
" APA!!!...".
Nafsah, Firdan dan Savira berseru secara bersamaan, tidak habis pikir dengan perkataan Ardi tadi, Savira pun langsung berbicara padanya.
" Lo mikir gak Ardi?, ya masa nona muda yang kaya mau sama supirnya sendiri, pemikiran lo itu udah dari jaman mana kali? jaman kerajaan? ". ucap Savira sedikit meninggikan suaranya.
" Itu kan cuma perkiraan gua doang Sav, lagian lu kenapa ngegas?, santuy aja kali... Hasby juga kan sadar diri sama statusnya ".
" Udah, udah... lu berdua malah ribut aja kerjaannya, lagian lo gak usah marah juga Sav, Ardi cuma ngasi pendapatnya doang, belum tentu ucapannya bener apa enggak kan? ".
Savira terdiam sejenak mendengar ucapan Firdan, kalau dipikir-pikir lagi apa yang dia katakan memang benar, untuk apa ia marah dengan ulasan yang belum tentu benar dengan kenyataannya?, ya... sedikit masuk akal si kalau Vanesa bisa saja menyukai Hasby, walaupun dia tidak sekaya dan tidak sejajar dengannya, namun pemuda ini memiliki kepintaran dan punya pemikiran logis, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin jika Vanesa menyukainya dibidang ini.
' kata kak Firdan emang betul secara logika, tapi pendapat kak Ardi ini kayaknya bener deh, lagian kan mereka udah tunangan... wajar dong kalau cuma pergi dinner '. batin Nafsah.
Berbeda dengan Savira yang membenarkan perkataan Firdan, Nafsah kali ini memiliki pemikirannya sendiri, sebagai orang yang tahu kenyataan aslinya, Nafsah mungkin sependapat dengan Ardi, kalau misalnya betul Hasby dan Vanesa sedang dinner, itu berarti hubungan mereka memiliki kemajuan.
'Hm... moga aja kak Hasby lagi apa yang gua pikirin '. Batin Nafsah sambil tersenyum simpul.
***
Di rumah sakit ini, Hasby sekarang sudah diobati lebih lanjut oleh dokter, beberapa menit yang lalu, Vanesa bangun dari pingsannya setelah ia dibawa ke ruang rawat dan untungnya dia sendiri tidak memiliki luka serius sehingga diperbolehkan langsung pulang, Rendi dan Kamil pun sudah undur diri ketika hari sudah menjelang malam, dan tidak lupa untuk Hasby mengucapkan terima kasih sebelum kepergian mereka.
sebagai tanda pertemanan mereka, Hasby bertukar nomor ponsel dengan mereka berdua, agar jika Rendi dan Kamil dalam masalah, mereka dapat langsung menghubunginya.
beberapa menit setelah Hasby keluar dari ruang pengobatan, di sana terlihat Vanesa yang sedang duduk di kursi sambil menenggelamkan wajah pada kedua tangannya, oleh sebab itu Hasby pun segera duduk tepat di samping Vanesa.
" Kamu udah gak papa? ". ucap Hasby yang menyadarkan lamunan gadis ini. Seketika, Vanesa langsung mengangkat wajah dan menatap Hasby, cukup lama hingga beberapa menit, Hasby menaikkan alis karena heran dengan sikap Vanesa.
" Hm...Vanesa?... ". ucap Hasby sambil melambaikan tangannya didepan wajah gadis yang ada dihadapannya.
tidak mendapatkan jawaban dari Vanesa, Hasby malah mendapat perlakuan lain dari gadis ini, secara tiba-tiba, Vanesa langsung memeluk Hasby dan beberapa menit setelah ia menangis tanpa suara.
hal ini membuat Hasby makin keheranan, sekaligus merasakan sensasi bahunya saat ini seperti di tusuk oleh jarum, bersentuhan nya tangan Vanesa saat ia memeluk Hasby, membuat luka yang semulanya tidak sakit menjadi sakit kembali, untuk mencegah suaranya keluar dari mulut, Hasby pun berakhir menggigit sedikit bibirnya.
" Van... Vanesa... kamu kenapa?, apa ada hal yang buat kamu sedih? ". ucap Hasby sambil menahan rasa sakitnya.
" Lo kenapa bodoh banget si? ". ucap Vanesa disela-sela tangisannya.
__ADS_1
"...Emang aku bodoh kenapa? ".
" Kenapa lo harus nolongin gue?, kenapa gak biarin gua aja yang ketabrak?... kan lo gak bakalan jadi luka kayak gini ". ucap Vanesa.
" Kenapa kamu ngomong kayak gitu? ". ucap Hasby menatap dalam mata Vanesa.
" Sebenarnya apa untungnya lo nolongin gua?, liat luka di bahu lo, ini semua karena gua... terus, luka di sini...". Vanesa memegang kepala Bagian belakang Hasby. "...Ini juga gara-gara gua... ". ucapnya menangis lebih kencang.
" Terus kenapa kamu nangis? apa karena khawatir sama aku?, apa ngerasa bersalah karena luka-luka ini? ".
" Dua-duanya... ".
Hasby tersenyum sejenak sebelum mengelus pelan rambut Vanesa, merasa dipedulikan oleh nonanya yang jutek ini membuat dirinya sedikit senang.
" Kamu gak perlu ngerasa bersalah, aku ngelakuin hal ini demi kamu... sebenarnya aku juga gak ada niatan meluk kamu buat ngehindar dari tabrakan tadi, itu semua aku lakuin tanpa sadar... ".
Vanesa melihat wajah Hasby dengan tahapan sendu, lalu pandangan turun ke bahu Hasby yang terluka." Tapi...gara-gara gua lo kan jadi luka ".
" Ini bukan luka serius, yang penting kamu baik-baik aja... dan... tolong kamu jangan nangis lagi ya?, aku liat muka kamu jadi jelek kalau kayak gini ". ucap Hasby tersenyum jahil.
" Apaan si?... ". Mendapat perlakuan dari Hasby, pipi Vanesa yang indah pun mulai memerah, dan hal itu pun disadari oleh Hasby sendiri.
awal melihat pipi Vanesa yang merona, Hasby berniat untuk sedikit mencubitnya, namun hal ini ia urungkan karena takut perbuatannya akan membuat Vanesa marah, bukan tidak mungkin sikap Vanesa akan berubah seperti semula lagi.
" Ya udah, mending sekarang kita pulang dulu... ".
Vanesa mengangguk setelah diajak oleh Hasby, keduanya keluar dari rumah sakit pada pukul 20:00. Pada jam segini, suasana di depan parkiran sudah agak sepi, tidak banyak orang yang lewat, hanya satu atau dua orang saja.
Hasby dan Vanesa menemukan motor yang mereka naiki sebelumnya, masih dalam keadaan barang yang lengkap, mereka berdua pun memeriksa lebih jauh barang barang mereka.
" Apa semuanya ada Van? ". tanya Hasby.
sedikit memiringkan kepala, Vanesa merasa ada yang janggal dengan sebutan Hasby padanya, sebutan itu seolah dia sangat akrab dengan dirinya." Lo tadi manggil gua apa? ".
" Gak papa non...". Langsung memahami makna pertanyaan Vanesa, Hasby mengubah cara ia memanggil Vanesa menjadi nona kembali.
" Oh iya, kalau Nafsah liat luka lo... apa dia bakalan khawatir? ". tanya Vanesa lalu menatap Hasby.
__ADS_1
" Em... bisa di bilang sih dia khawatir, tapi... ". tidak menyelesaikan kata-kata yang ia ucapkan, Hasby menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Tapi kenapa? ".
" Hehe... dia khawatirnya sambil marah-marah, jadi saya jarang ngasih tau dia kalau saya flu atau semacamnya ".
" Terus kalau dia ngeliat luka lo gimana? ".
" Nona tenang aja, kan ketutup baju saya ".
" Haha... sekarang coba liat bahu lo ". ucap Vanesa sambil tertawa kecil.
Hasby mengikuti ucapan Vanesa dan melihat ke arah bahu kanannya, sedikit terkejut karena melihat hal ini, ternyata pakaiannya terdapat sobekan tepat diare kulit yang diperban, sobekan itu sedikit besar, setidaknya luka bahu Hasby nampak jelas walaupun dari jauh, serta bercak darahnya menjelaskan bahwa ia sedang terluka.
" Aduh... terus gimana non?, mana saya gak punya baju ganti lagi ". ucap Hasby panik.
Vanesa tertawa kecil melihat Hasby yang panik, jarang-jarang ia dapat melihat hal-hal seperti ini." Hahaha... udah, udah,... lo gak usah khawatir, kebetulan gua kayaknya beli kaos laki-laki deh ". ucap Vanesa yang kemudian mencari benda tersebut.
" Loh? kok nona beli baju laki-laki? ".
" Gua belanja suruh ibu... dalam daftar sih dia suruh beli ini, ya gua si beliin aja... nah, akhirnya ketemu, nih pake ".
" Hm... sekarang non? ".
" Ya masa besok si Hasby, otak lo lama-lama kenapa lemot si? ".
" Tapi... disini gak ada ruang ganti ".
" Em... e.. gua... gua balik badan, lo cepetan ganti baju ". ucap Vanesa membelakangi Hasby.
sedikit ragu untuk melakukan hal ini, namun Hasby akhirnya segera mengganti pakaian. Disaat yang bersamaan, Vanesa nampak tidak sengaja melihat kegiatan Hasby yang sedang mengganti baju lewat kaca spion.
Sedikit terpana melihat bentuk dada dan perut Hasby, Vanesa bahkan menatapnya tanpa berkedip ' Wow...gua gak nyangka dada dia bentuk ABS, diliat-liat keren juga ni anak' Batin Vanesa.
__________________________
Jangan lupa dukung Author, dengan cara like, komen dan kalau berkenan Vote ya...
__ADS_1
jumpa di chapter selanjutnya....