
" Udah?..." tanya Hasby pada Nafsah yang terlihat adiknya ini sudah sedikit mengendalikan ekspresinya.
" Iya..." jawab Nafsah.
Hasby melihat Nafsah dengan tatapan rasa bersalah, tujuan ia tidak memberi tahu Nafsah tentang kondisinya berniat untuk tidak membuatnya khawatir, di luar perkiraan Hasby, sebaliknya yang terjadi Nafsah malah lebih khawatir akan keadaannya yang ia sembunyikan, belum lagi Nafsah sempat kaget mendengar Hasby dirawat di rumah sakit.
saat Hasby memandang Nafsah dengan pandangan seperti itu, Nafsah menyadarinya lalu bertanya, " Kamu kenapa liat aku kayak gitu?..." tanya Nafsah.
sebelum menjawab, Hasby menunduk sejenak sambil menghela Nafas " Aku memang kakak yang gak berguna..." ucapnya.
mendengar Hasby mengetakan hal seperti itu, Nafsah sedikit terkejut dan langsung bertanya pada Hasby apa maksud dari kata-katanya.
" Apa maksud kakak ngomong kayak gitu?..."
" Aku emang orang yang gak berguna Nafsah...setiap saat selalu aja nyusahin kamu, buat khawatir kamu, aku rasa...kakak gak pantes disebut seorang kakak..."
selama ini, Hasby memang selalu merasa bersalah pada Nafsah, semenjak orang tua mereka meninggal, Nafsah lah yang saat itu mulai mengurus urusan rumah tangga, dari mulai memasak, mencuci baju, mengemas rumah, semua dilakukan olehnya sendiri, walaupun urusan mencari uang lain hal nya karena Hasby yang mencari nafkah.
saat yang paling Hasby merasa bersalah pada Nafsah, ketika penyakit yang ia derita sedang kambuh. Sering kali, ketika waktu malam kepalanya akan merasa sakit yang hebat, dan pada saat itu juga Nafsah lah yang mengurusnya saat itu, memijat kepalanya, menjaga dia sampai larut malam, bahkan Hasby pernah sesekali melihat Nafsah menangis ketika dia tidak mengetahui dirinya belum tertidur.
" Apa kamu ngerasa bersalah sama aku?..." tanya Nafsah kali ini memegang pundak Hasby.
" Banget...karena aku belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu..."
" Kak...kamu tau gak?...kamu itu kakak yang paling baik sedunia, yang paling hebat dan paling sayang sama adiknya..." ucap Nafsah
" Enggak Nafsah...aku___..." Hasby belum selesai tapi tangan Nafsah sudah menyentuh bibirnya sehingga kata-kata nya tidak terselesaikan.
" Shut....kakak dengerin aku...kamu itu kakak yang baik...asal kakak tau, aku ini bersyukur punya kakak kayak kamu, walaupun kamu tau bahwa kamu itu punya penyakit yang gak gampang orang terima...tapi kamu tetep jalanin hidup dengan normal, walaupun sesekali kambuh, tapi kamu tetep berusaha berjuang, dan kamu berjuang bukan buat diri kakak sendiri...tapi kakak juga berjuang demi aku..." ucap Nafsah
__ADS_1
memang benar, berbeda dari orang lain yang kebanyakan tidak menerima kenyataan pahit atas penyakit yang diderita bahkan ada yang merasa frustasi akan hal itu, Hasby lebih baik menjalani kehidupannya seperti orang-orang normal, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan, beribadah untuk kewajiban, dan belajar di kampus untuk menambah ilmu pengetahuan.
tapi tidak semulus seperti orang-orang normal, sesekali pada saat tertentu, Hasby akan mengalami sakit yang disebabkan penyakitnya kambuh, tidak jarang ia akan terbaring lemah di tempat tidur sambil terus memegangi kepalanya, bahkan jika sudah agak parah, Nafsah akan memanggil Rafa kerumahnya untuk memeriksa Hasby.
walau Nafsah sudah berkata seperti itu, Hasby masih saja tertunduk sambil mencengkram kuat selimut yang ada di sampingnya.
" Aku tau kalau kamu itu kuat...jadi...kakak jangan nyerah gitu aja...masih ada aku buat kamu jaga...kalau kamu gak ada nanti aku gimana?" ucap Nafsah dengan nada yang sendu.
" Iya...iya...aku gak boleh kayak gini...aku harus jaga kamu sebagai seorang kakak, aku ini kuat...penyakit ini gak bisa ngalahin kakak gitu aja, kamu bener Nafsah...kakak gak boleh nyerah..." ucap Hasby yang kembali tersenyum kali ini.
melihat kakaknya kembali tersenyum dan bersemangat membuat Nafsah bahagia saat ini, walau di dalam penderitaan, namun Hasby tetap berusaha bangkit demi dirinya, tanpa Nafsah sadari...dirinya kini meneteskan air mata kembali, namun berbeda dengan sebelumnya, air mata Nafsah lali ini mengandung kebahagiaan.
" Eh? Nafsah...kenapa kamu nangis lagi?...apa kakak buat salah?, apa kakak salah ngomong tadi?...aduh...maaf ya, maafin kakak...kami jangan nangis lagi dong..." ucap Hasby panik melihat Nafsah mengeluarkan air mata lagi.
Nafsah kali ini tertawa walau tidak lepas melihat kelakuan Hasby, air mata yang ia keluarkan adalah kebahagiaan karena melihat kakaknya yang tadi bersemangat, tapi dilihat dari kelakuan Hasby yang seperti itu, Nafsah membenarkan bahwa kakaknya ini salah tangkap mengira bahwa dirinya kembali bersedih.
" Em...apanya yang lucu Nafsah?..." tanya Hasby keheranan.
" Hehe...aku ketawa liat kamu yang lucu..." ucap Nafsah.
" Hah? aku?...emang lucunya kenapa?..."tanya Hasby lagi
Nafsah kemudian menjelaskan bahwa dirinya merasa lucu karena tingkah Hasby, walaupun sering ia melihat hal yang seperti ini pada Hasby, tapi ketika mengingat kembali...dirinya serasa ingin tertawa.
" Jadi...kamu tadi bukan nangis karena sedih?..." ucap Hasby.
" Bukan...aku nangis juga nangis bahagia...bahagia karena ngeliat kakak berusaha bangkit lagi dan lagi..." ucap Nafsah sambil tersenyum.
" Iya...aku bakalan berusaha...penyakit ini gak bakalan ngalangin aku buat ngejaga kamu seumur hidup kakak..."
__ADS_1
" Yang semangat ya kak..."
" Pasti ..."
Nafsah dan Hasby kini merasa senang satu sama lain, jika Nafsah senang karena melihat kakaknya yang kembali bersemangat setelah mengeluh tadi, sedangkan Hasby merasa senang karena terus saja mendapat dukungan dari adiknya setiap ia dalam kepurukan.
Nafsah kala itu juga bertanya pada Hasby tentang sebab apa ia bisa dirawat di rumah sakit, dan tentu saja Hasby menceritakan semua kejadian dari awal tanpa ada yang ia tutupi, walaupun terlintas ada niatan menyembunyikan kebenaran saat ia terkena pukulan karena melindungi Vanesa, tapi ia urungkan karena telah berjanji pada adiknya untuk tidak berbohong.
Hasby menjelaskan dari awal mula ban mobil mereka yang bocor, bertemu dengan Gio yang ternyata itu adalah ayahnya Savira, dan berkelahi sampai ia mendapatkan luka pukulan di kepala.
pada saat Hasby menceritakan Gio adalah ayahnya Savira, Nafsah cukup terkejut mendengarnya, dirinya juga tidak menyangka bahwa orang yang ia kenal sebagai orang baik dulu...kini menjadi seorang perampok. Nafsah memang pernah bertemu Gio beberapa kali dan itu pun selalu pada saat ia bersama Hasby, kedekatan Nafsah dengan teman-teman Hasby membuat dirinya tahu orang tua dari masing-masing, terlebih lagi orang tua Ardi, karena Ardi sendiri pernah mengajak Nafsah dan Hasby untuk mengundang makan malam dirumahnya.
" Terus...apa luka kakak sekarang masih sakit?" tanya Nafsah ketika Hasby sudah selesai bercerita.
" Meski sesekali ada rasa sakit, tapi kakak gak papa kok..." jawab Hasby.
" Syukur lah kalo gitu..."
" Oh iya...aku kan tadi gak masuk kuliah karena gak bisa keluar rumah sakit, terus kedepannya juga kakak bakalan rawat inap disini, kira-kira lima hari baru boleh pulang, tapi gak bisa gak masuk kelas juga...gimana ceritanya nih?..." ucap Hasby sambil mengusap kasar rambutnya.
" Kamu tenang aja kak.. tadi aku udah bilang sama dosennya kalau kakak itu izin untuk beberapa hari, jadi kamu gak perlu khawatir..."
" Loh...kok kamu tau aku gak bakalan masuk beberapa hari?, secara kan kamu belum tau kalau kakak di rumah sakit...".
sebenernya aku udah tau...soalnya aku dapet informasinya tadi pagi dari kak Rafa, jadi...ya udah, aku inisiatif buat bilang ke dosen bahwa kamu izin dulu...".
" Syukur deh kalau begitu...makasih juga ya udah bantu kakak..." ucap Hasby.
" Iya, sama-sama...".
__ADS_1