
Disebuah ruangan, nampak seorang pria yang tengah duduk di sofa tidak jauh dari jendela, sambil memeluk lutut, pria itu bergumam tidak karuan terlihat ketakutan dengan pandangan yang selalu lurus kedepan. Disamping pria tersebut, ada seorang lelaki yang sedari tadi mencoba menenangkannya, tapi hasilnya nihil, pria yang duduk itu seolah tidak mendengar ucapan laki-laki yang ada disampingnya.
“ Tuan muda Syam... percaya sama saya, tuan gak bakalan ketangkap, saya udah berusaha ngebungkam mulut orang itu, selama istrinya ada di tangan kita, dia gak bakalan pernah buka suara... jadi mohon anda tenang ya... “ Ucap laki-laki itu yang diketahui sebagai Daniel, asistennya Syam.
Disamping tidak mendengarkan perkataan Daniel, Syam yang saat ini sedang frustasi, terus memikirkan hal apa yang akan terjadi jika Jordan mengetahui kalau kecelakaan yang terjadi pada Hasby dan Vanesa waktu itu diakibatkan oleh dirinya. Bukan hanya takut pada Jordan, Syam bahkan berpikir ayahnya akan marah besar jika saja dia mengetahui faktanya.
Meskipun diketahui Syam adalah tipikal orang bermasalah, namun ketahuilah bahwa pria ini adalah seorang pengecut dari segala pengecut, buktinya seperti sekarang, tidak berani bertanggung jawab hingga mengakui kesalahan, dirinya bahkan memerintahkan Daniel untuk mengancam orang suruhannya tempo hari dengan jaminan nyawa istrinya yang menjadi taruhan, jika dipikirkan secara logis, bukankah Ia sudah membuat beberapa kali perbuatan jahat?, dihitung dari niat melakukan pembunuhan meskipun berawalan candaan, kemudian menculik seseorang untuk mengancam keluarganya demi mendapat keuntungan sendiri, itu adalah perbuatan keji yang dilakukan secara bersamaan.
“ Daniel... kalau sekiranya pria itu keliatan mau buka mulut, bunuh aja orangnya! “
“ Apa?! “
Terkejut mendengar ucapan Syam, Daniel tidak menyangka bahwa tuan mudanya akan berpikir sampai sejauh itu, membunuh seseorang? Itu merupakan tindak kriminal yang berat. “ Tuan muda, untuk urusan membunuh orang, mohon maaf... saya masih punya akal pikiran, kalau misalnya kita ketahuan, hukuman kita bakalan lebih berat lagi “ ucap Daniel.
“ Lu?! Berani-beraninya membangkang perintah tuan sendiri, apa sekarang lo mau jadi penghianat terus ngelaporin gua ke polisi?! “
‘ Hah? Gak jelas amat si ni orang... ' Batin Daniel.
Berusaha meyakinkan Syam bahwa dirinya masih berpihak kepadanya, Daniel meminta pria ini untuk tenang dan mulai menjelaskan apa yang harus Ia lakukan untuk kedepannya. Dari mulai berencana melarikan diri ke kota lain dan menghilangkan jejak agar tidak terdeteksi, meskipun mereka belum tau apakah pihak keluarga Vanesa sudah mengetahui atau belum dalang dari kejadian ini.
“ Pokoknya, Daniel... pikirin caranya supaya kita gak ketauan, jangan kecewain gua...” Ucap Syam.
Diakhiri oleh ucapan tuan mudanya, Daniel keluar dari ruangan menyusuri lorong yang nampak luas. Disana, tidak jauh dari salah satu tiang yang berdiri, muncul seseorang dengan wajah datar menghampirinya.
“ Gimana? Apa pria itu buka mulut di depan orang-orang suruhan Pak Jordan? “ Tanya Daniel kepada pria tersebut.
“ Untungnya, mungkin dia masih sayang keluarganya, jadi dia enggak ngomong sama sekali, ditambah ada informasi yang menurut saya cukup penting “
“ tetang apa? “
“ Kalau gak salah, salah satu rekan saya bilang kalau dia ngeliat logo teratai di kelompok yang nangkep orang bayaran Tuan Syam, dilihat sekilas kayak logo biasa, tapi menurut informan di organisasi kami, logo teratai itu milik perusahaan Syah “ Ucap Pria itu.
Mengerutkan kening hingga membuat ekspresi yang buruk, Daniel memijat keningnya karena tidak menyangka kalau hal yang dilakukan tuan mudanya ini dapat berdampak negatif untuk ayahnya juga, diketahui... orang yang dapat membuat perusahaan Syah bergerak merupakan orang yang tidak boleh di usik, mengingat kekuatan mereka itu melebihi kekuatan ayahnya Syam, Daniel khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi menimpah keluarganya tuannya.
“ Terus... apa mereka ngelakuin segala hal buat ngorek informasi dari orang bayaran tuan? “
“ Mereka gak bertindak sejauh itu, tapi saya khawatir...”
“ Tentang? “
“ Masih belum pasti, tapi mungkin untuk kedepannya, saya punya pendapat kalau persentase tuan bisa kabur sangat minim...”
Tidak lagi berucap dan hanya dijawab dengan helaan nafas berat, Daniel menyuruh orang tadi untuk pergi, meskipun tidak pernah ada niatan untuk berkhianat, tapi kali ini Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya yang selama ini dipendam. Daniel bertanya pada diri sendiri, kenapa tuan besarnya memiliki anak yang sebrengsek Syam, padahal menurut pandangannya selama ini, tuan besar merupakan orang yang bijak meskipun keras kepala dan terkadang mengambil keputusan yang kurang tepat, bahkan almarhum mendiang ibunya juga merupakan orang yang dermawan, tapi apa-apaan ini?!, kenapa tidak ada satupun sifat baik ayahnya yang menempel pada diri Syam?, mengingat keduanya kan memiliki hubungan darah yang sama.
“ Huf...hah... Tuan, maafin saya ya...” gumam Daniel mengusap kasar wajahnya.
***
__ADS_1
“ Apa-apaan ini?! ”
Meski tidak terlalu keras, Panji dan Bayu dapat merasakan bahwa nada bicara Nafsah sedikit meninggi, disertai tangan mengepal dan nafas yang memburu, menambah firasat yang selama ini mereka duga menjadi kuat. Saat ini, setelah Bayu mengajak Nafsah untuk membicarakan suatu hal beberapa saat yang lalu, sekarang, pukul 2 siang, tepat setelah mereka mengobrol selama satu jam penuh, kini Nafsah mendapat informasi yang sama sekali tidak pernah Ia bayangkan.
Pembicaraan apa ini?, Nafsah dan Hasby merupakan bagian dari keluarga Syah?, Jordan bukan pemilik asal dari perusahaan Nur?, Orang tua mereka menderita gara-gara sahabatnya?, sekali lagi, apa-apaan semua ini?!, Nafsah masih belum bisa menangkap secara sempurna, apakah ini hal yang nyata atau sekedar omong kosong saja?, tapi jika dipikirkan lagi, bukankah jika bercanda ini sudah melebihi batas.
“ Om Bayu... “ Ucap Nafsah setelah diam beberapa saat.
Tidak menjawab maupun merespon, Bayu yang sedari tadi cerita kini diam sambil menunduk menggenggam erat tangannya.
“ Sekali lagi, aku mau mastiin... Apa yang diomongin sama Om dan pak Panji tadi boongan kan?, kalian jangan bercanda deh, kak Hasby sekarang belum ketemu, masa kalian ucap omong kosong kayak gitu?, he... mana mungkin pak Panji yang terhormat ini paman kita, apa kalian mau main-main sama aku? “ Ucap Nafsah tertawa dengan ekspresi tidak percaya.
Masih tidak menjawab Nafsah, Bayu hanya diam tanpa berbicara maupun menggerakkan anggota tubuhnya sedikit pun, sebagai gantinya, kini Panji yang berada di sebelahnya pun membuka suara.
“ Nafsah... paman minta maaf ke kamu sama Hasby dengan sebesar-besarnya, iya... paman tau paman salah, tapi dengan situasi kalian saat itu, kondisinya enggak memungkinkan kita buat ngasih tau kalian...” Ucap Panji menjelaskan.
Tidak menanggapi penjelasan Panji dengan baik, Nafsah kembali melontarkan pertanyaan yang bisa dibilang mengungkapkan kekesalannya selama ini.
" Kalian tau gak apa yang dialamin sama ka Hasby?, kalau sejak awal paman sama om Bayu bilang kalau pa Panji itu kakak dari Almarhum Bunda, mungkin aja kak Hasby enggak terlalu menderita, coba kalian pikirin, waktu SMP, kita kehilangan Ayah yang membuat Bunda harus banting tulang cari nafkah buat kedua anaknya, belum lagi Bunda saat itu punya penyakit yang sama kayak kak Hasby, setelah bunda meninggal, tinggal kak Hasby yang Nafsah punya... disaat orang lain lagi senang-senangnya nikmatin masa remaja, dia malah jadi tulang punggung keluarga yang harus membiayai aku yang masih kelas 7, belum lagi, menurut diagnosa penyakit kaka itu bakalan makin parah seiring berjalannya waktu “
Terus mengeluarkan keluh kesahnya saat beberapa tahun terakhir, Nafsah tanpa henti melanjutkan cerita-cerita sedih yang menurut Ia sangat tidak adil untuk dijalani oleh kakaknya, meskipun hidup dengan kondisi dan ekonomi yang sama, tapi Ia merasa bahwa penderitaan Hasby lebih besar sebagai seorang kakak.
Waktu berjalan seolah tidak menunggu Nafsah untuk berhenti bercerita, diiringi air mata yang semakin lama semakin berderai, Nafsah berhenti ketika membahas kakaknya yang tidak bisa operasi karena butuh transfusi darah dengan golongan yang sama dengannya, namun karena keterbatasan stok darah dan biaya, pria itu hanya bisa melakukan cek rutin dan obat yang meminimalisir kambuhnya penyakit tersebut.
Ketika Nafsah tidak lagi melanjutkan omongannya dan hanya menunduk sambil menutup wajah dengan tangan, reaksi Bayu dan Panji seakan khawatir melihatnya, mereka paham jika Nafsah bersikap seperti itu, meskipun mereka menduga kalau hidup Hasby dan Nafsah sulit, namun mereka tidak menyangka bahwa keduanya telah melewati susahnya kehidupan yang belum tentu kedua pria itu rasakan.
Dalam penjelasan Panji kali ini, terlihat sebuah kesedihan yang mendalam dimatanya, meskipun tidak mengeluarkan air mata, namun ketika Nafsah mencuri lirik, Ia seolah tahu apa yang dirasakan oleh pamannya. Dengan melihat hal ini, Nafsah sadar bahwa Panji tidak sepenuhnya salah, meskipun... ya... agak berat untuk mengakuinya, mungkin dirinya terlalu emosional untuk menanggapi hal ini, meskipun Ia dan kakaknya hidup berdua tanpa didampingi orang tua sejak usia SMP, namun melihat orang diluar sana, yang sedari lahir hidup di panti asuhan tanpa tahu wajah maupun sifat orang tuanya, Nafsah merasa syukur karena masih dikaruniai seorang kakak yang baik dan Paman yang selama ini mencari keberadaan mereka.
Menghela nafas dan dilanjut menatap langit yang entah kenapa nampak biru, Nafsah tersenyum kecut menyadari bahwa ia sudah salah karena melimpahkan kesalahan ini pada Panji, dan pada saat itu juga, dengan hati yang bersalah, Ia meminta maaf pada Panji dan Bayu karena sudah bersikap tidak sopan dan tidak dewasa, jika dipikirkan kembali, waktu tidak akan pernah berputar kembali, saat suka duka kehidupan yang dijalani yang dijalani olehnya sudah lewat dan merupakan sebuah masa lalu yang tidak akan pernah terulang kembali.
dengan melihat reaksi Nafsah, Panji tersenyum dengan air mata yang mengalir, entah ini faktor usianya yang mungkin sudah tua, dirinya tidak bisa menahan air mata yang menurutnya hal itu adalah hal yang membuat Ia malu setelahnya. Sama hal nya dengan Bayu, pria nampak lega dengan senyum kecil diwajahnya, sempat berfikir bahwa Nafsah akan sulit menerima hal ini, namun mendapati begitu dewasanya dia dalam menangapi kenyataan, Bayu terkesan karena dapat melihat sosok sahabatnya dalam diri Nafsah.
“ Paman... Om Bayu, aku mau tanya satu hal “ Tanya Nafsah yang membuat kedua orang itu menjadi serius.
“ Silakan Naf... selagi paman bisa jawab, apapun itu terserah kamu mau nanya apa? “.
" Kita kesampingkan hal ini dulu, Aku minta saat ini kita harus fokus buat temuin kak Hasby dulu... " ucap Nafsah dengan suara yang bergetar.
***
“ Uhuk... Urgh...”
“ Ini... tolong minum dulu “
Memberikan segelas air, Vanesa kini dilanda rasa khawatir, sejak beberapa saat yang lalu ketika mereka mencoba menjelajahi hutan menuju tepi sungai, Hasby diserang kembali oleh demamnya yang tadi pagi sempat mereda, lebih parahnya lagi, entah kenapa jangka waktu kambuh penyakitnya menjadi sering, sehingga pria itu harus mengonsumsi obat yang sekarang tinggal 5 butir lagi.
“ Mending kamu tiduran aja Hasby... mungkin aja bakal mendingan “ Ucap Vanesa.
__ADS_1
“ Aku gak papa Vanesa... Cuma pusing doang “ Ucap Hasby tersenyum meski nampak sangat lelah.
Vanesa hanya menghela nafas sambil melihat Hasby dengan wajah sedih, niatan awal Ia ingin membangun tenda yang dibawa sebelumnya untuk Camping kemarin, namun melihat sebagian barangnya yang belum kering, Vanesa memilih untuk menjemur terlebih dahulu sleeping bag dan beberapa pakaian yang kebetulan siang hari ini entah kenapa cukup terik.
Mengunakan sapu tangannya untuk mengompres Hasby, dilihat dari wajahnya yang memucat dan suhu tubuhnya yang sangat panas, Ia menduga kalau temperatur pria ini bisa mencapai 39° Celcius.
“ Hasby, Kamu tunggu bentar ya, aku mau ambil air ke sungai “ Ucap Vanesa hendak beranjak, namun sebelum itu, tangan panas Hasby menahannya.
“ Vanesa... “
“ Iya, Hasby... kenapa, aku disini... “
“ Kamu... jangan kemana-mana ya “ Ucap Hasby.
Vanesa dilema, Ia memang tidak ingin meninggalkan Hasby yang dalam keadaan seperti ini, tapi di satu sisi, dirinya harus ke sungai untuk menganti air kompres Hasby.
“ Aku gak akan lama kok, Hasby... tunggu bentar ya, aku janji bakalan balik lagi “ Tidak bisa menolak lagi, Hasby mengangguk diikuti Vanesa yang mulai keluar menjauh.
Saat keberadaan Vanesa sudah tak terlihat, suasana di dalam gua sangat sepi, hanya ada suara perapian yang sebelumnya dinyalakan kembali oleh Vanesa, Hasby berpikir bagaimana wanita yang tidak mempunyai pengalaman berkemah bisa membuat api dengan tangan kosong, ditambah wanita itu dapat menghadapi situasi dengan tenang seperti tadi. Biasanya, nona muda di sebuah keluarga akan nampak manja dan pasti merasa kesulitan ketika sedang menghadapi situasi macam ini, bukan hanya nona muda, wanita biasa yang mandiri pun mungkin akan kesulitan bahkan panik.
Di samping itu, kini Hasby mulai mengetahui kalau jati diri Vanesa sebenarnya adalah gadis mandiri yang lembut dan perhatian, dibandingkan dengan Vanesa si nona muda yang galak, dingin dan pemarah, sifat yang baru Hasby lihat hari ini lebih natural dan menggambarkan bahwa wanita itu asalnya memang tidak seburuk pertemuan awal, yang membuat Hasby jadi teringat tentang Vanesa yang cerita untuk pertama kalinya saat ia pulang kemoterapi dari kota C dulu.
Bosan tidak ada orang yang bisa diajak mengobrol, Hasby bersenandung dibarengi dengan demamnya yang tidak kunjung turun, rasa panas menjalar ke area leher dan kepala, namun sebaliknya, tubuhnya menggigil kedinginan meskipun sudah diselimuti oleh dua lapis kain yang Vanesa jemur tadi sampai kering.
‘ Padahal baru aja gue pengen nembak dia, pake ada acara demam segala... hehe, emang ya... mungkin Allah belum ngijinin ‘ Batin Hasby sambil Tersenyum pahit.
" Hasby... aku datang lagi "
suara wanita yang ia tunggu kini terdengar lagi, Vanesa yang nampak berkeringat mulai menganti kain kompres yang ada di keningnya dengan yang baru.
" Perasaan kamu cepet banget Van... kalau gak salah, jarak gua sama sungai enggak deket " Ucap Hasby dengan kondisi mata yang tertutup.
" Tadi aku lari... ya kali tega ninggalin orang yang lagi demam, belum lagi aku harus rebus air dulu buat kamu " Ucap Vanesa yang kini membenarkan posisi Hasby agar bersandar ke dinding gua dengan alas tas.
" Oh iya... kamu kapan belajar buat api secara manual? aku salut lho kamu bisa bikin perapian kayak gini ".
melihat Hasby yang juga sedang menengok kearahnya, Vanesa tertawa sambil menuangkan segelas Air yang sengaja untuk Ia minum. " Aku enggak buat Api pake cara manual, ya kali... aku gk bisa ". ucapnya tertawaan kecil.
" Hah? terus itu pake apaan? ".
" Pake pemantik api "
mendengar penjelasan Vanesa, Hasby tertawa karena dengan bodoh nya ia berpikir bahwa wanita ini bisa membuat hal seperti itu. ' Emang ya... anak orang kayak gak bisa jauh dari barang elektronik ' Batin Hasby.
____________________________________________
Jumpa di chapter selanjutnya...
__ADS_1