
" Nafsah, menurut kamu...aku keliatan tua gak sekarang ini?..." tanya Hasby.
setelah berpisah dengan Lidia dan Varel, Hasby dan Nafsah sudah berada di ruangan nya sekitar beberapa waktu yang lalu, Nafsah juga saat ini sedang membuatkan teh manis untuk Hasby.
" Kenapa kamu tiba-tiba nanya kayak gitu?..."ucap Nafsah sambil mengaduk teh dan memberikannya pada Hasby ketika sudah selesai.
" Enggak papa sih..." ucapnya sambil menerima gelas dari Nafsah.
sebenarnya, Alasan Hasby bertanya seperti itu karena ingin mendengar pendapat dari Nafsah, perkataan Varel yang memanggilnya om, terus ter giang di telinganya.
" Apa mungkin...karena omongan Varel tadi?..." tebak Nafsah.
" Ya...mungkin ada kaitannya..."
" Haha...aku lucu tau dengernya..." ucap Nafsah tertawa kecil.
" Hah?...apanya yang lucu?"
" Waktu Varel panggil kamu 'om'...terus bukan takut sama orangnya malahan takut sama jambang kakak..." ucapnya masih tertawa.
" Jangan ketawa, gak lucu tau...tapi, menurut aku sih jenggot ini gak terlalu panjang, malahan tipis loh...kok bisa ya dia takut sama aku?...". ucap Hasby.
" Mangkanya...aku bilang apa, dari dulu udah aku suruh cukur gak mau denger..."
" Tapi sayang kalau di cukur Naf..." ucap Hasby memelas.
" Lah? sayang kenapa?...emangnya jimat apa..."
" Ya ...sayang aja, ini udah lama aku rawat, masa di cukur gitu aja sih?"
" Ya ampun kakak...." ucap Nafsah sambil menepak jidatnya.
Nafsah sedikit heran dengan kebiasaan kakaknya yang satu ini. Sejak SMA, Hasby memang sangat suka memanjangkan jenggot, dan kebetulan...hobinya ini merupakan hobi ayah mereka juga waktu beliau masih hidup. Menurut Nafsah, entah apa bagusnya melakukan hal itu?, secarakan jadi memperbanyak pekerjaan karena harus merawatnya, jenggot Hasby memang sudah dapat tumbuh sejak dia SMA tahun ke dua, saat itu dirinya sangat rutin merawatnya, memang sih ketenaran Hasby terkenal karena dirinya yang memiliki janggut tipis dan rapi, tapi jika Nafsah dapat menilai...ia lebih suka Hasby mencukur jenggot nya.
" Kak...bisa gak kamu relain janggut kamu itu?..."
" Emang nya kenapa?..."
" Kan sekarang kamu bakalan jadi calon tunangan nya nona Vanesa, anak dari keluarga konglomerat, masa penampilan kamu kayak gini sih?..."
" Terus..."
" Ya ubahlah gaya kamu sedikit, contohnya cukur jenggot...masa menantu keluarga Lits bewokan sih?...apa kata orang kalau begitu?, nanti bilangnya mereka gini nih...'eh,eh, kalian liat deh menantu pak Jordan, kok bewokan gitu ya'...nanti mau taro di mana muka tuan Jordan..." ucap Nafsah.
__ADS_1
Hasby terdiam sejenak mencerna omongan Nafsah, benar juga sih apa yang ia katakan, sebagai calon menantu keluarga Lits, sepatutnya ia harus berpenampilan yang luar biasa, tidak seperti sekarang yang posisinya masih seorang supir, tapi sebenarnya Hasby tidak menginginkan posisi sebagai menantu Jordan, namun hal ini terjadi karena Jordan sendiri.
" Omongan kamu bener juga..."
" Ya pasti lah..."
mungkin perkataan Nafsah benar adanya, Hasby saat ini berpikir untuk berniat mencukur jenggot atau jambang nya ketika sudah keluar dari rumah sakit, panggilan Varel terhadapnya yang memanggil 'om', membuktikan bahwa Hasby terlihat lebih tua, saat ini hanya hal itu yang dipikirkan oleh Hasby.
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 06:00, yang menandakan bahwa hari menjelang malam, saat itu juga, Nafsah pamit kepada Hasby untuk solat magrib di masjid terdekat agar ia dapat dengan cepat kembali ke rumah sakit.
" Nafsah...kakak denger di rumah sakit ini ada masjidnya, coba kamu tanya aja ke suster yang lewat, dari pada bulak-balik pergi ke masjid luar...nanti capek sendiri kan jadi nya " ucap Hasby.
" Ya udah.. aku pergi dulu ya...."
Nafsah kemudian keluar dari ruangan Hasby, sementara untuk dirinya bersiap untuk bersuci, karena tidak bisa berwudhu memakai air, jadi ia mengunakan metode lain yaitu tayammum.
tayammu adalah kegiatan bersuci selain berwudhu, namun tayammum ini hanya dapat di gunakan ketika darurat saja, seperti hal nya Hasby, ia tidak bisa berwudhu karena lukanya belum sembuh, ditambah ia akan kesulitan karena adanya selang infusan yang berada di tangan nya.
cara tayammum juga lebih mudah dari pada berwudhu, karena metode ini hanya memiliki beberapa gerakan saja. Gerakan yang pertama di awali dengan mengusap wajah menggunakan debu atau sejenisnya dan harus suci zat nya, untuk yang kedua mengusap lengan kanan sampai sikut diikuti lengan yang sebelah kiri sampai sikut pula.
setelah Hasby bertayammum, dia pun kemudian solat dengan posisi duduk di atas ranjang.
***
saat ini, dirinya sedang membujuk anak gadis yang berada di dalam kamar tersebut, dan siapa lagi gadis di rumah ini kalau bukan Vanesa. Sejak ia pulang dari rumah sakit...dirinya tak pernah keluar sekalipun, bahkan tidak terdengar tanda-tanda Vanesa berada di dalam nya.
sudah banyak kali Zihan mengetuk dan membujuk Vanesa untuk keluar, total ia melakukan hal ini semenjak pulang sore tadi sudah mencapai tujuh kali, dan tetap tidak mendapat respon apa-apa darinya.
" Hah...Vanesa, kamu kenapa sampe kayak gini sih?..." ucap Zihan menghela nafas pelan.
melihat usahanya kembali gagal lagi dan lagi, Zihan memutuskan untuk menyerahkan hal ini pada Sri, yaitu pembantu di kediaman nya. Walaupun statusnya sebagai pembantu, namun kedekatan dirinya dengan Vanesa sudah seperti hubungan antara ibu dan anak, sejak beberapa tahun ke belakang, walau Zihan juga sempat sering meluangkan waktu dengan Vanesa, namun lebih banyak waktu yang Sri luangkan untuk Vanesa dibandingkan dengan dirinya.
Zihan kini menuruni tangga berniat pergi ke dapur untuk menemui Sri, seperti biasa...saat malam tiba, Sri akan sibuk dengan kegiatannya untuk membuat makan malam, dan terbukti sekarang ini ia sedang menghidangkan makanan yang sudah siap.
" Bu Sri..." Ucap Zihan memanggilnya.
" Eh, iya nyonya...ada perlu apa ya?..." jawab Sri
" Ini bu...saya minta tolong boleh gak?..."
" Minta tolong apa?"
" Tolong bu Sri bujuk Vanesa ya, sejak pulang dari rumah sakit...dia gak mau keluar kamar, walaupun saya udah beberapa kali gedor-gedor pintu, tetep aja dia gak respon...mungkin aja dia bakalan buka pintu kalau bu Sri yang minta..." ucap Zihan.
__ADS_1
" Kalau boleh saya tau...nona Vanesa ngambek karena apa ya?..." tanya Sri.
" Dia ngambek karena perjodohannya sama Hasby..." ucap Zihan.
Soal perjodohan Vanesa dengan Hasby tidak hanya diketahui oleh Jordan dan Zihan saja, melainkan semua orang yang ada di kediaman ini, Afdal si pelayan pria, Ajril pak satpam, termasuk bu Sri pembantu di kediaman ini. Walaupun rumah keluarga Lits sangat besar bak istana, tapi penghuninya kurang dari 10 orang, tidak seperti Hasby yang pulang pergi ketika bekerja, Afdal,Ajril dan Sri menetap dikediaman ini, oleh karena itu Jordan dan Zihan sudah menganggap mereka bertiga sebagai keluarga, bahkan dalam perencaan perjodohan Vanesa yang dilakukan beberapa bulan yang lalu, mereka juga ikut serta kedalamnya, jadi tidak heran ketika mereka sudah mengetahui tentang hal ini.
" Ya udah nyonya, insa allah saya bakalan lakuin yang terbaik supaya nona Vanesa buka pintu..saya pamit ke atas dulu ya,.."
Sri kini meninggalkan Zihan yang duduk di meja makan setelah dirinya pamit, walaupun berkata akan melakukan yang terbaik agar Vanesa keluar, namun dirinya sendiri sedikit ragu akan hal itu. Sri mengetahui secara rinci sifat Vanesa, setelah sifatnya berubah, Sri mengenal Vanesa sebagai gadis yang keras kepala, dingin, dan selalu membenarkan kehendaknya. Tapi, ia sudah bertekad agar dapat membujuk Vanesa.
setelah sampai di depan pintu, Sri pun mengetuk pintu tersebut sambil memanggil-manggil Vanesa.
" Nona....nona Vanesa...tolong buka pintu nya ya...bu Sri mau ngobrol sama nona..." ucap Sri. Tidak ada jawaban yang terdengar dari kamar Vanesa, sehingga hanya keheningan yang mengisi atmosfir di sana.
" Nona...bu Sri tadinya mau ngobrol tentang anak ibu yang itu, tapi...kalau nona gak mau denger....ya udah, bu Sri ke bawah lagi aja..."
Sri kemudian membalikan badannya berniat turun untuk melanjutkan pekerjaan yang ia tunda, tapi sebelum kakinya menginjak anak tangga yang pertama untuk turun, tiba-tiba saja ada suara gadis yang memanggilnya. Sri pun menoleh ke belakang dan menemukan orang yang sudah ia pastikan akan memanggilnya.
***
Mendengar bu Sri akan pergi dari depan kamarnya, Vanesa bergegas untuk membuka pintu agar ia dapat tepat waktu memanggil bu Sri untuk kembali. Sejak awal ia sebenarnya sudah mendengarkan suara bu Sri dan berniat menghiraukannya, namun...ketika mendengar bu Sri akan bercerita tentang anaknya, Vanesa pun memutar pikiran dan ingin mengobrol dengan bu Sri.
" Tunggu!..." ucap Vanesa setelah membuka pintu. Sri menoleh kebelakang dan menghampiri Vanesa.
" Iya non...ada apa?" tanya Sri dengan ramah.
" Aku...aku mau denger cerita bu Sri..."
" Beneran nona?...kirain saya nona gak bakalan tertarik sama cerita ini..."
" Gak...aku pengen denger ceritanya...dan sekarang bu Sri silahkan masuk." ucap nya dengan wajah datar serta dingin.
sebelum masuk, bu Sri terlihat seperti tersenyum licik, entah apa yang ia rencanakan, tapi itu tetap untuk kebaikan Vanesa.
' yes...rencana berhasil, sekarang...tinggal bujuk nona Vanesa buat setuju sama perjodohannya' batin Sri.
______________________________________________
untuk chapter ini, mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah, karena aku juga masih pemula, dan maaf juga kalau ada kalimat-kalimat yang kurang nyaman kalau di baca di mata reader's.
*Bagi kalian yang suka sama cerita ini, jangan lupa dukung author ya...dengan cara Like, comen dan kalau berkenan Vote ya...
salam Jum'at berkah....
__ADS_1
Al setia*~