
Melihat Zyan yang berada di dekat Nafsah, Firdan mempercepat langkah meninggalkan Ardi dan Savira yang sedang berdiskusi, entah karena baru bertemu lagi atau apa, tapi hati Firdan saat itu sedang berbunga-bunga melihat wajah gadis tersebut.
" Nafsah, nunggu lama ya? " tanya Firdan setelah berada di samping keduanya.
" Engga kok, paling 5 menitan kita nunggu ".
" Hm... eh, Zyan? perasaan kita udah lama ya gak ketemu ". ucap Firdan sambil mengulurkan tangan pada Zyan.
" Iya, tapi walaupun jarang ketemu, aku sih sering banget liat kak Firdan ". jawabnya menyambut tangan Firdan.
" loh? seharusnya kamu panggil kakak dong, kok diem aja? ".
" Engga ah, takut... ".
" Takut kenapa? " tanya Firdan.
" Takut dikeroyok sama penggemarnya kakak ".
Firdan tertawa bersamaan dengan Zyan yang tersenyum malu melihatnya. Bisa dibilang, ketiga temannya Nafsah dan Hasby itu pernah kenal dengan Zyan, walaupun tidak terlalu dekat, tapi jika bertemu satu sama lain, mereka ini bisa dibilang sedikit akrab.
Sama dengan Nafsah yang telah mengenal lama Firdan, Ardi dan Savira, karena Zyan selalu satu sekolahan dengan Nafsah dari kecil, ketiga temannya tidak merasa asing jika Zyan sesekali menginap di rumah Nafsah.
Beberapa detik berikutnya, Ardi dan Savira datang dalam keadaan memandang Firdan dengan heran. Merasa asing karena baru pertama kali mendengar Firdan berbicara sebanyak itu dengan Zyan, Ardi kini bertanya pada Nafsah.
" Nafsah... Firdan kerasukan jin bawel ya? " tanya nya sambil menunjuk pemuda tersebut.
" Hehe... bukan, dia lagi mode kasmaran? ".
" Kasmaran?... apaan tuh? " ucap Ardi dan Savira bersamaan.
" Bentar lagi juga tau, tunggu dan liat aja deh ".
sambil mencerna omongan Nafsah, Ardi dan Savira ikut memerhatikan Firdan dan Zyan sesuai instruksi nya, dan setelah beberapa menit berlalu, mereka pun mengerti kata-kata Nafsah tadi.
Ardi dan Savira menilai bahwa Firdan sangat menikmati obrolannya dengan gadis di depannya itu, sebaliknya juga dengan Zyan, keduanya seolah tidak menyadari kalau ketiga orang yang berada di samping sedang memperhatikan dengan lekat.
" Eh, kak... kayaknya aku harus undur diri dulu deh, soalnya mau kerja kelompok sama Nafsah dan yang lain... ".
" Oh, ya udah deh... padahal masih seru tau ngombrolnya ".
" Haha, mungkin lain kali aja, dan... eh? kak Savira sama kak Ardi kapan datengnya? " ucap Zyan yang baru menyadari kedua orang itu baru datang.
" Oh... udah dari tadi kok " jawab Savira dan Ardi bersamaan.
sama dengan Zyan, Firdan sampai sedikit kaget karena baru menyadari keberadaan sahabatnya ini, apalagi wajah Ardi tidak kurang dari 10 cm dari wajahnya sendiri.
" Lo bikin kaget gua aja Di " ujar Firdan.
" Lo si ngobrolnya gak pake perasaan... saking fokus nya nyampe gak nyadar kita dah ada di samping dari awal ".
" Hah? dari awal?... dari gua ngobrol pertama kali sama Zyan? " .
__ADS_1
" Gak juga sih... tapi pas lo ngomongin ' kapan-kapan aku maen deh ke rumah '... gua sama Savira udah nongol duluan ".
Dengan wajah yang mulai merona, Firdan tiba-yiba mengajak Ardi dan Savira untuk langsung pulang, malu karena melihat senyum nakal Ardi dan Savira, serta dipandang lekat oleh Nafsah dan Zyan, Firdan pun lebih dulu masuk ke mobil setelah pamit.
" Hm... ada yang malu nih " ucap Nafsah.
" Hahaha... gua baru pertama kali liat dia kayak gini, pasti karena kamu Zyan " ucap Ardi.
" Gak mungkin lah kak, ya kali... " .
" Hehe... ya udah, kita pamit dulu ya... kalian juga mau kerja kelompok kan? udah sono... nanti yang lain pada nungguin lagi " ucap Savira.
Setelah itu, Nafsah dan Zyan pun pergi dari pandangan Ardi dan Savira sehabis berpamitan, menuju mobil yang Firdan naiki, keduanya kali ini berniat untuk menggoda pria tersebut.
" Wah,wah... ada yang lagi jatuh cinta nih " ucap Ardi setelah dirinya dan Savira masuk ke mobil.
" Paan si Ardi? ".
" Hm... ngaku aja napa, kita juga udah tau alurnya kali ". kali ini Savira yang berbicara.
" Terserah lo aja lah, males ngeladenin lu berdua ".
mendapat jawaban ketus dari Firdan, Savira dan Ardi tertawa terbahak-bahak sambil melanjutkan godaan mereka, di samping itu, Firdan sendiri menyumpal telinga nya dengan earphone agar tidak mendengar suara apapun.
***
Tidak jauh dari tempat parkir mobil, terlihat ada seorang wanita yang hendak menuju mobilnya sendiri, dengan langkah yang lumayan besar, tidak butuh waktu lama untuk ia sampai di tempat yang ia tuju, dan seperti yang diketahui, wanita ini adalah Vanesa.
tepat sebelum ia masuk ke mobil, terdapat suara halus yang memanggil-manggil namanya, karena ingin mengetahui sumber suara itu, Vanesa pun menoleh ke belakang dan menemukan Nafsah serta satu gadis lainnya, yaitu Zyan.
" Oh, kamu kuliah... kirain masih ngebahas tugas dari om kalian itu " ucap Vanesa datar.
" E...hehe... sebenernya itu tugas punya kak Hasby, tapi karena aku nya yang kepo, jadi ikut aja ".
" Hm... ".
" Oh iya kak, aku mau ngasih ini nih... " ucap Nafsah sambil mengulurkan sebuah buku.
" Ini buku apa? ".
" Resep masakan, di sana ada banyak resep kok, dari mulai makanan ringan sampe penutup, coba kakak liat deh ".
sesuai instruksi Nafsah, Vanesa pun membuka halaman demi halaman di buku itu. Didalamnya, terdapat banyak bahan dan cara pembuatan suatu resep makanan sesuai yang Nafsah katakan, ia mungkin tidak tau alasan Nafsah memberikan buku ini padanya, tapi mungkin akan cukup membantu jika ia akan mulai memasak nanti.
" Di baca ya kak, aku udah nulis sedetail mungkin cara masaknya, dan juga... maaf kalau malam ini aku gak bisa pulang ".
" Gak papa, kamu lanjutin aja belajarnya, terus... " Vanesa tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan melihat ke arah Zyan.
" Oh, ini temen aku... namanya Zyan ".
" Salam kenal kak, aku Zyan " ucapnya sambil mengulurkan tangan dan disambut oleh Vanesa.
__ADS_1
" Vanesa " ucapnya.
" Ya udah... kita pergi dulu, baik-baik dirumah ya...".
bertepatan dengan kepergian Nafsah dan Zyan, Vanesa saat itu masuk ke dalam mobil, namun bukannya ia bergegas untuk pulang, Vanesa malah membuka kembali buku yang Nafsah berikan.
***
" Kenapa gak besok aja pulangnya? ".
" Gua gak enak sama tuan Jordan, janjinya kan kemaren-kemaren, tapi diundur mulu... ".
" Ya tapi kan badan lo belom sehat Hasby... kalau fisik dan kekuatan lo kayak Superman sih gua ok aja ".
" Tapi kak__...".
" Gak ada tapi-tapian, lo harus istirahat sehari lagi ".
saat ini, Rafa dengan Hasby sedang berdebat tentang kapan kepulangannya setelah kemoterapi. Sejak tadi, Hasby sudah berkali-kali memohon pada Rafa agar ia bisa pulang hari ini, namun berkali-kali juga Rafa menolak permintaan pasiennya ini.
penyebab Hasby bersi keras ingin pulang hari ini berkaitan dengan janjinya dengan Jordan, pagi tadi ia sempat berkata padanya bahwa akan bekerja besok hari, otomatis ia tidak bisa mengingkarinya untuk tidak membuat alasan mengundur hari pertama kerjanya lagi.
Karena Rafa sudah membulatkan keputusan nya, saat ini Hasby masih belum bisa berkutik, entah cara apa yang bisa membuat pria ini luluh, padahal sebelumnya Hasby memelaskan wajahnya agar Rafa merasa iba, tapi karena sudah mengenal lama, pria itu bahkan dapat menebak kalau Hasby hanya berpura-pura.
Beberapa menit setelah perdebatan Hasby dan Rafa, Seseorang masuk ke ruangan dengan memakai pakaian seragam dokter yang diketahui orang itu adalah Haris.
" Kalian ribut kenapa sih? suaranya kedengeran sampe depan tau " ucap Haris.
" Ini pah... si Hasby ngeyel pengen pulang hari ini, padahal kondisinya kan belum stabil ". ucap Rafa menggerutu.
" Hah? emang apa alasannya kamu mau pulang? ". tanya Haris.
Mendapat pertanyaan dari Haris, Hasby merasa bahwa saat ini lah ia mendapat kesempatan untuk keluar dari masalah, bukan seperti Rafa yang keras kepala tidak mengijinkannya pulang, mungkin beda halnya dengan Haris yang baik itu.
Setelah itu, Hasby menjelaskan pada Haris bahwa alasan ia harus pulang adalah untuk bekerja, karena itu merupakan hari pertama, ia diharuskan masuk tepat waktu, seharusnya sih dia sudah masuk dari jauh-jauh hari, tapi karena ada kendala, ia harus mengundur waktu kerjanya.
" Hasby mohon sama om Haris... kalau saya gak masuk besok, kemungkinan saya gak bakalan bisa kerja buat nafkahin Nafsah sama Van__... maksud saya sama Hasby pribadi ". ucap Hasby dengan wajah yang memelas.
Rafa yang melihat perubahan raut wajah Hasby itu hanya menatap datar sambil kesal, sudah tau akal bulus yang ada dipikiran temannya ini, Rafa sedikit jengkel karena dengan mengadu pada Haris, bukan tidak mungkin Hasby akan diperbolehkan pulang.
' Dasar lo Drama king ' batin Rafa.
" Hm... om sih maunya bolehin kamu pulang, tapi karena ini buat keselamatan kamu, saya bakalan konsultasi sama dokter yang lain dulu baru kamu bisa pulang, itu pun kalau diizinin... ".
mendengar hal itu, Hasby hanya mematung menatap Haris, sementara Rafa tertawa lepas melihat reaksi pria tersebut.
" Hahaha... sukurin... sok-sok an pake muka melas segala, emang enak gak bisa pulang ".
tidak mendengar lebih lama ejekan Rafa, Hasby yang saat itu cemberut hanya memalingkan wajah darinya, Haris yang melihat itu hanya tertawa kecil, dirinya mungkin akan mengizinkan Hasby pulang jika tidak ada campur tangan Lyn dan Robert dalam kemoterapi ini.
" Haha... kasian... " ucap Rafa yang masih tertawa.
__ADS_1
________________________________________
jumpa di chapter selanjutnya