
menjelang pukul 9 malam, Rafa dan Haris keluar dari ruangan dengan masih menggunakan masker dan sarung tangan, Nafsah yang menyadari hal itu langsung menghampiri mereka diikuti oleh ketiga temannya.
" Gimana kak, om... apa kemoterapi nya berjalan lancar? " tanya Nafsah.
" Alhamdulillah... semuanya mulus dan gak ada kendala sedikit pun " jawab Rafa.
mendengar hal itu, 4 orang yang menunggu Hasby menghela nafas lega, sempat khawatir karena kemoterapi ini berlangsung cukup lama, tapi mereka bersyukur karena semuanya berjalan dengan lancar.
" Sekarang Hasby nya mana on?" tanya Savira.
" Dia masih belum sadar ".
" Belum sadar?! apa dia pingsan? ".
" Engga... tapi dia masih kena efek obat bius, sebelum kemoterapi nya di mulai, saya sama yang lain lakuin hal ini supaya ngurangin rasa sakitnya... jadi bisa dibilang... aktivitas Hasby bakalan lumpuh sehari penuh pas dia sadar nanti". ujar Haris menjelaskan.
setelah mendapat penjelasan, Nafsah dan yang lain meminta izin untuk melihat keadaan Hasby. Permintaan ini memang di setujui oleh Rafa dan Haris, namun mereka harus masuk secara bergilir.
" Ah, yang masuk duluan gua sama Nafsah cantik ya... " ucap Ardi yang langsung memegang tangan Nafsah untuk masuk.
" Lah?, maen nyosor aja tu anak... seharusnya gua dulu woi! " protes Savira namun di tahan oleh Firdan.
" Udah... nanti juga bakalan liat si Hasby, sabar aja...". Tidak memberontak lagi, Savira akhirnya diam dengan keadaan cemberut sementara Rafa, Firdan dan Haris hanya tertawa melihat tingkah Ardi.
***
" Permisi dokter, kami mau liat keadaan Hasby... ". tanya Ardi pada Lyn dan Robert yang masih ada didalam.
sekilas, Nafsah dan Ardi dapat melihat bahwa kedua dokter ini sedang membereskan alat-alat medis dan pergi ke luar setelah mempersilahkan mereka bertemu Hasby, dua atau tiga langkah ke depan, mereka dapat menemukan keadaan pemuda itu yang saat ini terlentang tidak sadarkan diri.
dengan keadaan tangan terinfus, wajah Hasby terlihat pucat pasi meski tidak terlalu jelas. Entah karena hubungan saudara yang memperkuat perasaan ini, hati Nafsah seolah tercabik-cabik ketika melihat kakaknya sedang dalam kondisi sekarang.
" Tenang Naf... Hasby itu orangnya kuat, aku yakin rintangan kayak gini bakalan dia lewatin dengan mudah " ucap Ardi menghibur Nafsah yang sempat menangis.
***
Di waktu yang bersamaan, Vanesa saat ini sedang menonton tayangan yang ada di tv. Untuk menghilangkan bosan, dirinya sudah banyak melakukan hal, dari Sekedar chat online di media sosial, pergi ke warung untuk sekedar beli cemilan, bahkan dirinya pun sempat berjalan-jalan sebentar meski hari sudah malam.
terbiasa tidur pada jam segini di hari-hari sebelumnya, Vanesa sedikit heran kenapa dirinya tidak merasa ngantuk sama sekali.
__ADS_1
dari channel satu ke channel yang lain, dari cerita ke ceria yang lain, Vanesa nampak memindah-mindahkan saluran televisi karena menurut nya tidak ada cerita yang menarik, sehingga kegiatan itu berakhir dengan helaan nafas yang kemudian mematikan tv tersebut.
" Ya ampun... bosen amat si ni hidup ".
diam tidak melakukan apa-apa, Vanesa melihat ruangan sekitar dengan malas, awalnya ia berniat pergi ke dapur, tapi sebelum itu ada suara notifikasi dari ponselnya. Setelah dilihat, Vanesa cukup senang karena mendapat pesan dari Nafsah, tapi ketika melihat isi pesan tersebut dirinya menghela nafas kecewa.
' Kak Vanesa... aku mau minta maaf, malam ini Nafsah sama kak Hasby gak bisa pulang, soalnya udah kemaleman, terus aku juga ada kerja kelompok sama temen sekelas, di tambah kakak punya urusan sama om Bayu dan gak bakalan pulang selama dua hari...' ( isi pesan ).
" Hm... terus gua dirumah sendirian gitu dua hari kedepan? ya kali?... ".
tidak lama setelah Vanesa berkata seperti itu, Nafsah kembali mengirimkan pesan susulan.
' Kalau kakak bosen, kak Vanesa bisa baca buku-buku aku kok. Di kamar deker lemari, di sana ada banyak novel yang bisa kakak baca...dan juga aku bakalan pulang kok besok sore, jadi maaf ya buat kakak kerepotan '.
' Iya... kamu baik-baik aja di sana ' ( balas Vanesa ).
mengetahui bahwa malam ini ia akan sendirian, Vanesa berniat untuk mengambil buku yang disarankan Nafsah, mungkin dengan membaca, rasa bosannya akan hilang.
Membuka pintu kamar Nafsah yang tidak di kunci, ini adalah pertama kalinya ia ke kamar adiknya Hasby, walaupun sudah hampir sebulan Vanesa tinggal disini, tapi untuk masuk ke kamar Nafsah mungkin baru kali ini.
dirinya saat itu mendekati sebuah rak buku yang lumayan besar, terdapat berbagai macam judul yang ia lihat. Dinilai olehnya, Nafsah ini merupakan gadis yang gemar membaca, apalagi novel, karena terlihat sebagian besar buku disini adalah novel.
Tanpa disengaja olehnya, Vanesa melihat sebuah foto berbingkai di atas meja belajar. Di dalam foto tersebut, ada sekitar 4 orang yang sedang duduk bersama di sofa, dua diantaranya anak kecil yang satu laki-laki dan satu lagi perempuan, sementara dua lagi sepertinya orang tua dari anak kecil tadi.
Vanesa mengira mungkin ini foto keluarga Hasby dan Nafsah, agak heran ketika terfokus pada gambar anak laki-laki yang diketahui sebagai Hasby, ia merasa familiar ketika melihat wajahnya.
" Kok kayak yang pernah liat gini ya? " ucapnya.
tidak memikirkan lebih jauh, Vanesa memilih untuk langsung keluar dari kamar Nafsah, berlama-lama di kamar orang lain membuat ia kurang nyaman, terlebih hal itu memang tidak sopan dilakukan.
***
Keesokan Harinya, pukul 05:00 pagi...
" Kak, kayaknya aku bakalan numpang di hotel tempat kak Savira deh, kalau pulang sekarang gak keburu soalnya...". ucap Nafsah.
" Ya udah... tapi si Savira sama yang lain pada kemana ya? tumben tu anak gak keliatan " tanya Hasby.
" Tadi bilang nya sih mau solat di mushola, tapi ini udah lama lho... ".
__ADS_1
" Mungkin mereka lagi nyari makan, kamu juga belum makan kan? ".
" Iya, tapi entar aja... nunggu mereka dateng ".
saat ini, Hasby telah sadar sejak beberapa jam yang lalu, dengan ditemani adik dan ketiga kawannya, Hasby melewati rasa sakit meski hanya diperlihatkan di depan Nafsah saja.
ketika pertama kali membuka mata, Hasby merasakan kepalanya seolah ditusuk oleh belasan jarum, tapi ketika melihat teman dan adiknya khawatir, jadi ia bersusah payah untuk menahannya.
Selepas kepergian Savira, Ardi dan Firdan untuk beristirahat, itu pun karena didesak olehnya. Kondisi yang mulanya stabil menjadi buruk, yang awalnya rasa sakit masih bisa ditahan, kala itu malah bertambah sakit dan tidak bisa ditahan.
Nafsah sempat menangis, tapi melihat kakaknya masih bisa tersenyum dan mengelus kepalanya, gadis itu hanya bisa menunggu dan memanggil Rafa agar tidak terjadi sesuatu.
~
" Em... ngomong-ngomong... kita kan kemaren gak pulang, kamu ngomong apa sama Vanesa? ".
" Aku sih bilangnya kalau kamu ada kerjaan sama om Bayu, terus kalau aku ada kerja kelompok, ya... walaupun emang bener sih aku ada kerjaan sama Zyan ".
" Zyan... temen kamu yang tomboi itu ya? ".
" Iya... ".
Hasby hanya mengangguk mendengar ucapan Nafsah, sambil mendengarkan adiknya berbicara mengenai Zyan temannya itu, Hasby terlarut dalam pikiran nya sendiri. Teringat dengan pekerjaannya baru, ia baru sadar bahwa hari ini adalah hari pertama ia bekerja di perusahaan Nur, ya itu perusahaan nya Jordan.
" Nafsah, hp kakak mana? ". tanya Hasby.
" Oh... ada, tapi lagi di isi daya ".
" Tolong ambilin, aku mau nelpon ayah angkat ".
" Ayah angkat? kamu mau ngapain nelpon dia? ".
" Seharusnya sih hari ini itu hari pertama Kakak kerja, tapi kan kondisi aku kayak gini, jadi walaupun kurang enak, tapi aku harus minta izin dulu sama dia buat undur masuk kerja ". ucap Hasby menjelaskan.
" Em... ya udah, bentar... aku ambil dulu hp nya ". ucap Nafsah sambil beranjak dari kursi tempat ia duduk.
___________________________________
jumpa di chapter selanjutnya.....
__ADS_1