
keberadaan Syam di dekatnya, membuat Vanesa tidak lagi nafsu untuk makan, sehingga ia segera memanggil pelayanan.
" Totalnya berapa mba?... " tanya Vanesa pada salah satu pegawai.
" Jadi semuanya °°°° rupiah nona... "ucap pegawai itu.
Vanesa kini mengambil beberapa uang yang ada di dompetnya. " Ambil aja kembaliannya... " ucap Vanesa sambil beranjak pergi.
pegawai yang tadi melayani Vanesa tidak lupa mengucapkan terima kasih padanya, sedangkan Syam sekarang ini hanya duduk terdiam dengan keadaan wajah kusut. Walaupun ia memang mengira bahwa Vanesa akan bersikap dingin padanya, tapi Syam sendiri tidak menyangka bahwa Vanesa bahkan tidak berniat ngobrol atau sekedar bertanya padanya.
" Tunggu aja Vanesa...aku pastiin bahwa ada saatnya nanti, kamu bakalan maksa buat jadi pacar aku... " ucap Syam tersenyum jahat.
°°°
" Kamu gak papa kan? " tanya Nafsah pada Hasby yang sedari tadi selalu memegang kepalanya.
" Gak papa... cuma pusing dikit " ucap Hasby.
Saat ini, Nafsah, Hasby serta yang lainnya sedang istirahat setelah mendekor aula untuk perjodohan nanti, walaupun hanya mendekor, tapi pekerjaan ini memerlukan beberapa orang untuk melakukannya.
Zihan saat ini sedang berada di kamarnya, beberapa waktu lalu Jordan pulang lebih awal karena ingin membantu juga, namun ia istirahat sejenak sebelum bekerja, beda halnya dengan Ajril dan Afdal yang sedang mengobrol, Sri saat ini sedang memasak untuk makan siang, ia tidak sendiri, melainkan dengan beberapa koki yang tidak lama ini di pekerjakan oleh Zihan dan Jordan.
melihat dari bertambah nya orang yang kini berada di rumah, Zihan berinisiatif untuk mempekerjakan beberapa koki untuk membantu Sri. Sekitar 1 jam berlalu, hidangan yang sudah Sri dan lainnya masak sudah selesai, hidangan tersebut dibagi menjadi dua bagian, yang satu bagian untuk para pegawai di luar, dan yang bagian lain untuk Keluarga.
biasanya sih kalau orang lain hanya akan memberi makanan warung untuk para pegawai, tapi Zihan melarang hal itu kepada Sri karena ragu akan kebersihan makanan yang ada di luar, sehingga ia menyuruh Sri untuk sekalian membuat makanan untuk pegawai.
" Hm... Vanesa kok belum dateng ya... " ucap Zihan.
" Bentar lagi mungkin dia bakalan dateng bu... " ucap Jordan.
" Hah?, ayah tau dari mana?... ".
" Tadi Body Guard yang mata-matain Vanesa nelpon, kalau dia sekarang ini lagi di perjalanan... ".
" Dia sekarang gak papa kan?... ". tanya lagi Zihan.
" Dia gak papa, tapi... ayah dapet info kalau dia ketemu orang brengsek itu... ".
mendengar hal itu, Zihan tersedak makanannya dan memaksa Nafsah yang paling dekat untuk mengambil air minum untuknya.
" Tolong ibu minum dulu... ". ucap Nafsah sambil menyodorkan gelas.
" Uhuk, uhuk... makasih ya... ".
Setelah merasa lebih baik, Zihan kini bertanya lagi pada Jordan. " Dia gak ngapa-ngapain Vanesa kan? ".
" Enggak, cuma sekedar tanya doang, untungnya Vanesa gak respon, malah katanya keliatan risih pas dia dateng... ".
" Huh... bagus deh, kalau gitu...mungkin Vanesa udah lupain___... " Zihan menghentikan ucapannya ketika menyadari bahwa Hasby dan Nafsah sedang menyimak pembicaraan dirinya dengan Jordan, walaupun mereka berhak tau mengenai hal ini, namun tetap saja sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memberi tahu mereka tentang masa lalu Vanesa, sehingga Zihan saat itu berniat mengakhiri pembicaraan.
" Hehe... maaf ya, ibu kurang sopan karena ngomong pas lagi makan... " ucap Zihan.
" Eh, gak papa bu... kalau ibu mau lanjut ngobrol juga gak papa, malah kita yang seharusnya minta maaf, karena... gak sengaja dengerin percakapan kalian " ucap Hasby.
" Ini juga salah saya, kalian gak perlu minta maaf... mending enaknya kita lanjutin makan aja... " ucap Jordan.
" Iya tuan... " ucap Hasby dan Nafsah bersamaan.
" Bentar, bentar, bentar... kok kalian manggil saya tuan sih?, sedangkan kalian ngomong ke istri saya pake panggilan ibu?...".
sejak awal, ia mendengar Hasby dan Nafsah memanggil Zihan dengan sebutan ibu, jadi ia mengira bahwa keduanya sudah menerima mereka sebagai orang tua, tapi ia sedikit terkejut ketika adik kakak ini memanggilnya masih dengan sebutan tuan.
" Oh, kita lancang ya?... maaf, kalau begitu saya panggil nyonya___...".
" Maksud saya bukan begitu Hasby... " ucap Jordan menyela ucapan Hasby.
__ADS_1
" Hm... terus apa tuan? ".
Jordan kini menjelaskan pada Nafsah dan Hasby bahwa maksud ia berkata seperti itu karena ia ingin dipanggil dengan sebutan ayah, jika Zihan saja sudah mereka panggil dengan sebutan ibu, otomatis kan mereka juga harus memanggil Jordan layaknya orang tua sendiri.
" Oh, maaf kalau begitu... kita jadi salah paham sama tu... maksud saya sama ayah... " ucap Hasby.
" Nah... gitu dong, kan enak di dengernya... ".
Nafsah dan Hasby menghela nafas lega bersamaan, mereka sempat berpikir bahwa Jordan merasa terganggu dengan panggilan mereka kepada Zihan, namun tak disangka malah dirinya pula yang ingin dipanggil dengan sebutan ayah agar mempererat hubungan.
waktu makan masih panjang, namun secara mendadak Hasby menghentikan gerakan tangannya yang membuat Nafsah dan yang lain sedikit heran.
" Kamu kenapa berenti Hasby?, apa makanan ini bukan seleranya kamu?... " tanya Jordan.
Hasby terdiam sejenak sebelum menjawab. " Eng... enggak kok, Hasby cuma... cuma inget sama satu hal yang harus Hasby kerjain, jadi saya mohon undur diri dulu... " ucapnya sambil berdiri.
" Hah?... emangnya kamu punya urusan apa?, kira kira pergi ke tempat jauh gak?, nanti biar saya panggilin Afdal buat anter... ".
" Eh, gak usah ayah... Hasby gak bakalan pergi ke mana-mana kok, cuma mau pergi ke halaman depan doang... ".
" Oh... kirain saya kamu bakalan pergi ke luar ". ucap Jordan.
Setelah mendapat persetujuan dari ayah angkatnya, Hasby kini beranjak keluar setelah memberi isyarat mata pada Nafsah, seharusnya sih Nafsah akan pergi beberapa menit lagi setelah menerima kode itu, namun tingkah keduanya ini ternyata sudah diketahui oleh Jordan dan Zihan sejak Hasby pertama kali berdiri.
" Jangan bilang kalau kamu juga bakalan ada urusan... " ucap Zihan tiba-tiba.
sedikit terkejut bahwa Zihan mengetahui rencananya, Nafsah kini memilih untuk berpura-pura." Em... enggak kok bu, aku malah masih mau lanjut makan..." ucap Nafsah tersenyum canggung.
" Bagus kalau begitu, kamu jangan terlalu ngikutin sikap kakak kamu ya... " ucap Jordan.
" Iya bener, dia itu selalu ngerasa sungkan sama kita berdua, padahal udah mau jadi calon menantu... tapi sikapnya masih gak jauh beda kayak dia lagi kerja dulu... " kali ini Zihan yang berucap.
Nafsah hanya menanggapi keduanya dengan senyum canggung, sebenarnya ia sedikit khawatir karna harus lebih lama berada di sini, dirinya sejak awal sudah tahu bahwa alasan Hasby keluar karena penyakitnya itu sepertinya kambuh lagi.
°°°
' hm... akhir akhir ini banyak pegawai di rumah, pasti mereka kerja buat ngedekor aula... ' Batin Vanesa ketika keluar dari mobil.
Setelah Vanesa menghindar dari Syam, ia pun langsung pergi menuju kediaman Lits, bertemu dengannya membuat kenangan yang pernah ia jalani dulu terus tergiang dikepala, sehingga membuat dadanya terasa sakit dan menangis setelahnya.
perlu waktu beberapa menit untuk Vanesa mengendalikan ekspresinya, sekitar 20 menit dari situ, ia pun sampai di rumahnya dan melihat banyak orang yang sedang bekerja.
Vanesa hendak masuk ke dalam rumah, namun ketika itu ia menemukan seorang laki-laki sedang bersandar pada tiang dengan posisi membelakangi nya, dilihat dari belakang sih mirip sekali dengan Hasby, apalagi postur tubuhnya, walaupun Vanesa hanya mengingat secara kasar.
" Heh, Hasby... lo ngapain berdiri disini?... " tanyanya.
laki-laki itu kini berbalik ke arah Vanesa dan kemudian tersenyum, sebelumnya sih Vanesa bersikap biasa saja, tapi setelah melihat wajah pria itu, ia tercengang sampai tidak berkata kata.
" Nona, em... nona kenapa bengong " ucap laki-laki itu yang diketahui sebagai Hasby.
Walau sudah beberapa kali Hasby memanggil manggil nama Vanesa, namun wanita ini masih mematung sambil terpaku melihat wajahnya, sehingga memaksa Hasby untuk menepuk pundak Vanesa.
" Nona... nona kenapa? " ucapnya.
tepat setelah Hasby memegang pundak Vanesa, wanita ini pun tersadar dari lamunannya. pertama Vanesa menengok ke arah pundaknya yang terdapat tangan Hasby, dan kini menuju wajah pria di hadapannya, dan sekali lagi Vanesa terdiam sejenak.
" KYAAAAAA!!!!!!...... ".
Suara teriakan Vanesa sangatlah keras, sampai sampai telinga Hasby menjadi sakit karena itu, bukan hanya berteriak, karena kaget ia juga mendorong Hasby sampai kepalanya terbentur ke tiang agak keras.
" Lo siapa?!... kenapa ada rumah gue?!, mau nyuri lo ya?!... " ucap Vanesa setengah teriak.
Hasby tidak langsung menjawab karena kepalanya terasa pening, ia terlebih dahulu menstabilkan keseimbangan tubuh agar tidak jatuh.
" Nona...nona jangan salah paham dulu, ini saya Hasby..." ucap Hasby yang masih memegang kepalanya.
__ADS_1
" Jangan boong!, lo kira gua **** ya?!... Hasby itu mukanya jelek tau, gak mungkin ganteng kayak lo... " ucap Vanesa.
Hasby merasa tertusuk ketika mendengar perkataan Vanesa tadi, walaupun ia tahu kalau dirinya yang sekarang lebih tampan, tapi mendengar langsung ucapan itu dari mulut Vanesa, dirinya sedikit tersinggung.
' Apa gua sejelek itu ya di mata dia?... ' Batin Vanesa.
" Pokoknya sekarang lo harus pergi dari sini!, kalau enggak gua panggil satpam ni..".
" eh?, tapi nona... ".
°°°
Teriakan Vanesa tadi, membuat sebagian para pekerja termasuk orang yang berada di dalam, keluar untuk melihat situasi, mendengar suara dari nona muda keluarga ini berteriak, semua orang merasa panik karena takut terjadi sesuatu dengan dirinya.
" Vanesa... kamu kenapa teriak?... " ucap Zihan yang di belakangnya terdapat Nafsah, Jordan serta Sri dan Afdal.
" Kamu gak kenapa-napa kan?, apa ada orang jahat yang nyakitin kamu? " kami ini Jordan yang bertanya.
" Ayah, ibu... liat orang ini, dia mau ngelakuin hal yang jahat di rumah kita bu!... " ucap Vanesa.
Zihan serta yang lainnya ini melihat ke arah Vanesa menunjuk, di sana hanya ada Hasby yang berdiri dengan ekspresi sedang ling lung, dan tidak menemukan orang yang dimaksud Vanesa.
" Em... orang nya mana sayang?, kita gak liat siapa-siapa kok..." ucap Jordan.
" Ayah masa gak liat sih?!, orangnya itu yang di deket tiang... ".
sekali lagi Jordan dan yang lain melihat ke arah Hasby. " Tunggu dulu... maksud kak Vanesa itu kak Hasby bukan? ". ucap Nafsah.
Vanesa terdiam sejenak, mendengar perkataan Nafsah kalau pria yang selama ini ia anggap pencuri adalah Hasby, seketika wajah Vanesa merona, tapi entah apa penyebab wajahnya ini memerah.
" Kamu bilang dia Hasby?... "tanya Vanesa sambil menunjuk Hasby tidak percaya.
" Ya iyalah... emangnya diapa lagi? " ucap Zihan, Jordan dan Nafsah bersamaan.
" Tapi, tapi... kok jenggotnya gak ada?!, terus... kok, dia... ". Vanesa berbicara dengan terbata Bata, terlihat jelas bahwa dirinya sangat tidak percaya dengan penampilan Hasby saat ini, hal itu membuat orang tuanya serta yang lain menjadi tertawa.
" Hahaha... Vanesa, ini beneran Hasby, ibu sama ayah juha awalnya kaget waktu pertama kali liat dia... gimana? xalon suami kamu ganteng kayak opa korea kan? " ucap Zihan.
Walau masih tidak percaya, Zihan dan Jordan berkata juga pada Vanesa bahwa alasan mereka mengirim pesan padanya untuk pulang bertujuan membicarakan tentang hal ini, yaitu penampilan Hasby yang baru, karena takut Vanesa akan merasa asing seperti tadi.
Beberapa menit kemudian, setelah Zihan dan Jordan mengatakan apa yang ingin mereka sampaikan pada Vanesa, setelahnya mereka pun kembali ke dalam rumah serta para pekerja pun meninggalkan lokasi, terkecuali Hasby dan Nafsah.
" Kakak gak papa kan? aku merhatiin dari tadi kayaknya kepala kakak sakit banget... " ucap Nafsah khawatir setelah tinggal mereka berdua.
" Ini awalnya gak terlalu sakit... tapi tadi pas kebentur jadi pening banget... ".
" Emang kebentur kenapa? ".
" Nanti aja jelasinnya, coba kamu periksa bentar, kok kepala aku jadi lengket gini sih?... ".
sesuai permintaan Hasby, Nafsah kini mulai memeriksa kepala kakaknya, mula mula ia bersikap biasa saja, tapi setelah mengamati lebih lama, Nafsah terkejut karena kepala Hasby mengeluarkan darah.
" Kak... kepala kamu berdarah!... " ucap Nafsah terkejut.
" Shut.... jangan keras keras ngomongnya... ".
" Tapi___.....".
" Kamu gak perlu khawatir, aku bakalan bersihin darah ini, cuma sebisa mungkin cari alasan kalau ada yang nyariin aku, mau itu aku lagi kerja ke lagi ada urusan ke, pokoknya jangan sampe ada yang liat kakak... ".
Nafsah mengangguk setelah mendapat instruksi dari Hasby.
________________________
hehe.... jangan lupa dukung author ya... dengan cara like, komen, rate, favorit dan kalau berkenan Vote, karena dukungan kalian sangat berharga...
__ADS_1