
Setelah itu, Vanesa dan Hasby masuk ke dalam rumah keluarga Lits sambil membawa semua barang belanjaan. Sedikit berbaik hati untuk kali ini, Vanesa membiarkan Hasby hanya membawa sedikit barang saja, ia mengetahui bahwa terlalu banyak membawa beban berat akan berdampak buruk pada luka yang pemuda ini alami.
" Hm... kamu gak papa bawa banyak barang kayak gini?, kalau mau biar aku bantu ya ". ucap Hasby.
" U... udah gak usah, bia...rin gua yang bawa, lagian luka lo kan... belum sembuh ". ucap Vanesa sedikit susah berbicara karena gerak tubuhnya yang terbatas.
" Tapi___...".
" Gak ada tapi-tapi... bentar lagi juga... nyampe kok ". Walaupun sedikit memaksakan diri, namun menurut Vanesa ini tidak terlalu buruk, jika dibandingkan dengan Hasby yang waktu itu membawa banyak barang, sepertinya bawaan Vanesa ini hanya setengahnya saja.
Vanesa memanggil-manggil nama Afdal ketika dirinya sudah berada di dalam rumah, bukan Afdal yang datang saat itu, melainkan Sri lah yang menghampiri Vanesa.
" Nona... nona kenapa baru pulang?, tuan sama nyonya khawatir mikirin nona tau ".
" Tadi di jalan ada kendala... em, Afdal mana bu? ".
" Emang kenapa nyari dia non? ".
" Ini... tolong kasih tau dia supaya bawa barang-barang ini ke kamar ibu ".
" Em... tapi Afdalnya lagi gak ada non?".
" Hah? gak ada? emang dia kemana? ".
" Emang dia gak kasih tau nona ya?, kan dia izin beberapa hari karena ayahnya sakit ".
baru teringat kalau Afdal sedang cuti hari ini, Vanesa menghela nafas serta mengusap wajah kasar, jika dia bisa menyalahkan Afdal untuk kejadian hari ini, Vanesa akan langsung menuduh pemuda itu karena telah membuatnya dalam kesulitan.
jika saja Afdal tidak izin dan menjemputnya segera ke mall tadi, pasti saat itu Vanesa tidak akan mengalami kecelakaan dan yang pasti Hasby juga tidak akan terluka dan mungkin sedang berkumpul dengan adik dan teman-temannya sekarang.
" Hah... gak papa bu, barangnya taro sini aja.. nanti biar suruh pak Ajril aja lah... oh iya, ngomong-ngomong pak Ajril nya mana? kok dia gak keliatan si pas kita masuk tadi ". Tanya Vanesa.
" Hm...mungkin lagi di kamar kecil kali non ".
__ADS_1
" Ya udah kalau gitu...aku mau mandi dulu, terus... lo mau makan dulu gak?". ucap Vanesa kali ini bertanya pada Hasby.
" Saya gak laper non, mending nona dulu aja yang makan".
" Gua mau mandi dulu, nanti nyusul... dan lagi... lo kenapa manggil gua gitu lagi? ".
" Manggil gitu lagi gimana non? ".
" Ya tadi... kenapa lo manggil gua nona lagi?, udah dibilang juga... ".
" Oh... iya, Vanesa... ".
Setelah itu, Vanesa memberi Sri tugas yang lain kepadanya, yaitu agar dia menyiapkan air panas untuk Hasby mandi dan membuat makan malam untuk mereka berdua makan.
sedikit tidak percaya ketika Sri mendengar bahwa Vanesa menyuruh ia membuat makanan untuk Hasby, bukan karena tidak sanggup memenuhi permintaan nonanya, namun kali ini Vanesa kenapa bersikap baik terhadap Hasby?.
Vanesa yang ia kenal 2 tahun ke belakang bukan orang yang perhatian, tidak memikirkan orang lain, dan hanya ingin memiliki kehendak sendiri serta apapun yang ia inginkan dan ucapkan harus dilaksanakan.
Tapi entah apa yang merasuki Vanesa hari ini, dirinya bersikap sedikit lembut namun terkesan datar, dan saat itu juga ia memperlihatkan perhatiannya pada Hasby, apalagi beberapa waktu lalu Vanesa menyuruh pemuda ini untuk memanggil namanya secara langsung, itulah yang ada di pikirin Sri kali ini.
" Gak, lo tetep harus makan dulu, kalau udah baru gua biarin pulang... ".
" Tapi aku masih kenyang ".
" Gua tau lo belom makan, mending sekarang ikutin aja omongan gua... mandi dulu biar badan lo bersih, abis itu makan terus boleh pulang ".
" Tapi Van__... "
" Gak ada tapi-tapi, cepet masuk sekarang... buat malam ini lo tidur di kamar tamu, kalau Nafsah nelpon kenapa lo nginep di sini biar gua yang jelasin sama dia ".
" Huf...hah...iya ".
dengan keadaan terpaksa, Hasby kini berjalan menuju kamar tamu, sedikit khawatir jika Nafsah akan meneleponnya karena tidak pulang malam ini, Hasby mempercayakan Vanesa untuk bisa menanganinya dimana saat Nafsah akan ragu dengan penjelasannya.
__ADS_1
berbeda dengan Hasby yang pergi dari tempat sebelumnya, Sri hanya diam mematung sambil menatap lekat wajah Vanesa dengan ekspresi tidak percaya, hal ini sedikit mengangu bagi Vanesa, sehingga dirinya pun mulai menyadarkan Sri.
" Bu Sri kenapa ngelamun disini? "
sedikit kaget mendengar Vanesa memanggil dirinya, Sri saat itu pun bingung dan lupa apa yang telah dikatakan Vanesa beberapa waktu lalu." Em... maaf non, tapi nona nyuruh saya apa ya?".
" Ya ampun... sekarang bu Sri siapin air anget buat Hasby mandi, abis itu bikin kita makan malem ya... ".
" Oh... hehe, iya non... kalau begitu saya pamit dulu ".
setelah itu, Sri meninggalkan Vanesa di ruang tamu menuju dapur, saat ini ia salut terhadap Hasby, baru saja kemarinnya mereka bertunangan, sifat Vanesa sudah sedikit berubah ketika hubungan keduanya semakin dekat.' Moga aja sikap nona yang dulu bisa balik lagi... '. Batin Hasby.
°°°
Daniel dan dua anak buahnya yang lain sekarang sedang berlutut di depan seorang pemuda, dilihat dari raut wajah pemuda itu, sepertinya dia sedang marah, dan laki-laki ini kita ketahui sebagai Syam, mantan pacar Vanesa.
" Lo tau kan apa kesalahan lo Daniel? ". ucap Syam dengan nada mengintimidasi.
Sedikit berkeringat dingin, Daniel berbicara dengan nada yang bergetar namun tidak gelagapan." Saya tau salah saya tuan... ".
" TERUS KENAPA LO GAK MERIKSA CEWEKNYA SIAPA?!!!! " ucap Syam dengan keras sambil memukul meja.
suasana semakin hening ketika Syam meninggikan suaranya, misi yang Daniel rencana tadi sore memang sedikit kurang berhasil. Walaupun begitu, Syam sedikit puas ketika melihat Hasby terluka oleh rencananya, namun setelah tau kalau identitas wanita yang bersamanya terungkap, Syam marah besar kepada Daniel karena tidak dulu mencari tahu siapa wanita itu.
kenyataannya, wanita yang dibawa oleh Hasby tidak lain dan tidak bukan adalah wanita yang selama ini ingin ia dapatkan kembali, yaitu Vanesa.
" Ma... maaf tuan muda, awalnya kita mau meriksa dulu siapa wanita itu, tapi tuan___..." Sebelum kalimat Daniel berakhir, Syam terlebih dahulu menatapnya sinis, sehingga saat itu Daniel tidak melanjutkan kata-kata nya.
" Gua kasih lo sama mereka keringanan, gua tau kalau ini emang ada sedikit kesalahan dari gua, jadi gua ma'lumin ...".
' Sedikit kesalahan?, dia bilang sedikit?!, emang rese ni orang... kalau bukan karena tua besar Barah itu bokapnya, gua udah bunuh dia dari dulu... '. Batin Daniel.
___________________
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author ya...
jumpa di Chapter selanjutnya...