
Keesokan harinya...
Vanesa kini sedang bersiap untuk pergi ke kampus, sambil merapikan rambut, wanita ini terlihat sedang menonton sesuatu di ponselnya.
beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu diikuti oleh suara perempuan yang diketahui orang itu adalah Nafsah. Kedatangan dia kemari yaitu untuk menawarkan Vanesa sarapan pagi, dengan segera dan senang hati, Vanesa menerima tawaran itu dan ikut pergi bersama Nafsah ke dapur.
Sesampainya mereka di sana, terlihat hidangan yang sudah disajikan dengan rapi dan tercium aroma enak di sekitarnya.
" Hm... aromanya aja udah wangi banget, gimana rasa makanannya nanti ya? pasti enak ". ucap Vanesa memuji masakan Nafsah.
" Kak Vanesa bisa aja... ". walaupun sudah pernah sekali dipuji oleh Vanesa, namun entah kenapa hati Nafsah selalu merasa senang ketika mendapatkan perlakuan itu.
" Oh iya, kakak kamu kemana? " tanya Vanesa.
" Aku tadi sempat cek kamarnya, tapi kakak gak ada... mungkin dia lagi di kamar mandi ".
hanya mengangguk untuk mengiyakan, Vanesa pun mulai menyantap makanan, seperti kemarin sore, masakan Nafsah ini selalu membuat mood nya menjadi baik, tidak heran ketika Hasby masih bekerja sebagai supir dulu, dirinya akan menolak saat Ayahnya menawarkan makan bersama, mungkin menurutnya makanan yang dibuat oleh Nafsah lebih enak dari pada makanan yang dibuat di kediaman keluarga Lits.
Tidak lama setelah itu, Hasby pun datang dengan penampilan yang sudah rapi. Seperti biasa, dia akan bertanya tentang satu hal pada Nafsah, yang dilakukannya ini pasti akan diulangi setiap pagi, baik itu ketika libur semester, atau pun ketika ia akan berangkat kuliah maupun berangkat kerja.
" Nafsah... kamu liat kun___... ".
" Di tas... ".
sebelum Hasby menyelesaikan pertanyaannya, Nafsah sudah terlebih dahulu menjawab, apa yang akan ditanyakan oleh pemuda ini sudah pasti diketahui oleh Nafsah.
Hasby kemudian memeriksa isi tas nya dan menemukan ada kunci motor tepat di bagian pinggir tas. " Hehe... makasih ".
ternyata, benda yang hendak ditanyakan itu adalah kunci motornya, sering kali Hasby akan lupa dimana ia meletakkan kunci tersebut setelah ia gunakan, jadi hanya Nafsah lah yang selalu bertanggung jawab untuk memberi tahu Hasby tentang dimana letak benda itu.
Beberapa menit setelah Hasby ikut sarapan, mereka bertiga pun hendak berangkat ke kampus seusai selesai makam, namun sedikit ada kendala yang menghalangi mereka saat itu. Sebelum Vanesa pindah ke rumah ini, Hasby dan Nafsah selalu berangkat berdua, namun karena anggota rumah bertambah satu orang, jadi mereka agak bingung sementara ini.
" Jadi gimana ceritanya ini? " tanya Nafsah.
" Hm... mending gini aja, kamu sama Vanesa naek motor berdua, biar kakak naik bus ".
" Jangan... nanti kamu bakalan telat " ujar Nafsah menolak.
" Ya terus gimana dong? ".
" Gampang... mending kakak bareng sama kak Vanesa aja, aku kan bisa minta jemput sama___". Nafsah tidak melanjutkan ucapannya melainkan tersenyum dengan maksud tersirat. Menyadari hal ini, Hasby pun setuju dengan saran dari Nafsah, ia sudah tahu apa yang ada di pikiran adiknya ini.
" Oh... ya udah, kalo gitu ayo kita berangkat Vanesa ". ucap Hasby lalu menaiki motornya.
" Terus nanti Nafsah gimana? ". tanya Vanesa.
" Tenang... dia bakalan ada yang jemput kok ".
" Oh, ok... tapi... lo tau kan apa isi pikiran gua? ". ucap Vanesa sambil tersenyum percaya diri.
seolah tau apa maksud dari kata-kata Vanesa, Hasby saat ini berpikir bahwa ia akan mabuk perjalanan yang kedua kalinya bersama wanita ini.
' Mati gua... ' Batin Hasby.
__ADS_1
°°°
Sore, pukul 16:00...
" Hm... jadi mereka gak berangkat bareng tadi pagi? " ucap Jordan pada pria yang ada dihadapannya.
" Iya tuan, dan lagi... nona Vanesa yang bawa motor pagi itu, diliat dari cara dia bawa___".
" Hah... iya, iya... saya tau ko kalau dia itu agak... ya... pasti kamu tau Ryan".
Saat ini, Jordan bersama bawahannya yang bernama Ryan ini sedang membahas kehidupan Vanesa di rumah Hasby. Seperti pagi tadi contohnya, Jordan menyuruh Ryan dan anak buahnya yang lain untuk mengawasi keselamatan Hasby, Vanesa dan Nafsah. Ini memang sedikit menyakut masalah pribadi mereka, tapi pikiran Jordan tetap tidak bisa tenang jika Vanesa keluar dari ruang lingkup keluarga Lits tanpa penjagaan.
" Kayaknya saya perlu kasih mobil buat Hasby, kasian juga kan mereka kalau harus kayak tadi pagi...".
" Apa perlu saya bantu tuan? ". ucap Ryan menawarkan.
" Ya... besok pagi kamu anter mobil yang saya pesen...dan... oh iya, tolong kamu kirim surat ini ke kepala universitas yang Vanesa belajar disana, saya denger kalau kepala kampus itu adalah Bayu ".
" Siap tuan...kalau begitu saya permisi ".
" Silahkan ".
setelah pamit pada tuannya, Ryan pun keluar dari ruangan meninggalkan Jordan yang masih duduk di tempat. Tepat setelah kepergian Ryan, Jordan kala itu mendapat pesan dari seseorang yang diketahui sebagai bawahannya yang lain.
disana terdapat tulisan yang membuat Jordan terkejut sekaligus meeasa senang.
' Tuan... saya udah nemuin sedikit petunjuk, pembantu yang dulunya kerja di keluarga Nur ternyata tinggal engga jauh dari kantor cabang kota C, untuk beberapa hari ini kita bakalan lanjutin penyelidikannya... jadi tuan mohon sabar menunggu '. (Tulisan di dalam pesan).
" Moga aja dengan petunjuk ini... gua bisa cepet nemuin anak-anaknya Risyad " ucap Jordan dengan senyuman.
°°°
malam, pukul 22:30, terlihat Hasby yang sedang berusaha untuk meraih sesuatu di atas meja, dengan tubuh yang lemas serta satu tangannya menumpu pada kasur, Hasby nampak sangat sulit untuk meraih apa yang ingin ia dapatkan.
Tidak berhasil melakukan hal itu, Hasby kala itu malah terjatuh ke lantai karena sudah tidak kuat lagi menahan tubuhnya, kondisinya kini semakin buruk ketika tubuh Hasby mendarat di lantai yang dingin.
Akibatnya, suhu tubuh Hasby menjadi tinggi, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya hingga menyebabkan pakaian yang ia kenakan menjadi basah, belum lagi rasa pusing hebat menyerang di bagian kepala, serta tenggorokannya yang terasa gatal dan sakit membuat Hasby batuk terus-menerus.
" Uhuk, uhuk... Nafsah... tolong... uhuk, kakak... ". dengan suara berat serta pelan, Hasby memanggil-manggil nama adiknya, beberapa menit setelahnya, batuk Hasby semakin parah, dan...
" UHUK?! ".
darah segar keluar dari mulut Hasby tepat setelah ia batuk tadi, walau tidak terlalu banyak, tapi ketika melihat hal ini pandangannya mulai memburam dan perlahan menjadi gelap, hanya satu yang terlintas dipikirannya, yaitu dua orang wanita yang selama ini berada disisinya, satu orang yaitu Nafsah dan satunya lagi adalah... Vanesa.
°°°
" Kenapa perasaan gua gak gini ya? ".
dari sejak tadi, Nafsah sejak sehabis solat isya tidak dapat menutup matanya, ada perasaan tidak enak yang melekat dipikiran, serta entah kenapa ia selalu memikirkan keberadaan kakaknya.
agak khawatir karena mendapat firasat buruk ini, Nafsah pun berniat pergi ke kamar Hasby.
" Eh?... pintu kamar kakak kok ke buka sih? ".
__ADS_1
saat Nafsah keluar dari kamar pribadinya, ia dapat melihat bahwa pintu kamar Hasby sedikit terbuka, seingat dan setahu Nafsah, kakaknya ini akan menutup dan mengunci pintu ketika ia tidur.
" Apa dia lupa? ".
perlahan tapi pasti, Nafsah dengan hati-hati membuka pintu, khawatir kalau kakaknya sedang tidur, ia takut jika suara gesekan pintu ini akan membangunkannya.
Hal yang tidak di sangka membuat mata Nafsah terbelalak melihat ini, Hasby yang terbaring dilantai dengan wajah pucat, dan sedikit samar Nafsah dapat melihat ada sedikit noda darah di mulut kakaknya.
" Kakak?! ".
dengan sigap Nafsah pun berlari menuju tempat Hasby, panik karena baru pertama kali melihat Hasby seperti ini, ia pun menguncang tubuh Hasby cukup kuat agar kakaknya ini tersadar.
" Kak... kakak... kamu kenapa kak?, ayo bangun... " ucap Nafsah yang kini mulai menangis.
Tidak mendapatkan reaksi apa-apa dari kakaknya, Nafsah kala itu menangis histeris berusaha membangunkan kakaknya, sampai-sampai suara tangisannya ini membuat Vanesa mendatanginya.
" Nafsah... kamu kenapa?, apa ada ses__...!!!... " ucapan Vanesa tidak terselesaikan, karena dirinya terlanjur lebih dulu melihat Hasby yang terkapar di pangkuan Nafsah.
" Hasby?!... Nafsah... kakak kamu kenapa?, kenapa bisa pingsan kayak gini? dan... !!!... ".
lagi-lagi Vanesa terkejut ketika melihat telapak tangan Hasby yang terdapat noda warna merah, sedikit syok melihat hal ini, Vanesa juga mencoba membangunkan Hasby.
" Heh... Hasby, bangun... cepet bangun!, kalau lo enggak bangun sekarang... lo bakalan gua pecat!... heh!, cepetan bangun Hasby ". ucap Vanesa sambil menepuk-nepuk wajah pemuda ini.
" Sebenarnya dia ini kenapa Nafsah?, aku gak pernah liat Hasby bisa kayak gini ". tanya Vanesa.
" Aku...aku juga gak tau kak... pas aku dateng kesini... dia udah ada di bawah... ". ucap Hasby masih menangis tersedu-sedu.
" Ok... aku bakalan panggil dokter pribadi keluarga Lits ke sini... sebelum itu kita pindahin Hasby dulu, ok?... ".
" Hiks... iya... ".Vanesa dan Nafsah kini bekerja sama untuk mengangkat tubuh Hasby ke kasur terlebih dahulu dan setelah itu Vanesa pun dengan segera kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel, sedangkan untuk Nafsah, ia kini pergi untuk mengambil air kompresan.
Beberapa saat sebelumnya, Nafsah mengukur suhu tubuh Hasby dengan termometer, dan dilihat bahwa tingkat ketinggian suhu tubuh Hasby itu tinggi, berkisar antara 37 sampai 38°C.
Untuk Vanesa sendiri, walaupun masih berusaha bersikap tenang, sebenarnya ia juga sama dengan Nafsah, dirinya panik dan khawatir ketika melihat Hasby yang terbaring tidak berdaya, sedikit tidak menyadari hal ini, tidak terasa bahwa air matanya menetes melintasi hidung.
" Hallo... dokter, saya perlu bantuan dokter sekarang juga, datang ke alamat yang saya kirim nanti, pastiin kalau dokter harus datang ke sini dalam 10 menit... atau... dokter pasti tau akibatnya ". ucap Vanesa mengakhiri telepon.
Berakhirnya percakapan Vanesa dan dokter yang dipanggilnya tadi, ia pun kini kembali menuju kamar Hasby, disana terlihat Nafsah yang sedang meletakkan kain pengompres di kening kakaknya.
" Nafsah... gimana keadaan Hasby?" tanya Vanesa.
" Masi sama kak, panasnya gak turun-turun... ".
mendengar hal dari Nafsah, Vanesa kemudian meletakkan tangannya ke kening Hasby, sedikit terkejut karena merasa tangannya sedikit terbakar, dirinya yakin bahwa Hasby saat ini sedang menderita.
' Hasby... tunggu, dokter bentar lagi bakalan dateng... lo harus tahan '. batin Vanesa.
_________________________
bagi dukungannya ya gaess...
maaf kalau ada banyak kata-kata yang salah, karena aku masih pemula.
__ADS_1
jumpa di Chapter selanjutnya...