
" Nafsah...tolong anter kakak ya..."ucap Hasby yang kini mulai beranjak dari tempat tidurnya.
" Eh, eh...kamu mau kemana? kan kakak belum sembuh..."
" Aku mau keliling doang...di sini bosen, lagian cuman sebentar kok".
" Ya udah..."
Nafsah kemudian membantu Hasby untuk memapahnya berjalan, walau sakit kepalanya sudah mereda, namun...ketika Hasby berjalan, keseimbangannya belum kokoh dan sering membuatnya hampir jatuh.
sebelum keluar, Hasby juga terlebih dahulu pamit kepada ke tiga temannya, dan awalnya pula Savira berencana ikut, tapi di cegah oleh Hasby karena tidak ingin merepotkan nya.
" Eh, Hasby...mending kita pulang dulu aja ya...soalnya udah sore juga, insa allah kita bakalan dateng lagi besok..." ucap Firdan sebelum Hasby keluar.
" Oh, kalian mau pulang...ya udah, makasih juga ya kalian udah repot-repot buat jenguk gua..."
" Iya sama-sama..." ucap Firdan dan Ardi secara bersamaan.
tidak seperti Ardi dan Firdan yang setelahnya melangkah untuk keluar, Saira malah terdiam sambil menunduk di tempat duduknya, perlakuannya saat itu membuat Firdan dan Ardi keheranan.
" Heh, Savira....lo mau balik kagak?" tanya Ardi.
" eh?...gua...gua mau..."
perkataan Savira agak gagap, seakan ragu untuk mengatakan hal yang ia pikirkan, namun akhirnya ia bilang bahwa dirinya akan ikut pulang bersama Ardi dan Firdan.
" Ya udah...kalian bertiga ati-ati ya di jalan..." ucap Hasby.
" Ok kakak ipar...besok gua bakalan jenguk lu lagi pokoknya..." ucap Ardi.
" Jangan panggil gua kakak ipar!..."
" Iya...iya...jangan ngambek terus dong, nanti kakak ipar nambah sakit lagi..." ucap Ardi berlari sambil menyeret Firdan dan Savira keluar bersamanya.
setelah Savira, Firdan dan Ardi tidak terlihat lagi oleh pandangan Nafsah dan Hasby, keduanya kini berjalan keluar berniat pergi ke taman rumah sakit, yang khusus mereka buat untuk bersantai.
hanya perlu waktu beberapa menit untuk sampai ke tempat tersebut, dan pemandangan yang pertama mereka lihat adalah pemandangan yang hijau dan asri.
biasanya, suana rumah sakit terasa agak dingin dan sesekali muncul bau obat-obatan atau bau lainnya. Namun, berbeda dengan rumah sakit yang ini, dengan adanya tumbuhan yang hampir diletakan di setiap penjuru, udara di sekitar menjadi lebih segar, ditambah lokasi rumah sakit ini sedikit jauh dari daerah pemukiman serta pabrik atau industri lainnya.
berkeliling sambil melihat pemandangan memang menyenangkan, namun ketika di tengah jalan, Hasby dan Nafsah melihat ada anak kecil yang sedang menangis duduk di samping ibu nya. Terlihat ibu itu sedang menenangkan anaknya untuk tidak menangis, tapi anak tersebut tetap tidak berhenti juga.
melihat kejadian, itu...muncul rasa kasihan di hati Hasby, melihat anak yang sedang di infus memakai selang, ia jadi mengingat dirinya waktu kecil yang sedang menjalani perawatan.
" Nafsah...kita ke ibu dan anak itu yuk..." ajak Hasby.
" Hm?...kamu mau ngapain?" tanya Nafsah.
" Aku cuma kasian...kali aja bisa bantu"
Nafsah mengangguk mengikuti perkataan Hasby dan mulai berjalan menuju ibu dan anak itu walau sesekali memapah Hasby ketika dirinya kehilangan keseimbangan.
" Permisi bu..." ucap Hasby.
ibu itu menengok ke arah Hasby dan menemukan seorang pemuda tampan dan gadis cantik di sisinya, awalnya ia cukup tercengang, namun segera sadar dan menjawab ucapan Hasby.
" Iya nak...ada apa ya?..." jawab sang ibu
" Ini bu...anak ibu kenapa nangis ya?...bukan maksud saya buat ikut campur, tapi...saya agak gak tega liatnya...".
sebelum menjawab, ibu itu mengelus kepala anaknya pelan " Dia nangis karena gak mau operasi..."
" Hm?...operasi?..."
" Iya...dia punya penyakit ginjal, dan besok dia bakalan operasi cangkok, tapi...anak saya nangis saat ngedenger dia bakalan operasi, dan gak mau lepas dari saya sejak tadi..." ucap si ibu.
ibu itu menambahkan bahwa dia bernama Lidia, dirinya berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah dasar kota ini, sedangkan suaminya berprofesi sebagai karyawan perusahaan Lits, tepatnya perusahaan milik tuannya Hasby, anak yang ada di pangkuannya bernama Varel, umurnya sekarang menginjak 7 tahun dan penyakit ginjalnya sudah masuk stadium 4.
__ADS_1
' penyakit anak ini lebih parah di banding gua...masih untung penyakit gua masih stadium 2...' batin Hasby.
" Terus...suami ibu sekarang dimana?" tanya Nafsah di tengah percakapan.
" Suami saya lagi kerja lembur dari minggu lalu...waktu itu kami pinjam uang ke perusahaan...kepala perusahaan sih bilang kalau kami jangan terlalu mikirin tentang ngembaliin uangnya, yang penting mikirin operasinya berhasil apa enggak..." ucap Lidia menjelaskan.
Nafsah dan Hasby kini berpikir, mungkin penyebab suami Lidia kerja lembur karena ingin membalas kebaikan kepala perusahaan nya, yaitu Jordan. itu hal yang wajar, mengigat orang yang membantu kita adalah orang yang baik, bukan tidak mungkin kita akan membalas kebaikan mereka walau hanya membalas dengan hal yang kecil.
Hasby kemudian melirik anak yang berada di pangkuan Lidia, walaupun sekarang ini ia tidak menangis, tapi masih terdengar suara isakan darinya. Hasby kemudian mendekat pada Nafsah dan berbisik" Nafsah...kamu bisa nenangin dia gak?..." ucap Hasby.
" Loh?...bukannya kamu yang mahir urusan kayak gini? terus...kamu juga bisa bikin anak kecil ketawa kan?, kenapa nyuruh aku?..." ucap Nafsah dengan berbisik pula.
" Aku mahir kalau anak nya lagi sedih...memang sih dia juga sedih, tapi aku sama dia senasib, jadi gak tau harus hibur dia kayak gimana...dan pribadi, aku juga gak bisa ngehibur diri..." ucap Hasby.
" Ya udah, aku coba..."
sebelum Nafsah berniat bicara pada Varel, ia terlebih dahulu meminta izin pada Lidia dan segera dia setujui.
" Sayang...kakak mau ngomong tuh sama kamu..." ucap Lidia pada Varel.
" Gak mau..." jawabnya
" Kenapa sayang?...kamu takut?"
" Aku agak takut liat om itu..." ucap Carel.
" Om?,om yang mana sayang?..." tanya Lidia dengan bingung karena tidak menemukan om yang Varel maksud.
" Itu yang dekat kakak cantik...walaupun ganteng, aku gak suka liat jenggotnya mah..."
perkataan Varel, membuat Lidia, Nafsah dan Hasby sedikit tercengang, berbeda dengan Lidia yang merasa kurang enak dengan Hasby, Nafsah malah terkesan sedang menahan tawa, itu terlihat dari ekspresi wajahnya.
sementara untuk Hasby sendiri, ia berpikir...menurutnya sih janggutnya ini tidak terlalu panjang, malah nyatanya tipis, mungkin hanya memiliki tinggi sekitar 3 cm dari permukaan kulit.
" Em...maaf ya nak, anak saya emang kayak gini...jadi mohon maklum ya" ucap Lidia.
" Oh iya...dari tadi saya belum tau nama kalian loh..."
" Bener juga bu, kita sampe lupa...perkenalkan saya Nafsah, dan ini kakak saya Hasby..." ucap Nafsah.
" Oh, ternyata kalian adik kakak...kirain saya kalian ini pasangan, soalnya cocok banget..." ucap Lidia canggung.
Lidia memang sebelumnya berpikir bahwa Nafsah dan Hasby memiliki hubungan, dilihat dari paras masing-masing...mereka lebih cocok di bilang sepasang kekasih dari pada bersaudara, walaupun banyak yang tidak menyadari, sebenarnya wajah Nafsah dan Hasby hampir sama karena mereka memiliki gen dari orang tua yang sama pula.
" Hehe...bukan bu, kita ini saudara kandung...".
Lidian tersenyum sejenak mendengar penjelasan Nafsah, dan kemudian membujuk Varel kembali agar mau ngobrol dengan Hasby dan Nafsah, tapi Varel tetap saja menggelnhkan kepala. Melihat usaha Lidia membujuk Varel tidak berhasil, Nafsah kini menawarkan diri untuk berbicara padanya langsung.
" Hai dek...kamu kenapa takut sama kakak?...kakak kelihatanya jahat ya?..." tanya Nafsah dengan lembut.
" Aku..."
" Gak papa kalau kamu gak mau jawab, kakak ngerti kok, tapi...kakak boleh nanya sama Varel gak?" tanya Nafsah.
" Emangnya mau nanya apa?..."
" Tadi kakak denger dari mama Varel...kamu takut di operasi ya?, kenapa?...kan kalau Varel operasi nanti bisa sembuh..."
" Varel takut kak..." ucap Varel menunduk.
" Hm?... Varel takut kenapa?..."
" Varel takut gak bisa bangun kak...aku pernah liat di tv kalau udah operasi pasti gak bisa bangun lagi...jadi Varel takut kalau Varel gak bisa bangun dan ketemu mama papa lagi..." ucap Varel.
mendengar penjelasan Varel, Nafsah mengerti dengan perasaan nya, melakukan operasi dapat menimbulkan harapan untuk sembuh, sekaligus resiko besar yang harus di tanggung. Saat seseorang melakukan operasi, orang tersebut harus menyiapkan mentalnya untuk menghadapi resiko yang akan ia terima, bukan tidak mungkin operasinya akan menyebabkan efek yang tidak biasa maupun berujung kegagalan, masih untung orang yang berhasil masih memiliki kesadaran, bagaimana jika operasinya gagal dan menyebabkan kematian.
Hal ini juga tentu dialami oleh Hasby dan Nafsah, penyakitnya memang belum parah, dan termasuk jinak karena dari Hasby kecil sampai sekarang, penyakitnya baru hanya sampai stadium 2, tapi letak tumor yang Hasby idap berada di bagian tubuh yang sulit untuk melakukan operasi. Jika Hasby melakuakan operasi pengangkatan tumor, besar kemungkinan keberhasilan operasinua sangat kecil, jika berhasil 100%, itu merupakan keajaiban dari yang maha kuasa, tapi kalau dalam masa operasi melakukan kesalahan sedikit saja, maka bisa menyebabkan gangguan jiwa maupun kematian.
__ADS_1
" Varel...kamu percaya gak kalau Allah sayang sama setiap manusia?..." tanya Nafsah.
" Percaya..."
" Kalau begitu...Varel harus percaya dong kalau Allah juga sayang sama Varel dan bakalan ngelindungi kamu...jadi buat apa takut?"
" Hm...Allah bakalan kabulin doa Varel gak kalau Varel minta di bagunin lagi?..."
" Pasti dong...Allah itu hebat, jangankan buat Varel bangun lagi, malah nanti Varel bisa sembuh loh..."
" Beneran kak?..."
" Iya dong...ngapain kakak boong sama Varel?"
" Tapi Varel masih takut kaka..."
" Gak papa...takut itu wajar, tapi Varel jangan kalah dong sama rasa takut, yang penting kamu percaya kalau Varel pasti bisa sembuh, atau gini aja...Varel kapan di operasinya?..."
" Besok kak..."
" Kalau Varel mau...kakak bisa jenguk kamu nanti..."
" Hah? kakak beneran mau jenguk Varel?...emang kakak gak sibuk?.."
" Kalau buat Varel kakak gak masalah walaupun sibuk..."
" Bener ya...aku bakalan nunggu sampai kakak dateng..."
" Insa Allah..."
setelah Varel ngobrol dengan Nafsah, dirinya nampak lebih semangat dari beberapa waktu lalu, ia memberitahu pada mama nya kalau dirinya ingin di operasi, Lidia sempat bertanya pula pada Varel apakah ia takut atau tidak, dan di jawab oleh Varel bahwa dirinya tidak perlu takut, kan ada Allah yang selalu sayang dan melindunginya.
Lidia sangat senang saat itu, ia mengucapkan terima kasih pada Nafsah yang telah membuat anaknya tidak takut lagi, dan malah membuatnya bersemangat.
" Makasih ya Nafsah, berkat kamu...Varel jadi gak takut lagi..."
" Sama-sama bu...namanya juga kan anak kecil, kita harus kasih dia motivasi...dan...saya mohon pamit ya bu...kakak saya kan harus istirahat, jadi gak baik buat dia kalau lama-lama di luar..."
" Oh iya...makasih juga ya Hasby..."
" Iya bu, sama-sama..."
Nafsah dan Hasby kemudian pamit pada Lidia dan Varel, obrolan singkat yang di bahas oleh Nafsah dan Varel membuat keduanya menjadi akrab, entah kenapa Varel merasa nyaman ketika mendapat perlakuan Nafsah tadi.
" Kakak cantik...jangan lupa ya sama janji kakak..." ucapnya sambil melambai ke arah Nafsah yang sudah sedikit jauh.
" Iya tenang aja...kakak pasti inget kok..."
" Om kalau mau ikut juga boleh..." ucap Varel yang mengarah pada Hasby.
mendengar hal itu, Hasby tersenyum bingung, dan memilih membalas lambaian Varel.
" Ok, om juga bakalan dateng...tapi nanti panggilnya kakak ya...jangan om, soalnya aku masih muda..."
" Ok om...eh kakak..."
Lidia dan Nafsah hanya tertawa kecil melihat keduanya sebelum mereka berempat terpisah, karena Nafsah dan Hasby semakin menjauh.
_______________________________________
*untuk sebelumnya mohon maaf ya karena up nya lamaaaaaaaaaaaaa banget, aku juga punya banyak alasan sih, salah satunya tugas yang numpuk udah kayak gunung...
dan sebelumnya lagi, aku minta maaf kalau ada banyak kata-kata yang salah...dan mohon di maklum ya...
buat kalian yang masih minat buat baca novel ini, jangan patah semangat ya. Jalani harimu dengan menyenangkan walaupun terasa bimbang
cukup sekian dari aku...
__ADS_1
Al setia*