Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
28# Gua kaget tau!


__ADS_3

perasaan yang Hasby sarakan saat ini adalah rasa damai yang hangat, memang tidak di mengerti, tapi ketika tangan Vanesa yang lembut menyentuh keningnya, sesaat tubuh Hasby menjadi lebih rileks.


perlahan tapi pasti, Vanesa yang terus mengelus rambut Hasby setelah meletakan kain di keningnya mulai merasa tenang, awalnya ia khawatir tentang suhu tubuhnya yang naik, tapi melihat Hasby begitu nyaman mendapat belaian darinya, Vanesa juga senang melihatnya karena Hasby terlihat sangat menikmati sampai-sampai ia perlahan mulai terlelap.


beberapa menit setelah Hasby tertidur, Vanesa kini menyudahi kegiatannya membelai rambut Hasby, dirinya juga sudah mengantuk saat ini. Sebelum tidur, Vanesa terlebih dahulu mengambil selimut di laci meja dekat dengan ranjang yang Hasby tiduri sekarang, walau tidak setebal dan sehangat selimut di rumahnya, tapi Vanesa mau tidak mau harus memakainya, bukan tidak mungkin dia akan terkena flu jika dirinya tidak memakai selimut itu saat tidur.


Vanesa kemudian membaringkan dirinya di sofa yang tidak jauh dari tempat Hasby saat ini, walau sedikit terasa dingin, namun karna kantuk yang menyerang, Vanesa pun akhirnya tertidur tidak lama kemudian.


***


keesokan harinya....


pagi mulai datang, matahari pun kini mulai menampakan sinarnya, terlihat ada seorang wanita yang masih terlentang sedang tidur di sebuah sofa dekat dengan jendela, siapa lagi orang itu kalau bukan Vanesa.


dirinya perlahan mulai membuka mata ketika ada sorotan cahaya matahari yang masuk lewat jendela menyinari sebagian wajahnya, ia terlebih dahulu mengucek matanya sebelum bangun dan duduk di tempat, biasanya orang akan melakukan hal ini ketika habis bangun tidur, setelah itu Vanesa mulai meregangkan tubuhnya, melepaskan rasa pegal yang ia rasakan saat ini.


ia memang belum terbiasa tidur di sofa, biasanya selalu tidur di tempat yang empuk dan luas, ditambah selimut yang tebal dan hangat, jadi tidak heran jika Vanesa saat ini mengalami pegal-pegal pada bagian pinggang dan bahu.


" hah...tidur di sofa kayak gini gak nyaman, mana sempit, dingin, badan pegel-pegel lagi pas bangun...".


Vanesa awalnya ingin melihat keadaan Hasby, namun saat ia mendekati tempat tidurnya, betapa ia sangat terkejut ketika tidak melihat keberadaan Hasby di sana.


" hah?!...Hasby mana?...Hasby...Hasby...lo dimana?" panggilnya.


Vanesa terus meneriaki Hasby di ruangan itu, namun tetap tidak ada jawaban, mendapati Hasby tidak ada di ruangan ini, Vanesa kini berniat pergi ke luar ruangan, tapi saat ia ingin meraih pintu keluar ruangan. dirinya di kejutkan oleh pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka.


" Kyaaaaa......apaan tu?!!!! ". sontak dirinya terkagetkan sampai-sampai berteriak keras hingga terjatuh ke lantai. karena merasa takut, Vanesa kini menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri, namun tidak lama kemudian, ada sebuah tangan yang kini memegang pundaknya, sensasi yang ia rasakan saat ini adalah rasa tegang serta kaget dan takut yang tercampur aduk hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


" Aaaa...pergi!!! jangan ganggu gua...pergi!!!..." teriaknya.


" Nona, nona kenapa? ini saya..."


saat suara seseorang muncul, Vanesa kini sadar itu suara siapa dan segera menurunkan tangan dari wajahnya. Ketika pertama kali membuka matanya, hal pertama yang Vanesa lihat adalah seorang lelaki yang berdiri dihadapannya sedang membawa tongkat imfusan.


" Hasby?!..."


ya, orang itu adalah Hasby, dirinya saat tadi baru keluar dari kamar mandi. letak pintu keluar ruangan dan kamar mandi memang dekat, kira-kira berkisar antara 1/2 sampai 1 meter jaraknya, dan lokasinya pun berbentuk leter L.


menyadari hal itu, Vanesa langsung berdiri kemudian menghampiri Hasby, karena kesal dengan laki-laki yang telah mengangetkan nya itu, dirinya kini tidak bisa mengendalikan emosi sehingga langsung saja memarahinya.


" Heh...Hasby! lo kenapa sih tiba-tiba buka pintu gitu, gua kaget tau!..." ucapnya.


" Em...maaf nona, tadi saya abis buang air kecil...".


" Itu juga...kenapa lo gak bilang dulu kalau lo mau ke kamar mandi?!, gua khawatir banget tau...manggil ke sana ke sini tapi gak di jawab----".Vanesa terus saja mengomeli Hasby tanpa henti. walau merasa risih, tapi sebenarnya ia ingin tertawa mengingat ketika Vanesa ketakutan, ia tidak pernah menyangka bahwa nona nya ini sedikit penakut.

__ADS_1


tanpa disadari oleh dirinya sendiri, timbul sebuah senyuman di bibir Hasby, melihat nonanya yang memarahinya karena tidak memberi tahu ia kemana terlebih dahulu, dan membuat Vanesa khawatir, ini menandakan bahwa Vanesa adalah orang yang perhatian. kini Hasby sedikit merasa bersalah, sebelumnya ia pernah menilai bahwa Vanesa adalah wanita yang paling jutek dan galak, namun ketika melihat diri Vanesa yang sekarang...Hasby mengerti kenapa Afdal pernah berkata bahwa Vanesa dulunya adalah orang baik.


melihat Hasby tersenyum-senyum sendiri, Vanesa malah semakin jengkel padanya, sehingga ia menarik telinga Hasby sampai dia menjerit kecil kesakitan.


" Aww...nona, sakit nona...kenapa kuping saya di jewer?..." ucap Hasby.


" kenapa lo senyam-senyum sendiri?!, apa nya yang lucu?...gua ngomong panjang lebar tapi lo malah ga denger...".


" Iya nona, maaf...saya salah...tapi tolong lepasin dulu tangan nona dari kuping saya...". bukan seperti harapan Hasby yang ingin telinganya di lepas, kenyataannya Vanesa malah mengeraskan jeweran nya dan menyeret Hasby ke tempat tidurnya.


Hasby saat ini cukup kesulitan, dirinya harus membungkuk mengikuti tinggi Vanesa yang lebih rendah darinya, ditambah ia harus memegang tongkat imfusan dengan baik agar tidak terjatuh, dan Vanesa baru melepaskan tangannya dari telinga Hasby ketika mereka sudah berada di samping tempat tidur.


" Gua bakalan maafin lo kali ini...tapi awas aja kalau kejadian ini sampai terulang..." ancam Vanesa.


Hasby saat itu hanya mengangguk mendengarkan kata-kata Vanesa dan duduk di kasur ketika Vanesa menyuruhnya.


"Apa kepala lo masih sakit? " tanya Vanesa ketika Hasby telah duduk.


" Enggak nona..."


" jangan boong..."


" Beneran nona...lagian saya gak bakalan sakit lagi kok...dijaga sama wanita cantik kayak nona...saya pasti bakal cepet sembuh..." ucap Hasby yang kini tersenyum kecil.


mendengar Hasby berkata seperti itu, wajah Vanesa entah kenapa tiba-tiba memerah dan jantungnya berdetak tidak karuan, semenjak ia bersama Hasby kemarin, suasana hatinya terkadang berubah-ubah seperti cuaca, terkadang senang, terkadang kesal dan terkadang juga sedikit tegang.


" Saya udah gak papa...ini berkat nona yang jaga saya, dan...saya berterima kasih atas hal itu..."


" Lo gak perlu terima kasih...seharusnya gua yang berterima kasih sama lo, kalau misal lo gak ngelindungi gua kemarin...mungkin aja gua gak bakalan ada di sini sekarang..." ucap Vanesa yang nada bicaranya terdengar merasa bersalah.


mendengar nada bicara Vanesa sedikit sendu, Hasby berniat menghiburnya, namun justru ia juga bingung ingin menghibur dengan cara apa, sebelum ia akhirnya mendapatkan ide.


" Gak papa kok non...malah saya beruntung masuk rumah sakit..." ucap Hasby tersenyum pada Vanesa yang membuatnya heran.


" Loh? beruntung apanya?..." ucap Vanesa.


" Ya...kalau saya gak masuk ke rumah sakit...nona gak bakalan nemenin saya sepanjang malem, lagian...akhir-akhir ini...nona...em...".


" gua kenapa?..."


" Hehe...nona jadi gak galak kayak biasanya...".


Vanesa sedikit terdiam, perkataan Hasby itu memang benar adanya, semenjak Hasby masuk rumah sakit, dirinya tidak se jutek waktu ia pertama kali dengan Hasby, Vanesa sendiri juga tidak tahu, tapi melihat Hasby menyukai perubahan sifatnya, Vanesa berniat sedikit bersikap lunak terhadap Hasby untuk kedepannya.


" Hng!...gua baik juga karena bukan alakadar semata, anggap aja itu sebagai balas budi, karena lo udah nolongin gua..." ucap Vanesa tersenyum sombong.

__ADS_1


setelah itu, Vanesa memberitahu Hasby bahwa dirinya akan pergi ke hotel terlebih dahulu, dan akan kembali setelah semua urusannya selesai. tidak lupa pula Vanesa memperingatkan Hasby untuk minum obat sesuai jadwal sebelum ia keluar dari ruangan.


melihat Vanesa yang sudah tidak ada di ruangan ini, Hasby merasa sedikit ada yang hilang, ruangan ini menjadi sepi dan kosong setelah kepergian Vanesa.


" Sepi juga ya..." gumamnya.


***


Rafa kini sedang duduk di meja kerjanya sambil menikmati secangkir kopi, dirinya sekarang sedang memeriksa laporan medis pasien yang ada di rumah sakit, tidak heran akan ada banyak tumpukan kertas di mejanya.


sejak kemarin malam ia tidak pulang kerumahnya, karena memang jadwalnya lembur, Cika juga sudah pulang sejak tadi malam karena perintah dari Rafa, keberadaannya memang membuat Rafa risih, sebab Cika akan terus melontarkan banyak pertanyaan dan tawaran, sehingga Rafa menyuruhnya pulang, tentu saja perlu usaha untuk membujuk Cika yang terus saja ingin menempel padanya, dan baru berhasil sekitar 30 menit Rafa meyakinkannya.


ketika Rafa sedang mengerjakan tugasnya, ada suara dering ponsel yang berasal dari ponselnya sendiri. Rafa tidak melihat siapa yang menelpon, melainkan langsung mengangkat telpon tersebut.


" Hallo...dengan siapa?"


" Hallo kak...ini aku Nafsah..." ucap orang di sebrang telepon yang ternyata adalah Nafsah.


" Eh...Nafsah...ada apa manggil aku? apa ada perlu?" ucap Rafa yang kini memberhentikan kegiatannya dan berfokus pada obrolan.


" Ini kak...kak Rafa tau gak Kak Hasby kerja apa? aku telpon dia kemarin dan dia bilang kalau dia itu lagi kerja lembur..."


" Hah? kerja?...dia gak kerja Naf..."


" Loh...tapi dia bilang dia lagi kerja...tunggu dulu, apa ada masalah? soalnya aku ngerasa dia lagi nyembunyiin sesuatu dari aku..." ucap Nafsah.


mendengar Nafsah berkata seperti itu, Rafa menduga bahwa Hasby menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.


" Apa Hasby gak ngasih tau kamu?..." tanya Rafa.


" Kasih tau apa?..." ucap Nafsah yang kini merasa heran.


" Sebenernya dia gak kerja...tapi...dia masuk rumah sakit dan aku disini lagi ngerawat dia...".


" Apa!!!....kok bisa dia masuk rumah sakit?! apa penyakitnya kambuh?...".ucap Nafsah dengan nada yang khawatir.


" Penyakitnya sih gak kambuh, tapi pas aku dateng ke ruangannya dia punya luka di belang kepala, kayaknya itu luka pukulan deh, untung aja lukanya gak berat.. kalau enggak mungkin itu bisa fatal..." ucap Rafa menjelaskan.


" Ya Allah...kenapa sih dia gak ngasih tau aku...yaudah kak, makasih ya buat informasinya, mungkin aku bakalan ke sana abis pulang dari kampus...dan kak Rafa jangan bilang ke dia ya aku bakalan mampir....".


" Iya...kamu tenang aja..."


" sekali lagi makasih ya kak....aku nitip kak Hasby...Assalamualaikum..." ucap Nafsah.


" Waalaikumussalam....".

__ADS_1


____________________________________________


jangan lupa dukung penulis ya....


__ADS_2