
disarankan untuk baca chapter sebelumnya ya...
***
sejak mendapat kabar bahwa Hasby dan Vanesa jatuh ke sungai, Jordan mengerahkan seluruh pengawal bayarannya untuk mencari keberadaan mereka, sekaligus mencoba menemukan dalang di balik semua ini.
tidak berhenti merasa khawatir, Zihan yang saat ini berada dikamar terus menangis meski tanpa suara, tujuannya agar ia tidak menambah kekhawatiran orang lain yang mana mereka sudah kaget karena kabar buruk sebelumnya.
bukan hanya keluarga List saja yang bergerak, Ardi dan Firdan selaku sahabat Hasby meminta bantuan orang tuanya untuk ikut membantu pencarian, sehingga baik itu ayah Firdan maupun pak Setiawan segera mengirim orang untuk ikut mencari keberadaannya. Tidak sampai situ, ditambah anggota yang dikirim oleh Panji dan Bayu ikut membantu, kini tempat kejadian perkara sudah banyak orang yang turun tangan.
hal ini mungkin membuat Ardi dan Firdan yang ada di lokasi menjadi bingung. Seingat keduanya, orang yang dikirimkan ayah Firdan berjumlah 5 orang, sedangkan tim yang ayah Ardi kirim ditambah tim penyelamat berjumlah 7 orang, mungkin 5 sisanya lagi adalah orang yang dikirim dari keluarga List karena Nafsah sudah menghubungi mereka, namun 10 yang tersisa entah dari mana datangnya, terlebih ada dua unit helikopter yang saat itu sudah diterbangkan sedang melakukan pencarian.
" Ardi, lo ngerasa ada yang gak beser gak sih? " tanya Firdan.
" Iya, orang yang saat ini lagi melakukan pencarian lebih banyak dari yang ditentuin, dan seingat gua... papa lo sama bokap gua cuma ngirim sekitar 13 orang kalau dijumlahin... ".
" Apa mungkin itu orangnya om Bayu?, dia kan udah nganggep Hasby sebagai anaknya... " ucap Firdan mengira-ngira.
" Mungkin itu masuk akal... tapi... kayaknya enggak deh, dia kan gak tau kalau Hasby lagi kena musibah, lagian Nafsah juga belum ngasi tau dia kan? "
hanya mengangguk, Firdan berpendapat bahwa makin banyak orang akan lebih baik untuk melakukan pencarian, namun ia berharap bahwa orang-orang ini tidak ada maksud buruk karena hilangnya Hasby maupun tokoh berpengaruh seperti Vanesa, mengingat wanita itu merupakan pewaris tunggal grup Nur.
" Semoga aja Hasby baik-baik aja... ". gumam Firdan diikuti oleh Ardi yang kini mengusap kasar wajahnya.
***
" Nafsah... ayo makan dulu, nanti kamu bisa sakit kalau kayak gini " bujuk Savira.
" Tapi kak... gimana kira-kira kabar kak Hasby?, ini udah tengah malem... tapi mereka belum ngabarin juga ".
" Kakak juga sama Nafsah... Aku khawatir sama Hasby, aku juga khawatir sama Vanesa, tapi mau gimana lagi? toh kita juga gak bisa bantu... maka dari itu, lebih baiknya kamu berdoa supaya keduanya selamat, nangis gak bakalan nyelesaiin masalah... itu malah jadi buruk buat tubuh kamu... " ucap Savira.
__ADS_1
sejak sampai ke penginapan, Nafsah saat itu terus mengurung diri di kamar dan tidak mau makan, meski sama khawatirnya dengan Nafsah, Savira lebih bisa berfikir logis setidaknya tidak terlalu depresi dengan tragedi itu. Tidak berlebihan jika sikap Nafsah seperti ini, mengingat keluarga satu-satunya itu jatuh ke sungai, siapa coba yang akan berpikir tenang dan bersikap seolah-olah biasa saja?.
mungkin setelah dipikir ulang, omongan Savira saat ini ada benarnya, daripada menangis tanpa menghasilkan apapun, lebih baik kan berdoa supaya Hasby dan Vanesa selamat.
" Omongan kakak ada benernya juga... aku jadi ngerasa bodoh karena nangis terus " ucap Nafsah sambil mengusap air matanya.
" Nah... gini kan lebih baik, supaya hati kamu tenang, gimana kalau kamu solat tahajud dulu? ".
mengikuti saran Savira, kini Nafsah pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, dalam situasi seperti ini, alangkah baiknya jika seseorang menunaikan solat untuk meminta pertolongan pada sang Kholik, karena apa yang tidak mungkin terjadi pada manusia, sangat mudah dilakukan olehnya.
di dalam keheningan, Savira berdoa agar Hasby dan Vanesa selamat saat ditemukan, meski tidak dapat membantu secara fisik, dirinya tetap berdoa tanpa henti untuk keselamatan keduanya. ' Ya Allah... hamba mohon pada mu, selamatkan lah teman hamba Hasby dan Vanesa, sesungguhnya... engkau maha pemberi petunjuk dan pemberi pertolongan ' Batin Vanesa.
***
Rasa pening yang mencekam, adalah hal yang pertama kali Hasby rasakan saat bangun, meski tak terlalu jelas, ia mengetahui kalau saat ini hari sudah menjelang pagi, dan entah ini perasaannya saja atau efek dari baru bangun tidur, indra penglihat, peraba maupun pendengarannya sedikit memudar, namun tidak lama dari situ berangsur normal.
hal yang paling awal Hasby lakukan adalah mencari keberadaan seseorang, siapa lagi kalau bukan istri kontraknya, Vanesa. Sekilas ia melihat, wanita yang dicarinya itu kini sedang duduk didepan perapian, tidak hanya itu, nampak disampingnya terdapat sebuah panci kecil, dialasi kompor portabel yang menyala.
tidak ingin mengganggu momen baik, Hasby memilih diam sebelum wanita itu lebih dulu menyadari bahwa ia sedang memandangnya.
" Hasby... kamu udah bangun? gimana? badan kamu udah baikan? " tanya Vanesa sambil menghampirinya.
" Ya... Alhamdulillah, sekarang aku baik-baik aja... dan makasih juga ya udah ngerawat aku kemarin malam... ". ujar Hasby beranjak duduk.
" Gak masalah... aku bersyukur karena kamu gak papa ".
sesuai ucapan Hasby, malam ketika dirinya kehilangan kesadaran, Vanesa lah yang saat itu merawat nya tanpa lelah. Meskipun ia memiliki obat penurun panas, namun saat itu kondisi Hasby tidak memungkinkan untuk bisa meminumnya, sehingga Vanesa hanya dapat mengandalkan kompresan saja.
memastikan demam Hasby sudah turun, Vanesa kini membawakan semangkuk bubur hangat yang ia buat tadi.
" Nih, makan... mumpung masih anget " ucap Vanesa sambil menyodorkan mangkuk tersebut.
__ADS_1
menerima tawaran wanita itu, Hasby tidak langsung memakan bubur tersebut, teringat kejadian ketika ia mencicipi bubur asin yang Vanesa buat, hal itu membuatnya sedikit trauma untuk mencoba bubur buatan nya lagi.
" Kenapa gak dimakan? ". tanya Vanesa agak heran.
merasa jika berbohong akan dapat masalah, Hasby saat itu memilih untuk jujur saja " Em... kalau boleh jujur... sebenarnya aku agak trauma ".
" Trauma kenapa? ".
" Aku keinget kesan pertama pas nyicip bubur kamu waktu itu... yang... rasanya... kayak air laut... ".
tidak terlalu jelas ketika mengucapkan hal itu, Hasby berusaha untuk tidak melukai perasaan Vanesa dengan kata-katanya, meski ia tahu ujung-ujungnya pasti akan kena omel.
" Pft... hahaha... kali ini bakalan enak kok, coba aja dulu... ".
bukan hanya tidak marah, reaksi Vanesa saat itu malah lucu saat melihat Hasby yang takut pada rasa masakannya, belum lagi ada hal yang lebih membuat Hasby kaget daripada masakan wanita itu.
Tidak seperti kemarin dan sebelumnya, sifat Vanesa yang biasa dingin, jutek dan baperan kini tak terlihat lagi, saat ini bisa dibilang ia cukup terbuka dan hangat, sekaligus wanita itu jadi lebih sering tersenyum. Entah petir apa yang menyambarnya kemarin, namun Hasby berpikir bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
kembali ke bubur buatan Vanesa, kini Hasby hanya bisa pasrah dan berakhir memakannya, pas satu sendok masuk ke mulut, saranya CUTTTT.... itu ngilunya... ( eh,eh bentar!!!! kok malah iklan?!!)... kembali ke plot.
tidak seperti yang dibayangkan, alih-alih asin maupun hambar, bubur yang Hasby sangka buruk malah terasa enak, ini cukup mengejutkan, namun nyatanya memang seperti itu.
" Lho? kok enak sih? kok gak asin sih?... ini beneran kamu yang masak?... " tanya Hasby tak percaya.
" Hahaha... emangnya siapa lagi kalau bukan aku yang masak? enak kan rasanya... lagian cuma bubur kok, itu sih gampang...".
masih tidak percaya dengan rasa buburnya, Hasby berulang kali mencicipi bubur tadi namun rasanya tetap sama, yaitu enak, walaupun hanya sekadar bubur, tapi jika yang memasaknya Vanesa, hal ini merupakan suatu keajaiban.
_______________________
see you in the next chapter....
__ADS_1