Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
104# Pasutri Mesra


__ADS_3

Malam ini, sepulangnya Ardi, Firdan dan Savira dari rumah, Hasby kini duduk di sofa ruang tamu dengan wajah lelah, dengan posisi lengan yang ia letakan di kening, mata Hasby terasa berat dan sangat ingin terpejam, namun sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu, karena masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan bersama adik dan istrinya.


“ Kalau mau tidur jangan disini Hasby... “


Dikala penat singgah ditubuh Hasby, terdengar suara merdu yang menyebut namanya dengan lembut membuat pemuda itu mengubah posisi, ia menengadahkan pandangan, ditatapnya wanita yang sedang berdiri dihadapan, terpasang senyum simpul nan imut yang kini terpampang di wajah anggun cantik itu, ditambah rambut terurainya yang tergantung sedikit dipinggir wajah, orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Vanesa.


“ Ngantuk kah? “ Tanya Vanesa menundukkan pandangan melihat wajah suaminya.


“ Dikit... tapi gak jadi, nama aku dipanggil sama bidadari cantik, mataku jadi seger lagi deh “.


“ Bidadari?, mana? “.


Vanesa menengok ke segala arah, entah itu ke kanan dan ke kiri, kepalanya bahkan menengadah ke atas mencari bidadari yang Hasby bahas, tentu saja hal itu membuat pria yang duduk didepannya dibuat tertawa, apakah Vanesa segitu polosnya hingga percaya dengan bualan sang suami?, sungguh wanita yang imut.


“ Gak ada, Katanya dipanggil sama bidadari, aku gak liat tuh “.


“ Ada kok, bidadarinya kan lagi berdiri didepan aku “.


“ Hm... maksud kamu itu aku ya? “ Tanya Vanesa dan dibalas senyum lebar dari Hasby.


“ Cailah, gombal nih ceritanya, haha... lain kali gak usah lah, aku ini orangnya lemot “.


Vanesa mencubit hidung Hasby hingga membuatnya menjadi sedikit merah. “ Gak papa... entar lama-kelamaan juga gak bakal lemot lagi kok, intinya biasain diri aja “. Ucap Hasby menampilkan senyum jahil.


“ Jangan bilang kamu bakalan sering ngegombal? “.


“ Kalau iya kenapa? toh kamu kekasih aku ini... eh, istri aku malah “.


“ Ok, ok... iya in aja deh biar cepet “.


Seraya obrolan makin panjang, Vanesa duduk disamping Hasby dengan bersandar menengok kearah pemuda itu, dicerna setiap apa yang sedang dibahas, kedua orang tersebut nampak menikmati pembicaraan dengan ucapan yang bercabang ke berbagai arah. Jika dipikir-pikir lagi, mungkin Vanesa dan Hasby tidak mengobrol lama semenjak pulang dari kantor tim penyelamat, keduanya pulang dan mengistirahatkan badan sebelum berkumpul dan mengobrol dengan para tamu yang berkunjung ke rumah, meskipun sempat berbincang satu sampai beberapa menit, namun mereka tidak terlalu bebas mengobrol ditengah keramaian waktu itu.


“ Vanesa... “. Panggil Hasby.


“ Hm? “.


“ Kayaknya aku ngantuk deh “.


“ Ya Udah tidur duluan aja... urusan beres-beres biar aku sama Nafsah yang ngerjain “.


“ Entar kalian cape dong “.


“ No problem, cuma tinggal cuci piring sama beresin barang doang... udah sono pergi ke kamar, kamu juga harus minum obat juga kan? “.


“ Tapi aku masih mau ngobrol sama kamu “.


Wajah Hasby memelas, entah kenapa sifat pemuda itu nampak manja, meskipun terkesan seperti seorang anak kecil yang sedang merengek, Vanesa menatapnya gemas karena baru melihat hal ini pertama kali, mungkin hubungan mereka yang kini jelas membuat Hasby semakin terbuka dengannya, sama halnya dengan Vanesa sendiri, wanita itu juga sedikit demi sedikit menghilangkan rasa canggung saat bersama suaminya.

__ADS_1


“ Ya udah... tidur disini nih “.


Vanesa menepuk pahanya, menandakan bahwa ia menyuruh Hasby untuk membaringkan kepala diatas permukaan tersebut, dengan perasaan senang dan bergegas berbaring, Hasby menutup mata dengan elusan tangan Vanesa yang membolak-balik surai hitamnya.


“ Kepala kamu sakit gak Hasby? “ Tanya Vanesa disela kegiatan mengelus rambut.


“ Alhamdulillah, Enggak... hari ini aku lumayan bugar dari kemaren-kemaren, ditambah kepalaku dielus sama kamu... rasanya nyaman banget “.


“ Iya kah?, mau aku elus lagi besok sebelum tidur? “.


“ Boleh, tapi kamu nya sibuk gak? Soalnya kan sebentar lagi kita bakalan masuk kuliah “. Ucap Hasby sambil memfokuskan pandangan kearah wajah istrinya.


“ Ya ampun... ngelus kepala doang kan gak bakalan buat aku repot, kalaupun ada kerjaan dari kampus kan bisa sambil ngerjain... “.


“ Takutnya ngerepotin Van “.


“ Enggak kok, tapi itu sih terserah kamu... kalau gak mau sih ya udah “.


“ Eh... enggak, enggak... aku mau kok, jadi mohon bantuannya ya... “.


“ Hehe... iya, siap, dengan senang hati “.


Hasby dan Vanesa tertawa kecil, keduanya senang bila dapat menghabiskan waktu bersama dikala mengingat keseharian kuliah yang akan sibuk, dan dari situ tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang yang berada di pintu dapur tengah mengamati kegiatan keduanya, orang tersebut tersenyum tipis, dengan tangan yang kini memegang ponsel dan mengarah ke tempat Hasby dan Vanesa berada, orang itu tidak lain adalah Nafsah yang diam-diam sedang merekam kakak dan kakak iparnya bermesraan.


“ Hehe... lumayan nih buat koleksi aib kakak “. Kekeh Nafsah tertahan sambil terus menjadi nyamuk diantara para kakaknya.


***


“ Sudah tuan besar, saya juga bahkan sudah membuat orang yang bersangkutan tutup mulut “.


“ Huft... hah... semoga aja anak itu tobat dan sadar kalau perbuatannya itu salah, gimana keadaanya? Apa dia masih mengurung diri dikamar? “.


“ Iya tuan, tuan muda Syam masih histeris dan kadang suka duduk dipojokan, saya sempet nyuruh tuan muda keluar buat sekedar jalan-jalan di halaman belakang, tapi beliau enggan dan masih tetap bersi kukuh gak angkat kaki dari sana “.


“ Ya udah, kamu boleh keluar, terima kasih atas informasinya “.


“ Sama-sama Tuan... “.


Daniel keluar dari ruangan, meninggalkan tuan nya yang kini duduk di kursi sambil menutupi wajah dengan kedua tangan, orang itu persis seperti individu yang sedang dililit oleh berbagai macam masalah. Diketahui kalau dirinya adalah Bion, yang tidak lain dan tidak bukan ayah dari Syam, mantan kekasih Vanesa itu lho, meskipun nama ‘Bion’ itu bukanlah nama aslinya, namu beliau terkenal dengan nama tersebut. Dilihat dari raut wajahnya, nampaknya mood Bio sangatlah buruk akhir-akhir ini, apa yang terjadi dengan pria paruh baya itu?, jika ingin tahu lebih detail, pria itu kini sedang pusing memikirkan tentang perbuatan sang anak yang kelewat batas, sampai nyaris membuatnya naik pitam hendak mengusir pemuda itu dari rumah.


Beberapa hari yang lalu, ketika Bion mendapat Syam yang izin untuk pergi ke pantai secara tiba-tiba sedikit membuatnya heran, biasanya anak itu tidak ingin repot-repot ikut kegiatan tersebut dengan alasan ribet dan lelah dalam perjalanan, namun entah ada angin dari mana, Syam yang biasanya suka merusuh bersikap tenang kala itu. Hal ini memang sedikit membuat Bion curiga, namun tidak memikirkan lebih lanjut karena disibukan dengan pekerjaannya yang belum selesai.


Merasa semua akan baik-baik saja, keesokan harinya Syam pulang dengan keadaan yang sulit dijelaskan, pemuda itu histeris, berkata bahwa dirinya akan terkena masalah jika semua ini diketahui oleh orang itu, masalahnya Bion tidak tahu apa yang Syam bicarakan, kejadian apa yang akan membuatnya dalam masalah?, dan siapa orang yang tidak boleh mengetahui tentang masalah yang anaknya perbuat, ditengah-tengah hal tersebut Daniel sebagai pendamping sekaligus body guard Syam mulai menjelaskan satu-persatu hal dan akibat yang telah dilakukan oleh tuan mudanya.


Seketika itu juga Bion marah, ia membentak dan mengatai Syam sampai ingin mengusirnya dari rumah, namun apalah daya dirinya yang sebagai orang tua tidak tega mengusir sang anak, apalagi Syam merupakan anak satu-satunya, dan di hari itu juga Bion memerintahkan bawahannya untuk bekerja sama dengan Daniel supaya menutupi bukti agar kejadian ini tidak dapat terungkap, dan semua jerih payahnya membuahkan hasil, orang yang disewa oleh Syam yang menyebabkan Hasby dan Vanesa jatuh dibuat tutup mulut dengan keluarganya sebagai jaminan, meskipun melakukan hal tersebut dapat membuatnya terlihat seperti seorang sampah, tapi demi anaknya ia rela menyandang nama buruk agar kejahatan Syam yang tanpa sengaja itu tak terungkap.


“ Hah... maafin papa yang selalu sibuk kerja Syam, papa gagal jadi seorang ayah karena gak bisa ngebimbing kamu kejalan yang benar “. Gumam Bion ditengah helaan nafasnya yang sudah beberapa kali keluar.

__ADS_1


***


Beberapa hari kemudian


“ Hasby... kamu makan dulu ya, abis itu langsung minum obat... “


“ Aku agak mual Van, takutnya bukan makan entar aku malah muntah... “.


“ Pusing kah?, mau aku pijitin? “.


“ Gak usah... kamu gak perlu repot-repot jagain aku, entar juga sembuh kok “.


Hasby tersenyum mengarahkan pandangan pada Vanesa yang duduk disamping ranjangnya, tepat akhir pekan tiba, pemuda itu demam sejak kemarin malam dengan suhu tinggi yang mencapai 38 derajat. Keluhan pertama pemuda itu adalah rasa lelah dan kantuk yang sering menyerang sehari sebelum kondisinya drop, ditambah kepala yang sering sakit, pemuda itu menggigil dengan tubuh yang panas membara namun terasa dingin, untung hal tersebut diketahui oleh Nafsah pada pukul 8 malam saat hendak membahas kuliah dihari senin nanti, jadi dengan sigap dia memberikan pertolongan pertama berupa menempelkan plester demam dan menyuruhnya minum obat setelah mengisi perut sejenak.


“ Hey Hasby... aku mau nanya sesuatu “. Tanya Vanesa.


“ Mau nanya apa? “.


“ Kamu sayang sama aku kan? “.


“ Em... kamu kenapa nanya kayak gitu? “.


“ Jawab dulu “.


Hasby bingung, untuk apa Vanesa bertanya perihal yang sudah pasti ia akan jawab ‘ya’ dengan mantap, terlebih ekspresinya saat ini entah kenapa terasa datar, apa ia telah melakukan kesalahan?. “ Aku sayang kamu Van... lebih dari apapun meski itu nyawa aku sendiri “.


“ Ok, maka dari itu tolong turutin kemauan aku buat makan walaupun sedikit, aku gak mau kamu kenapa-napa Hasby, apa kamu tega buat aku sedih liat demam kamu yang gak kunjung turun? “.


Vanesa berbicara dengan wajah murung, hal itu membuat Hasby panik dan bangkit dari tidurnya untuk menenangkan wanita tersebut.


“ Eh?, eh?... jangan sedih dong, iya maaf... aku salah, ok aku bakalan makan, jadi jangan sedih lagi ya “. Ucap Hasby dengan menggenggam tangan kanan Vanesa.


“ Nah... gitu dong, kalau gitu aku ambilin makanan dulu ya, kamu mau nasi ata bubur? “. Tanya Vanesa, wanita itu kini sudah kemabli antusias.


“ Hm... bubur aja deh, yang kaya waktu itu ya Van... “.


“ Ok, siap... tunggu bentar ya... sayang... “. Vanesa tertawa kecil dan berlari keluar meninggalkan Hasby yang tercengang dengan ucapan terakhirnya, pemuda itu terdiam masih mencerna situasi, tadi itu Vanesa bilang apa?, sayang bukan sih?, Hasby tidak salah dengar kan?, Vanesa manggil sayang?!, manggil sayang ke Hasby?!!, what happen?!!.


Hasby menutup wajah dengan kedua tangan, ia berteriak dalam diam dengan wajah yang merah dan tubuh yang memanas, dirinya sedikit malu dan merasa senang disaat yang bersamaan, mimpi apa ia kemarin malam?, sampai-sampai Vanesa memanggilnya dengan mesra begitu, ucapan yang mungkin sangat-sangat jarang keluar dari mulut cantik istrinya, tidak! Bukan jarang, tapi ini adalah yang pertama kalinya!!!, sungguh dirinya seolah ingin pingsan dibuat senang.


Ketika Hasby masih mabuk dengan satu kata sakral dari Vanesa, muncul Nafsah yang menjulurkan kepala terlebih dahulu untuk melihat kondisi sang kakak diam-diam, ia cukup bingung dengan perilaku pemuda itu, meskipun jika dilihat oleh pandangan orang biasa Hasby itu sedang menutup wajah mungkin karena lelah atau apa, tapi yang pasti Nafsah mengetahui satu fakta sebagai adik yang orang lain tidak tahu.


Jika Hasby merasa malu atau senang berlebihan, pria itu akan menutup wajah dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menggenggam lengan yang ia pakai untuk menutup wajahnya tadi, ini mungkin hal yang sepele, bahkan sangat sepele sampai hanya dirinya seorang yang tahu tentang ini, dengan penasaran yang melanda, Nafsah ingin tahu kenapa kayaknya dibuat seperti itu, terlebih meski dilihat dari jauh telinga Hasby sangatlah merah.


‘ Kakak kenapa? apa ada hal yang sepesial? ‘ Batin Nafsah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2