Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
96#Ucapan Terakhir


__ADS_3

Malam hari, sekitar pukul 09:00, Vanesa kembali menemani Hasby yang suhu tubuhnya meningkat drastis, tidak seperti demam yang kemarin-kemarin, kali ini kening dan tangannya sangat panas, bahkan saking panasnya, wajah Hasby yang biasa pucat kini memerah.


“ Vanesa, maaf ya... aku udah buat kamu kerepotan mulu... “ Ucap Hasby yang saat ini berada di pangkuan Vanesa.


“ Kamu gak perlu mikir kayak gitu... ini kewajiban aku kok “


“ Tapi tetap aja, tidak menutup kenyataan kalau aku ini adalah beban kan? “


Hanya menghentikan omongan pria itu dengan jari telunjuk, Vanesa melanjutkan kegiatan dengan mengelus area kening Hasby yang panas. Bersamanya selama tiga hari ini membuat Ia sadar kalau kesehatan Hasby sangatlah buruk dan harus diperhatikan setiap saat, namun jika mengingat kejadian kebelakang, pria ini nampak selalu bugar dan berenergi, di tambah karakternya yang hangat, Vanesa tidak pernah menyangka kalau staminanya cukup payah dibandingkan dengan kemampuan bela dirinya waktu itu.


Meski malam terus berlanjut, demam Hasby tak kunjung turun, walaupun sudah berulang kali Vanesa mengganti kompresannya, namun karen terlalu sering, air yang tadinya dingin ikut menghangat karena hantaran panas Hasby yang sebelumnya menempel di kain kompresan. Meski tidak terlalu jelas, namun kali ini Hasby sampai mengigau, Vanesa memang tidak mengetahui apa yang diigaukan oleh pria itu, namun melihat keadaan seperti itu membuatnya khawatir, terlebih Hasby sudah beberapa kali mengeluh tentang kepalanya yang sakit.


“ Vanesa... bisa tolong ambilin air minum? “ Pinta Hasby.


“ Ouh, ok... bentar ya “


Membenarkan posisi kepala Hasby terlebih dahulu, Vanesa menuangkan air hangat yang sebelumnya ia rebus sebelum menjelang malam. Meskipun tidak terlalu panas, namun setidaknya dapat diminum agar Hasby tidak dibuat menggigil.


Hasby... aku berdoa semoga aja kamu cepet sembuh


“ Vanesa... “ Ucap Hasby dengan lirih sambil melirik ke arah wanita yang ada disampingnya.


“ Iya, kenapa Hasby?, apa ada yang bisa aku bantu? Kamu kedinginan?, atau kepanasan? Bilang aja ya... “


Hanya tersenyum menanggapi reaksi Vanesa yang sangat perhatian dan khawatir padanya, dilanjut menghela nafas pelan, Hasby melontarkan pertanyaan yang membuat jantung Vanesa seolah berhenti berdetak. Bak di sambar petir, Vanesa terkejut bukan kepalang mendengarnya, bagaimana bisa ia akan tenang setelah mendengar ucapan ini, Vanesa... nanti kalau aku udah gak ada, kamu bisa kan cari pengganti yang lebih baik dari aku? katanya.


“ kamu ngomong apa Hasby?, bercanda kamu gak lucu tau “ ucap Vanesa tertawa namun dengan senyum terpaksa.


“ Aku gak becanda Van... seperti yang kamu liat, waktu aku gak lama lagi... jadi aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya kalau sekiranya aku sering nysahin sama kamu ya...”


“ Hehe... enak aja, sebelum kamu sembuh, aku gak bakalan maafin kamu, dan juga... sebentar lagi ulang tahun kamu lho... masa kamu gak ngerayain sih?, aku sempet pernah mikir hadiah apa ya yang bagus buat kamu? “ Ucap Vanesa dengan nada bicara yang bergetar.


Meskipun Vanesa berbicara dengan penampilan yang nampak tegar, namun tetap saja Ia tidak bisa menutupi kebohongan bahwa dirinya hampir menangis, bahkan didengar dari logat bicara, suaranya terdengar seperti sedang ditahan.


“ Aku sebenernya udah ngerencanain hal itu dari jauh-jauh hari, tapi kalau liat kondisi sekarang, kayaknya aku gak bisa ngerayaain deh... “ Ucap Hasby.

__ADS_1


“ Lho? Kenapa? Masih bisa kok, setelah tim penyelamat nemuin kita berdua, aku bakalan bantu bikin pesta yang meriah buat kamu... kamu mau hadiah apa? aku bakalan turutin semuuuaaa yang kamu pengen, ok? “.


“ Sekali lagi maafin aku Vanesa... kamu tau kan kondisi aku sekarang ini? “


“ Diem Hasby!, kamu itu kuat... bentar lagi tim penyelamat bakalan dateng, jadi tolong tunggu sebentar ya “


“ Enggak Van.. aku bahkan gak percaya diri bisa ketemu hari esok, malah... mungkin aku gak bakalan kuat sampai tengah malam... “


“ Hasby!... kamu dari tadi ngomong apaan sih?!, enggak, hiks...kamu bakalan kuat, ada aku disini... kamu harus kuat, hiks... kamu pasti kuat Hasby... “


Sambil menggenggam tangan panas Hasby, Vanesa menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan, meskipun ia berpendapat keras bahwa pria ini dapat bertahan sampai tim penyelamat datang, namun melihat kondisinya sekarang, Vanesa merasa frustasi dan menyesal meskipun tidak tau apa alasan yag membuat ia merasa seperti itu.


Beberapa menit ke depan, Hasby masih berbicara omong kosong dan sesekali menceritakan masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan Vanesa, lalu setelah didengar-dengar cukup lama, ucapan Hasby ini seperti ucapan terakhir seseorang yang akan meninggal dunia, mungkin cukup tidak sopan, tapi mendengar dari rumor yang menyebar dari mulut ke mulut, seseorang yang akan meninggal biasanya akan menceritakan masa lalu yang membekas atau kejadian yang pernah Ia jalani, begitu pula dengan ucapan yang diutarakan oleh Hasby, Vanesa hanya mendengar sambil menangis tanpa suara, namun setelah mendengar kalimat selanjutnya, Ia membungkam lembut mulut pria itu hingga perkataanya tidak selesai.


“ Cukup Hasby... cukup, kamu tau gak kalau perkataan kamu itu nyakitin hati aku?, udah Hasby... kamu cuma perlu tahan bentar lagi... aku yakin kamu pasti bisa “ Ucap Vanesa.


Hasby tidak membalas, ia hanya menatap wanita yag ada disampinya dengan ekpresi yang entah kenapa tidak bisa diartikan dengan jelas, mulutnya tersenyum, namun matanya mengandung kesedihan yang mendalam. Sekali lagi, setelah itu Hasby berbicara dengan suaranya yang mulai merendah, sampai-sampai Vanesa harus sedikit menunduk agar suara pria itu terdengar.


“ Sebenarnya... aku mau ngomong hal ini dari jauh hari, tapi_... uhuk, uhuk...” Ucapannya terhenti disusul oleh batuk yang tak kunjung reda, dan dengan cepat Vanesa mengambil air yang tadi ia simpan untuk segera diberikan kepada pria itu.


“ Tergantung dari permintaanya... hiks... kalau sekiranya kamu mau ngejailin aku doang, awa aja ya... “ Ucap Vanesa masih sempat bercanda ditengah isak tangisnya.


“ Aku mau kamu hidup bahagia... meskipun tanpa aku disisi kamu, tapi aku mohon, tolong tetep jadi Vanesa yang bawel dan ceria ya... aku perhatiin, kamu agak perhatian selama tiga hari ini “


“ mangkanya... hiks... kalau kamu mau aku perhatiin, tolong jangan tidur dulu, tunggu sebentar lagi... “ Pinta Vanesa diiringi tangis yang semakin kencang.


“ Maaf ya Van... kalau hal itu aku gak bisa lakuin, dan.... mungkin.... waktu aku udah deket....”


“ Hasby, kamu gak papa kan?... “


Seolah pernafasan Hasby ditutup oleh sesuatu, pria itu nampak kesakitan sampai memegang dada, disusul mencengkram kepalanya yang sakit seperti dibenturkan dengan benda keras, Vanesa yang melihat pun hanya dapat menemani tanpa bisa membantu apa-apa.


“ Vanesa... sekali lagi maaf ya... aku... gak bisa tahan...” Ucap Hasby dengan nafas tersengal.


“ Jangan Hasby!, jangan tutup mata kamu, aku yakin kamu itu kuat Hasby... tolong Hasby, tolong...hiks... jangan tinggalin aku, Hasby...”.

__ADS_1


Perlahan waktu berjalan, mata Hasby kian memudar diiringi tangisan Vanesa yang mengeras, Hasby berbicara untuk terakhir kalinya “ Vanesa... aku *****.****....”


Setelah mengucapkan hal itu tanpa adanya suara, mata Hasby tertutup disertai tangannya yang jatuh setelah dirinya mengelus pipi lembut Vanesa.


“ Hasby... Hasby, bangun Hasby! Kamu kenapa? “


Tidak kunjung membuka mata, Pria itu tergeletak seperti orang yang sedang tidur, namun setelah berkali-kali diguncang oleh Vanesa, Hasby tak kunjung bangun, dan untuk memastikan, Vanesa mengecek denyut nadi pria itu, tapi alhasil.... tidak ada denyut nadi.


Mematung, itulah hal yang Vanesa lakukan setelah mengecek tangannya, masih tidak percaya, Vanesa kini dengan pelan mengarahkan tangannya kearah hidung Hasby, berharap masih ada hembusan angin, wanita itu mengulurkan tangannya dengan pelan.


“ Enggak... enggak mungkin, Hasby kamu becanda kan? Hasby kamu nahan nafas kan?... jangan kayak gini Hasby?!...”


Setelah mengecek nafas, tidak ada hembusan angin sama sekali. Bahkan untuk memastikan hal yang lain, Vanesa menempelkan telinganya ke area dada Hasby dan memenukan bahwa jantungnya tidak berdetak lagi.


“ Hasby... Hasby aku mohon... tolong buka mata kamu... hiks... Hasby cepet buka mata kamu Hasby, jangan kayak gini, Hiks... tolong jangan tinggalin aku... “


“ HASBY!!!!...... “


***


Terkejut bukan kepalang, Vanesa membuka matanya dan melihat hari sudah menjelang pagi. Dari situ, hal yang pertama Ia cari adalah keberadaan pria yang selama tiga hari ini selalu bersamanya. Mengingat kejadian kemarin malam, Vanesa masih belum yakin apakah itu mimpi atau kenyataan.


“ Vanesa... kamu kenapa?, mimpi buruk? “ Ucap seseorang yang berada di samping dinding gua.


Dengan cepat menoleh ke arah sumber suara, Vanesa melihat Hasby yang meyapanya dengan senyuman, mungkin demam yang kemarin malam sudah hilang, karen adilihat dari wajahnya, Hasby terlihat lebih bugar dan berenergi.


Hanya mematung, Vanesa melihat Hasby tanpa adanya ekpresi, tapi tidak lama setelah itu, Vanesa menangis keras dengan posisi memeluk Hasby, ia bersyukur bahwa kejadian tadi malam hanyalah sebuah mimpi, jika saja hal itu adalah kenyataan apakah bisa Ia bertahan hidup sendirian?.


Disisi Hasby, pria itu sedikit heran dengan perilaku Vanesa, sempat khawatir, namun Ia memaklumi hal tersebut, gadis mana yang tidak menangis jika terjebak situasi yang sama dengan Vanesa, mereka juga pasti mengalami hal yang sama dengan Vanesa, belum lagi jika harus merawat orang berpenyakitan, Hasby rasa wanita ini sudah cukup kuat menahan semua beban tersebut.


“ Hasby... hiks... aku takut, Hasby... “


“ Gak papa Vanesa... ada aku disini, kita bakalan baik-baik aja, kamu yang tenang ya... “ Ucap Hasby mengelus rambut Vanesa.


Hanya mengelus lembut wanita yang ada didekapannya, sambil terus mengeluarkan kata-kata agar Vanesa tidak terlalu stres, Hasby berbicara dengan suara yang lembut dan tulus, sebagai ucapan rasa terima kasih karena telah merawatnya, Ia berjanji dalam hati akan menjaga Vanesa dengan segenap rga dan hati yang tulus.

__ADS_1


' Tenang aja Vanesa... aku janji bakalan jagain kamu '


__ADS_2