
Maaf baru up lagi, disarankan baca Chapter sebelumnya, ok...
Dua Minggu kemudian...
" Nafsah... Vanesa... kalian udah siap belum?" ucap Hasby yang saat ini sudah menunggu di ruang tamu.
Tepat ketika libur semester telah tiba, Hasby, Nafsah dan Vanesa sedang bersiap untuk liburannya. Ditemani oleh Savira, Firdan serta Ardi, mereka berenam mulai berangkat setelah semua orang sudah berkumpul di depan rumah.
" Nah... Sekarang kita berangkat yuk, biar Ardi sama Savira naik mobil gua, terus lo bawa Nafsah sama Vanesa ya " ucap Firdan pada Hasby.
" Eh, Nafsah cantik di mobil kita aja... gua gak sanggup kalau diperjalanan gak ada dia " protes Ardi.
" Yaelah... lebay amat si, entar juga bakalan bareng lagi kok " oceh Savira.
" Yeh... bilang aja lu iri ". ujar Ardi tak mau kalah.
masih dalam keadaan berdebat, Hasby melerai mereka berdua agar tidak lagi bertengkar. Sudah disetujui bahwa Nafsah akan ikut di mobil Firdan, keenamnya kini berangkat menuju tempat tujuan.
perlu waktu sekitar 4 jam untuk sampai, suasana di mobil Hasby tidak terlalu ramai karena hanya beranggotakan dua orang saja, Vanesa pun hanya bertanya sekilas dan mengobrol sebentar, dilanjutkan dirinya yang tidur karena mulai lelah di perjalanan.
Berbeda dengan suasana di mobil Firdan, banyak obrolan dan sangat berisik karena adanya keberadaan Ardi dan Savira, belum lagi mode bertengkar mereka akan aktif ketika salah satu dari mereka memulai masalah, jadi mau tidak mau Nafsah lah yang harus melerai mereka berdua, terkadang ia merasa lelah saat harus terus merelai keduanya.
tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Hasby dan yang lain tiba di sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari lokasi wisata. Di tempat, mereka mulai membereskan koper di kamar terpisah yang mereka pesan, sambil menunggu waktu malam, mereka memanfaatkan waktu senggang untuk istirahat sebentar melepas rasa penat dari perjalanan tadi.
Dalam waktu yang bersamaan, terdapat sebuah mobil sedan hitam yang ikut terparkir di hotel Hasby dan yang lain menginap, nampak seorang remaja yang familier membuka jendela mobil dan melepas kacamata hitamnya.
" Kita udah sampai tuan muda... " ucap sang supir.
" Ok, suruh orang buat pesan kamar di hotel ini juga " ucap pemuda itu.
mendengar instruksi tersebut, si supir segera menelpon seseorang dan mulai berbicara, hanya sebentar, sekitar 10 menit kemudian diapun menutup telepon.
" Semua udah siap tuan Syam, kita bisa langsung masuk " ucapnya.
merasa puas dengan ungkapan supirnya, pria yang diketahui bahwa dia adalah Syam mulai keluar dari mobil, sambil memasang senyum simpul, Syam bergumam tanpa diketahui oleh siapa pun termasuk si supir.
__ADS_1
" Sayang ... aku datang " ucapnya.
***
Malam, pukul 20:30...
" Gaees ... cepetan dong, nanti kita kemaleman ". ucap Ardi yang sedari tadi sudah menunggu di luar kamar.
" Iya, iya... kita semua udah siap nih, yuk berangkat " ucap Hasby.
tepat setelah istirahat dan makan malam, Hasby dan yang lain keluar dari hotel hendak menuju pantai. Tak jauh dari kediaman, mungkin sekitar 500 meter, mereka berenam sudah sampai sekitar 15 menit lebih awal di tempat tujuan.
Pilihan yang bagus Hasby memilih pantai untuk menjadi tempat wisata yang akan ia datangi, dilihat dari suasana malam ini, langit nampak cerah sampai memperlihatkan indah nya cahaya bulan dan gemerlap bintang, meski sedikit berawan, namun tidak akan sampai hujan dikarenakan kencang nya angin yang menghembuskan awan-awan.
" Gimana? apa aku bilang... tempat nya enak kan? " tanya Hasby pada Vanesa yang berada disebelah.
" Gua masih was-was... gak tau kenapa malah jadi takut " jawab Vanesa tanpa memalingkan wajahnya dari laut.
" Gak usah takut... noh, kamu liat Ardi, Savira sama yang lain... mereka aja malah deket banget ".
dilihat dari apa yang hasby ucapkan, Vanesa kini memfokuskan pandangannya pada Savira, Ardi dan Firdan serta Nafsah yang saat ini sedang bercanda ria, sambil sesekali mencipratkan air laut ke tubuh satu sama lain, meski sudah malam, mereka nampak tidak merasa dingin.
dalam beberapa bulan ini, Vanesa yakin, jika dibandingkan dengan saat ia bersama dengan Syam dulu, dirinya lebih bisa mengenal apa itu keluarga. Mungkin ini bisa dibilang telat, tapi Vanesa bersyukur mendapat keluarga seperti Hasby dan teman-temannya, meski semua ini akan berakhir seusai kontrak mereka selesai.
" Hm ... kamu mau makan gk? " ujar Hasby menawarkan.
" Lo laper?... perasaan tadi udah makan deh ".
" Bukan... dari pada liatin mereka terus, mending kita bakar jagung aja, setidaknya sambil ngangetin badan, aku agak kedinginan... ".
" Em... ok deh ".
mengiyakan ajakan Hasby, mereka berdua pun mulai menjauh dari pantai hendak membakar jagung, sekalian untuk menghangatkan badan, Vanesa saat itu memilih menunggu sambil memperhatikan Hasby.
tidak butuh waktu lama, hanya sekedar memanaskan saja, jagung bakar pun sudah siap untuk dimakan. Sambil menikmati suasana malam ini, ditambah angin malam yang saat ini semakin mengencang, Hasby dan Vanesa menghabiskan makanan mereka sambil bercakap-cakap.
__ADS_1
" Em ... Vanesa, aku boleh nanya gak? " ucap Hasby ditengah kegiatan.
" Nanya apaan? ".
" Maaf karena aku ngungkit masalah ini, tapi... kejadian kelam kamu sama Syam itu kapan? ". tanyanya.
Tidak langsung menjawab, Vanesa menghentikan kegiatan makannya sambil menatap Hasby dengan canggung " Kalau kamu gak mau cerita juga gak papa... " ucap Hasby.
" Dulu... pas pertama kali gue masuk SMA ".
tidak seperti perkiraan Hasby, Vanesa kala itu mulai bercerita sambil sesekali memandang bulan. Dalam ceritanya, ia bertemu dengan Syam sekitar 3 sampai 4 tahun yang lalu. Saat dirinya baru masuk SMA, mereka berteman dan mulai dekat dari mulai saat itu.
setiap hari, seusai mereka memasuki tahap berpacaran, mereka selalu berdua seolah tidak bisa dipisahkan, tapi makin lama kedepannya, hubungan mereka penuh dengan kebohongan dan keraguan yang dilakukan oleh Syam. Contohnya pernah saat Vanesa meminta Syam untuk mengantarnya ke bioskop, pria itu beralasan sibuk kuliah saat sedang ospek mahasiswa, namun nyatanya... Syam sendiri malah sedang asik kencan dengan wanita lain.
" Gua saat itu emang bodoh percaya sama laki-laki brengsek kayak dia, tapi... ya... mungkin gua lagi buta-buta nya sama yang namanya cinta, heh... konyol kan? " ujar Vanesa, sedikit terkekeh.
tidak memotong cerita Vanesa, Hasby mendengar dengan simak ucapan wanita yang ada disampingnya, dari awal sampai akhir, sampai pada tahap Vanesa bercerita tentang perginya dia keluar negeri untuk kuliah, Hasby masih stand by mendengarkan.
" Tiap kali gua inget kejadian itu... kepala gua serasa mau pecah, kenapa waktu itu gua dengan bodohnya ngabisin masa remaja yang seharusnya menyenangkan, malah sibuk ngurusin laki-laki brengsek yang sering selingkuh... " ucap Vanesa dengan berlinang air mata.
baru disadari olehnya, bukan hanya meninggalkan masa mudanya, Vanesa kala itu juga merasa dipermainkan oleh Syam setiap saat, apalagi kegiatan pria itu yang sudah dangat sering memeras uang pribadinya.
tidak lama setelah itu, Vanesa menunduk dan menenggelamkan wajahnya dengan lengan yang bertumpu pada lutut, selama ini dirinya menyesal telah sering mengabaikan perkataan kedua orangtuanya, malah tersulut oleh omongan Syam, belum lagi dulu sering melakukan kesalahan fatal kepada keluarganya.
seakan semua kesedihan yang dimasa lalu tidak bisa ditahan lagi, Vanesa menangis tanpa suara didamping Hasby yang tidak lama setelah itu mendekat untuk merangkul.
dalam keadaan dingin oleh hembusan angin malam, Hasby membuka jaketnya untuk menyelimuti Vanesa " Gak papa... itu semua masa lalu, aku yakin... mungkin setelah ini kamu bakalan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi... aku juga sering kayak gini, dalam situasi terpuruk, aku juga mikir bahwa mungkin setelah badai ini datang, pasti langit bakal kembali terang... kamu gak sendirian kok, ada aku... jadi kamu jangan khawatir "
masih dalam keadaan menunduk, Vanesa mengangguk dan merubah posisi untuk bersandar di bahu Hasby, entah mungkin karena sudah hampir setahun ia tinggal di rumahnya, Vanesa dan Hasby sudah bisa dibilang cukup dekat. Serta sesekali Vanesa merasa, bahwa ketika dekat dengannya selalu ada perasaan aman dan damai, sehingga tidak terasa semua beban pikirannya pun tercurahkan dan membuat kepala menjadi ringan.
dihadapan api unggun, Vanesa dan Hasby bertukar cerita satu sama lain, meminta pendapat untuk setiap solusi, keduanya nampak nyaman dalam posisi yang saling bersandar. Terdapat rasa hangat dan nyama diantara keduanya, mungkin muncul benih cinta, atau... mungkin sudah tumbuh namun belum mereka sadari.
intinya, malam hari yang dingin ini, tidak bisa mengalahkan rasa hangat tubuh mereka yang berada dalam dekapan masing-masing.
________________________________
__ADS_1
maaf kalau ada kalimat yang salah ya...
selamat membaca