menginterogasinya.


“ Selamat sore, Tuan Rio... perkenalkan nama saya Jordan, orang yang bakalan introgasi bapak untuk kedepannya “ Ucap pria itu yang diketahui sebagai Jordan, ayah dari Vanesa.


Menatap tajam mata Jordan, pria yang sebelumnya dipanggil Rio itu kembali menunduk setelah beberapa detik mentap kedua orang yang berdampingan dengan Jordan, siapa lagi kalau bukan Bayu dan Panji.


“ Kayaknya kamu agak susah diajak kompromi, apa perlu saya suap kamu biar buka mulut? “ Ucap Jordan dengan nada penuh dengan intimidasi.


“ Hah?... emang lo mau bayar berapa sih?, dasar orang kaya, Percuma... gua gak tertarik sama uang kalian “ Ucap Rio merendahkan.


Terkejut dengan reaksi pria yang dengan posisi diikat ini, Jordan, Bayu dan Panji menatap sati sama lain sebelum Panji yang saat itu membuka suara.


“ Kamu bilang berapa kan?, bila perlu, Saya bakalan kasih kamu imbalan 100 juta kalau kamu mau ungap siapa orang dibalik semua ini, lebih tepatnya siapa orang yang nyuruh kamu buat ngelakuin hal itu “ Ucap Panji menujukan arah percakapan ke kejadian Hasby dan Vanesa yang jatuh ke sungai.


“ Sampai kapanpun, mau lo bayar gau berapapun, sorry... lebih baik gua mati daripada harus bocorin semuanya “.


Panji dan Jordan diam saling menatap, meskipun mereka sudah menduga kalau mengorek informasi dari orang ini akan cukup sulit, namun melihat dari reaksinya yang keras kepala dan bersi keras, mereka yakin bahwa ada yang salah dengan situasi saat ini. Di dunia gelap para pedagang maupun dunia hitam, meskipun terdapat orang-orang yang akan setia bahkan rela mati demi pemimpin mereka, tapi tetap saja mereka akan membuka mulut jika dihadapkan dengan uang yang tak terhingga. Namun berbeda situasi dengan Rio, mskipun sebelumnya Ia mendapat tindakan kekerasan dan tawaran yang menggiurkan, tapi tetap saja mulutnya tertutup rapat.


Diam beberapa lama, Bayu yang sejak tadi membungkam mulut kini terpikir sesuatu dan muncul sebuat ide yang dirinya jamin dapat membuat Rio buka mulut.


“ Ayolah tuan Rio... disini pihak yang dirugikan itu adalah Anda, walapun kita gak dapet informasi yang kita inginkan, tapi ngegunain sesuatu yang berharga bagi anda sebagai jaminan... mungkin kita bakalan kasih tuan Rio kesematan “ Ucap Bayu dengan wajah sombongnya.


Seketika itu juga, mata Rio melebar dan tampak terlihat amarah dimatanya. “ Heh? Lo apain isrti gua?! Jangan mentang-mentang kalian berkuasa, kalian seenaknya aja buat orang menderita, ngapain ngelibatin orang yang gak bersalah, disini itu gua yang tersangkanya! “ Ucap Rio dengan nada suara yang tinggi.


‘ Sip... Mangsa dah nangkep umpan ‘ Batin Bayu


Berbeda dengan Bayu yang tersebyum lebar, Panji dan Jordan yang tidak mengetahui omongan Bayu hanya saling menatap satu sama lain, meskipun pria yang ada disamping mereka berkata seperti itu, tapi menurut informasi yang didapat, mereka tidak pernah mendengar hal yang Bayu ungkapkan tadi pada Rio.


“ Ok, Tuan Rio... kalau anda engak mau hal ini berlanjut, mohon untuk kerjasamanya “ Ucap Bayu.


***


Beberapa jam setelah jalan-jalan di hutan, Hasby dan Vanesa kembali ke gua karena matahari sudah mulai terbenam lagi, jika dihitung, keduanya sudah menetap digua itu sekitar 4 hari lamanya, terlebih jika mereka masih berada disini sampai esok hari, mungkin sudah terhitung hari kelima.


Menyalakan perapian dengan kayu yang mereka kumpulkan sebelumnya, Hasby dan Vanesa duduk tanpa obrolan satu sama lain. Entah ada perasaaan canggung dari keduanya, mungkin ini efek dari kejadian tadi siang, saat Hasby menyatakan perasaanya pada Vanesa dan dibalas pelukan oleh wanita itu.


Saking lamanya keheningan menemani mereka berdua, suara serangga terdengar sangat bising meskipun jaraknya cukup jauh dari sumber suara. Lama kelamaan, Hasby pun berinisiatif untuk memulai pembicaraan.


“ Vanesa.. untuk yang tadi.. maaf ya aku ngomong secara tiba-tiba” Ucap Hasby.


“ Kenapa kamu minta maaf? “ kali ini Vanesa bertanya dengan sedikit memiringkan kepala.


Dari pertanyaan Vanesa itulah, hasby menjelaskna bhawa dirinya cukup tidak sopan mengutarakan perasaan di sat seperti itu, bukan hanya tanpa ada persiapan maupun aba-aba, Hasby malah terkesan seperti orang yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan, mengingat posisi mereka berdua bukan sedang kencan melainkan adalah orang hilang yang hanyut ke sungai.


“ Haha... gak papa kok, aku malah seneng kamu gak nyembunyiin perasaan kamu “


“ Hm... kalau boleh tau, kamu sejak kapan suka aku? Terus hal apa yang buat kamu suka sama rang kayak aku gini “ Tanya Hasby dengan senyumnya.

__ADS_1


Berpikir terlebih dahulu, Vanesa meletakan jari telunjuk di pipi kanannya sambil melihat kearah atap gua, menurut pandangan Hasby, mungkin saja dia sedang mencari sumber pemicu yang membuat wanita itu menyukai dirinya. Meskipun merasa insecure karena kesenjangan diantara mereka berdua, baik dari segi keluarga maupun ekonomi, tapi jika membahas soal keuletan dan semangat pantang menyerahnya itu, Hasby cukup percaya diri, terlebih wajahnya yang mendukung membuat Ia percaya bahwa tanpa adanya bantuan dari orang tua Vanesa, dirinya masih bisa menghidup istri sekaligus adik perempuannya.


Namun dilihat dari sudut pandang orang lain, bisa saja mereka akan menganggap Vanesa sebagai wanita yang tidak tahu cara memilih seorang pria, secara kan selain memiliki wajah yang cantik, ekonomi yang memadai dan keluarga yang ternama, seharusnya Vanesa dapat memiliki pasangan yang lebih kaya atau berpendidikan tinggi daripada harus memilih Pria yatim piatu yang bekerja pun harus menggunakan usaha sendiri.


“ Kamu sebelumya nanya kapan aku suka sama kamu kan? “ Tanya balik Vanesa dan dijawab anggukan oleh Hasby.


“ Hm... Kayaknya itu udah dari dulu, Cuma emang gak nyadar aja, apalagi waktu itu aku masih dihantui sama orang lain “


“ Apa itu Syam? “ Tanya Hasby dan diiyakan oleh Vanesa.


“ Yups.. nah, kalau untuk alasan aku suka sama kamu, kayaknya aku suka kamu yang jail dan cerewet deh “ Ucap Vanesa sambil tersenyum mengejek.


“ Eh? Emang aku bawel ya? Perasaan enggak deh, yang ada kamu tuh kalau ngomong gak bisa nge rem...” Ucap Hasby sedikit mencubit pipi Vanesa.


“ Dih... emang iya sih aku cerewet, tapi masih parahan kamu lho, udah ceroboh... pelupa... tukang boong lagi “


“ Haha.. Kan manusiawi, wajar dong kalau pelupa “


“ Apaan manusiawi, Cuma sekedar lupa naro jam tangan sih it’s ok.. tapi ini... Hahaha... udah tau hp dipegang ditangan masih aja nyari dan harus minta bantuan Nafsah “


Dengan antusias, Vanesa menceritakan semua hal yang menurutnya lucu tentang Hasby, dari mulai pria itu yang selalu hampir lupa untuk membawa ponselnya saat berangkat kuliah, serta kejadian ketika mempermasalahkan siapa yang akan naik motor karena keterbatasan transfortasi, padahal kan saat itu Jordan sudah memberikannya satu unit mobil.


Diiringi tawa dari satu sama lain, keduanya menyadari bahwa melihat orang yang disukai itu senang ternyata membuat hati merasa nyaman, apalagi bercanda gurau bersama, terlebih Hasby dan Vanesa sudah mengungkapkan isi hati mereka masing-masing yang membuat keduanya tidak akan sungkan maupun canggung jika menyangkut suatu hal, mereka tinggal membicarakannnya saja, sebab apa? jika melihat kebelakang, Hasby selalu merasa ada dinding pembatas jika ingi melakukan sesuatu yang berkaitan untuk lebih dekat lagi dengan Vanesa.


“ Ok, ok... sekarang giliran aku yang nanya nih... “ Ucap Vanesa.


“ Apaan tuh? “


Tersenyum sejenak, Hasby meraih tangan kanan Vanesa yang kemudia Ia tempelkan ke pipinya sambil melihat atap gua dengan pandangan lurus. “ Pertama kali... aku suka kamu sama satu hal “ Ucapnya yang kini memandang Vanesa.


“ Kamu tau kan kalau dulu itu kamu juteknya minta ampun dan makin kesininya sering bawel marahin aku? “ Ucap Hasby dengan senyum jahil.


Melirik ke arah lain, Vanesa cukup malu unutk mengakui hal ini, namun Ia membenarkan hal itu. “ Em... Iya... “.


“ Aku suka kamu karena hal itu...


Eh?


Vanesa terdiam diikuti Hasby yang tertawa kecil melihanya dengan ekpresi seperti itu, jika dipikirkan lagi, apakah Hasby benar menyukainya karena sikap juteknya?, tapi bukan juterk malah terkesan cerewet karena waktu itu Ia suka memarahi Hasby karena selalu melakukan kesalahan dimatanya.


“ Kamu boong ya Hasby? “ Ucap Vanesa.


“ Hah? kenapa? “


“ Masa suka sama seseorang karena dia jutek sih? Malah aku terkesan cerewet lho... “


“ Ya... yang namanya suka, mau gimana lagi? “


Tidak terlalu yakin dengan penjelasan Hasby, Vanesa memilih membuang muka dan tidak ingin membahasnya lagi. Disisi Hasby, pria itu malah tersenyum karena dapat melihat wajah imut Vanesa yang sedang cemberut, pipinya yang sedikit mengembang membuatnya terlihat chuby.

__ADS_1


“ Kamu jangan cemberut kayak gitu dog? “ Ucap Hasby mengelus kepada Vanesa


“ Eh?, aku gak cemberut kok, apa keliatannya gitu? “


Vanesa tersadar dari pemikiran yang sebelumnya, Ia tidak menyangka bahwa ketika memikirkan sesuatu tadi sangat memengaruhi ekspresinya. Ditengah pertanyaan Vanesa, Hasby malah tertawa keras sambil memegangi perutnya yang mulai sakit.


“ Kamu kenapa sih Hasby?, ketawa-ketawa gak jelas gitu?, emang ada yang lucu? “ Tanya Vanesa binggug dan sedikit ada rasa malu, meskipun Ia tidak tahu hal apa yang membuatnya merasa sepeti itu.


Setelah dirasa puas tertawa, Hasby berhenti dari kegiatannya dan bertanya satu hal lagi pada Vanesa “ Vanesa.... “


“ Ya? “


“ Apa aku boleh peluk kamu sebentar? “


Vanesa cukup terkejut mendengar ungkapan Hasby, sebelumnya Ia tidak pernah meminta hal seperti itu secara terang-terangan, mungkin berbeda dengan sekarang yang mana mereka berdua sudah tau isi hati masing-masing, tapi dibalik itu, Vanesa malah terfokus pada sorot matanya yang berbanding balik dengansenyum diwajahnya. Bukan hanya agak kosong, pandangan Hasby nampak seperti orang yang memiliki kesedihan namun tidak bisa diungkapkan.


Tanpa menjawab, Vanesa langsung memeluk Hasby setelah melihat sorot matanya yang tadi itu, Ia mungkin tidak akan pernah mengerti apa yang dirasakan oleh Hasby selam aini, tapi dengan dirinya yang sekarang, Ia bertekad untuk berdiri disampingnya untuk menguak dan mengobati hal apa yang mengganggu jalan Hasby dimasa depan.


“ Hasby... kalau kamu mau peluk aku, gak perlu nanya, sekarang aku ada dipihak kamu, ok... kalau ada masalah silakan cerita, kalau ada sesuatu yang serasa janggal bagi kamu tinggal ngomong, enggak hanya kamu, aku juga bakalan gitu... jadi kedepannya jangan buat senyum palsu lagi ya? “


Hasby cukup terkejut sekaligus terharu dengan sisi positif Vanesa, dirinya yang beberapa saat yang lalu sedikit sedih karena mengingat tentang penyakitnya yang tak kunjung sembuh membuat Ia berpikir jikalau dirinya pergi Vanesa akan bagaimana setelahnya, namun setelah mendengar ucapan wanita yang memeluknya ini , Ia bertekad untuk terus hidup agak bisa terus bersama dengan Vanesa.


Membalas pelukan Vanesa dengan erat, Hasby menenggelamkan wajahnya yang tersenyum cerah “ Makasih ya Van... aku bakalan inget apa kata kamu saat ini “.


Keduanya tenggelam satu samam lain, Udara yang mendingin karena perapian yang hampir padam tidak terasa karena hangatnya tubuh satu sama lain, Hasby dan Vanesa larut dalam pemikiran mereka, dalam sejarah hidup mereka, keduanya baru merasakan perasaan seperti ini hanya sekali sepanjang hidup mereka, mungkin ini adalah anugrah dari yang maha kuasa.


“ Ok, udara makin dingin, sekarang kamu tidur duluan ya... biar aku nyalain lagi perapiannnya “ Ucap Hasby melepas pelukan dan hendak beranjak dari duduknya.


“ Hasby bentar... “ Ucap Vanesa menarik lengan Hasby yang membuatnya tak jadi berdiri.


“ Kenapa? “. Hasby memusatkan perhatiannya pada Vanesa, takut wanita itu ada hal yang disampaikan.


Cup


Secara tiba-tiba, bukannya malah berbicara, Vanesa mendadak mencium pipi Hasby sejenak dan lanjung pergi ke luar gua, disitu Hasby mematung tidak bereaksi, tapi beberapa saat kemudian Ia tersadar dan tersenyum sambil mengelus area pipinya yang disentuh oleh bibir kecil Vanesa.


‘ Oh, my... gua gak bakalan cuci bekas ini selama sebulan ‘ Batin Hasby.


Berencana untuk melanjutkan kegiatan awalnya, Hasby mengambil setumpuk kayu yang sebelumnya Ia kumpulkan dengan Vanesa, membuat perapian dengan bara kayu yang sudah menyala tapi agak gampag-gampang susah, terlebih kayu yang Hasby ambil tidak sepenuhnya kering karena terdapat beberapa lumut diatasnya.


Malam terasa sepi, hanya suara serangga yang menemani Hasby sampai Ia selesai menyalakan perapian, untuk Vanesa yang keluar tadi entah kenapa belum menampakan diri lagi, mungkin merasa malu, hasby hanya tersenyum mengingat kejadian-kejadian dari tadi siang, sungguh mengesankan dan tak terlupakan, hanya itu kata yang dapat Hasby ucap untuk hari ini.


“ Hasby, Hasby... sini Hasby... “


Dari kejauhan, Hasby mendengar suara perempuan yang sudah tidak salah lagi itu adalah Vanesa, namun dari nada panggilan yang Ia gunakan, entah kenapa hasby sedikit khawatir saat itu.


“ Vanesa... “ Ucapnya sambil berlari keluar menyusul Vanesa.


____________________________

__ADS_1


Jumpa di chapter selanjutnya...


__ADS_2