
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, sekitar 30 menit dari penginapan, Hasby dan yang lainpun sampai di tempat tujuan.
Sebelum keberangkatan menuju puncak bukit, Savira terlebih dahulu menemui seseorang untuk menjadi pemandu perjalanan. Kebetulan, orang itu adalah kenalan mamanya.
" Nah... kenalin, ini Om Iqbal yang bakalan jadi pemandu kita " ucap Savira.
" Ouh, kalau gak salah... dulu bapak juga ya yang mandu saya sama papa saya?" tanya Ardi.
" Kamu anaknya pak Setiawan kan? iya bener, saya sama beliau dari dulu suka hiking bareng, tapi mungkin karena pekerjaan nya yang padat... jadi kita gak bisa kayak dulu lagi... salam buat beliau ya " ucapnya.
" Ok, om... ".
sedikit bercakap-cakap, Iqbal mengintruksikan kepada keenamnya untuk istirahat terlebih dahulu sebelum kumpul pukul 10:00 nanti. Sambil sedikit santai, mereka juga memeriksa barang bawaan sekali lagi agar tidak ada yang tertinggal.
" Hm...? obat gua ditaro di mana ya? " gumam Hasby.
setelah diperhatikan lebih teliti, Hasby baru menyadari bahwa obat yang selalu ia minum tertinggal di penginapan. Ini mungkin membuatnya agak panik, karena kalau ia tidak tepat waktu meminumnya, besar kemungkinan penyakit yang ia derita akan kambuh lebih sering.
Ingin bertanya pada Nafsah namun terhalang karena Vanesa ada disampingnya, sehingga mau tidak mau ia harus menunggu sampai waktu yang tepat.
" Tempat ini beneran aman kan, Di? " Tanya Firdan pada Ardi setelah dirinya selesai bersiap.
" Seingat gua sih aman, tapi harus tetep hati-hati juga... soalnya kalau gak salah, rute yang kita ambil bakalan deket jurang " jawab Ardi menjelaskan.
" Apa gak terlalu bahaya? gimana kalau salah satu dari kita jatoh? " tanya Vanesa.
" Ih, amit-amit deh... moga aja jangan, yang penting kitanya aja harus jaga-jaga " kali ini Savira yang berbicara.
masih dengan obrolan yang sama, Vanesa dengan yang lain nampak asik dengan percakapan tersebut. Semenjak Hasby mengungkapkan hubungan sebagai pasangan sah kepada mereka, Vanesa menjadi lebih dekat dan sering mengobrol tanpa ada kekakuan, walaupun jarang menunjukan ekspresi wajah, namun wanita ini bisa dibilang cukup dekat dengan ketiganya.
sementara itu, Hasby mengambil kesempatan ini untuk berbisik pada Nafsah dan bertanya. " Nafsah, kamu bawa obat cadangan kakak gak? " tanya nya.
" Enggak, obatnya aku tinggal di penginapan, emangnya kenapa?".
" Cuma mau nanya aja sih... ".
" Beneran?... gak ada masalah kan? ".
" Gak papa... ".
hanya mengangguk setelah mendengar pernyataan Hasby, Nafsah kini kembali fokus pada pembicaraan tadi. Berbeda dengan Hasby, dirinya saat ini menghela nafas kasar karena telah menemukan masalah besar.
' Mungkin malam ini bakalan agak panjang '.
***
" Ok, semuanya udah siap kan? ". ucap Iqbal kepada kelompok Hasby.
" Siap, Om... ".
" Mari semua, kita berangkat...".
tepat setelah istirahat dan persiapan, mereka akhirnya mulai mendaki, namun tidak sampai 10 langkah, mereka semua dihentikan oleh suara seseorang yang memanggil dibelakang.
" Sir... tolong tunggu bentar ". ucap Pria itu.
Saat berbalik, Mereka semua dikejutkan oleh orang yang memanggil tadi, karena pria tersebut adalah Syam, orang yang selalu membuat mereka kesal meski hanya dengan menatap nya.
" Permisi... Sir, saya boleh ikut kelompok kalian? soalnya saya gak punya rekan... ". ucap Syam.
__ADS_1
tidak langsung menjawab, Iqbal terlebih dahulu melirik kelompok Hasby yang menatap Syam dengan penuh kekesalan, meski tidak terlihat dari ekspresi mereka, namun dari tatapan yang ditujukan, terlihat jelas bahwa mereka sangat terganggu oleh kehadiran Syam, terutama untuk Vanesa yang terlihat terkejut.
" Em... gimana ya? ini sih bukan hal yang bisa saya putuskan... gimana kalau kamu tanya mereka? " ucap Iqbal.
" Ouh... kalau begitu, bolehkan gua ikut bareng kalian? boleh ya?... soalnya gua gak ada temen nih " ucap Syam sedikit memohon.
hanya bisa menghela nafas, semuanya tidak bisa menolak Syam karena keberadaan Iqbal disini. Tidak punya pilihan lain, terpaksa mereka akan memasukan pria itu ke kelompoknya, namun sebelum itu, Hasby bertanya untuk yang terakhir pada Vanesa agar dia membuat keputusan.
" Gimana? apa dia boleh ikut? " tanya Hasby.
" Terserah... gua gak peduli ". ucap Vanesa yang langsung menarik lengan Hasby dan jalan terlebih dahulu.
tidak menunggu lebih jauh, Nafsah, Iqbal dan ketiga lainnya mengikuti langkah mereka. Sedikit kesal karena mendapat perlakuan yang sedikit kasar, Syam menggerutu sebelum memanggil pengawalnya yang tepat berada di belakang.
" Daniel... bilang sama preman yang kita sewa biar dia siap-siap ngelaksanain tugasnya... gua pengen liat, gimana ekspresi Vanesa setelah gua tolongin dari bahaya... " ucapnya.
setelah berbicara, Syam pun ikut menyamakan langkahnya dengan kelompok Hasby.
***
Keberuntungan mungkin tidak terlalu berpihak pada Hasby dan yang lain, dilihat dari cuaca hari ini, langit nampak gelap karena awan mendung menutupi sinar matahari, ditambah rute yang mereka lewati cukup suram.
jalan yang hanya memiliki lebar sekitar setengah meter dan terdapat jurang yang didasar nga ada sungai besar, membuat kelompok Hasby cukup merasa kesulitan untuk melewatinya, ditambah permukaan jalannya agak licin.
" Kayaknya ini bentar lagi bakalan hujan, usahakan jalannya agak cepet ya... tapi inget, harus tetep hati-hati ". ucap Iqbal.
" Ok, Om... " jawab mereka.
meski dalam keadaan demikian, kelompok Hasby tetap menikmati pemandangan. Sesekali, mereka akan tertawa dengan cerita yang dibawa masing-masing orang.
" Gimana? kamu nikmatin gak liburan nya? " tanya Hasby pada Vanesa disaat yang lain bercerita.
" Ya... lumayan, karena pas pergi ke pantai kemaren, gua gak nemu yang namanya tsunami " ucap Vanesa.
" Tapi ini pertama kalinya lho gua hiking... sebelumnya gua gk pernah yang namanya mendaki, menyusuri gunung atau apalah itu ".
" berarti ini momen spesial dong?...".
" Bisa dibilang begitu, em.... Hasby... ".
" Apa? ".
" Selfy yuk... ".
sedikit aneh mendengar ucapan ini dari Vanesa, Hasby jarang-jarang diajak swa foto oleh gadis ini, meski hubungannya menjadi dekat satu sama lain, ia percaya bahwa wanita yang ada didepannya mulai menganggap Hasby keluarga.
" Tumben minta foto... kamu selama ini nge fans ke aku ya?..." ucap Hasby menggoda Vanesa.
" Dih... geer, gua cuma mau mengabadikan momen aja, tapi kalau lo nya gak mau ya udah... ".
" Haha, becanda... kamu digoda gitu aja langsung marah, emang dasar nona Lits ya... ".
" Jadi mau foto gak?... gua masukin lagi nih hpnya... ".
" Iya jadi... ".
sedikit berhenti untuk berself, Hasby dan Vanesa membuat beberapa gaya untuk difoto. Karena berhentinya mereka, otomatis orang yang ada dibelakang pun ikut terhenti.
" Wuuu... selfy berduaan mulu, gak ngajak-ngajak lagi... ".ucap Ardi.
__ADS_1
" Iya nih kita juga mau ikutan dong... " ucap Savira dan Nafsah bersamaan.
" Ya udah... ini gua pake tongsis dulu... ". ucap Vanesa.
berhenti sejenak, kelompok Hasby kini bersiap untuk foto bersama " Ok, semua siap kan? ".
" Ready... ".
" Semuanya... senyum... ".
cekrek...
nampak senang karena foto yang dihasilkan berlatar bagus, kelompok Hasby kini foto untuk beberapa gaya lagi. Selagi semuanya sedang sibuk dengan kegiatan tadi, kini Syam nampak gelisah karena memikirkan sesuatu.
" Aduh... kok tempatnya beda dari yang Daniel omongin sih... mana ada sungai besar lagi di dasar jurang nya ". gumam Syam.
saat ini, Syam menghawatirkan rencana yang sebelumnya ia rundingkan, awalnya Syam berniat menyuruh orang untuk sedikit menyenggol Vanesa ke tepi jurang yang lumayan dangkal, sehingga salam pelaksanaan, Syam akan turun menyelamatkan Vanesa sebagai pahlawan, mungkin saja dengan cara itu, hati Vanesa dapat terbuka lagi padanya.
namun, setelah melihat tempatnya, ia menjadi ragu-ragu karena menurut survei Dadiel, tempat yang dibicarakan tidak dekat jurang curam apalagi sungai dengan air yang jeram.
" Duh... mana disini gak ada sinyal lagi, gua kan jadi susah nelpon Daniel... ". gumam Syam.
sementara Syam berusaha untuk menghubungi pengawalnya dengan ekspresi cemas, Firdan yang menyadari itu pun segera memberi tahu Firdan, meski dirinya tepat berada didepan Syam, Firdan selalu mengawasi gerak-geriknya karena tahu bahwa Syam ini merupakan orang yang kurang beradab.
" Ardi... lo liat deh, si Syam kayak yang khawatir gitu... ". ucap Firdan di sela-sela kesempatan sambil terus berjalan.
" Khawatir gimana maksud lo? ".
" Itu... dia dari tadi mainin hp terus, abis itu mimik mukanya kayak yang sawan lagi... ".
" Hm... kita kerjain yuk?... ".
" Gasken... ".
mulai melaksanakan rencana, kini Firdan terlebih dahulu mengawali pembicaraan " Syam... lo kenapa? takut ya?..." ucap nya.
" Hah? eng... engak kok, ngapain gua harus takut? kan gua berani ".
" Hm... tapi muka lo kayak yang takut gitu sih? ngaku aja deh, kita gk bakalan ledek kok " tutur Ardi yang berbalik ke belakang.
" Eh, beneran kok gua gak_..." sebelum Syam menyelesaikan kalimatnya, seorang pria menerobos dibelakang untuk menyela.
" Misi... saya buru-buru " ucapnya dengan tegas.
sudah sulit melewati pinggir tebing yang sempit ini seorang diri, apalagi dengan berdesak-desakan seperti tadi yang disebabkan pria itu, bukan tidak mungkin kalau seseorang akan jatuh ke jurang jika kurang hati-hati.
" Bang... jangan asal nerobos gini deh, ini kan bahaya kalau gak hati-hati " protes Hasby yang berada didepan.
" Diem dek, saya lagi ada tugas... ". jawabnya.
seketika itu juga pria itu tidak mendengar dan hanya terus menyela yang lain, Syam yang melihat hal ini menjadi semakin panik, ingin menghentikan namun tidak bisa dikarenakan dalam situasi yang tidak pas.
sampai pada ia melewati Hasby, kini pria itu mulai melewati Vanesa, tapi saat itu juga pria itu nampak tidak sengaja menyenggol tubuh Vanesa yang ramping dengan lengan besarnya, otomatis tubuh wanita itu terhuyung hebat dan bersiap jatuh ke jurang.
tanpa basa-basi lagi, dengan tanggap Hasby memegang tangan Vanesa, namun...
" AAAAAAARGH!!!... ".
" HASBY!!!!!...VANESA!!!!..."
__ADS_1
___________________
jumpa di chapter selanjutnya