
Sebenarnya yang membuat Vanesa takut memesan taxi online, karena mengingat kejadian saat ia hampir di culik dulu, tepatnya dimana dia dipaksa oleh Gio untuk mengikutinya, dan tentu Hasby juga berada di sana yang menyebabkan ia terluka, namun Hasby sendiri tidak mengetahui dan menyadari bahwa Vanesa merasa trauma dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, sehingga enggan untuk bepergian dengan orang lain walaupun itu driver online sekalipun.
Hasby dan Vanesa mengangkut barang-barang ke atas motor, sedikit sulit ketika itu, karena mereka membawa masing-masing barang di tangan.
Kedua tangan Vanesa penuh dengan barang, sedangkan Hasby meletakkan sebagian belanjaan di depan badannya, tentu saja bagasi motornya sudah dipenuhi belanjaan yang lain.
Berjalan dengan kecepatan sedang, Hasby mengendarai motornya seperti ini karena tidak ingin membuat Vanesa terbebani sekaligus membuat dirinya bisa menyeimbangkan ketika berkendara.
tidak disadari oleh Hasby maupun Vanesa, tidak jauh dari motor yang mereka naiki, ada sebuah mobil hitam serta dua sepeda motor yang mengikuti dari belakang. Didalam mobil tersebut, terdapat dua orang yang sedang mengamati Hasby dan Vanesa dengan simak.
" Bisa-bisanya gembel itu bawa-bawa cewek, lo bilang dia ke sini gak bawa siapa-siapa kan Daniel? " ucap seorang lelaki di samping pengendara mobilnya, yaitu Daniel.
" Menurut informasi yang bawahan saya dapet... dia memang sendiri pas berangkat ke mall, tapi gak tau kenapa sekarang dia malah bawa orang... mohon maaf kalau informasi nya kurang akurat tuan Syam " ucap Daniel pada pria di sebelahnya yang ternyata pria ini adalah Syam.
" Gua gak peduli sama orang yang diboncengnya, yang gua mau si gembel itu harus celaka!, lo udah siapin rencananya kan? " tanya Syam.
" Udah tuan, agen satu udah nyiapin apa-apa yang harus di lakuin, tepat di lampu merah depan... Hasby bakalan masuk ke dalam perangkap ".
" Good job!... hahaha... sekarang gua mau liat, seberapa beruntungnya lo buat ngehindar dari perangkap gua Hasby...dan mungkin... kali ini lo mungkin bakalan mati bareng pacar yang lo bonceng itu ". ucap Syam tertawa licik.
Syam merasa dirinya sudah berada di atas angin, tidak peduli orang yang dibonceng oleh Hasby terluka, yang Syam inginkan sekarang ini hanya mau melihat pemuda itu celaka. Tapi, tanpa diketahui oleh dirinya maupun Daniel dan bawahannya, orang yang di bonceng oleh Hasby, adalah wanita yang ia targetkan untuk menjadi pacarnya, siapa lagi wanita itu kalau bukan Vanesa.
°°°
" Hasby... motor lo lama amat si jalanya, cepatan dikit dong, gua udah pegel nih... ". ucap Vanesa.
" Sabar non... kalau misal saya bawa ngebut, nanti takut gak seimbang, terus kalau jatoh gimana? ".
" Tapi tangan gua pegel banget Hasby... heah... ".
" Yang sabar aja ya non, saya juga sama... apalagi bawa nona sama barangnya, berat nya minta ampun... ".
" Lo nyindir gua berat ya?!... heh! asal lo tau, gua langsing gini lo bilang berat... IQ lo jongkok kali ". ucap Vanesa marah.
" Maksud saya bukan gitu non, tapi____.... "
" Halah... ngeles aja lo kayak bajai ".
" Maaf non... tapi emang maksud saya bukan kayak gitu...".
" Bodo amat lah, sekarang yang penting lo percepat jalanya biar gak lama ".
di setiap waktu ketika dijalan, Vanesa terus saja mengeluh tentang tangannya yang pegal, hal ini membuat Hasby tersenyum simpul tanpa sadar, entah apa yang membuat ia senyum, namun saat ini dirinya merasa hangat. perasaan yang berbeda ketika ia berada dekat teman-temannya, perasaan Hasby dengan Vanesa saat ini lebih hangat dan nyaman, serta membuat hatinya terasa ringan.
" Hasby... motor lo kok gak enak dinaikin gini sih? ". ucap Vanesa menyadarkan Hasby.
" Gak enak gimana non? ".
" Ya gitu... kok jadi gak seimbang sih, terus___... eh, eh, eh.. kenapa ni motor? ". Vanesa tidak menyelesaikan kata-kata nya karena mendadak motor Hasby tidak stabil.
" Hasby motor lo ini kenapa? ".
" Gak tau nona... ini juga pertama kali kayak gini ".
selama beberapa menit, motor Hasby berjalan oleng, namun setelahnya berhenti secara mendadak. Karena tidak mengetahui hal ini, Vanesa pun refleks terdorong ke depan dan berakhir kepalanya yang berbenturan dengan kepala Hasby.
" Argh.... ". " Awww... ".
" Hasby lo kenapa berenti mendadak sih?!.. kepala gua sakit tau ". ucap Vanesa sambil mengelus kepala setelah turun dari motor.
__ADS_1
" Ergh... bukan kepala nona aja yang sakit... kepala saya juga... sakit non ". ucap Hasby mengelus kepalanya juga, namun entah kenapa Vanesa melihat bahwa Hasby seperti sedang kesakitan, dan rasa sakitnya itu lebih parah dari yang ia rasakan.
" Kepala lo beneran sakit? " tanya Vanesa.
" Masa saya boong si non? ".
" Coba sini gua liat ".
karena penasaran, Vanesa memeriksa kepala belakang Hasby, secara samar, ia dapat melihat ada bekas jaitan di kulit kepalanya, dan Vanesa mengira ini pasti bekas luka yang waktu itu.
' Eh?... kenapa kepala Hasby ada benjolannya? ' Batin Vanesa.
Saat memeriksa lebih jauh, Vanesa baru menyadari bahwa kepala Hasby memiliki benjolan yang ukurannya tidak terlalu besar, awalnya ia heran, namun tidak terlalu memikirkan nya.
" Ah, lo terlalu lebai... kepala lo gak papa juga ". ucap Vanesa.
" Iya, gak papa kalau nona gak percaya ... tapi masalahnya kenapa motor saja bisa mati ya? ".
" Lo belum bayar pajak kali... ".
" Apa hubungannya pajak sama motor mati?... lagian gini-gini juga saya gak pernah telat bayar kok... ".
" Terserah lo aja... terus gimana ceritanya ni motor? ". ucap Vanesa sambil menepuk jok motor Hasby.
" Coba saya cek dulu bensinnya...".
untuk memeriksa apakah bahan bakar suda habis atau tidak Hasby kemudian mengamati tangki motor, setelah dilihat dengan seksama, ternyata tidak ada isinya sama sekali.
" Em.. hehe, ternyata kosong " ucap Hasby menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Hah?! kosong?!... astaga Hasby... lo emang udah berapa minggu gak ngisi bensin? kok nyampe kering gini si tangkinya? ".
" Terus gimana dong... ".
Hasby kemudian menjelaskan pendapatnya pada Vanesa bahwa dirinya akan terlebih dahulu membeli bahan bakar yang ada di pinggir jalan, namun soalan itu langsung ditolak oleh Vanesa tanpa berpikir, ia berkata bahwa dirinya takut jika ada orang jahat yang mengganggunya bahkan mungkin saja menyakitinya.
berpikir sejenak beberapa menit, Hasby mengutarakan pendapatnya yang kedua, yaitu dengan mengikut sertakan Vanesa bersamanya, meninggalkan motor serta barang belanjaan, sementara mereka membeli bahan bakar. Dan lagi-lagi Vanesa menolak hal itu karena takut barang yang ia susah-susah beli dan bawa akan dicuri oleh orang lain.
" Ya udah sekarang mending kita dorong motor nya aja... cara ini gak mau, terus itu juga gak mau.... mending nona bantu saya bawa sebagian belanjaan ".
" Lah... siapa elu maen nyuruh-nyuruh gua? gua gak mau ah bawa barang sambil jalan, mending lo aja yang bawa ". ucap Vanesa menyimpan barang yang ia bawa ke motor Hasby dan melangkah lebih dulu.
" Eh, eh, non tunggu bentar... ". Karena ingin menyamakan langkahnya dengan Vanesa, Hasby bergegas merapikan barang dan mulai mendorong motornya.
" Saya ternyata baru nyadar loh non ". ucap Hasby dibelakang Vanesa yang sedang berjalan.
" Nyadar apaan? ".
" Nona ternyata bawel juga ya... ".
" Enak aja!... lo kali yang banyak ngoceh ".
" Menurut saya ni ya... dibanding waktu pertama kali kita ketemu, nona yang sekarang lebih terbuka sama saya...".
Vanesa menoleh ke belakang dan melihat Hasby tersenyum padanya, kalau dipikir-pikir benar juga apa yang pemuda ini katakan, seingat Vanesa sendiri, ia tidak pernah berbicara sebanyak ini, biasanya hanya akan menjawab singkat dan menanyakan sebaris kalimat saja, tapi jika diingat-ingat kalimat yang ia ucapkan saat berada dekat Hasby dengan ucapan yang ia keluarkan di rumahnya, sepertinya lebih banyak dengan Hasby deh.
" Itu... itu perasaan lo aja kali ".
" Saya serius non, malah dua rius... ". ucap Hasby.
__ADS_1
" Iya, terserah lo aja dah ".
Setelah ini, tidak ada lagi percakapan antara Hasby dan Vanesa, mereka berjalan dalam diam dan tidak ada salah satu dari mereka yang mengawali pembicaraan, sesampai pada waktunya, Hasby pun membuka suara lagi.
" Saya boleh tanya gak non? ".
" Tanya apaan? ".
" Sebenernya... nona kenapa mau nerima jadi tunangan saya? ".
sedikit tidak menyangka bahwa Hasby akan bertanya tentang ini, Vanesa juga sedikit heran kenapa dirinya mau menerima pertunangan diantara mereka berdua, tapi kan sudah jelas bahwa Vanesa melakukan ini untuk tidak membuat Syam masuk penjara, tapi entah ada perasaan apa, Vanesa menebak ada hal lain yang menyebabkan ia menerima Hasby.
' Apa karena bujukan dari bu Sri? ' Batin Vanesa.
" Non... nona...saya lagi nanya kok nona malah bengong si? ". ucap Hasby menyadarkan lamunannya Vanesa.
" Em.. gua, gua gak bengong kok ".
" Oh, terus... gimana menurut nona? ".
" Menurut apaan lagi si? ".
" Ya... kenapa nona bisa nerima saya ".
" Huf... hah.... lu gak perlu tau alasan kenapa gua mau nerima lo jadi tunangan gua, yang pasti... gua ngelakuin hal ini karena terpaksa, dan buat kedepannya... lo gak boleh nanya kayak gini lagi... paham? " ucap Vanesa dan dijawab anggukan oleh Hasby.
" Tapi... kedepannya boleh gak saya... panggil nona... pake sebutan Vanesa ".
" Gak ". Jawab Vanesa singkat.
" Loh? kenapa? ".
" Nantinya lo ngelunjak ".
" Tapi kan saya cuma manggil nama aja... lagian___...!!!!! ".
Hasby tidak melanjutkan kata-kata nya karena melihat ada sebuah truk besar yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Vanesa dan dirinya.
" VANESA!!! AWAS!!!".
" KYAAA!!! ".
Brak!!!!!!!.............
_____________________________
Gaess.... terima kasih banyak buat kalian yang masih setia nunggu up cerita ini, aku kira bakalan ada yang kecewa karena up chapternya lama...
tapi, tapi, tapi.... aku terhura banget gaess... ternyata masih ada banyak orang yang tetap stan by menunggu... jadi semangat aku makin membara....
buat chapter selanjutnya, mungkin akan datang tahun depan, tapi kalau aku gak ada kerjaan... insa Allah bakalan up kok...
sampai jumpa lagi ya gaes...
selamat tahun baru...
walaupun masih lama karena sekarang masih pertengahan bulan.
😁😁😁
__ADS_1