Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
102#Mengetahui fakta


__ADS_3

Nafsah duduk di sebelah Hasby ketika pria itu menyuruhnya, dengan pandangan yang terus tertunduk, Ia sebenarnya cukup berat untuk menceritakan hal yang menurutnya sangat penting ini, meskipun Jordan, Bayu maupun Panji sudah mengizinkan Ia untuk menjelaskan semuanya, namun tanpa didampingi oleh satu orangpun, sepertinya Nafsah cukup kesulitan.


“ Nafsah... kamu mau ngomong hal apa? “ Tanya Hasby.


Tidak langsung menjawab, Nafsah melirik Hasby sejenak dan kembali menundukan kepala, dengan perilaku adiknya itu, Hasby bersugesti bahwa hal ini merupakan hal yang bisa dibilang cukup berat untuk diceritakannya.


“ Kalau sekiranya berat... mending kamu gak usah maksain aja Naf... “


“ Ta, tapi kak... kalau aku gak cerita, kamu gak bakalan tau apa yang terjadi sama kita selama ini “ Ucap Nafsah.


“ Hah? Maksudnya? “


“ Aku mungkin gak bakalan ngejelasin tentang Pak Jordan, tapi satu hal yang kakak harus tau, kalau kita itu bukan anak sebatang kara... “


Cukup bingung dengan alur cerita yang Nafsah bicarakan, Hasby kurang tentang maksud dari kata-katanya itu, apa arti dari mereka yang bukan sebatang kara? Padahal kan sejak kematian kedua orang tua mereka, Hasby dan Nafsah hidup hanya memiliki satu sama lain.


“ Bentar, bentar, bentar... bisa kamu jelasin garis besarnya Naf? “


“ Jadi... selain Ayah dan Bunda, ternyata kita masih punya kebarat lain kak “


“ Hah? Yang bener, kamu tau dari mana? “


“ Om Bayu... ternyata selama ini, dia tau segala hal tentang kita “


Dengan tenang, Nafsah menjelaskan pada Hasby bahwa mereka mempunyai seorang paman yang selama ini tidak diketahui oleh Hasby maupun dirinya sendiri, dengan terkejut dan tidak percaya, Hasby menerima berita dari Nafsah kalau paman yang dibicarakan itu adalah Panji, Direktur dari perusahaan Syah yang besar itu, dan dari penjelasan Nafsah, Panji ini merupakan kakak dari almarhum ibu mereka, yaitu Hani, jika dilihat ke belakang, Hasby cukup penasaran dengan marga ibunya itu, meskipun Ia tidak menghiraukannya lagi, namun mendapat kenyataan yang tiba-tiba dan luar biasa, hati Hasby cukup sakit mendengarnya.


kenapa? Itu berkaitan dengan ibunya, jika benar Panji adalah kakak dari almarhum sang ibu, kenapa dia tidak datang saat pemakamannya, kenapa Ia tidak datang saat beliau sedang sakit?, dan kenapa beliau tidak datang saat ibunya sedih karena kehilangan suaminya dulu?.


Hasby memijat kepalanya yang sakit, mendapat berita besar yang selama ini ternyata disembunyikan oleh Bayu membaut Ia cukup kecewa padanya, ditambah kenapa dia harus merahasiakannya?, apa keuntungannya berbuat hal itu?.


“ Kakak... “


Nafsah memanggil lembut Hasby dengan nada khawatir, sebelumnya Ia sempat cemas karena takut kakaknya tidak menerima kenyataan dan berakhir stress, namun apalah daya, walaupun berat, cepat atau lambat Hasby akan mengetahui hal ini walaupun mungkin bukan lewat mulutnya.


“ Huft... hah... kakak gak papa Naf... kamu gak usah khawatir “ Ucap Hasby menghela nafas yang setelahnya mengusap jilbab Nafsah.


Hasby menghela nafas panjang setelah Ia melakukan kegiatan tadi, meski kesal, Ia tidak dapat merubah masa lalu, yang Ia harus jalani sekarang adalah apa yang akan terjadi di masa yang mendatang.


“ Sebenarnya masih ada hal lain yang belum bisa aku jelasin, terutama tentang mertua kamu...” Ucap Nafsah memainkan jarinya.


“ Tentang apa? “


“ Em... mungkin untuk hal yang ini aku agak keberatan nyeritainnya, “ Ucap Nafsah.


“ Apa masih berkaitan sama orang tua kita? “ Tanya Hasby.


Nafsah mengangguk diiringi ******* panjang dari Hasby. ‘ Kayaknya gua harus nanya langsung sama ayah angkat ‘ Batin Hasby.


***


Pagi, pukul 07:00

__ADS_1


“ Kamu lagi masak apa Naf? “ Tanya Hasby menghampiri adiknya yang sibuk menggoreng sesuatu.


“ Aku niatnya mau bikin ayam serundeng “


“ Wah... kamu udah parut kelapanya? “


“ Udah dong... dari pagi aku kerjain “


“ Kenapa gak minta tolong aja... padahal kan kamu bisa panggil aku”


“ Gak papa...ini aku bikin sepesial buat kak Vanesa “


“ Eh? Bukan buat aku? “


“ Kamu mah sisanya aja deh “


Hasby tertawa mendengar candaan Nafsah, yang awalnya Ia kira adiknya memasak khusus untuk dirinya sendiri, namun ketika kata terakhir keluar, Hasby cukup lucu ketika tahu kalau Nafsah membuat masakan ini untuk diberikan terlebih dahulu pada Vanesa.


“ Dasar emang ya... kakak kandung kamu malah dikasih sisa coba “


“ Haha... ya kali di kasih sisa sih, ini itu aku bikin buat kalian berdua lah, gitu aja pake nanya... “ Ucap Nafsah terkekeh.


“ hehe.. ya kali... “


Ditengah asiknya mengobrol dengan Nafsah, Hasby kembali merasakan perasaan lega yang sebelumnnya sudah hilang beberapa hari, meskipun sekarang ini adalah hal yang nyata, tapi Hasby terkadang merasa kalau pulangnya Ia kerumah ini adalah sebuah mimpi, namun Ia bersyukur kalau mimpi ini tidak akan pernah berakhir.


“ Pagi Hasby... Nafsah “


Ketika Kedua adik kakak itu sedang fokus pada obrolan, terdengar suara wanita yang memanggil dari belakang, siapa lagi orang itu kalau bukan Vanesa, dengan diiringi oleh senyuman hangat, Hasby dan Nafsah membalas balik sapaan Vanesa.


Ucap mereka bersamaan.


Nafsah dan Hasby melihat Vanesa yang saat ini mengarah ke mereka berdua, dalam pandangan Hasby, Vanesa saat ini terlihat nampak segar dan bersih dari beberapa hari sebelumnya, mungkin efek dirinya yang mandi dengan benar dibanding 4 hari kebelakang yang hanya membersihkan tubuh dengan air saja.


“ Em... kayak biasanya, masakan kamu selalu wangi Nafsah “ Puji Vanesa.


“ Hehe... kak Vanesa bisa aja “


“ Aku boleh gak sesekali belajar masak dari kamu? Sebelunya kamu kan bernah ngasih resef buku masakan, tapi kayaknya aku agak kurang paham kalau enggak praktek langsung “.


“ Boleh aja kok “


“ Wah... beneran? Makasih Nafsah “


“ Sama-sama... nah, kalau sekarang kakak sama kak Vanesa duduk aja ya, biar kali ini aku yang masak dan kalian tunggu ya “ Ucap Nafsah.


“ Emang gak papa? Kamu nanti bisa kerepotan lho... “


“ Aku udah ngomong kayak gitu tadi, tapi dia masih aja tetep mau kerja sendiri “ Ucap Hasby yang beranjak duduk.


Nafsah tersenyum pada Vanesa yang dengan senang hati ingin membantunya, namun karena ini adalah masakan istimewa yang Ia buat, wanita itu menuntun Vanesa sampai dia duduk di kursi sebelah Hasby, ini mungkin cukup memaksa, namun tidak terlalu kasar juga ketika menolak.

__ADS_1


Membiarkan Nafsah dan mengikuti kemauannya, Hasby dan Vanesa berujung mengobrolkan kejadian yang mereka alami tempo hari, pengalaman yang mengancam nyawa, serta kejadian yang sempat membuat mental Vanesa down, dimana lagi jika bukan saat Hasby yang saat itu hampir sekarat karena kecerobohannya. Namun, kejadian yang paling berkesan bagi mereka berdua adalah itu, ya... disaat Hasby dan Vanesa membuka hati satu sama lain, tentu saja obrolan itu tidak diungkap karena keduanya masih merasa malu mengumbar tentang status mereka sekarang ini.


Sebenarnya mereka juga cukup bingung dengan hubungan mereka saat ini, padahal kan Hasby dan Vanesa sudah sah menjadi pasangan suami istri baik itu dimata hukum maupun agama, namun karena hubungan ini diawali dengan keterpaksaan di satu pihak, jadi keduanya terkesan hanya menjalin hubungan tanpa adanya cinta, dan juga... bukankah mereka halal satu sama lain?, jika sidah tahu bahwa saling mencintai, kenapa mereka tidak sekamar saja mulai dari sekarang dan mulai mempublikasi perasaan mereka, tapi tentunya tidak untuk saat ini, karena keduanya memerlukan waktu untuk beradaptasi.


Ditengah obrolan canda tawa Hasby dan Vanesa, Nafsah yang mengamati mulai sedikit curiga dengan hubungan mereka berdua, bukan curiga dengan maksud buruk, tapi melihat keduanya nampak dekat dan tidak menahan satu sama lain, sepertinya terjadi banyak hal saat mereka berdua hilang beberapa hari terakhir.


‘ Hihi... seneng deh liat mereka akur gini ‘ Batin Nafsah.


***


“ Hasby... gua datang bawa buah tangan lho... “


Siang ini, sekitar pukul 12:00, Ardi, Firdan dan Savira mengunjungi rumah Hasby dengan banyak buah tangan yang mereka beli secara terpisah, tidak puas dengan reuni kemarin yang mereka habiskan beberapa jam, ketiganya bertanya banyak hal sampai Hasby dan Vanesa cukup kewalahan menjawabnya, dan karena itu pula, terutama Ardi, mereka bertiga mendapat teguran dari Nafsah agar tidak terlalu membuat Hasby dan Vanesa lelah dengan semua pertanyaan yang mereka lontarkan.


Tidak hanya sahabat Hasby yang datang, kali ini Jordan dan Zihan pun berkunjung ke rumah Hasby ditemani oleh dua orang yang sudah lama belum mereka temui, orang itu tidak lain adalah pa Ajril dan bu Sri, meskipun profesi keduanya merupakan pekerja di rumah keluarga Lits, Jordan dan Zihan mengijinkan keduanya ikut di mobil yang sama untuk bertemu dengan Hasby dan Vanesa.


Selang 2 jam saat Jordan dan Zihan beserta pa Ajril dan bu Sri berkunjung ke rumah, datang Bayu dan Panji yang mana mereka tidak hanya berdua saja, melainkan dengan dua orang pemuda dan satu wanita. Meskipun nampak terkejut dengan kunjungan orang sebanyak ini, Hasby, Nafsah dan Vanesa tetap menjamu mereka dengan baik, meskipun terkesan sudah sangat sumpek untuk menambah orang, namun ketiganya berusaha yang terbaik untuk menjamu semua orang.


Ketiga orang yang Bayu dan Panji bawa hanya satu orang saja yang Hasby tidak kenal, tapi melihat dua orang lainnya, Ia mengenal salah satunya sebagai Lyn, wajahnya tidak asing karena pemuda itu sebelumnya yang menjadi pengurus saat Ia kemoterapi tempo hari, dan untuk satu orang lagi... tunggu sebentar, perasaan Hasby pernah melihat orang itu di suatu tempat, tapi dimana?.


Untuk sesaat, Hasby diam sambil memutar otaknya, tidak hanya Ia seorang, Vanesa yang berada di belakang pun ikut berpikir dan merasa familiar dengan wajah orang tersebut. Tapi tidak lama waktu berjalan, orang tersebut membuka suara terlebih dahulu.


“ Hasby... “ Ucapnya


Semua orang yang ada disana diam dengan heran, bukan hanya teman Hasby dan keluarganya Vanesa, Panji dan ketiga orang yang datang bersamanya juga dibuat bingung oleh remaja tersebut.


“ Kamu... “


“ Ini gue Has... apa lo udah lupa? “ Tidak langsung merespon, Hasby menatap wajah orang itu dengan mimik muka berpikir.


“ Hah... itu, gua inget sekarang... Rendi kan? “


“ 100% buat lo... “


Setelah mengetahui bahwa keduanya mengenal satu sama lain, Hasby dan orang yang diketahui namanya sebagai Rendi kini berpeluk sapa seperti seorang teman yang sudah lama tidak bertemu kini berjumpa kembali. “ Ya ampun,,, Hasby, udah lama ya kita gak ketemu sejak kejadian itu, gimana? Apa luka lo udah sembuh? “


“ Haha... alhamdulillah, gua baik-baik aja kok, malah sehat walafiat...”


“ Syukur deh kalau gitu, gue sempet khawatir tempo hari, wajar aja sih... orang keserempet truk, ya kali gak papa?, kalau bukan keajaiban pasti udah meninggal “


“ APA?!!! “


Obrolan antara Hasby dan rendi berhenti ketika semua orang berkata ‘ apa “ secara bersamaan, dibalik hal itu, semua orang lebih terkejut mendengar tentang kata yang dilontarkan dari mulut Rendi, luka apa yang Hasby dapat?, keserempet truk?, kapan?, semua itu masih menjadi tanda tanya untuk mereka.


“ Kak Hasby yang baik dan suka boong... apa yang kakak itu maksud ya? “ Ucap Nafsah dengan senyumnya yang menyeramkan.


‘ Astagfirullah... kayaknya gue bakalan kena ceramah panjang ini... '


______________________________________________


maaf ya gaes... untuk chapter kali ini sedikit dan untuk Minggu kemarin aku gk up, dan juga... gak kerasa juga yah uda di penghujung tahun aja, perasaan baru kemarin deh aku ngucapin selamat tahun baru 2022, pokoknya tetap semangat dan setia aja ya ikutin cerita Hasby sama Vanesa...

__ADS_1


dan juga jika ada banyak kesalahan, mohon dimaklumi ya...


jumpa di chapter selanjutnya, jangan pernah males baca cerita ini ya...


__ADS_2