
" Firdan!...". " Kak Ardi! ".
ucap mereka bersamaan
panik ketika mendengar suara mereka, Hasby dan Nafsah pun bergegas untuk melakukan suatu hal, yaitu menyembunyikan Vanesa. Sebelum Hasby memberi tahu Firdan, Ardi dan Savira, alangkah baiknya untuk tidak memberitahukan keberadaan wanita ini, bukan tidak mungkin rencana yang mereka susun dari awal akan kacau nantinya.
Hasby danVanesa berlari menuju kamar Vanesa, saat membuka pintu, mereka melihat bahwa gadis itu sedang asik memakai masker wajah, agak terkejut karena secara tiba-tiba Nafsah dan Hasby datang, Vanesa pun bertanya dengan isyarat mata.
" Vanesa... kamu tolong sembunyi dulu... " ucap Hasby sambil mendorong Vanesa menuju kamar mandi.
" Iya kak, kita mohon kerja samanya dulu ya? mungkin bakalan lama... tapi ini juga demi kebaikan kakak " tutur Nafsah.
dengan ekspresi heran, Vanesa berusaha memberontak sambil bertanya." Alian ii enapa ih? (Kalian ini kenapa sih?) ". ucapnya sedikit sulit.
" Aku jelasin nya entar aja... mending kamu sekarang masuk kamar mandi dan gak boleh keluar sampai kita dateng...ok?" ucap Hasby.
dengan terpaksa, Vanesa menuruti kemauan Hasby dan Nafsah, walaupun terheran heran, dia pun akhirnya masuk ke kamar mandi.
" Nah, sekarang kamu buka pintu, biar aku yang jaga supaya mereka gak masuk ke kamar ini " ucap Nafsah.
" Loh? kok aku sih? kan ceritanya kakak lagi sakit ".
" Oh iya, lupa... ya udah... kamu tunggu di sini. ". ucap Nafsah sambil beranjak keluar.
°°°
" Ini Nafsah nya gak ada, apa emang gak ngedenger suara kita? ". Tanya Ardi.
" Mana gua tau... ".
" Apa panggil harus lagi? ".
" Ya udah sono panggil... ini gua masih sakit ". ucap Firdan sambil memegang pipi kiri nya.
" Lo si pake makan yang manis segala, jadi sakit kan? sukurin lo...udah dikasih tau juga... ".
Firdan hanya menatap kesal Ardi dan tidak mengatakan apa-apa. Saat Ardi hendak mengetuk pintu yang kedua kalinya, tiba-tiba pintu terbuka diiringi oleh Nafsah yang terlihat dibaliknya.
" Hehe... maaf ya kak Ardi, kak Firdan... tadi... aku... ada urusan bentar " ucap Nafsah tersenyum pada keduanya.
" Gak papa, kita juga minta maaf kalau datang kesini gak bilang-bilang dulu... hm...Hasby gimana kabarnya? ". tanya Ardi.
" Dia sekarang udah baikan... kemarin kepalanya sempat sakit, tapi dia gak papa kok ".
" Syukur deh kalau gitu ".
__ADS_1
" Mending kita ngobrol nya di dalem aja... kan gak enak kalau di luar, dan... eh? kak Savira mana? ".
Baru menyadari kalau keberadaan Savira tidak ada, Nafsah sedikit heran karena hanya ada Ardi dan Firdan saja yang datang. Setahu dirinya, dari dulu sampai sekarang, jika Firdan dan Ardi pergi ke suatu tempat, pasti Savira ada di sana, mereka bertiga ini seperti sudah terikat seperti saudara.
" Dia nganter mama Belin... ". ucap Ardi menjawab Nafsah.
" Kemana? setahu aku yang nganter mama Belin biasanya Giano seh ".
" Gak tau... ".
" Hm... ya udah, kita masuk yuk " ucap Nafsah dan jiwab anggulan oleh Firdan dan Ardi.
°°°
" Gimana keadaan lo? " Tanya Ardi saat mereka sudah berada di kamar Hasby.
" Sekarang agak mendingan... ".
" Sebenernya kejadiannya gimana sih? penyakit lo kambuh lagi bukan? kok bisa tiba-tiba drop sih? ".
Tidak langsung meenjawab, Hasby menatap Nafsah dengan maksud tertentu, ia sebenarnya ragu untuk memberitahu kalau sakitnya ini tambah parah, namun isyarat mata Nafsah menunjukan bahwa ia harus menceritakan kejadian yang sebenarnya.
" Ya... gitu... waktu itu kepala gua sakit... dan tenggorokan gua juga ikut sakit, awalnya cuma mau ambil air minum doang,... terus..._".
" Terus?...".
" Jangan bilang kalau lo batuk darah... " ucap Firdan menyela omongan Hasby.
Hasby tidak berbicara lagi, hanya mengangguk sambil menunduk, pernyataan ini membuat Ardi dan Firdan semakin khawatir tentang riwayat penyakitnya.
Karena hal itu, mereka pun mengusulkan pada Hasby agar ia harus cepat di operasi, untuk biaya dan vasilitas medis biar mereka yang tanggung, asalkan Hasby sendiri sudah menyiapkan mental nya saja.
lagi lagi, Firdan dan Ardi hanya bisa menunduk setelah mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Nafsah, sebelum dirinya menemukan golongan darah yang sama, Hasby tetap tidak akan pernah menjalani operasi, golongan darah nya itu memang agak langka, jika tidak ada garis keturunan yang sama, maka darah itu tidak akan di dapat dari orang yang bukan keturunannya.
Darah yang sama dengan Hasby saat itu hanya satu orang yang ia ketahui, yaitu almarhum bundanya, tapi karena beliau sudah meninggal, pendonor darah satu satunya ini sudah menghilang, terkecuali jika Hany memiliki saudara kandung yang memiliki golongan darah serupa.
" Apa emang sampai sini perjuangan kita? ". ucap Firdan sedikit pelan.
" Kalian gak perlu sedih, setidaknya... gua masih tahan sampai 10 tahun kedepan ".
Hasby kini menatap langit langit rumah, agak sedih ketika ia meratapi nasibnya yang menyedihkan, tapi dirinya bersyukur karena memiliki keluarga dan kerabat yang selalu menolongnya.
" Lo ngomong apaan sih Hasby? "Tanya Ardi dengan tatapan tajam.
" Ini gak bisa disangkal Di... ".
__ADS_1
" Tapi kita gak boleh nyerah gitu aja... walaupun golongan darah lo itu langka, gua sama yang lain pasti bakalan cari, meski harus sampai ke ujung dunia pun gua bakalan berusaha... ".
" Ujung dunia itu tempat kaki yang lo injek sekarang ".
" Ih, itu perumpamaan doang Hasby..., lu mah gak bisa di ajak kompromi... ".
" Iya, iya... maaf... makasi juga lo udah semangatin gua ke sekian kalinya... ".
" Sama-sama... lo juga jangan sedih gitu dong Dan... nunduk mulu dari tadi " ucap Ardi pada Firdan.
" Diem!... ".
sementara Hasby, Nafsah dan yang lain berbincang, keduanya kini melupakan rencana awal yang tadinya ingin bercerita tentang Vanesa, dan mereka juga lupa kalau gadis itu saat ini masih berada di kamar mandi. Dengan perasaan kesal dan jengkel, Vanesa terus mengumpat sesekali marah marah sendiri.
" Ih... Nafsah sama Hasby lama amat sih ". ucap Vanesa.
°°°
" Ardi, Firdan... gua mau cerita sama kalian ". ucap Hasby.
" Tentang apaan? si kadang monyet? ". ucap Ardi menanggapnya.
" Kak Ardi... bisa serius dikit gak? kakak itu lagi serius... ". ucap Nafsah.
" Hehe...iya maaf ".
" Ok... jadi... ini tentang gue sama... Vanesa ".
Hasby kemudian menjelaskan tentang hal yang ingin ia sampaikan, dari penyebab ia masuk ke rumah sakit beberapa bulan yang lalu, sampai permintaan Jordan yang mengharuskannya bertunangan dengan Vanesa saat itu, penjelasan ini memang sedikit mendadak, karena membuat Ardi dan Firdan terdiam tak berbicara.
" Gua minta maaf karena baru cerita sekarang... ". ucap Hasby sebagai penutup penjelasannya.
kali ini, kedua temannya menatap Hasby dengan tatapan kosong, berbeda dengan Ardi yang selalu menyilangkan tangan, Firdan sejak tadi masih patuh pada posisinya yang selalu menopang dagu.
Tapi, setelah beberapa menit keheningan berlalu, Ardi pun mulai angkat suara. " Cerita lo udah sampai sini doang?". tanya nya dengan datar.
" I... iya... ".
" Oh, ya udah... ". Ardi beranjak dari duduknya terlihat ingin pergi dari sisi tempat tidur Hasby, tapi sebelum itu, Hasby sudah terlebih dahulu memegang tangannya.
" Ardi... gua tau kalau lo bakalan marah, tapi tolong lo jangan bawa Nafsah ke dalam masalah ini, dia gak ada kaitannya sama masalah gua, ok? ".
_______________________
bagi like nya ya gaess...
__ADS_1
jumpa di chapter selanjutnya