
Hasby dan Vanesa kini berjalan hendak kembali menuju rumah, sudah puas keduanya berkeliling dan menyantap banyak jajanan, dan dari situ pula hubungan mereka secara natural kian melekat, ini mungkin suatu hal yang bagus, dibandingkan dengan kejadian mereka sebelumnya saat masih belum menyatakan perasaan masing-masing, kesan mereka di maa orang lain pastilah dinilai sebagai pasangan yang harmonis.
Ditemani riuh ramai kendaraan yang melaju kencang di jalanan, beserta aktivitas orang-orang yang berlalu-lalang sibuk dengan kegiatan pribadi, Hasby dan Vanesa kini menikmati waktu berdua seraya menempuh jarak ke rumah yang sudah tak jauh lagi, mungkin jika menghitung waktu keduanya akan sampai sekitar 15 menit lagi dari sekarang.
“ Vanesa... “ panggil Hasby ditengah wanita yang saat ini sedang asik meminum minuman kaleng.
“ Iya, kenapa? “.
“ Aku mau ngomongin satu hal, kira-kira kamu bakalan marah gak? “.
“ Emang mau ngomong apa? “. Tanya balik Vanesa dengan rasa penasaran yang bertambah.
“ Kamu jangan marah ya “.
“ Iya... ayo cepetan ngomong “.
Hasby menghela nafas, dirinya menyiapkan diri untuk memberitahu istrinya perihal rencana yang baru kemarin ia pikirkan, sebenarnya pemuda ini sudah mempunyai keinginan untuk mempublikasikan hubungan karena mereka sudah menjadi pasangan suami istri yang sah. Tapi dari situ ia mempunyai kendala, meskipun sudah saling suka, apakah Vanesa akan menyetujui pemikirannya ini?, maka dari itu dia ingin bertanya sekarang perihal tersebut, namun masalah baru muncul, ternyata Hasby sendiri merasa enggan dan ragu untuk mengutarakan pendapatnya.
“ Kamu kok malah diem sih?, aku mana tau kalau kamu nya aja malah nunduk kayak siswa lagi dihukum sama guru “. Ucap Vanesa.
“ Aku... masih ragu Van “.
“ Emangnya ragu kenapa?, gak papa ngomong aja... “.
“ Tapi kamu jangan marah ya “.
“ Ya ampun... dari tadi jangan marah, jangan marah melulu... enggak Hasby, aku gak bakalan marah, jadi ayo cepetan cerita! “. Vanesa menekankan suaranya, berharap Hasby lebih percaya diri untuk mengungkap apa yang ingin ia ceritakan.
“ Jadi... aku ada niatan nih... gimana kalau... perihal kita yang udah suami istri ini kita publish? “. Ucap Hasby.
“ Terus...? “. Vanesa bertanya sementara Habsy bingung dengan apa yang ditanyakan oleh wanita itu.
“ Udah, itu aja? “. Ucapnya lagi dan dijawab anggukan oleh sang suami.
Vanesa menghela nafas, dan memijat kening sejenak saat mendapat respon dari Hasby yang malah terlihat bingung, dia kira apa yang akan dibahas oleh Habsy, ternyata ini, padahal kalau mau sebar yang tinggal sebar saja, buat apa bertanya?.
“ Hasby, Hasby... kirain aku itu kamu mau ngomong apaan, ternyata perihal itu, padahal kalau di kasih tau ke yang lain tinggal kasih tau aja, gak perlu ngomong “. Ucap Vanesa,
“ Emang gak papa? “.
“ Kamu pasti tau sifat aku kan, Vanesa itu adalah orang yang selalu mikir ke depan, kalau aku gak mau hubungan kita disebar, udah dari awal bakal ngomong lebih dulu sebelum kamu ada niatan nyebarin hal ini, tapi nyatanya enggak kan? “.
“ Iya juga sih “.
“ Ya udah, kalau mau ngomong tinggal ngomong aja ke yang lain, simpel kan? “ Ucapnya seraya meminum minuman yang sejak tadi ia pegang.
Hasby tersenyum, melihat wanita yang disampingnya dengan mudah merespon baik tetang mempublikasi hubungan, dirinya cukup gemas karena Vanesa adalah orang yang cukup simple setelah dikenal cukup lama, kalau tahu endingnya akan seperti ini, berarti kecemasannya sisa-sia dong takut kalau istrinya marah, sepertinya Hasby harus lebih percaya diri lagi untuk ke depan jikalau membahas sesuatu tidak perlu takut kalau Vanesa marah, ia jadi seperti seorang suami yang takut istri.
“ Haha... aku dari tadi cemas mikirin kamu bakalan marah atau enggak, eh ternyata malah gak terjadi apa-apa “.
“ Lagian sih... kamu gak perlu sungkan kalau mau ngomong sesuatu, terlebih... aku juga mau ada hal yang mau dibahas “. Kali ini Vanesa berbicara dengan nada serius.
“ tentang apa? “.
__ADS_1
“ Ini... menyangkut penyakit kamu By “.
“ ? “
***
Disaat yang bersamaan, kini seorang dokter tengah fokus dengan pasien yang sedang ia tangani, dari mulai mengecek denyut nadi dan memeriksa dadanya menggunakan stetoskop, sang dokter berbicara mengenai kondisi orang yang diperiksa nya kepada wanita disamping brankar, diketahui orang itu adalah ibu dari sang pasien.
“ Kondisi anak ibu sudah membaik, demam yang kemarin naik sudah turun... kemungkinan anak ibu boleh pulang setelah botol infusan ini habis “. Ucap sang dokter dengan senyum ramah.
“ Alhamdulillah... makasih banyak dokter Lyn, saya ucap banyak terima kasih karena udah ngerawat anak saya “.
“ Sama-sama, kalau gitu saya permisi ya... dan kamu boy, jaga kesehatan dari mulai sekarang, ok? “. Ucap sang dokter dan dijawab anggukan oleh anak itu.
Dokter yang diketahui adalah Lyn itu keluar dari kamar pasien kelas 2, masih ingat dengan dokter Lyn?, ya! Dia adalah dokter pribadi keluarga Lits, sekaligus putra pertama dari Panji, pamannya Hasby dan Nafsah.
Pemuda berkacamata itu kini berjalan menyusuri jalan di lorong rumah sakit, ia melewati sekitar 3 sampai 4 ruangan sampai akhirnya masuk ke lift dan berhenti dilantai 5. Baru sekitar lima langkah, suara notifikasi dari sebuah ponsel pun terdengar hingga membuatnya berhenti sejenak, dan ternyata suara itu berasal dari ponselnya, dilihat layar handphone yang ia genggam, muncul nama ‘Ayah’ yang tertera di disana.
‘ tumben-tumbennya ayah nelpon di jam kerja gini, apa ada hal yang mau dibahas? ‘ Batin Lyn.
Segera mengangkat telepon, Lyn mendekatkan ponsel ke daun telinganya. “ Halo? “ Ucap seseorang di sebrang telepon.
“ Iya ayah... ini Lyn, tumben nelpon, apa ada hal yang mau diomongin? “. Tanyanya seraya berjalan kembali hendak masuk ke ruang kerjanya.
“ Lyn, ayah mau minta tolong... kira-kira siang jam 1 nanti kamu sibuk gak? “. Ucap Panji.
“ Kalau jam satu... kebetulan Lyn udah selesai, soalnya hari ini pasien gak terlalu banyak “. Ucapnya sambil melihat jam tangan.
“ Ok, kalau gitu ayah minta kamu buat izin kerja dulu ya, kita pergi kerumah Hasby bareng om Jordan sama om Bayu “.
“ Iya, soalnya kalau ditunda lebih lama lagi bisa bahay, ayah gak mau kehilangan keluarga lagi untuk kedua kalinya “.
Panji berbicara dengan nada tegar, namun satu hal yang Lyn ketahui, sekarang ini pasti mata sang ayah tengah berkaca-kaca mengingat tentang kematian adik yang ia sayangi, meskipun dulu terkesan cuek dan dingin, namun nyatanya orang yang paling berduka saat kabar Hani meninggal adalah Panji, bahkan pria itu sampai drop karena terlalu syok dengan hal itu.
“ Ok, ayah... nanti Lyn jemput ayah ke rumah, mungkin Lyn bakalan lebih awal sampai, soalnya sekarang juka udah gak ada kerjaan “. Ucap Lyn.
“ Ya sudah, hati-hati dijalan ya nak, ibu kamu kebetulan lagi galau karena si bungsu gak ada di rumah “.
“ Eh? emangnya Rendi kemana? “.
“ Biasa... main sama Kamil, mereka ada tugas di kampus, tapi karena banyak anak itu jadi nginep dirumah dia, kamu juga... akhir-akhir ini jarang pulang saking sibuk “.
“ Iya, iya... aku pulang, bilangin sama kanjeng ibu kalau anak sulungnya bakalan bawa makanan kesukaan dia “.
“ Ok, Ok... ayah tutup dulu telponnya ya, soalnya masih ada yang perlu dikerjain, kamu juga jangan terlalu cape Lyn, jaga kesehatan meskipun kamu sendiri dokter “.
“ Iya ayah... Lyn tutup telponnya ya, Assalamualaikum “.
“ Waalaikumussalam “.
Lyn menutup telpon, ditatapnya layar ponsel yang kini salurannya sudah terputus saat berkomunikasi dengan sang ayah, dari situ dia meletakan benda tersebut di saku, hingga membuka jas putih dan stetoskopnya, Lyn bersiap untuk pulang ke rumah dan mampir ke toko kue sejenak di perjalanan nanti, mungkin sebelum serius membahas perihal penting yang akan ia bahas tadi, tidak salah kan kalau dirinya memanjakan diri di pelukan ibunya setelah sekian lama?.
~
__ADS_1
“ Ayah... kita ke sananya jam satu kan? “. Tanya seseorang.
“ Iya, kata bang Panji janjiannya di pertigaan jalan xxx no xx, sekalian juga nunggu nafsah yang masih kuliah pagi, kita bisa ngomong hal ini sama-sama di rumah Hasby”.
Saat ini, berbeda dengan Lyn yang hendak pulang menemui ibu dan ayahnya karena selesai bekerja, Jordan malah disibukan dengan beberapa lembar dokumen pekerjaan yang masih belum selesai, tidak hanya dirinya, sang istri yaitu Zihan pun kini ikut membantu, meski tidak sepenuhnya, namun beban Jordan berkurang sekitar setengah karena wanita itu untungnya mengerti perihal dokumen yang ada didepan.
“ Hm... oh iya, kamu udah chat Vanesa belum? “. Tanya Jordan pada Zihan.
“ Udah, aku bilang kalau kita sama yang lain bakalan dateng untuk membicarakan hal itu jam 1 siang “.
“ Terus responnya gimana? “. Tanya Jordan lagi.
“ Dia sih antusias, dan yang gak nyangkanya... pas aku ngasih tau tentang penyakit Hasby, dia gak terlalu kaget... padahal ibu pas ngedenger tadi pagi aja syok bukan kepalang “.
“ Ayah juga sama bu “.
Zihan berkata sesuai fakta, meskipun dirinya dan Jordan saat ini seolah bersikap baik-baik saja, namun asli dari hati yang paling dalam, kedua orang itu tengah bersedih karena mendapat kenyataan yang tidak pernah disangka-sangka. Dari informasi yang Panji berikan, Hasby yaitu tunangan anak mereka ternyata memiliki penyakit tumor otak yang sudah lama dia idap, padahal kalau dilihat dari manapun juga pemuda itu selalu ceria seperti tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya, namun tidak pernah disangka-sangka, sikap ceria dan humorisnya itu menyembunyikan rasa sakit yang bisa dibilang selalu ia tanggung sendiri.
Mendapat berita itu dari orang lain mungkin seperti dapat pukulan keras di kepala Jordan dan Zihan, namun mau bagaimana lagi?, mereka bahkan tidak menyadari ataupun melihat keanehan tentang Hasby selain pemuda itu yang selalu berkata baik-baik saja saat terluka.
“ Hm... kayaknya Hasby udah ngasih tau Vanesa duluan deh bu “. Ucap Jordan.
“ Mungkin, berhubung mereka itu udah tunangan, jadi kali aja Hasby ngerasa harus ngasih tau hal ini, karena menyembunyikan sesuatu di dalam hubungan itu kan risikonya besar “.
“ Bener banget, dan... ibu ngerasa gak sih sama satu hal? “.
“ tentang apa? “ tanya Zihan menghentikan kegiatan dan berfokus pada sang suami.
“ Kayaknya mereka berdua lebih akrab dari sebelumnya deh “.
“ Ah, masa? “.
“ Yee... dasar gak merhatiin “.
“ Emang pas kapan sih? “.
~
“ Hachim!!! “.
“ Hachim!!! “.
Ditengah Zihan dan Jordan yang sedang bergosip, Vanesa dan Hasby kini bersin secara bersamaan, entah kenapa itu terjadi, namun yang dirasakan oleh mereka adalah hidung yang tiba-tiba gatal dan terasa geli.
“ Kok kita bisa bersin bareng gini ya... “. Ucap Vanesa sambil menggosok-gosok hidungnya.
“ Gak tau, ada yang ngomongin kali “ Jawab Hasby.
“ Tapi ngomongin nya ampe sekaligus gitu, kayak yang ada kerjaan aja “.
“ Biasa... nge fans itu, kali aja mereka lagi ngomongin kita yang lagi mesra ini “.
“ Haha... dasar Hasby kepedean " Ucap Vanesa terkekeh
__ADS_1
____________________________________________________
Halo semuanya, maaf ya kalau aku telat up, dan juga ada info tambahan nih, mulai Minggu depan, jadwal update Wanita jutek ku akan hadir di setiap hari Sabtu dan Rabu, maka dari itu jangan bosen ikuti cerita Hasby dan Vanesa ya... see you next time gaes