
" ...aku sekarang ke kelas dulu ya...nanti takut dosen nya masuk lagi..." ucap Nafsah
" Sekali lagi makasih...kalau gak ada kamu,entah gimana kondisi kakak sekarang" ucap Hasby.
" Iya,kamu jangan terus-terusan terima kasih...aku ini adik kamu,tentu harus nolong saudaranya...ya udah aku pergi dulu,kak Savira,kak Firdan dan...kak Ardi,dah...." ucap Nafsah sambil melambaikan tangannya dan dibalas oleh ke empatnya.
" Hah...my baby Nafsah baik ya...memang calon istri gua yang sempurna" ucap Ardi.
" Apa lo bilang?" kini Hasby berucap sambil menatap tajam Ardi, tentu ia merasa terganggu dengan omongan Ardi tadi.
" Enggak,anggap aja gua lagi ngegumam" ucap Ardi
kini Ardi kembali duduk di kursinya, sambil bersandar ia memilih untuk memainkan ponselnya.
" Ardi,gua mau tanya sama lo..." tanya Hasby
" Mau tanya apa?" ucap Ardi yang masih terfokus pada ponselnya.
" Sebenernya seberapa seriusnya lo sama Nafsah?" ucap Hasby.
Kini Ardi sedikit terdiam ketika mendengarkan Hasby, sebenarnya Ardi dari dulu sudah menyukai Nafsah,bisa dibilang perasaannya ini sudah mendalam jika sampai sekarang ia masih menyukai Nafsah.
" Tumben lo nanya soal itu? biasanya kan lo langsung marah kalau ngebahas hal ini" ucap Ardi sedikit tertawa kecil dan kini berbalik menghadap ke arah Hasby.
" Ya...gua nanya aja...dari dulu lo ngejar-ngejar Nafsah,tapi kenapa lo gak nembak-nembak dia..." ucap Hasby.
" Iya bener kata si Hasby, kenapa lo gak nembak Nafsah aja,nanti keburu di terkam sama cowok lain loh..." ucap Firdan yang kini duduk disamping Hasby diikuti oleh Savira yang duduk di samping Ardi.
" Gua gak bakalan Khawatir Nafsah deket sama orang lain,kan ada Harimau yang jaga dia,kalau-kalau Nafsah digodain sama cowok asing,gua jamin si cowok bakalan masuk rumah sakit besoknya..." ucap Ardi yang kini melirik Hasby.
" Yang lo maksud Harimau itu gua?" tanya Hasby.
__ADS_1
" Emangnya siapa lagi?..." ucap Ardi tersenyum jahil
" Tapi kan tetep lo harus resmiin hubungan lo,kata-kata aja manis tapi nembak kagak..." ucap Savira dengan nada mengejek.
" Gua gak yakin mau nembak Nafsah..."ucap Ardi.
" Kenapa?" kini Hasby,Savira dan Firdan berkata secara bersamaan,mereka merasa penasaran dengan ucapan Ardi tadi.
" Bukan gak mau nembak...tapi mau langsung lamar" ucapnya sambil tersenyum.
" Lo serius?" ucap Hasby yang kini menajamkan pandangannya pada Ardi lagi
" Itu juga kalau lo ngijinin,tapi sebenernya gua mau pacaran dulu sama Nafsah..." ucap Ardi lagi
kini Hasby hanya memandang Ardi dengan tajam,sebenarnya ia sudah lama mengetahui Ardi suka pada Nafsah adiknya, awal mulanya Ardi menyukai Nafsah ketika waktu SMP ia sedang terluka dan kala itu Nafsah yang mengobati lukanya,Nafsah mengobati Ardi dengan lembut dan perlahan,sampai-sampai membuat jantung Ardi berdegup kencang melihat betapa manisnya Nafsah ketika dilihat dari dekat.
sejak itulah Ardi mulai memperdekat diri dengan Nafsah,awalnya Nafsah bersikap biasa-biasa saja,namun lama kelamaan ia juga mulai merespon baik, tapi sering kali Hasby selalu menjadi penghalang mereka berdua untuk berduaan karena takut jika Ardi berbuat yang tidak-tidak pada Nafsah. Tapi sama dengan Nafsah,lama kelamaan ia juga mulai merestui hubungan mereka walau statusnya belum pacaran dan masih dalam tahap pd katean.
" Gitu kek dari dulu...kan gua jadi tenang kalau dapet dukungan lo". ucap Ardi
kini Hasby menyerah untuk mengganggu Ardi mendekatkan dirinya pada Nafsah,ia juga tidak bisa menyangkal tentang perasaan mereka berdua,cinta memang tidak bisa dipisahkan maupun dipaksakan,dan memang harus tumbuh di hati keduanya agar dapat dijalani dengan bahagia.
" Tapi lo harus ngejaga dia baik-baik,kalau sampe aja gua denger lo bikin Nafsah sakit hati,gua jamin lo bakalan abis di tangan gua..." ucap Hasby mengancam
" Tenang aja,insa Allah gua bakalan buat Nafsah bahagia..." ujar Ardi dengan senyum percaya diri.
" Gua pegang kata-kata lo"
" Iya kakak ipar...tenang aja,sebagai adik ipar, gua harus denger juga kata kata lo..." ucap Ardi.
***
__ADS_1
Di sebuah kamar,terlihat ada seorang wanita yang sedang memandang kearah luar jendela, tatapannya kosong dan raut wajahnya menunjukan kesedihan,siapa lagi kalau bukan Vanesa yang sedang memikirkan ucapan orang tuanya kemarin malam tentang perjodohan yang mereka rencanakan untuknya.
sejak saat itu, Vanesa terus saja memikirkannya, tidur pun ia tidak lelap dan sering kali susah untuk menutup mata,dan dari pagi pula ia tidak beranjak dari kamarnya sama sekali.
ketika ia masih berdiam diri dan masih memandang keluar jendela, tiba-tiba ada orang yang masuk ke dalam kamarnya, orang yang masuk swkarang ini adalah Zihan dan dia tidak sendiri melainkan terdapat Jordan yang mengikuti di belakangnya.
" Vanesa...ibu dan ayah ke sini mau minta jawaban dari kamu untuk pertanyaan yang semalam,apa kamu udah mutusin pilihan kamu?" ucap Zihan yang kini duduk disamping Vanesa.
" Aku bakalan terima permintaan kalian,tapi aku minta syarat untuk itu" ucap Vanesa dengan serius.
" Apa syaratnya?" tanya Zihan penasaran dan kini Jordan juga mendengarkan dengan seksama.
" Yang pertama,aku gak mau sampai orang lain tau tentang perjodohan ini,boleh kerabat terdekat di undang terkecuali teman kerja ayah dan ibu,aku gak mau sampai media tau tentang perjodohannya. Dan yang kedua,aku mau pindah kuliah ke Indonesia, mau itu Universitas ternama atau tertinggal aku gak peduli, yang penting aku kuliah di Indonesia...kalau kalian gak setuju sama salah satunya, aku bakalan nolak perjodohan ini..." ucap Vanesa
" Sepakat, ayah dan ibu setuju apa syarat dari kamu..." ucap Jordan dengan antusias.
ketika mendengar pernyataan dari Vanesa, Jordan langsung saja menyetujuinya dan tidak bertanya-tanya dulu kepada Zihan, tapi mereka sepemikiran dalam hal ini, jadi tidak perlu di musyawarahkan lagi.
" Makasih Vanesa...kamu udah milih keputusan yang benar..." ucap Zihan yang membelai rambut Vanesa.
" Ini juga aku lakuin buat Syam,kalau enggak mana mau aku dijodohin" ucap Vanesa.
suana terasa hening beberapa detik sebelum Jordan berbicara lada Vanesa.
" Ok,kita bakal siapin acara sederhana buat pertunangan kamu seminggu dari sekarang...kalau untuk pindah kuliah,sekarang juga ayah bakalan urus..." ucap Jordan yang kini langsung mengambil ponselnya dan ingin memanggil seseorang.
sementara sekarang Jordan sedang mengurus urusan perkuliahan,kini Zihan berkata pada Vanesa bahwa hari ini ia mengajaknya pergi berbelanja untuk perlengkapan acara. Awalnya Vanesa menolak,namun Zihan terus mendesaknya agar ia mau menuruti kemauannya,dan terpaksa Vanesa hanya mengangguk menerima tawaran sang ibu.
________________________________________
Jangan lupa dukung Novel ini ya...
__ADS_1
selamat membaca