
" Aku gak papa, cuma... agak sakit dikit..." ucap Hasby.
Setelah Nafsah meletakkan gelas berisi air di atas meja, ia pun duduk di samping Hasby. " Mau aku yang pijat kepala kakak?... "
" Emang kamu mau? gak cape?... "
" Ya aku nawarin juga karna mau dong kak, lagian cuma pijit kepala doang kan, apa capek nya?..." ucap Nafsah.
" Hm...iya juga sih, ya udah terserah kamu aja deh... "
mendengar pernyataan Hasby, Nafsah kali ini mulai memijat kepalanya, mungkin menurut Nafsah pijatannya ini lumayan nyaman, sebab Hasby juga terlihat menikmatinya. Dalam posisi bersandar sambil menutup mata, Hasby pun bertanya pada Nafsah.
" Naf... aku mau tanya sama kamu... " ucapnya.
" tanya apaan? "
" Kamu sama Ardi beneran saling suka bukan?... "
Nafsah menghentikan kegiatan memijat kepala Hasby, awalnya ia tidak menyangka bahwa kakaknya akan berkata seperti itu, namun pertanyaan tersebut membuat pipinya sedikit merona kemerahan.
" Em... kamu kenapa nanya kayak gitu?... " ucap Nafsah dengan suara agak kecil.
" Ya mau nanya aja... lagian sih kalian dekat mulu, tapi jadian kagak, terus....kenapa kamu berenti mijitnya? ".
Nafsah kini bergegas melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda. Sebenarnya ia ingin menjawab pertanyaan Hasby, tapi tertutupi oleh rasa malu yang ia rasakan kali ini.
" Nafsah... " panggil Hasby
" I... iya... "
" Kalian berdua emang saling suka kan?.... " tanya Hasby yang kedua kalinya.
" hm... ya... " jawabnya dengan malu-malu.
" Terus kenapa kalian gak jadian?... ". kali ini Hasby menghadap ke arah Nafsah sehingga membuatnya berhenti di pijat.
" Karna... kak Ardi pernah bilang sama aku... dia gak mau kita pacaran, tapi... nunggu aku lulus dan bakalan langsung lamar aku... ".
Hasby terdiam sejenak memikirkan sesuatu, mendengar ucapan adiknya ini, dirinya kini kembali teringat tentang ucapan Ardi dulu, saat ia menanyakan hal yang sama padanya, Ardi juga menjawab tidak akan berpacaran melainkan akan langsung melamar adiknya. Kalau dipikir-pikir, mungkin Ardi akan melakukan apa yang ia katakan, sebab sampai sekarang ia belum menjalin hubungan dengan Nafsah.
" Mungkin omongan dia bener..." ucap Hasby
" Bener kenapa kak?... " tanya Nafsah.
" Gak papa...cuma... ah, udahlah...aku mau mandi dulu, kamu jangan lupa masak ya... ".
Nafsah menganguk dan mulai pergi ke dapur untuk memasak, sementara untuk Hasby, ia saat ini pergi ke kamarnya berniat mandi dan solat setelahnya.
°°°
Di sebuah apartemen yang mewah, terdapat seorang laki-laki yang masih muda dan bisa dibilang cukup tampan serta mungkin berasal dari keluarga kaya, karena dilihat dari pakaiannya yang mewah, tidak heran jika harga pakaian tersebut bernilai puluhan bahkan ratusan juta, sebut saja inisialnya sebagai S. Ia tidak sendiri, melainkan bersama dengan orang yang ada dihadapannya, penampilan seperti preman, bertubuh tinggi dan memiliki raut wajah yang sangar, kalau dia sebut saja inisialnya sebagai D.
" Gimana kerjaan yang gua kasih ke lu? udah selesai? atau masih belum beres?... " ucap pemuda berinisial S.
" Saya baru ngerjain setengahnya tuan muda, kalau lebih di perhatiin lagi... sepertinya keluarga List bakalan ngadain pesta, tapi mereka gak sebar hal ini ke media... " ucap orang berinisial D.
" Hm?, pesta? kira-kira mereka bakalan ngadain acara apa?... "
__ADS_1
" Saya juga belum tau... tapi sebisa mungkin anak buah saya bakalan dapet informasi berikutnya nanti besok... jadi tuan muda gak perlu khawatir... ".
" Bagus Daniel... nanti gua bakalan kasih bonus buat lu karena udah kerja dengan bagus... ".
" Terima kasih tuan muda Syam... saya mohon pamit... ".
" Ya... silahkan... ".
Selepas kepergian orang berinisial D alias Daniel, orang yang berinisial S diketahui sebagai Syam, anak dari keluarga Barah, sekaligus mantan kekasih Vanesa, kini berjalan menuju jendela, saat pertama kali ia melihat pemandangan, hal yang ia tangkap adalah seorang gadis yang berjalan di trotoar, sekilas... gadis itu nampak baru berusia sekitar 18 tahunan, itu terlihat jelas dari wajahnya walaupun Syam melihat dari kejauhan.
gadis itu kini membuat Syam teringat dengan seseorang, wanita yang dulu sangat mencintainya dan rela memberikan apapun yang ia mau, sayangnya hubungan yang ia jalin dengan gadis itu harus putus, dikarena penolakan sang gadis untuk memberikan kesuciannya pada Syam. Syam memang pernah berpikir bahwa ini merupakan kesalahan yang ia perbuat, tapi entah kenapa ia sangat ingin memiliki gadis itu walaupun hanya salah satu dari simpanannya.
seperti yang kalian ketahui, gadis itu adalah Vanesa, Syam juga mengakui bahwa Vanesa adalah gadis tercantik diantara kekasih-kekasihnya yang lain, dan bahkan lebih kaya dari yang lain termasuk dirinya sendiri. Ia pernah juga merasa sadar diri karena tidak bisa di sandingkan dengannya, tapi entah kenapa hasrat yang berada dalam hatinya mengatakan bahwa Vanesa harus menjadi miliknya, bukan hanya mendapat untung memiliki wanita yang sangat cantik, tapi keadaan keluarganya juga dapat ia manfaatkan untuk kepuasan.
" Tunggu aja sayang, aku bakalan jemput kamu, baik itu cara yang bersih dan kalau mau... bisa pake cara kotor, hahahaha.... " ucap Syam tertawa jahat.
°°°
" Vanesa... kamu jangan maen Hp mulu dong... " ucap Zihan pada Vanesa di tengah kegiatan makannya.
dari sejak pertama makan sampai sekarang, Vanesa masih saja fokus terhadap ponselnya, sepertinya ia tidak memiliki pekerjaan lain selain yang ia lakukan itu.
" Vanesa... ". ucap Zihan lagi.
" hm... " Jawab Vanesa singkat.
" Dengerin omongan ibu kamu Vanesa... " kali ini Jordan yang berbicara.
" Iya, aku dengar kok..."
" tapi kenapa Hp nya masih dipegang?... " ucap Jordan.
Vanesa kini meletakkan ponselnya setelah Jordan bersi keras menasihati, walau terlihat malas serta perasaannya sekarang sedang jengkel, dirinya pun mulai menyantap makanan yang berada di depannya.
" Hm...kayaknya kamu bakalan pindah ke rumah Hasby gak lama lagi, mungkin dua hari setelah perjodohan... " ucap Zihan di tengah kegiatan makan yang membuat Vanesa tersedak dan memaksanya untuk minum air.
" Apa kata ibu?!... aku salah denger kan? " ucap Vanesa.
" Engga... pendengaran kamu baik kok ". ucap Zihan datar.
" Bukannya ibu pernah bilang sama aku, kalau aku pindah seminggu setelahnya?, tapi kenapa di majuin lagi sih?!, ini gak sesuai sama ucapan ibu waktu itu...". protes Vanesa.
" Ibu paham kalau kamu gak nerima hal ini, tapi kami terpaksa ngelakuin hal ini supaya Hasby bisa jaga kamu dengan maksimal " ucap Zihan.
" Aku gak perlu penjagaan dari dia bu... lagian kenapa sih pake terpaksa segala... emang ibunya aja yang mau aku cepet-cepet pindah... ".
" Bukan itu maksud ibu kamu Vanesa... sebenernya kita___..... ". Sebelum Jordan menyelesaikan ucapnya, Vanesa sudah terlebih dahulu menyela.
" Udah... kalian gak perlu jelasin, percuma aku protes kalau kalian gak ngabulin permintaan aku, dan kalau bukan karena Syam aku juga gak bakalan ngelakuin hal konyol kayak gini... " ucapnya sambil beranjak pergi.
" Vanesa! jaga ucapan kamu...terus sekarang kamu mau kemana?... " ucap Jordan tegas.
Vanesa tidak menghiraukan perkataan Jordan, melainkan mempercepat langkahnya ke luar ruangan sehingga dengan cepat menghilangkan dari pandanganan.
" Vanesa!.. ini udah malem,kamu mau kemana?!... " ucap Jordan sedikit teriak karena Vanesa sudah tidak terlihat.
Zihan dan Jordan menghela nafas panjang setelah melihat kelakuan putri mereka satu-satunya itu, bisa di bilang sih sudah lelah dengan apa yang telah terjadi sebelumnya.
__ADS_1
"Afdal... tolong kesini sebentar... " panggil Jordan pada Afdal dan tidak lama kemudian dia pun datang.
" Iya, kenapa tuan?... "
" tolong kamu telpon body guard yang kemaren... suruh dia kawal Vanesa, kayaknya tadi dia keluar, soalnya arah dia jalan bukan ke kamar, tapi arah pintu depan... ". ucap Jordan.
" Oh, siap tuan... biar saya telepon sekarang ". Setelah berkata seperti itu, Afdal pergi dari hadapan Zihan dan Jordan.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya semenjak Vanesa aktif dalam kuliah nya, Jordan kala itu mulai mempekerjakan beberapa body guard untuk menjaga Vanesa secara sembunyi-sembunyi, pengalaman terakhir saat putri kesayangannya itu hampir di culik, membuat bekas ingatan yang tidak bisa Jordan lupakan, sehingga mulai saat itu Jordan lebih berhati-hati serta lebih ketat lagi dengan keselamatan Vanesa, jika saja waktu itu tidak ada Hasby, mungkin saja sekarang ini dia tidak bisa melihat anaknya lagi.
" Udah lah... mending sekarang ayah selesaiin dulu makan nya, abis itu tidur, kan besok kita harus ke kantor... ". ucap Zihan.
" Hm...iya bu, tapi ayah harap... sikap Vanesa bakalan berubah... ". ucap nya.
°°°
Keesokan harinya...
pagi hari, tepatnya pada pukul 06:30, terlihat Nafsah sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya, baik itu urusan menyapu, pel lantai, pekerjaan lainnya, terutama mandi, dia sudah melakukan hal itu usai memasak, lagi pula hari ini adalah akhir pekan, jadi dirinya bisa melakukan pekerjaan dengan santai tanpa terburu-buru. Karena semua pekerjaan sudah beres, Nafsah berniat memanggil kakaknya dan beranjak ke lantai dua.
" Kak, kakak...kamu udah beres kan? ayo cepetan keluar, sarapan udah siap nih... " ucapnya sambil mengetuk-ngetuk pintu.
" Iya bentar... aku lagi beresin tugas dulu " jawab Hasby dengan suara yang sedikit di keraskan.
" Ih... jangan bentar-bentar, nanti kesiangan loh... ". ucap Nafsah.
" Emangnya mau kemana sih? kan sekarang sabtu... libur Nafsah... ".
" Bukan masalah libur enggaknya, tapi.... ah, udahlah... ayo cepetan keluar, nanti makanannya keburu dingin... ". ucap Nafsah lagi.
" Iya, iya...aku beresin ini dulu... ".
sambil menunggu Hasby keluar kamar, Nafsah kini mengambil ponsel dari saku celananya. Jika sedang libur kuliah, Nafsah memang sering memakai celana ketika berada di rumah, mengenakan rok panjang atau gamis ketika melakukan pekerjaan membuat ia merasa kesulitan, tidak heran jika pakaiannya akan basah kalau sedang mencuci baju, rok yang kotor ketika menyapu lantai, serta lengan bajunya yang tak jarang menyangkut di perabotan sekitar.
Tidak butuh waktu lama Nafsah menunggu, sekitar 5 menit berlalu, akhirnya pintu pun terbuka. Mendengar suara gesekan pintu, Nafsah mengangkat kepalanya yang sebelumnya menunduk. Tapi, saat ia selesai melakukan hal itu, dirinya dikejutkan oleh seseorang pria asing yang keluar dari kamar Hasby, awalnya sih Nafsah menyangka kalau yang keluar itu adalah kakaknya, tapi kenyataannya adalah seorang pria yang tampan berdiri di depannya. Karena takut terjadi apa-apa, Nafsah langsung memasang kuda-kuda untuk pertahanan.
" Siapa lo?! kenapa lo bisa keluar dari kamar kakak gua?... " tanya Nafsah pada orang itu.
Sekilas, orang itu nampak kebingungan melihat reaksi Nafsah, awalnya ia menengok ke arah kanan dan kiri untuk memastikan bahwa hanya dirinya seorang yang ada disini.
" Kamu ngomong sama aku?... " tanya pria itu dengan bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Ya emang siapa lagi selain gua sama lo di sini?!... " ucap Nafsah.
pria itu terlihat makin kebingungan mendengar ucapan Nafsah. Sama seperti pria itu, melihat dirinya kebingungan, Nafsah pun jadi ikut bingung setelahnya, jika dilihat dengan simak, pria ini sedikit mirip dengan Hasby, tapi sudah jelas jika mereka memiliki perbedaan yang terlihat, lain halnya dengan kakaknya Nafsah, dia memiliki bewok tipis di dagunya, berbeda dengan orang ini, dia tidak memiliki bewok seperti milik Hasby.
" Kamu kenapa sih Naf?...ngapain coba ngomong kayak gitu? gak lucu tau... " ucap pria itu.
" Jangan sok akrab pake manggil nama gua kayak gitu! ... lo ini sebenarnya siapa hah?!, kenapa bisa keluar dari kamar kakak gua?...terus sekarang kakak gua mana?... " ucap Nafsah.
" Hah? Nafsah, kamu kenapa sih?... ".
_____________________________________
sepedar info, dari chapter-chapter sebelumnya, termasuk chapter yang ini, kadang kan aku ada tulis adegan pas lagi solat kan...contohnya solat magrib, tapi kenapa solat insya nya gak ada?...
sebenarnya ada kok, tapi gak di tulis aja, soalnya kalau di tulis nanti malah bosen duluan bacanya..
__ADS_1
terus... jangan pernah lupa dukung author ya, dengan cara like, komen, rate, favorit, dan kalau berkenan Vote...karena dukungan kalian sangat berharga loh...