Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
94# Kebenaran dibalik sebuah kejadian


__ADS_3

Menghabiskan apa yang ada di mangkuk sampai tak tersisa, Vanesa senang melihat nafsu makan Hasby yang baik, tidak seperti respon yang sebelumnya saat Ia baru pertama kali membuat bubur, pemuda yang ada di depannya ini nampak menikmati makanannya.


“ Gimana? Apa kamu mau nambah lagi? “ tanya Vanesa.


“ Gak usah, aku udah kenyang, makasih ya buburnya... aku gak nyangka bakalan seenak ini “ ucap Hasby takjub.


“ Ya ampun... Cuma bubur doang lebay amat si bang...”


“ Lah... tapi serius Van, ini enak banget “


“ Iya, iya... terserah kamu aja deh”


Tidak terlalu serius menanggapi, Vanesa meletakan tangannya ke kening Hasby untuk mengecek suhu tubuh, tidak terlalu panas tapi Ia harus tetap merawatnya takut-takut demam yang seperti kemarin malam akan kembali.


Di sisi Vanesa, saat ini entah kenapa dirinya merasa bahwa keberadaan Hasby yang sehat dan sering bicara membuatnya senang, berbeda dengan kemarin malam, perasaannya ketika didepan Hasby yang buruk sangatlah membuatnya histeris, tidak cukup dengan kata khawatir, hati Vanesa seolah tercabik-cabik dicampur dengan perasaan takut kehilangan yang kuat, bahkan saat mengubrak-abrik barang Hasby untuk mencari obatnya, Vanesa berpikir untuk mengakhiri hidup jika sampai Hasby kenapa-napa.


Setelah dipikir-pikir kembali, rasa yang saat ini muncul mirip sekali dengan apa yang dulu pernah Ia rasakan dan tujukan kepada seseorang, senang melihat orang itu ceria, sedih saat dia menderita, meskipun begitu Ia tidak terlalu yakin tentang rasa apa yang sekarang ini Ia tujukan kepada Hasby, apakah perasaan simpati sejenak, atau mungkin...mungkin... ya! Perasaannya saat ini adalah itu!... rasa yang pernah Ia tujuan kepada orang yang salah, bukan hal lain lagi, ini adalah Cinta!, benar, tidak salah lagi.


Wajar saja orang akan khawatir jika didepannya terdapat orang yang sedang sekarat, namun beda halnya dengan Vanesa yang bahkan sempat berfikir untuk menyakiti dirinya sendiri jika sesuatu hal buruk terjadi pada Hasby, kalau dipikir dengan akal sehat, bukankah itu hal yang gila.


Mungkin keberadaan pria yang selalu menemaninya sudah diterima oleh Hati Vanesa, tidak hanya senang, Vanesa bersyukur kalau orang yang dicintainya saat ini adalah Hasby, mengingat Vanesa merupakan tipe individu yang akan menyayangi orang terkasih dengan tulus, kini Ia bertekad untuk membantu dan menjaga Hasby untuk kedepannya.


“ Kamu kenapa ngeliatin aku sambil senyum gitu?... “. tanya Hasby.


" Hm? apa? "


" Apa jangan-jangan... kamu terpesona ya... ". ucap Hasby usil.


“ Kepo... “


“ Dih?, kok jawabnya gitu... kamu beneran terpesona kan... wajar sih, orang seganteng aku mana ada yang gak tertarik “


“ Hehe.. iya, iya, aku terpesona... terus kenapa? “ Ucap Vanesa memiringkan kepala dengan senyum jahil tak terlihat.


Sontak, jantung Hasby seolah terhenti mendengar perkataan Vanesa yang selama ini belum pernah Ia dengar selama setahun kebelakang, bahkan membayangkannya pun tidak pernah terpikirkan, apa-apaan itu?!, dia terpesona padanya? Vanesa yang dingin itu?!.


“ Hah?... Kamu gak papa kan Vanesa? “ Ucapnya yang kini berbalik memegang kening Vanesa.


“ Emang aku kenapa? “ kembali bertanya, Vanesa mencari alasan dari pertanyaan yang Hasby lontarkan barusan.


Tidak dapat berkata-kata, saat ini Hasby dilanda kebingungan melihat sikap Vanesa yang sama sekali berbeda dengan biasanya, tidak hanya berhenti mengumpat, Ia juga bersikap sangat baik, bukan lagi menjadi nona yang suka memerintah dan mengumpat, tapi sikapnya lebih mirip Nafsah, lembut dan perhatian. Cukup aneh, apakah Vanesa menunjukan sikap seperti ini karena ada alasan lain, atau simpati karena sejak kejadian kemarin malam.


“ Hei... jangan ngelamun, nanti kesambet lho...“ Ucap Vanesa menyadarkan lamunan pria itu.


“ Ah... maaf, tadi aku mikirin sesuatu “


“ Tentang apa?”


“ Em... tentang... itu... kira-kira aku boleh jujur gak? “ tanya Hasby sedikit ragu mengutarakan isi hatinya.


“ Ya boleh aja... aku juga mau tau alasan kamu bengong tadi, plus muka kamu yang keliatan kaget itu. “


“ Bener ya... kamu jangan marah. “


“ Iya... “


Sempat menghela nafas sebelum berbicara, Hasby menyiapkan mental yang kemungkinan Vanesa akan marah, takut mungkin saja Ia akan menjawab ‘ Kenapa?! Lo gak suka... apa gua kurang perhatian sama lo?...’. mengingat wanita itu adalah makhluk yang sangat tidak ingin mengalah maupun disalahkan.


“ Huf...hah... Gak jadi deh, aku lupa mau ngomong apa saking takutnya dimarahin “


Malah mengeluarkan ekspresi cemberut, dari situ Vanesa tertawa sampai-sampai air matanya hampir keluar, ini adalah momen langka, jarang-jarang Ia dapat melihat ekspresi Hasby yang seperti ini. Berbeda dengan Vanesa yang sedang menikmati betapa lucunya dia, kini pria itu sendiri malah lagi-lagi dibuat bingung, tapi entah kenapa ada perasaan senang yang terselip dihatinya ketika melihat moment tersebut.

__ADS_1


“ Kamu apa-apaan sih... ya kali saking takutnya sampe lupa mau ngomong apa... “ Ucap Vanesa masih terkekeh.


“ Ya emang nyatanya gitu, mau giman lagi? “


Tidak berhenti, tawa Vanesa malah memanjang ketika mendengar ucapannya, semakin lama dilihat, entah kenapa Hasby nampak menikmati tawa Vanesa yang ada di hadapannya itu, Vanesa yang baik dan terbuka, sungguh membuat hatinya hangat.


“ Lama-lama jadi nyandu juga sama ketawa kamu Van... “ Ucap Hasby dengan posisi tangan menopang dagu.


“ Eh? “


Blus


Seketika tawa Vanesa terhenti disertai pipinya yang berubah menjadi merah merona, bak di sambar petir siang bolong, ucapan yang keluar dari mulut Hasby itu adalah yang pertama kalinya Ia dengar, mungkin ini salah sendiri juga, jika Vanesa saat ini tidak banyak tertawa pria itu pasti tidak akan mengucapkan hal tersebut, bahkan mungkin akan mengucapkan hal lain seperti ‘ Kamu kenapa Vanesa...? kerasukan jin ya? ’.


“ Cie... yang merona... uhuk, kamu malu ya...” ucap Hasby menggoda Vanesa.


Saat perasaan malu dan kesal bercampur aduk, Vanesa mencubit pipi kanan Hasby lumayan keras sehingga pria itu meringis kesakitan. Tidak sampai situ, Vanesa menarik separuh rambut Hasby yang membuatnya mengikuti arah tanggan Vanesa agar tidak terlalu sakit.


“ Aduh, aduh, aduh... kamu jahat banget si sama suami, perasaan tadi kamu baik banget deh “ Ucap Hasby usai Vanesa melepaskan cubitan dan cengkramannya.


“ Kamu sih... salah siapa coba bikin orang salting, emang diledek kayak gitu enggak malu apa?, kalau cowok sih enggak bakalan mempan, tapi cewek kan beda “


“ Iya, iya... maaf deh... tapi jarang-jarang lho liat kamu tersipu kayak gitu... apa jangan-jangan... kamu udah suka sama aku? Wah... aku bakalan bangga banget kalau nona dingin ini beneran udah takluk... “


“ Kalau iya kenapa? “


Saat masih berusaha membuat Vanesa kesal, hal yang diucapkan oleh wanita tadi membuat Hasby membeku diam seribu bahasa, apa-apaan kata itu?, bukankah itu adalah pertanda lampu hijau?, seorang pria sepertinya sudah pasti tahu mengenai maknanya.


“ Kamu serius Van?...” Tanya Hasby dengan wajah tercengang.


Tidak menjawab, Vanesa tersenyum dan malah pergi mendekati perapian, lebih tepatnya api dari kompor portabel yang ia nyalakan untuk merebus air. Ingin mengejar tapi ketika Hasby hendak berdiri, kepalanya terasa pusing sampai membuat dirinya kembali terjatuh.


sudah menjadi hal umum bagi seorang Hasby yang memiliki istri kontrak dengan karakter yang super bawel dan suka memerintah, tidak hanya itu, jika Ia diusik sedikit saja pasti akan tersulut, tapi apa yang terjadi sekarang ini, dan apa maksud dari perkataannya itu?.


Sebelumnya, meskipun Ia sudah banyak menjalin hubungan dengan wanita, namun terasa berbeda karena pada waktu itu hanyalah perasaan sejenak yang singgah, ditambah itu pun saat Ia masih muda, bukan ke jenjang yang serius, bisa dibilang cinta yang sebelumnya Ia jalani hanyalah cinta monyet semata. Tapi, apa yang dirasakannya pada Vansa berbeda jauh dari kata cinta monyet, ditambah pemikiran Hasby yang sudah dewasa, plus mereka sudah resmi menikah, mungkin hati Hasby sudah mengukir nama Vanesa sebagai cintanya untuk seumur hidup.


Sejak 1 bulan yang lalu, Ia sangat ingin mengutarakan perasaanya yang selama ini dipendam, meski Ia baru menyadari perasaan ini ketika Vanesa membuka hatinya, untuk berani bercerita tentang masa lalunya itu, namun Ia kurang yakin jika cintanya dapat diterima dengan mudah oleh Vanesa, terlebih wanita itu belum terlepas dari masa lalunya yang kelam.


Namun, jika seorang pria sudah mendengar aba-aba dari sang wanita yang mereka sukai, bukan tidak mungkin rasa percaya dirinya akan meningkat dan akan lebih berusaha lagi untuk membuat si wanita jatuh hati lebih dalam, sama halnya dengan Hasby, mungkin Ia mempunyai kesempatan untuk masuk ke hati Vanesa.


“ Vanesa... “ Ucap Hasby yang berusaha berdiri namun terhuyung. Niatan awal Vanesa hendak bergegas menopang tubuh Hasby yang hampir jatuh, namun karena terlambat terhalang oleh jarak yang lumayan jauh, pria itu terlebih dahulu mendarat ke tanah sebelum dirinya sempat membantu.


“ Ya ampun, Hasby... kamu masih sakit, ngapain coba pake bangun segala... nanti kamu kenapa-napa gimana?, sekarang ayo duduk lagi... “


“ Aku gak papa Van... tadi Cuma lemes sebentar, tuh sekarang aku bisa berdiri kan? “.


Memang benar dengan apa yang Ia katakan, pria itu sekarang berdiri tepat di depan Vanesa, meskipun dirinya meminta untuk dia beristirahat, tapi jika pria itu menolak dengan ekspresi memelas, Vanesa mana mungkin menolak Hasby yang sekarang nampak terlihat imut dimatanya.


“ Sebelum itu... aku mau tanya, kamu mau kemana? “ tanya Vanesa


“ Em... pengen jalan-jalan aja mau nyari udara segar, Kamu mau ikut? “


“ Pasti lah, ya kali aku bIarin orang sakit jalan-jalan sendiri “


“ Aku udah sembuh Vanesa...”


“ Kamu masih demam Hasby “


“ Iya deh...” Tidak ingin berdebat dengan wanita disampingnnya, Hasby membiarkan Vanesa untuk ikut keluar.


Saat keluar dari gua, yang lebih tepatnya dinding tebing yang cekung kedalam, Hasby disambut dengan udara yang segar, di tambah pepohonan rindang dan rumput yang tidak terlalu tinggi, Hasby sangat-sangat bersyukur didalam hati karena telah diberikan kesempatan untuk hidup didunia ini, mengingat kejadian saat Ia danVanesa jatuh ke sunggai, pikirannya saat itu hanya terfokus kepada sang maha pencipta. Apalah daya jika tidak ada kehendaknya, mungkin jika bukan campur tangan yang maha kuasa, ia dan Vanesa mungkin sudah meninggal dari awal terbawa hanyut oleh sungai.

__ADS_1


Seiring berjalannnya Hasby dan Vanesa meyusuri hutan dan hampir mendekati sungai, tidak seperti apa yang Ia pikirkan diawal, ternyata berjalan dengan keadaan seperti ini cukup cepat membuatnya lelah, untung saja Vanesa stand by berada disamping sambil memapahnya.


“ kamu gak papa Hasby? “ Ucap Vanesa ketika melihat nafas Hasby terengah-engah.


“ Cape juga ya... emang dasar, punya badan keok kayak aku ngerepotin banget, apa kamu gak kesel mapah aku kayak gini? “ tanya Hasby.


Belum juga mendapat jawaban, Hasby menoleh ke kanan tepat dimana Vanesa memapahnya, tapi saat kepalanya menghadap, Ia disajikan dengan pemandangan yang selama ini belum pernah Ia lihat selain wajah Merah merona Vanesa tadi.


‘ Dia beneran Vanesa? ‘


***


Siang, Pukul 13:00...


“ Nafsah, aku nerima sesuatu dari petugas pencarian...” Ucap Ardi yang berada di sisi Firdan mendekat kearah Savira dan Nafsah.


“ Kenapa kak? Apa ada Info tentang ka Hasby sama Ka Vanesa? “


“ Tentang mereka belum ada, tapi kita udah nemuin orang yang nyenggol mereka waktu itu, dia ditanggap di kota sebelah sama polisi utusan Ayahnya Firdan...” Ucapnya.


“ Terus apa katanya? “


“ Masih di ruang introgasi, entah kenapa orang itu gak mau buka mulut di depan polisi “


Hanya bisa menghela nafas, Nafsah dan yang lain memutuskan untuk menunggu hal selanjutnya yang mudah-mudahan kabar baik yang datang, setelah dua hari ditotalkan dengan hari ini, mereka masih belum menemukan tanda kehadiran Hasby dan Vanesa, meskipun kemungkinan mereka ditemukan sangat kecil, namun usaha yang mereka lakukan bisa dibilang sudah maksimal.


Ketika rasa khawatir melanda hati keempatnya, tidak jauh dari tempat mereka kumpul, terparkir sebuah mobil hitam yang nomor pelatnya dikenal oleh Savira.


“ Nafsah, itu bukannya mobil om Bayu ya? “ Melihat kearah pandangan Savira, Nafsah membenarkan bahwa mobil itu benar kepunyaan Bayu.


Sekitar beberapa menit mobil itu berhenti, Keluarlah orang yang ditunggu-tunggu, perkiraan Savira, Nafsah, Ardi dan Firdan memang benar bahwa orang itu adalah Bayu, namun yang membuat mereka heran adalah orang yang menyusul keluar dari mobil itu.


Melihat seseorang yang berjalan di belakang Bayu menuju kemari, entah kenapa Nafsah merasa familIar dengan wajah itu, meskipun begitu, Ia tidak terlalu memikirkan hal tersebut.


“ Assalamualaikum, Nafsah...” Ucap Bayu.


Segera setelah Bayu mengucapkan salam, Nafsah dan yang lain mendekat untuk mencium tangan. “ Gimana situasi sekarang, apa ada kemajuan?” tanya Bayu.


“ Buat saat ini masih sama om... “ Ucap Firdan menjawab.


Tidak terlalu banyak bicara, Bayu hanya bisa berdoa agak mereka dapat segera ditemukan, meskipun ia marah dan khawatirpun tidak ada gunanya, hanya bisa berserah kepada yang maha kuasa agar diberi kemudahan dan ketabahan untuknya dan yang lain. Diam sejenak untuk menghela nafas Bayu mulai memperkenalkan orang yang Ia bawa disampingnya. “ Oh, iya... ini kenalan om, Namanya pak Panji, beliau ini direktur utama dari perusahaan Syah “


“ Salam kenal semua “ ucapnya sambil sedikit menundukan kepala.


Dari penjelasan Bayu, mendengar orang yang dibawanya saat ini adalah direktur perusahaan Syah yang besar itu, Nafsah, Ardi, Firdan dan Savira cukup terkejut mengetahui hal tersebut. Pernah muncul rumor yang beredar, pemilik saham perusahaan Syah ini hanya dipegang oleh keluarga itu sendiri, katanya banyak orang yang yang berbondong-bondong ingin bekerja sama dengan perusahaan tersebut, namun kurang dari 10 Perusahaan saja yang dapat bekerja sama dengan perusahaan ini, terutama group Nur yang dikelola oleh Jordan dan Zihan, dalam persaingan pun, group Nur kalah saing dengan perusahaan mereka, namun untungnya tidak sampai tersingkirkan.


Meskipun tidak tahu alasan utamanya datang kesini, tidak mungkin kan orang penting seperti Panji akan datang ke tempat terjadinya bencana hanya untuk menemani salah satu rekan yang sedang terkena musibah.


“ Om Bayu... daripada ngobrol disini, lebih baik kita pindah tempat aja ya, gak jauh dari sini ada aula kecil, mungkin Om sama beliau mau ngelanjutin obrolan, jadi mari Nafsah kasih ta tempatnya “.


“ Em... sebenarnya om sengaja ke sini mau ngobrol sesuatu sama kamu Naf... “ Ucap Bayu menahan langkah Nafsah.


“ Oh, Om mau ngomongin hal apa? “ tanya Nafsah.


“ Itu... “


Tidak langsung menjawab, Bayu melirik ke arah tiga orang didepannya selain Nafsah, melihat hal itu, Ardi, Firdan dan Savira segera izin undur diri agar tidak mengganggu pembicaraan mereka, karena merasa pembicaraan kali ini penting, ketiganya pergi untuk melihat perkembangan tentang Hasby dan Vanesa lewat tim penyelamat yang mencari mereka.


________________________________________


Maaf ya semuanya... saya Al Setia mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya karena gak update beberapa bulan ini, apa udah hampir setahun ya? Pokoknya, untuk kedepan, aku bakalan rajin deh, dikarenakan nulis cerita ini sendirian karena rekanku yang satu lagi kerja... jadi maaf kalau alur ceritanya sedikit melenceng dan enggak karuan...

__ADS_1


Sekali lagi aku minta maaf ya... pokoknya dukung terus Wanita jutek ku, selamat membaca...


Jangan marah ya...


__ADS_2