
Sri saat ini sedang berada di dalam kamar Vanesa, walaupun keduanya berada di ruangan yang sama, tapi sekitar dua menit ke belakang, keduanya belum mengucapkan sepatah katapun. Karena merasa suanasa sangat canggung, Vanesa berinisiatif untuk berbicara terlebih dahulu.
" Bu Sri...kata ibu...bu Sri dulu pernah punya anak ya? " tanya Vanesa.
sebelum menjawab, Sri menghela nafas pelan " Iya non, waktu itu... saya punya anak perempuan, dan udah gadis kayak nona, tapi... dia meninggal karena kecelakaan " ucap Sri dengan nada sendu.
Vanesa yang melihat hal ini menjadi merasa bersalah walaupun ekspresi muka nya tetap datar, ia awalnya hanya ingin mendengar cerita dari Sri tentang anak nya itu, tapi melihat Sri yang senyumannya memudar, Vanesa berniat untuk mengganti topik pembicaraan.
" Bu Sri kalau gak mau cerita juga gak papa, tapi... aku yakin kalau tujuan bu Sri tadang ke kamar aku bukan buat ngomongin anak bu Sri, tapi hal lain kan? " ucap Vanesa.
walaupun merasa sedikit terkejut karena Vanesa mengetahui rencana awalnya, namun Sri berusaha mengendalikan ekspresi wajah agar tidak ketahuan.
" Sebenernya saya mau nanya sama nona, soal __.... "
" Bu Sri duduk di sebelah saya dulu... baru nanti lanjutin ngomongnya " ucap Vanesa sambil menepuk pelan samping ranjang ya.
Sri menuruti perkataan Vanesa, ia duduk di sebelahnya sebelum kembali melanjutkan kata-kata nya. " Gini nona... tadi saya liat nyonya Zihan udah beberapa kali ngetuk pintu kamar nona... tapi kenapa nona Vanesa gak mau buka pintu nya?, apa... nona lagi ngambek sama tuan Jordan dan nyonya Zihan? " tanya Sri.
" Iya bu, aku lagi kesel sama mereka..."
" Kalau boleh saya tau... nona kesel sama mereka karena apa?, gak mungkin kan kalau gak ada sebab tiba-tiba aja marah? ".
Vanesa kemudian menceritakan tentang perjodohan nya dengan Hasby secara rinci dan tidak ada yang tertinggal, dari ia mulai kembali ke rumah sakit setelah membeli pakaian untuknya dan Hasby, sampai Jordan dan Zihan memberitahu mereka tentang perjodohan nya. Sri mendengarkan dengan seksama seolah-olah ia belum mengetahui tentang hal ini, dan sesekali menunjukan ekspresi terkejur ketika ada saat nya ia melakukan hal itu.
" Terus... kenapa nona marah? bukannya bagus ya? "
" Bu Sri... coba bu Sri pikirin? aku... sebagai anak keluarga Lits yang terhormat, masa dijodohin sama supir sih?... apalagi dia itu supir keluarga kita, mau taro dimana coba muka aku bu?!...".
" Tapi non... gak semua manusia itu sempurna, ada yang orangnya baik, ramah, pinter... tapi dia sederhana. Ada orang yang mapan, ganteng, keluarganya terhormat... tapi kurang adab, semua manusia itu gak di ciptain sempurna non, ini udah kodrat dari Allah... ".
" Tapi bu... aku masih cinta sama Syam... walaupun dia orangnya gitu, tapi aku masih tetep gak bisa lupain dia bu..." Tanpa terasa, Sesuatu yang bening mengalir dari sudut mata Vanesa. Semenjak awal, Vanesa dari dulu hanya bisa memendam kerinduan nya terhadap Syam, walaupun ia tahu bahwa laki-laki itu adalah pria brengsek, tapi dalam hatinya masih tertanam cinta yang dalam, sehingga sangat sulit untuk Vanesa hilangkan.
Sri saat ini mengetahui bahwa sikap Vanesa tidak sepenuhnya berubah, ia masih melihat ada rasa kasih sayang yang terkubur dari kejadian itu, dan hanya belum di gali saja supaya sifat baik itu keluar. Semenjak kejadian lima tahun terakhir, Vanesa sama sekali tidak sedekat ini dengan Sri, malahan terkesan menjauhinya.
" Nona... nona jangan sedih, mungkin... dengan Hasby yang bakalan jadi tunangan nona bisa ngehapus rasa cinta nona ke laki-laki itu, jadi... nona jangan menolak takdir, karena takdir itu udah dikehendaki sama Allah... ". ucap Sri sambil mengelus-elus punggung Vanesa.
dalam keadaan terisak, Vanesa berpikir bahwa perkataan Sri ada benarnya juga, walaupun cinta nya pada Syam sangat mendalam, bukan tidak mungkin rasa ini akan menghilang sedikit demi sedikit jika tidak terus di pikirkan , mungkin saat ini Vanesa berencana untuk membuat Hasby sebagai pelarian dari kenyataan.
" Jadi...bu Sri minta tolong sama nona... untuk perjodohan ini, bu Sri minta nona Vanesa terima ya... bukan maksud ngebujuk, tapi ini juga kan buat kebaikan nona... "
__ADS_1
" Tapi bu... aku bakalan nyesel gak nantinya? " tanya Vanesa.
" Insa allah enggak nona... percaya sama bu Sri kalau Hasby itu Anak yang baik dan perhatian..."
Vanesa masih terdim memikirkan ucapan Sri, walaupun penilaiannya terhadap Hasby sama seperti Sri, tapi ia menemukan ada sesuatu yang ia khawatirkan,tapi yang ia khawatirkan masih belum jelas apa itu.
" Nona... saya jamin Hasby bakalan bahagian in nona... asalkan nonanya sendiri bisa nerima dia apa adanya, tapi kalau nona sebaliknya malah gak nerima, otomatis hubungan kalian berdua gak bakalan pernah akur... jadi, nona harus coba, buat nerima kenyataan ini... "
walaupun masih merasa rahu, tali Vanesa mengangguk pada Sri bahwa ia setuju tentang pendapatnya.
" Mungkin... ini jalan yang terbaik buat aku... jadi... aku bakalan coba jalan yang terbaik ".
" Berarti... nona setuju buat dijodohin sama Hasby? "tanya Sri sekali lagi untuk memastikan.
" Iya... "
dalam hati Sri sangat merasa senang, ia tidak menyangka bahwa usahanya tidak sesulit yang ia pikirkan, malah terlihat lebih mudah.
" Ya udah... nona kan udah mutusin kepastiannya, gimana kalau sekarang kita makan dulu...nona belum makan dari pagi kan? " ucap Sri dan dijawab anggukan oleh Vanesa.
" Tapi bu Sri...aku lagi bete ketemu sama ayah dan ibu... " ucap Vanesa dengan malas.
" Tapi bu Sri___.... " Sebelum Vanesa menyelesaikan kata-kata nya, Sri terlebih dahulu menyeret Vanesa keluar dari kamar, sehingga Vanesa sendiri hanya bisa mengikuti pembantunya.
Walau sedikit malas, Vanesa tetap mengikuti Sri dan akhirnya sampai di ruang makan setelah menuruni tangga. Pertama kali yang Vanesa lihat saat sampai di sana adalah Jordan dan Zihan yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di sana, dan ternyata mereka ini sedang menunggu kedatangannya sebelum mereka makan.
" Sayang... ayo makan, kamu dari pagi belum makan loh..." ucap Zihan yang melihat Vanesa.
Vanesa masih bersikap dingin tanpa menjawab perkataan ibu nya, tapi setidaknya ia sekarang ini duduk di sebelah Zihan, ekspresi yang Vanesa tunjukan kali inj membuat suana menjadi canggung, sehingga hanya kesunyian yang mereka lewati ketika waktu makan.
***
" Argh... Astagfirullah..."
" Kak... apa sakitnya makin parah?... " ucap Nafsah yang terlihat khawatir.
saat ini, tepatnya menjelang malam, adalah saat dimana rasa sakit yang selalu membuat Hasby menderita selalu datang, tidak seperti sakit yang ia biasanya rasakan, rasa sakit kali ini sangat menusuk bagi Hasby, mungkin keberadaan luka di kepalanya membuat tingkat kesakitannya meningkat.
Nafsah yang melihat kondisi kakaknya kini menjadi khawatir, walaupun ia sudah sanhat sering melihat keadaan seperti ini, tali tetap saja lerasaan khawatir nya tidak akan pernah hilang.
__ADS_1
" Kak... kamu tahan bentar ya, aku panggil kak Rafa dulu...",Ucap Nafsah.
baru saja Nafsah hendam melangkah kan kaki nya, tapi Hasby sudah terlebih dahulu memegang pergelangan tangan Nafsah, entah apa yang Hasby pikirkan, namun itu membuat Nafsah kebingungan.
" Jangan Nafsha... "ucap Hasby.
" Jangan kenapa?...penyakit kamu lagi kambuh, aku harus panggil kak Rafa..."
" Jangan Nafsah... aku... gak mau ngerepotin dia... "ucap Hasby sambil menahan tangan Nafsah walau keringat bercucuran sampai membasahi pakaian yang ia kenakan.
" Aku gak leduli... pokoknya__... "
" Argh..... "
belum selesai ia mengucapkan kata-kata nya, ia dikejutkan dengan erangan Hasby yang setahunya ini adalah yang laling keras.
" Kakak!!!.... kamu kenapa?!... "
Hasby tidak menjawab, melainkan terus memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dan untuk Nafsah yanf melihat hal ini menjadi semakin khawatir sampai-sampai ia mengeluarkan air mata dan menangis.
" Aku bilang apa kan?! .. Pokoknya kamu tahan dulu, aku bakalan panggil kak Rafa sekarang... "ucapnya sambil menangis.
Nafsah berlari dengan air mata yang terus mengalir, tujuannya kali ini hanya satu, yaitu menemui Rafa dan membantu meredakan sakit kakaknya, ia sempat kesulitan menemukan ruangan Rafa, namun dengan bantuan suster, ia dapat segera menemukan pria itu sedang duduk melihat berkas di ruangan nya.
" Kak Rafa!!!...cepet kakak tolong kak Hasby... dia... dia... " ucapan Nafsah tidak terlanjutkan karena terpotong oleh tangisan nya, Rafa yang melihat hal itu sedikit kaget, Nafsah datang secara tiba-tiba sambil menangis, ia mengira bahwa mungkin ada sesuatu yang terjadi pada Hasby.
" Nafsah... kamu kenapa nangis?... jelasin sama aku, ala ada sesuatu sama Hasby? " ucap Rafa.
" Kak Hasby, kak... dia... penyakitnya kambuh lagi... aku liat dia kayak kesakitan banget, sampe-sampe... dia teriak kak... " ucap Nafsah terisak.
" Apa?!..... "
__________________________________________
buat kalian yang suka sama cerita ini, jangan lupa dukung author dengan cara like, komen, dan kalau berkenna Vote ya...dan juga aku selalu minta maaf sama kalian kalau ada kata-kata yang salah maupun kurang tepat...
akhir kata dari aku... selamat menjalani hari ini walaupun ada runtangan.
Rabu gembira...
__ADS_1
Al setia