
karena suasana di sana cukup hening beberapa waktu, Cika berniat berkenalan dengan Vanesa, mengandalkan Rafa yang sekarang berada dibelakangnya tidak lah berguna, apalagi Hasby yang dari tadi diam saja sejak kedatangan majikannya ini.
" Em...kak, kita kenalan yuk? namaku Cika, temen dokter Rafa..." ucap Cika sambil mengulurkan tangannya.
Vanesa melirik Cika sejenak terlebih dahulu sebelum menyambut tangan Cika, awalnya ia tidak ingin melakukan pembicaraan, namun ketika mendengar Cika mengajaknya berkenalan dan sudah mengulurkan tangan padanya...rasanya cukup tidak sopan jika tidak di sambut, beda hal nya kalau Cika berjenis kelamin laki-laki, pasti Vanesa hanya akan menyebutkan nama panggilannya tanpa menyambut tangan Cika, seperti halnya Rafa.
" Vanesa..." ucapnya singkat.
cara Vanesa berbicara pada Cika sama dengan Rafa, ia hanya menyebutkan nama panggilannya saja dan kembali diam setelah tangannya dengan Cika terlepas. Walau suasana kembali hening sejenak, Cika tidak berhenti dari situ, ia kemudian bertanya lagi pada Vanesa apa hubungan antara dirinya dengan Hasby.
" Kalau aku boleh tau...kakak ini siapanya kak Hasby ya?..." tanya Cika.
" Saya ini majikannya, dan dia ini supir saya..." ucap Vanesa yang setelah itu tidak membungkam diri melainkan mengalihkan fokusnya pada ponsel.
melihat kelakuan Vanesa, Cika mengerti maksud darinya itu, secara tidak langsung Vanesa mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin berbicara lagi dan dugaannya diperkuat ketika Vanesa lebih memakai earphone setelahnya.
" Em...kak Hasby, aku sama kak Rafa keluar dulu ya...mau ada yang diomongin bentar...dah..." ucap Cika sambil beranjak pergi lalu menarik tangan Rafa menuju keluar.
Hasby yang awalnya ingin mencegah mereka akhirnya mengurungkan niatnya karena melihat Cika yang sedikit mempercepat langkahnya ditambah Rafa juga mengikuti cara jalan Cika yang cepat, sehingga saat ini hanya ada Vanesa dan Hasby saja di ruangan.
sekitar 5 menit Cika dan Rafa keluar, Vanesa kemudian melepas earphone nya dan menoleh ke arah Hasby yang dirinya sedang diam melirik ke arah lain.
" Lo kenapa?" tanya Vanesa.
" Ah...saya gak papa..." ucap
Vanesa hanya mengangguk pelan mendengar jawaban Hasby dan setelah itu teringat dengan ponsel Hasby yang berada di dalam tasnya, ia kemudian membuka tasnya itu dan mengambil ponsel tersebut sebelum memberikannya kepada Hasby.
" Nih hp lo, tadi gua nemu di dalem mobil..."
" Makasih non...". ucap Hasby sambil meraih ponselnya dari tangan Vanesa.
" Gua mau ke kamar mandi dulu, gak papa kan di tinggal bentar?"
" Silahkan nona...saya bakalan baik-baik aja kok..." ucap Hasby yang setelah itu Vanesa berjalan menuju kamar mandi dan masuk kedalamnya.
setelah Vanesa terlihat sudah menutup rapat pintu kamar mandi, Hasby kini menghela nafas lega sambil bersandar pada bantal yang dibelakangnya, sedari tadi sebenarnya ia sedang menahan sedikit rasa sakit di kepalanya, namun ia tutupi karena keberadaan Vanesa, sejak awal kedatangan Cika kepalanya memang sedang sakit, namun perlahan sedikit mereda sehingga tidak terlalu membuat Hasby kesakitan.
' Hah...ternyata nahan sakit capek juga...dan ini pertama kalinya gua bisa nahan lama kayak gini... ' batin Hasby.
setelah merasa cukup untuk beristirahat, Hasby kini memilih membuka ponselnya, Vanesa juga belum keluar dari kamar mandi, mungkin ada sesuatu yang ia harus lakukan.
__ADS_1
" Hah?! Panggilan dari Nafsah...."
pertama yang Hasby temukan dari ponselnya adalah histori panggilan tak terjawab dari Nafsah.
" Eh buset.. 30 panggilan tak terjawab?!, banyak amat, hah.... kayaknya dia bakalan marah deh..." ucap Hasby yang kini menghela nafas sambil mengusap-usap kepalanya.
setelah melihat histori panggilan Nafsah, Hasby kemudian menelpon balik ke nomor ponsel Nafsah berniat untuk memberi kabar, terlihat jelas dari histori panggilan tadi bahwa Nafsah sangat khawatir padanya sehingga berkali-kali menelpon ke nomor Hasby.
tidak perlu waktu lama untuk Hasby menunggu Nafsah mengangkat teleponnya, baru beberapa detik saja sudah di angkat.
" Hallo..." ucap Nafsah yang di sebrang telepon.
" Hallo Naf, ini kakak...maaf__..."
" Kakak!!!....".
Belum juga Hasby menyelesaikan kata-katanya, Nafsah malah terlebih dahulu memotong sambil mengeraskan suaranya.
" Kakak!!!...lo kemana aja sih?!, kan gua juga yang khawatir tau..." ucap Nafsah yang kini sedikit marah dengan nada bicaranya yang meninggi.
" Heh...ngomong kasar ke abang sendiri nanti kualat lo...gua ini lebih tua..." ucap Hasby yang menasehati Nafsah.
" yeah...orang sendirinya juga ngomong kayak gitu ke adek sendiri..." ucap Nafsah membela diri.
Hasby kali ini lebih memilih mengalah dari Nafsah, percuma saja ia melawan karena Nafsah akan terus berbicara nantinya, walaupun adiknya ini sangat baik pada Hasby, namun ketika ia marah besar, Nafsah akan berubah dari wanita anggun menjadi wanita ganas, meskipun dirinya saat ia marah sangat jarang Hasby temui, namun Hasby sendiri tidak pernah ingin bertemu dengan hal itu.
ketika Nafsah marah, ia akan melontarkan kata-kata yang tidak dapat membuat orang mengelak, dan tentu saja nada bicaranya dapat membuat orang merinding,walaupun beberapa detik kemudian ia akan menjadi Nafsah yang baik lagi.
pernah sekali Hasby dimarahi Nafsah ketika dirinya tidak ingin minum obat, kejadian ini sudah lama, kira-kira sekitar 2 tahun setelah kepergian ayahnya, walaupun sudah lama sejak kejadian itu, namun Hasby tetap mengingatnya sampai sekarang.
pada saat itu Hasby tidak ingin meminum obatnya karena rasanya yang cukup pahit, sedangkan ia baru-baru itu mengonsumsi obat pereda, walau sakit kepalanya semakin menjadi, tapi Hasby tetap saja enggan untuk meminum obat, hingga akhirnya Nafsah tidak dapat menahan lagi dan langsung saja memarahinya.
" Kakak!!!.... kakak harus minum obat, nanti kalau sakitnya makin parah gimana?!, kasian Bunda kak...dia itu sedih liat kamu kayak gini!, dia gak mau kehilangan orang yang dia sayangi lagi...masih belum sembuh luka dulu waktu ayah meninggal...kamu jangan nambah luka dia lagi!...aku juga bakalan sedih kalau kamu kenapa-napa!!..." ucap Nafsah waktu itu.
semenjak saat Nafsah memarahi Hasby, dirinya kini tidak pernah melawan lagi untuk meminum obatnya, kata-kata yang adiknya sampaikan telah menempel si benak Hasby sejak saat itu sampai sekarang, dan tidak akan pernah Hasby lupakan.
" Kakak...aku khawatir tau sama kamu...bisa gak kalau mau kemana-mana itu kabarin Nafsah dulu?...kan gak perlu susah-susah nelpon kayak gini..." ucap Nafsah.
" Iya maaf,maaf...kakak gak sempet ngabarin kamu, karena...aku...lagi sibuk kerja..." ucap Hasby.
" emang sibuk kenapa?".
__ADS_1
" Em...ya sibuk....sibuk...bantu-bantu di rumah nyonya...hehe" ucap Hasby yang sedikit gugup karena takut ketahuan Nafsah.
" Beneran?..."
" Be...beneran kok..."
alasan Nafsah menanyakan hal itu, karena ia tahu bahwa kakaknya ini sedang berbohong, terdengar dari gaya bicaranya yang sedikit gelagapan dan ada sedikit nada ragu.
Nafsah juga tahu sedikit tentang majikannya Hasby, terkadang Hasby akan menceritakan kejadian pada saat ia bekerja pada Nafsah, dan Nafsah pada saat itu juga tahu bahwa sifat tuan dan nyonya Hasby sangat baik, secara jika mereka orang yang baik pasti tidak akan pernah menyuruh Hasby kerja sampai larut malam, dan kini Nafsah mulai curiga pada kakaknya karena mendengar suaranya yang sedikit serak dan nada bicaranya yang pelan.
" Kamu udah makan?..." tanya Nafsah.
" oh...udah dari tadi kok..."
" Ya udah...aku tenang ngedengernya...tapi...boleh kita Vidio call? aku pengen liat kamu sekarang tidur dimana dan lagi apa..." ucap Hasby.
mendengar permintaan Nafsah, Hasby kini mengumpat dalam Hati, sejak tadi ia sudah berbohong pada adiknya, namun tetap saja Nafsah terdengar sedikit curiga padanya.
' Mati gua...kalau Nafsah liat gua di rumah sakit gimana?...'.
kini Hasby diam sejenak memikirkan jawaban untuk mengelak dan menemukan ide beberapa detik kemudian.
" em...Nafsah, disini sinyalnya dikit, tadi juga kamu susah kan nelponnya?, ini juga sedikit kurang jelas suara kamu nya...". ucap Hasby beralasan.
" Ok kalau begitu...tapi kakak harus jaga diri ya...".
" Iya..."
" Nanti kalau mau pulang kabarin..."
" Iya Nafsah..."
" Kalau-----"
lo
Nafsah terus saja melontarkan banyak kata sehingga Hasby dengan terpaksa harus mendengarkannya kalau tidak adik kesayangannya ini bisa-bisa akan marah.
tanpa disadari eh Hasby, ternyata sedari tadi ada orang yang memperhatikannya dari balik pintu kamar mandi, siapa lagi kalau bukan Vanesa, walaupun tidak dari awal ia mendengar percakapan Hasby dan Nafsah, namun ia sudah cukup lama mendengarkan obrolan mereka.
entah perasaan apa yang kini masuk ke hati Vanesa, ada rasa kesal bercampur takut, padahal ia hanya mendengarkan pembicaraan mereka saja.
__ADS_1
' Nafsah....sebenernya cewek ini siapanya Hasby?...' Batin Vanesa.