
Sore harinya, Savira, Firdan dan Ardi tiba di rumah sakit kota C, dengan membawa makanan serta buah-buahan, mereka membeli barang-barang ini untuk Hasby makan.
" Tadi om Bayu nanyain lo tau " ucap Firdan sambil memakan makanan nya.
" Dia nanya apaan? ". tanya Hasby.
" Cuma nanya lo kemana, sama kapan lo masuk aja... ". jawab Firdan.
" Itu doang? ". tanya Hasby dan dijawab anggukan olehnya.
Sempat kepikiran dengan om nya yang satu ini, Hasby merasa tidak enak karena sudah sangat sering absen saat kuliah. Bukan sehari dua hari Hasby Izin maupun sakit, namun hampir dua bulan ia absen jika semua daftar kehadirannya dikumpulkan.
" Gua sempet ngerasa gak enak sama om Bayu, tapi... mau gimana lagi? ". ujar Hasby.
" Soal itu kamu gak perlu khawatir, dia pernah ngomong kok kalau kamu gak perlu cemas sama absen yang bolong itu " ucap Savira.
" Tapi tetep kan aku nya gak enak... udah sekolah gak bayar, tapi malah gak sungguh-sungguh ".
" Intinya... lo gak ada niatan buat bandel kan? absen juga karena lo lagi sakit ini, pasti dia bakal ngertiin kalau tau kenyataannya ". kali ini Ardi yang berbicara.
" Moga aja... ".
tidak lama setelah Hasby berkata seperti itu, sekitar 5 menit kemudian, Rafa dan Haris masuk ke ruangan. Dilihat dari raut wajah dokter muda itu, Hasby menilai kalau dirinya sedang ada masalah, karena semenjak pertama kali masuk sampai dia berada di sampingnya, pria itu selalu menekuk wajah.
" Lo kenapa? di godain orang gila ya? " tanya Ardi pada Rafa.
" Noh, tanya aja sama dokter Haris yang terhormat! " ucapnya ketus.
mendengar omongan Rafa, Ardi sekaligus yang lainnya kini menatap Haris bersamaan. Saat itu bukannya Haris menjelaskan, ia malah tersenyum tanpa sebab hingga membuat orang yang ada di sana menatap aneh dirinya.
" Em... Om Haris kenapa juga? " tanya Hasby.
" Oh, gak papa... cuma mau nyampein kabar baik buat kamu aja". ucapnya.
" Kabar baik? ".
setelah mendengar penjelasan dari Haris beberapa saat, kala itu Hasby bersorak sampai membuat semua orang yang ada di ruangan terkejut, entah apa yang dipikirkan pemuda satu ini, yang pasti semua orang menatap dirinya heran dan aneh.
" Lo gila ya Hasby? " ujar Ardi dengan wajah datar.
" Enak aja, ya engga lah ".
" Terus kamu ngapain sorak-sorak sendiri? sekarang bukan 17 Agustus tau ". kali ini Savira yang berbicara.
" Aku senang aja ".
__ADS_1
" Mentang-mentang boleh pulang sekarang senengnya dah minta ampun, biasa aja kali ". ucap Firdan.
" Gua sih biasa aja kalau pulang sekarang, tapi liat tuh dokter muda di sebelah ". ucap Hasby sambil melirik Rafa yang wajah nya makin buruk.
Hasby menjelaskan pada Ardi, Firdan dan Savira bahwa sebelum kedatangan mereka, Hasby dan Rafa sempat berdebat. Sebelumnya Rafa mentertawakan Hasby karena tidak bisa membujuk Haris, tapi kali ini ia puas mentertawakan Rafa yang malah saat itu Lyn dan Robert pun merasa kasian dan berbaik hati mengabulkan permintaannya yang ingin pulang.
" Oo... jadi kalian ribut-ribut tadi itu debat hal ini... " ucap Haris.
" Iya om, mangkanya Hasby minta tolong ke om langsung, kalau ke kak Rafa gak bakalan pernah bisa ".
" Oh... pantesan aja, tapi...kayaknya kamu jangan seneng dulu deh ". ucap Haris.
perkataan Haris tadi membuat tawa yang ada di wajah Hasby menjadi hilang, digantikan dengan rasa terkejut, perasaannya kali ini menjadi kurang baik, apalagi setelah melirik Rafa sejenak, pria itu tersenyum jahil padanya.
' Perasaan gua kok gak enak? ' batin Hasby.
***
" Hati-hati di jalan ya, diharuskan kalau kamu ngerasa pusing mending berenti dulu di pinggir jalan, meski di luar nampak sehat, tapi kondisi kamu masih lemah " ucap Haris.
" Iya om, makasih juga atas bantuannya ya ".
Saat ini, Hasby bersiap untuk pulang ke rumah. Bersama dengan Savira, Ardi dan Firdan, perjalanan kali ini ada satu anggota tambahan yang akan ikut pulang ke rumah Hasby, siapa lagi kalau bukan dokter muda Rafa.
" Oh iya, kantong cairan buat infus nanti malem sudah dibawa belum? takutnya ketinggalan, kan nantinya bakalan repot " ucap Lyn mengingatkan.
" Udah kok dokter, saya udah masukin semua peralatan nya ke dalam tas, jadi kalian gak perlu khawatir " ujar Rafa.
" Syukur deh kalau gitu, jangan lupa buat minum obatnya secara teratur ya, supaya badan kamu lebih bugar " kali ini Robert berbicara pada Hasby.
" Iya Dokter, terima kasih juga atas bantuan semuanya, saya sama yang lain mohon pamit ". ucap Hasby yang setelah beranjak keluar rumah sakit.
Dijalan saat pulang...
" Aduh... rindu banget gua sama Nafsah cantik " ucap Ardi dengan mimik wajah menyedihkan.
" Halah... lebay banget lo Di, padahal lo baru ketemu tadi pas pulang kuliah kan? " ujar Hasby.
" Iya, bener kata lo Has... itu juga lo ngobrol nya lamaan sama dia " kali ini Firdan yang berbicara.
" Heh, gua sama Nafsah cantik ngomong nya cuma bentar doang... emangnya lo, mentang-mentang ngomong sama Zyan, obrolan lo udah panjang banget kayak kereta ". ujar Ardi.
" Hah? dia ngobrol sama Zyan?! " tanya Hasby tak percaya.
" Oh iya ya, gua belum ngomong hal ini sama lo... tadi itu, dia ngobrol serasa dunia milik berdua tau ".
__ADS_1
" Ah, masa? "
" Ih, bener ... lo percaya deh sama gua, apalagi dia ngobrolnya nyampe ketawa-ketawa gitu ".
" Halah... si Ardi di dengerin, lo jangan percaya sama dia Has ". ujar Firdan membela diri.
" Ngaku aja Dan, gua sama Ardi udah jadi saksinya kok... bilang aja kalau lo itu seneng ngomong sama Zyan " kali ini Savira yang berucap.
" Lah? emang aslinya enggak kok ".
" Yah... ngeles aja lo ke bajay " ucap Ardi.
mendapat serangan dari berbagai sisi, Firdan saat itu hanya menghela nafas dan menyumpal telinga dengan earphone, walaupun sudah berusaha bersikap tenang, namun wajahnya ini membongkar semua perasaan nya.
meski tidak terlalu jelas, Ardi dan Hasby yang berada di sampingnya dapat melihat bahwa wajah Firdan sedikit merona, bahkan mereka juga menemukan kalau pria itu sedang berkeringat dingin karena mungkin takut ketahuan.
" Hahaha... keliatan lo lagi tersipu, gua sama Hasby bisa liat kalau pipi lo itu merah ". ucap Ardi.
" Dipikir-pikir udah kayak tomat aja ya warnanya ". tutur Hasby
" Mana gua mau liat..... aha... ini sih bukan kayak tomat lagi Hasby, tapi udah mirip banget sama cabe " ucap Savira yang kini berbalik melihat keadaan wajah Firdan.
sementara Savira, Hasby dan Ardi tertawa lepas, Rafa yang sedang mengemudi ikut tertawa karena melihat Firdan dari kaca spion mobil, dirinya juga baru pertama kali melihat hal yang seperti ini.
***
Malam, pukul 20:00
" Terus ini takarannya seberapa? "
" Tergantung, kakak liat dulu seberapa banyak bahannya ".
" Oh, tapi kalau kebanyakan gimana? ".
" Gampang, tinggal tambah air lagi aja supaya rasanya pas ".
" Hm... gitu... ".
saat ini, di dapur rumah Hasby... Vanesa dan Nafsah nampak sedang memasak. Dengan didampingi oleh ahlinya, kalau itu Vanesa sedang belajar untuk mengasah teknik memasak nya, bukan mengasah sih, melainkan menebalkan pengetahuan nya yang masih dangkal.
Sepulang Nafsah setelah ia kerja kelompok dengan temannya, ia melihat Vanesa yang sedang fokus melihat buku pemberiannya kala itu, dan kebetulan Vanesa sendiri meminta tolong padanya agar didampingi. Sudah berkali-kali masakan yang Vanesa buat berakhir dengan kegagalan, ada yang gosong, ada yang terlalu asin, terlalu hambar dan masih banyak lagi. Tapi sepertinya teknik memasak Vanesa lumayan meningkat.
' Moga aja Hasby beneran pulang malem ini, kan bisa sekalian nyobain masakan gua ' batin Vanesa sambil tersenyum tipis tanpa di ketahui Nafsah.
______________________________________________
__ADS_1