
Vanesa kini sudah berada di salah satu kamar di rumah Hasby, secara kebetulan rumah Hasby ini mempunyai 3 kamar tidur, dan kamar ini pula yang sering di gunakan Ardi dan Firdan untuk menginap.
tata letaknya sudah Hasby dan Nafsah perbaiki, menjadi lebih estetik dan bersih, bisa dibilang Vanesa akan cukup nyaman tidur di sana, ya... walaupun kamar miliknya yang ada di keluarga Lits tiga kali ukuran kamar ini.
" Kak Vanesa... kakak udah beres-beres belum dikamar? kalau udah kita makan dulu yuk " ucap Nafsah di luar kamar.
" Iya... kamu duluan aja ". memandang sejenak ke arah luar jendela, Vanesa menilai tata letak rumah Hasby sangat trategis, banyak pohon yang tumbuh di halaman belakang, serta tidak sedikit bunga yang ditanam di halaman depan rumahnya.
setelah ia merasa puas melihat halaman belakang dari kamar, Vanesa kini pergi ke dapur untuk makan, ia berencana untuk melihat sekeliling setelah ia mengisi perutnya, mungkin jalan-jalan sebentar akan menyenangkan.
saat ia berjalan menuruni tangga, aroma yang harum tercium oleh hidungnya, mengira kalau ini bau masakan yang Nafsah masak, mungkin rasanya akan lebih enak lagi kalau baunya saja membuat perut Vanesa bergerutu minta di isi.
" Kebetulan gua belum makan dari tadi siang... ".
terlihat Nafsah sekarang ini sedang menyajikan makanan di meja makan, dibantu oleh Hasby yang sedang menuangkan air, keduanya sibuk dengan urusan masing-masing sampai belum menyadari kalau Vanesa sudah muncul dan sedang berdiri di dekat pintu.
Karena tidak ingin mengganggu, Vanesa memutuskan untuk tidak memunculkan diri agar mereka tetap fokus pada pekerjaannya.
makin lama Vanesa memperhatikan, dilihat Nafsah ini adalah anak yang cantik, serta dia juga mengakui kalau Hasby memiliki wajah yang tampan.
' Tapi kenapa gua ngerasa aneh sama aura di muka Hasby? '. Batin Vanesa.
menjadi tanda tanya untuk dirinya sendiri, Vanesa dapat melihat selain berwajah cantik, Nafsah juga memiliki wajah yang berseri, berbeda dengan kakaknya, walaupun tampan, namun terlihat sekilas kalau wajah Hasby itu terlihat sendu, entah apa yang Vanesa perkirakan ini benar atau tidak, yang jelas muka Hasby bisa dibilang selalu pucat.
tidak lama Vanesa merenungkan hal ini, yang pertama kali menyadari keberadaannya adalah Hasby, karena melihat wanita itu terus berdiri dan tidak berbicara sepatah kata pun, jadi yang Hasby lakukan adalah memanggilnya.
" Vanesa... kamu ngapain berdiri di situ?" Tanya Hasby menyadarkan lamunan Vanesa dan membuat Nafsah menengok ke arah gadis itu.
" Ah... tadi nunggu kalian beres dulu " ucapnya dengan wajah datar dan setelah itu dia pun duduk di salah satu kursi.
" Kita bentar lagi beres kok, jadi mohon tunggu ya ". ucap Nafsah.
hanya mengangguk mendengar ucapan Nafsah, sambil menunggu ia lebih memilih untuk memainkan ponselnya, tidak butuh waktu lama untuk itu, kedua adik kakak ini pun sudah selesai masak.
" Aku minta maaf kalau makanan di sini cuma ala kadarnya aja, tapi insa allah enak kok " ucap Nafsah.
__ADS_1
" Gak papa, aku bukan tipe orang pemilih... yang penting bersih ". ucap Vanesa.
ketiganya kini mulai menyantap hidangan yang dimasak oleh Nafsah, saat pertama kali mencoba, Vanesa cukup terkesan karena rasa dari makanan yang dibuat sangat enak, rasa asin yang tidak terlalu melekat dan terdapat gula juga di dalamnya,hm... sungguh memanjakan lidah.
" Masakan kamu enak juga Nafsah " ucap Vanesa tanpa merubah ekspresi wajah.
" Wah... ternyata masakan aku sesuai selera kakak ya?, kalau kedepannya kak Vanesa mau makan apa... tinggal bilang aja, aku mungkin bisa masakin ".
" Hm... mungkin kedepannya aku bakalan repotin kamu " ucap Vanesa tersenyum tipis.
" Hehe... iya ".
Nafsah merasa senang karena masakannya di puji oleh Vanesa, sedikit ada hal yang menyangkut dipikirannya, ia menilai bahwa Vanesa tidak terlalu jutek seperti apa yang dikatakan oleh kakaknya.
' Gua kira kak Vanesa bakalan super jutek, tapi dia masih bisa dibilang baik kok... emang kakaknya aja yang berlebihan ' Batin Nafsah.
beberapa menit kemudian, Hasby, Nafsah serta Vanesa sudah selesai dengan kegiatan makan mereka, berbeda dengan Nafsah yang langsung membereskan alat makan, Vanesa kali ini berjalan menuju pintu halaman belakang.
wanita ini tidak pergi keluar, melainkan berhenti di depan jendela, dirinya menatap pemandangan luar, terlihat jelas oleh Hasby bahwa Vanesa ingin melihat lebih dekat, ia pun berinisiatif untuk mengajaknya berkeliling.
" Emang di sana ada apaan? ". ucap Vanesa datar.
" Ya... ada pohon, bunga dan...kali aja ada belalang ".
heran dengan jawaban yang Vanesa dapatkan dari Hasby, namun tidak berpikir lama, ia pun menyetujuinya, disamping itu, Nafsah yang sebelumnya mendengarkan ucapan keduanya menjadi geram, menurutnya, Hasby ini sedikit tidak mahir untuk bermain kata, berbeda dengan dirinya sendiri, Nafsah cukup percaya diri dengan kemampuan mulut manisnya.
' Dasar kakak... katanya waktu SMP punya banyak pacar, masa jawab kaya gitu aja gak bisa sih?... ' Batin Nafsah sambil masih melakukan kegiatannya.
°°°
Setelah Hasby membawa Vanesa mengelilingi halaman belakang, mereka berdua pun berakhir jalan-jalan di sekitaran komplek. Sebelumnya Vanesa sudah sangat puas melihat-lihat di sana, dapat dengan bebas kesana-kemari, melihat berbagai jenis serangan dan bunga, serasa menghirup udara sore yang segar, belum lagi suasana hari ini sangat bersahabat, tidak terlalu panas dan juga hanya sedikit awan yang berada di langit.
" Gimana?, kamu tadi puas? " ucap Hasby ketika dirinya dan Vanesa sedang berkeliling.
" Ya... udaranya lumanyan bagus, gak sumpek dan suasananya sunyi... cukup nyaman ". ucap Vanesa.
__ADS_1
" Emang di rumah kamu enggak kayak gini? ".
" Memang sih suasananya sunyi, tapi saking sunyinya gua jadi sering kesepian... ".
Hasby paham apa yang sedang dirasakan oleh Vanesa, di rumah yang besar seperti kediaman keluarga Lits, sering kali Hasby mengira bahwa Vanesa cukup bosan tinggal di sana, tidak memiliki teman untuk berbagi cerita, maupun berbagi suka dan duka.
hanya ada kesunyian, sesekali hanya alat elektronik saja yang dapat mengurangi rasa bosan Vanesa, tapi yang namanya elektronik kan dia itu cuma mesin, bermain bersama mereka terus menerus akan cepat merasa bosan juga kan, berbeda dengan makhluk hidup, mereka dapat membagi kegembiraan walaupun sesekali kesedihan.
" Gak papa... itu kan pas kamu masih tinggal di sana, sekarang kan beda... ada aku dan Nafsah yang siap buat jadi temen bicara kamu, kalau kamu lagi seneng kita juga ikutan seneng, terus kalau kamu sedih... ada kami yang bakal ngehibur kamu... ". ucap Hasby disertai senyuman.
" Hm, ya... ".
di saat mereka saling bertukar obrolan, Hasby dan Vanesa berpapasan dengan seorang ibu-ibu yang merupakan tetangga Hasby. Ibu ini bernama Yuli, orangnya sedikit kepoan dan suka menggoda yang lain, tapi dia cukup baik di dalam masyarakat, hanya sanya sikapnya ini sering membuat orang menjadi pusing.
" Eh... Hasby, jalan sama siapa tu?, sama pacarnya ya? " ucap Yuli dengan senyum jahil.
" Ehehe... Dia ini...cuma temen saya kok bu " ujar Hasby sambil tersenyum canggung.
" Ah...jangan malu-malu... ini wajar kok, anak muda kan harus nikmatin masa asmaranya ".
" Tapi__... ".
" Gak papa kamu gak mau ngaku juga... udah jelas kok ".
tidak menjawab Yuli, Hasby hanya menanggapinya dengan senyum canggung, Vanesa yang melihat hal ini sedikit lucu akan kelakuan tetangganya Hasby.
kali ini, Vanesa dapat melihat bahwa kehidupan disini sedikit menyenangkan, memiliki keluarga yang selalu ada dan tetangga yang baik, sepertinya ia akan dengan mudah beradaptasi walaupun ia baru pindah ke mari beberapa jam yang lalu.
_______________________________
jangan lupa dukung Author dengan cara like, komen dan kalau berkenan Vote ya, karena dukungan dari kalian sangat berharga.
sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih banyak buat kalian yang masih nunggu cerita ini up, aku doain kalian akan tetep betah ya di sini... dan jangan sampai kalian doang yang asik baca sendiri, undang teman buat baca juga cerita ini ya...
sekian dari aku, jumpa di chapter selanjutnya...
__ADS_1