Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
108# Pembahasan


__ADS_3

Hasby dan Vanesa kini tiba di rumah pada siang hari, selain menikmati waktu jajan dan jalan-jalan, kedua orang ini juga tidak lupa membelikan sesuatu untuk Nafsah, mungkin hanya sekedar jenis makanan yang mereka beli tadi.


Tepat pada pukul 1, mereka kini sedang duduk di ruang santai sambil menonton televisi di lantai dua, sambil menunggu kehadiran Jordan dan yang lain, kini Hasby membuka suara untuk mengawali percakapan.


“ Van... besok-besok kita pergi liburan lagi yuk “.


“ Mau liburan kemana? “.


“ Terserah, menurut kamu bagusnya ngapain? “.


“ Gak tau, aku gak ada request tempat, kalau kamu? “. Tanya Balik Vanesa.


“ Hm... gimana kalau hiking ke gunung Salak? “.


“ Enggak! “.


Vanesa menolak tanpa pikir panjang, ia mungkin masih trauma dengan yang namanya hiking, cukup sekali seumur hidup ia melakukan hal itu, meski Hasby berbicara kalau rute di gunung salak tidak ada yang dekat sungai, namun tetap saja Vanesa tidak ingin mengalami hal serupa dua kali seperti kejadian kemarin.


“ Terus mau kemana dong?, ke pantai? “.


“ tapi kan kemarin kita udah kesana... “.


“ Hm... gimana kalau kita jalan-jalan ke pasar malem aja? “.


“ Boleh, tapi di sekitar sini emang ada ya? “.


“ Tenang... aku tau kok dimana tempatnya “.


“ Ya udah, weekend entar jangan lupa ingetin aku ya “.


“ Siap... asal kamu nya aja jangan dulu tidur, kalau udah kejadian kan susahnya minta ampun buat dibangunin “.


“ hey... aku gak sepules itu ya kalau tidur “.


“ Haha... apaan? orang Nafsah aja sampe geleng-geleng kepala kalau kamu lagi ngebo “.


“ Ih... Hasby “.


Vanesa memanyunkan bibirnya, sementara orang yang ada disamping sibuk tertawa memikirkan hal yang sebelumnya dibahas, membahas tentang tidur Vanesa, wanita itu memang tipe individu yang susah dibangunkan kalau sudah tertarik ke alam mimpi, meskipun telah mengguncangnya dengan cukup keras, istri Hasby ini harus dibangunkan dengan cara dicipratkan sedikit air, walaupun sekarang sudah tidak perlu dibangunkan lagi ketika pagi hari, namun dihari libur kebiasaan buruknya akan kembali, mungkin saja jika tidak dibangunkan, Vanesa akan kelewat tidur sampai hari menjelang siang.


“ Haha... udah, udah, jangan cemberut mulu dong, nanti cantiknya ilang... “ Ucap Hasby sambil mencubit pelan pipi Vanesa.


“ Kamu ngeselin deh “.


“ Ya udah iya, maaf... ".


Kedua orang itu terus mengobrol satu sama lain, sambil ditemani canda dan tawa mengenai obrolan random mereka, tidak terasa waktu sudah berjalan selama 30 menit dan jam telah menunjukan pukul 12 siang. Pada saat itu, karena sudah tahu akan ada tamu yang datang, Hasby dan Vanesa bergegas bersiap-siap untuk menyambut mereka.


15 menit waktu berjalan, Nafsah adalah orang pertama yang datang ke rumah setelah kuliahnya, dilanjut Ardi, Firdan dan Safira, ternyata ketiga orang itu juga ikut dengan alasan ingin bermain lebih sering ke rumah, Hasby sih tidak masalah dengan hal itu, namun jika mengingat kedatangan Jordan dan yang lain, sepertinya ia harus menyuruh para temannya diam di lantai dua, hingga waktu yang ditunggu-tunggu pun datang.


Jordan dan Zihan pun sampai di rumah Hasby, tidak hanya dirinya, kedua orang itu datang bersama dengan 3 pria yang yang Hasby pun mengenali mereka, dan jika benar sesuai dugaan, orang itu tidak lain adalah Bayu, Lyn dan Panji yang baru-baru ini Hasby ketahui sebagai pamannya.

__ADS_1


Sementara Hasby menyambut para tamu untuk diarahkan duduk di sofa, Vanesa kini mengantar temannya menuju lantai dua. Wanita itu menjelaskan kenyataanya, jika Hasby sudah berteman sejak lama denan ketiga orang ini, maka tidak masalah dong berbagi informasi yang mana ini juga demi kebaikan Hasby sendiri. Awal mulanya Ardi, Firdan dan Safira senang bukan kepalang, mereka merespon baik tentang perihal sang sahabat yang akan berencana menjalankan operasi, sejak dulu ketiga orang ini memang melakukan hal yang sama, bahkan ketiganya rela membantu membiayainya, namun tetap saja tak ayal mereka tidak bisa melakukan hal tersebut karena selama bertahun-tahun, stok darah yang serupa dengan Hasby di rumah sakit selalu kosong, kenapa?, karena darah yang Hasby miliki cukup langka untuk didapat.


Berganti ke situasi Hasby, peria itu sedang khusuk-khusuknya membahas perihal operasi yang akan ia jalankan, meskipun merasa tidak enak hati karena mendapat bantuan sebesar ini dari mereka semua, namun Panji membuka suara kalau semua ini adaah haknya, terlebih pria paruh baya itu malah menyalahkan diri sendiri, karena alasan dia yang tidak bisa menemukan Hasby lebih awal, jadi pemuda itu telah banyak menderita karena ulahnya. Dan bukan Hasby namanya jika dia tidak memaafkan hal tersebut, dirinya tersenyum dan berkata kalau semua itu hanyalah masa lalu, tidak usah dipikirkan karena semuanya telah terjadi.


Hingga percakapan mendekati topik paling akhir, Hasby menguatkan tekadnya untuk mempublikasikan tentang hubungan yang ia jalani dengan Vanesa, dengan si wanita yang kini sudah turun dan duduk disampingnya, Hasby berkata dengan lantang pada mertua dan para pamannya.


Sontak, pada saat itu juga mereka terkejut, jadi selama ini Hasby dan Vanesa sudah suami istri?, dan saling mencintai?, apakah kalian bertanya bagaimana respon mereka?, of course surprised and happy at the sime time!, Terlebih kelimanya dia sejenak sebelum tersenyum riang. Hanya saja Vanesa yang ada disana sedikit malu, karena Zihan sempat menggoda kalau wanita itu dulu adalah orang yang paling menentang perjodohannya dengan Hasby, namun nyatanya mereka malah saling jatuh cinta dan menjadi suami istri, sungguh tidak terduga.


Sampai waktu memasuki waktu Ashar pada pukul 3 sore, Jordan dan Zihan beserta, Bayu, Lyn dan Panji pun pulang dengan senyum di wajah mereka yang mengembang.


~


“ Haduh... cape juga ya ngebahas hal berat kayak gini “. Ucap Vanesa menyandarkan tubuh ke belakang sofa.


“ Iya juga, tapi kamu enak cuma ngomong pas ditanya doang, aku cape ngejelasin tentang hubungan kita ke mereka, plus rasa tegangnya bukan maen tau... masya Allah... aku kayak lagi senam jantung tau “. Ucap Hasby dengan telapak tangan yang sengaja diletakan di dada, guna mendramatiskan situasi.


“ Haha... sabar aja ya, itu kan tugas kamu sebagai suami, jadi aku sebagai istri cuma berdiam diri doang “.


“ lah?, mana ada tugas kayak gitu?, aku baru denger lho... itu mah kamu yang bikin sendiri kali “.


“ Emang iya “ Vanesa berbicara sambil terkekeh.


Karena gemas, Hasby memeluk Vanesa sambil geregetan sendiri, otomatis wanita yang bersangkutan itu menggerutu karena Pria yang memeluknya melakukan hal tersebut sambil mengacak-acak rambut.


“ Iiih, Hasby... rambut aku berantakan tau “. Ucap Vanesa melepaskan diri dari pelukan dan membenarkan surainya.


“ Kamu ngegemesin sih, jadi pengen nerkam deh “.


“ Kenapa juga enggak? “.


Hasby merangkul pinggang Vanesa hingga wajah mereka saling berdekatan, dengan senyum sumringah, pemuda itu mengelus pelan bagian leher wanita didepannya sampai dibuat mematung. Untuk Vanesa sendiri, sepertinya dia sudah mengucapkan kata-kata yang salah hingga membuat seorang harimau terbangun, dipikir-pikir kenapa dia asal jeplak saja berbicara seperti itu didepan seorang pria, sudah pasti semua lelaki yang mendengarnya akan merasa tertantang dan akan melakukan aksinya, terlebih kan Hasby itu suaminya sendiri, jadi kalau mau melakukan sesuatu juga Vanesa hanya bisa menerimanya dengan lapang dada meski sedikit terpaksa.


Baru juga pikiran kotor itu muncul di benak Vanesa, Hasby sudah menjauhkan diri dan mengusap wajahnya dengan kasar.


“ Hah? “. Vanesa terheran-heran, ada apa dengan pria dihadapannya ini.


“ Huft... hah... lain kali jangan ngomong kayak gitu lagi ya Van... “.


“ Kenapa? “ Tanya Vanesa polos masih dalam keadaan loading.


“ Aku ini cowok tulen... meskipun kita udah suami istri, belum tentu kan kamu mau dan menerima hal itu “.


Seketika itu juga ruangan menjadi hening, tidak ada percakapan lagi, Hasby diam begitu juga dengan wanita yang ada disampingnya, namun berbeda dengan pria itu, Vanesa malah tersenyum dengan sorot mata lembut. Dia dibuat kagum, dan baru pertama kali ia menemukan pria setegar dan sesopan Hasby, biasanya seorang pria tidak akan memikirkan apapun ketika hasratnya sudah terpancing, mereka akan buta dan tidak akan melihat sekitar saat hawa nafsu menguasai mereka, namun lihat pria yang ada di samping Vanesa, pemuda itu bahkan menahan diri pada istrinya sendiri.


“ Sebenarnya kamu gak perlu nahan diri lho “. Gumam Vanesa masih terdengar oleh Hasby.


“ Memang kamu rela kalau aku yang ambil? “.


“ Em... kita kan udah suami istri, jadi apa salahnya ? “. Ucapnya kecil sambil memainkan jari.


Mata Hasby membulat karena mendengarnya, apa yang Vanesa katakan tadi sangat tidak ia sangka-sangka, apakah hubungan mereka sudah sedekat itu sampai Vanesa bahkan rela melakukannya dengan dirinya?. Namun tidak memikirkan hal lain, saat ini hati Hasby entah kenapa menjadi hangat, disaat beberapa waktu yang lalu diselimuti rasa takut karena mendengar tentang operasi yang akan ia lakukan dalam waktu dekat, Vanesa adalah orang yang membuat suasana sekitar menjadi normal dengan suara lembutnya yang indah.

__ADS_1


“ Haha, kamu jangan tarik kalimat itu ya... “.


“ Ish... apaan sih? Ya kali ditarik, emang lagi main tarik tambang? “.Ucap Vanesa kesal karena dirinya mulai merasa malu.


“ Tapi kan kamu suka main tarik ulur “.


“ Lah? Enggak ya, itu mah kamu kali sama orang lain yang suka tebar pesona, sekalinya para wanita udah klepek-klepek malah gak dipeduliin “.


“ Hm... itu mah kamu aja kali yang terpesona “.


“ Iih... Hasby... “


Vanesa memukul-mukul punggung Hasby, sementara pemuda itu hanya tertawa sesekali meringis karena pukulan Vanesa tidak main-main, dan tanpa mereka sadari, tingkah keduanya ternyata tengah diperhatikan oleh beberapa orang.


“ Ekhem, ekhem... mesra-mesraan mulu sih jadi orang, inget tempat dong “. Ucap seseorang muncul dari tangga, dan ternyata dia adalah Firdan beserta yang lain baru turun dari lantai dua.


Vanesa dan Hasby refleks berhenti dari kegiatan mereka, meski awalnya malu tertangkap basah sedang berduaan, namun jika dipikirkan kembali apa salahnya, toh mereka tidak melakukan hal yang tak senonoh.


“ Cue, cue... yang lagi kasmaran, aduh... gue serasa jadi nyamuk nih, jadi nyesel deh turun ke bawah “. Susul Ardi dengan Nafsah yang tertawa tanpa suara dibelakangnya, sementara untuk Savira, dia hanya tersenyum.


“ Apaan sih?, kalau nyesel udah balik lagi aja sono “. Ucap Hasby dengan nada kesal.


“ Caelah... jangan marah lah, sensi amat mentang-mentang waktu berduanya diganggu “. Ujar Ardi.


Hasby mengendus kesal, sementara Vanesa diam dengan melihat ke arah lain, sampai membuat kedua teman pria itu tertawa terbahak-bahak, lain dengan Nafsah, gadis itu malah terfokus pada Savira yang menatap pasutri di depan dengan senyuman, namun sorot matanya nampak sendu, dan sari situ Nafsah masih yakin dengan satu hal, ternyata wanita itu masih menyimpan rasa pada kakaknya.


“ Kak Savira... “ Ucap Nafsah pelan, dan wanita yang bersangkutan hanya menatap dia sejenak dan tersenyum tipis setelahnya.


‘ Kak Savira pasti tersiksa banget liat kedekatan mereka ‘. Batin Nafsah.


“ Kamu tenang aja Nafsah... aku udah mulai ikhlas kok “. Bisik Savira ditengah Nafsah yang kini menunduk.


“ Tapi... susah lho kak ngilangin perasaan yang udah lama dipendam “.


“ Gak papa, aku kan tinggal nyari yang lain, meskipun agak susah juga kayak yang kamu omongin “.


“ Eh? iya kah? “.


“ Iya dong, lagian koleksi cogan aku ada banyak, cuman jarang direspon aja “.


Nafsah tersenyum, sedikit banyaknya ia juga merasa lega karena Savira tidak terlalu larut dalam perasaannya, namun disaat bersamaan, dia juga merasa tidak enak hati. “ Intinya kalau ada apa-apa jangan bilang ke aku ya kak “. Ucap Nafsah.


“ Iya... tenang aja Naf “.


Semua orang berkumpul, kembali melanjutkan obrolan yang beberapa jam sebelumnya tertunda karena kedatangan tamu, mereka tak lagi diberi penjelasan oleh Hasby karena sebelumnya Vanesa telah bercerita, dan dari situ ke enam orang disana mulai berbicara sebagai mana biasanya, membahas ini dan itu sambil ditemani minuman dan camilan.


Sekedar informasi, hal yang dibicarakan oleh Hasby dengan mertua dan saudaranya adalah perihal ia yang akan melakukan operasi pengangkatan tumor, Panji berbicara kalau sekarang ini langkah yang paling tepat adalah melakukan hal tersebut, karena penyakit yang Hasby idap sudah lama, ia takut kalau dibiarkan penyakit itu akan semakin ganas.


Untuk masalah biaya, Jordan akan dengan senang hati memberikan bantuan, meskipun awalnya Hasby menolak, namun ungkapan ayah mertuanya saat itu sama sekali tidak bisa dibantah, karena uang yang ia miliki memang awalnya adalah milik Hasby sebagai pewaris dari perusahaan ‘Nur’. Sementara kunci dari masalah yang selama ini menghalangi Hasby adalah tipe golongan darahnya yang susah dicari, ternyata Panji adalah orang yang memiliki darah serupa dengannya. Serta setelah kesepakatan ini semua, semua orang memutuskan untuk membawa pemuda itu ke singapura minggu depan, tepat dirinya selesai kemoterapi.


‘ Ya allah... mudah-mudahan dengan dijalankannya operasi, hamba dapat memperpanjang umur untuk membahagiakan istri dan adik saya, ya Allah... semoga engkau merestui jalan yang hamba pilih ‘ Batin Hasby ditengah obrolan dengan para temannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2