
Disarankan untuk baca chapter sebelumnya ya
***
" Lo mau ngomongin apa? " Tanya Vanesa yang kini duduk di sofa.
" Aku... mau ngomongin tentang hubungan kita ini " ucap Hasby duduk di samping Vanesa.
" Hubungan?"
" Iya... tentang... rencana pernikahan kita ".
ucapan yang keluar dari mulut Hasby tadi, membuat Vanesa menjadi tersentak, tak mengira kalau pria yang ada di sampingnya ini akan mengucapkan hal itu, Vanesa yang awalnya menilai bahwa Hasby adalah orang yang baik, kini pandangannya mulai berubah.
" Gua kira... lo itu beda dari yang lain, tapi ternyata... Hm! sama aja, dan asal lo tau ya, gua gak akan pernah mau nikahin orang kayak lo! " ucap Vanesa dengan nada tinggi dan berniat pergi.
tapi sebelum dirinya melangkah lebih jauh, Hasby sudah terlebih dahulu memegang tangannya dengan masih dalam posisi duduk.
" Tolong dengerin dulu penjelasan aku... ". ucap Hasby.
" Penjelasan apa sih?! gua udah tau akal busuk lo... dengan cara lo nikahin gua, pasti lu ngemanfaatin kesempatan ini buat dapet dukungan dari ayah kan?! biar lo bisa hidup lebih enak kan?!... ".
" Vanesa... tolong kamu jangan marah dulu, ini gak seperti apa yang kamu pikirin ".
" Emangnya lo mau ngejelasin apa sih?!, mau nerangin tentang lo yang terpaksa karena dapet desakan dari ayah, atau dari ibu supaya kita nikah?! itu penjelasan lo hah?!... ". ucap Vanesa dengan nada tinggi.
" Kalau aku punya niatan kayak gitu... udah dari dulu bakalan di lakonin, pas aku masuk rumah sakit waktu itu, bisa aja aku minta ke ayah buat nikahin kamu sebagai konfesasi... tapi nyata nya enggak kan? ".
mendengar hal ini, Vanesa hanya diam dengan wajah yang terlihat buruk, penjelasan yang diucapkan oleh Hasby memang sangat masuk akal, jika pria yang ada dihadapannya punya niatan buruk, mungkin sudah dari dulu dia lakukan, terlebih Hasby sudah banyak membantu dan menolongnya di saat ia dalam bahaya.
" Ok... sekarang kamu jangan berfikir yang negatif dulu, duduk tenang disini dan dengerin omongan aku sampai selesai, ok? ". ucap Hasby pada Vanesa.
tidak langsung menuruti perkataan Hasby, Vanesa diam beberapa menit untuk mempertimbangkan hal ini, sedikit kecewa karena selama ini ia menilai bahwa Hasby tidak akan pernah membahas pernikahan, tapi kepercayaannya ini hancur setelah dia mengucapkan beberapa kata tadi, namun ia berakhir dengan duduk untuk mendengar penjelasannya.
" Ok, jadi... aku niat nikahin kamu itu bukan karena mau harta dari ayah... bukan buat pamer apalagi buat menuhin nafsu ". ucap Hasby.
" Jadi tujuan lo apa? ".
Hasby mulai menjelaskan pada Vanesa, bahwa dirinya berniat menikahi Vanesa karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, mengingat mereka sudah tinggal dalam satu rumah, tidak jarang jika keduanya akan melihat aurat masing-masing yang seharusnya tidak boleh dilihat satu sama lain, belum lagi di sekitar rumah Hasby banyak orang yang mengetahui tentang keberadaan Vanesa.
jika mereka mengetahui kalau Hasby dan Vanesa tidak memiliki ikatan dan hanya sekedar tunangan saja, bukan tidak mungkin akan menimbulkan fitnah yang tersebar luas.
Hasby juga menjelaskan bahwa pernikahan ini bersifat kontrak. Jangka waktu nikah kontrak antara dirinya dengan Vanesa adalah 3 tahun, salah satu dari mereka bisa memutuskan kontrak dan bisa saja menunggu sampai kontrak nya habis.
" Jadi... apa kamu puas sama penjelasan tadi? ".
" Apa jaminannya dari kata-kata tadi bahwa lo gak ada niatan lain? " kali Vanesa bertanya sambil menatap tajam mata Hasby.
" Aku bisa bikin sumpah ".
" Lo bakalan sumpah demi apa? demi Allah?...heh!, yang ada lo bakalan dosa ".
" Bukan, tapi aku bakalan sumpah demi penyakit ini ". ucap Hasby.
" Apa lo bilang? ".
kaget karena baru sadar dengan apa yang baru saja diucapkan, Hasby merasa ceroboh bahwa ia dengan tidak sengaja telah membocorkan sendiri rahasianya. Sedikit bingung bagaimana cara menjelaskan, tapi mau tak mau dirinya harus membuat alasan yang masuk akal.
" Gua lagi nanya sama lo, kenapa gak jawab? ".
" Aku... bisa... aku bisa bersumpah sama rasa sakit yang bakalan aku alami " ucap Hasby.
" Enggak, enggak, enggak... perasaan tadi lo gak ngomong kayak gitu ".
__ADS_1
" Hm?... apa iya?, perasaan emang kayak gitu deh, mungkin kamu yang salah denger... ".
" Terserah... yang penting lo harus ingat kata-kata lo, awas aja kalau dilanggar, gua gak bakalan segan lagi ".
" Tenang... aku ini pemegang janji kok ".
" Ya... gua pegang omongan lo, dan... gimana rencana kita selanjutnya? " tanya Vanesa.
" Ok, aku rencananya... kita nikah besok ".
" A..apa? besok?! ".
Vanesa tersentak dan bangkit dari duduk, pernikahan ini sudah sangat mendadak bagi dirinya, walaupun hanya nikah kontrak, tapi dirinya masih belum bisa menerima seorang suami besok hari, apalagi suami itu adalah Hasby yang selama ini belum ia kenal sepenuhnya.
" Hasby... walaupun ini pernikahan kontrak, tapi gua gak siap kalau lo jadi suami gua besok ". ucapnya.
" Gak ada pilihan lain Vanesa... kita yang bukan muhrim, tinggal di satu atap yang sama lama-lama itu gak baik, jadi aku mohon kerja samanya ".
Dengan berat hati, Vanesa pun akhirnya menyetujui permintaan Hasby, memang sedikit mendadak, tapi mau bagaimana lagi, jika bukan karena awalnya ia tidak ingin Syam masuk penjara, mungkin sudah dari dulu Vanesa menolaknya.
" Dan satu lagi... ini ada kaitannya sama mata-mata yang selama ini ngintai kita " ujar Hasby.
" Mata-mata? ".
" Iya... ".
Beberapa waktu ini, Hasby sudah mengamati dari awal, sejak kedatangan Vanesa kerumahnya, banyak juga orang yang pindah ke kawasan komplek dekat rumah. Hal yang paling dicurigai oleh hasby dari topi yang mereka pakai ketika sedang lalu lalang di depan rumah, di topi tersebut, terdapat sebuah logo yang bertulisan LT.
bukan hanya itu, ada juga beberapa orang lagi yang memakai logo berbeda, bukan logo yang berada di topi, tapi logo yang mereka tempel ada di baju bagian dada sebelah kanan, sedangkan kelompok lain berada di saku celana dekat lutut.
" Jumlah kelompok yang mata-mata in kita ada 3, satu diantara diutus sama ayah kamu, karena mereka kayak yang lagi ngejagain kita, satu kelompok nyari informasi dan satunya lagi kayak yang punya niat buruk ke keluarga kita ".
" Hm... mungkin satu kelompok dari mereka bener diutus sama ayah, setahu gua... ayah punya bodyguard tersembunyi selama ini, apalagi pernyataan ini diperkuat sama logo yang lo liat itu... ".
Vanesa menerangkan pada Hasby makna logo yang bersimbol LT itu, walaupun hanya samar-samar, ia pernah mendengar bahwa simbol LT adalah singkatan dari kata ' Lits ', yaitu nama marga keluarga nya. Ayahnya pernah sekedar memberitahu, bahwa ia berencana memperbesar kelompok ini.
" Oh iya, kemaren-kemaren gua liat... ada pemuda pake celana dan ada logonya juga di bagian saku, aneh aja sih... buat logo kan bisa di tempat lain, ngapain harus di saku celana coba? " ucap Vanesa.
" Kamu inget gak detail gambarnya? " tanya Hasby.
" Kalau gak salah... gambar bunga teratai deh ".
" Teratai?! ".
mendengar hal ini, Hasby teringat dengan suatu benda yang berhubungan dengan teratai, sedikit mengingat lebih keras karena dirinya belum tentu pasti memiliki benda itu.
" Kenapa? ".
" Kayaknya aku punya benda yang logonya bunga teratai... kamu tunggu sebentar " .
Untuk memastikan, Hasby pun kini menggeledah isi lemarinya. Dan tidak lama kemudian, dia menemukan sebuah bros yang berbentuk bunga teratai.
" Vanesa... coba kamu liat bros ini ".ucap Hasby sambil memberikan benda itu pada Vanesa.
jika dilihat dengan seksama, Vanesa dapat menilai bahwa bros ini bukan barang biasa, detail ukiran dan modelnya sangat langka, apalagi terdapat ukiran bertulisan ' Syah ' dibawah teratai itu.
" Iya Hasby... logonya persis banget kayak bros ini, tapi... kalau boleh tau, ini lo dapet dari mana? ". tanya Vanesa penasaran.
" Ini peninggalan bunda... waktu itu gak tau kenapa dia ngasihnya ke aku, bukannya ke Nafsah... dan katanya sih, bros ini harus dikasih ke calon mantunya ".
" Uhuk... em... kita balik lagi ke topik ".
agak canggung ketika Hasby menceritakan hal ini, Vanesa merasa sedikit malu kala itu, entah kenapa rasa malunya ini datang, tapi jika benar bros ini akan di berikan pada calon mantunya bunda Hasby, otomatis kan bros ini akan diberikan padanya.
__ADS_1
" Jadi... sekarang kita tinggal cari tau identitas kelompok yang ketiga... aku gak tau tentang mereka tapi yang pasti orang dibelakangnya itu adalah orang yang kita kenal ".
" Apa alasan lo yakin banget kalau dalang dari kelompok itu adalah orang yang kita kenal? "
" Gampang aja... emangnya orang mau nyelakain orang yang bukan kenalannya? gak ada kerjaan banget tu manusia ".
" hm... jadi... identitas kelompok ketiga masih jadi tanda tanya? ".
" Ya... tapi kita bakalan segera tau kok, untuk saat ini... mending kamu tidur dulu, udah malem... besok kan harus kuliah ".
" Hm... ".
Hasby kini mengantar Vanesa sampai pintu kamarnya, jika diingat-ingat lagi, Vanesa saat itu baru menyadari bahwa Jordan menyuruhnya untuk berbicara pada Hasby tentang dia yang boleh bekerja di perusahaan mulai besok.
" Hasby, gua__...".
BRAK...
Tapi saat ia berbalik hendak membicarakan hal ini, pintu kamar sudah tertutup rapat dengan suara yang menimbulkan angin kecil, dan alhasil rambu Vanesa sedikit beterbangan.
' Nutup pintu gak usah kenceng-kenceng juga kali... terus... mungkin nanti aja ngasih tau nya lah ' batin Vanesa sambil beranjak pergi.
disaat yang bersamaan, Hasby nampak masih ada dibalik pintu, dengan nafas lega ia bersyukur karena malam ini penyakitnya tidak kambuh lebih awal.
" Huf...Hah.... untung aja penyakit gua gak kambuh pas Vanesa ada, terus ni mulut ngapain pake keceplosan sih? kalau sampe ketauan kan bisa berabe... ". ucap Hasby yang teringat dengan kata-kata nya.
***
setelah keluar dari kamar Hasby, saat ini Vanesa berniat untuk kembali ke kamarnya, tapi saat hendak ke sana, ia melihat bahwa Ardi, Nafsah dan Firdan masih berbincang. Tapi anehnya, ketika mereka melihat keberadaan Vanesa, ketiganya seolah menghentikan pembicaraan dan memusatkan perhatiannya pada Vanesa.
" Eh, kak Vanesa... hm... kalian udah ngombrolnya ya? " tanya Nafsah.
" Ya... kita udah selesai, dan... kalian bertiga belum tidur? " tanya Vanesa dengan wajah datarnya.
" Oh, ini... kita lagi bahas tentang kerjaan sekolah aku kak, kebetulan ada yang aku gak ngerti, jadi... nanya ke mereka deh ".
" Seingat aku... kalian ini beda jurusan kan? ".
mendengar hal ini, Nafsah kala itu merasa bingung bagaimana menjelsakannya. " Em... ini....".
" Ya udah, kamu semangat belajarnya, jangan tidur terlalu malem... gak baik " ucap Vanesa yang setelah itu ia pun beranjak ke kamarnya.
tapi saat sebelum ia menutup rapat pintu kamar, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Nafsah dan kedua temannya itu.
" Hah... untung aja kak Vanesa gak curiga, terus dia tadi gak denger omongan kita kan? " tanya Nafsah pada Ardi dan Firdan.
" Enggak, dia datang pas kita udah selesai diskusi " Jawab Firdan.
" Ok... mungkin kita ngobrolnya sampai sini aja, sekarang juga udah malem... gak baik juga buat kamu Naf " ucap Ardi.
" Ya udah... makasih karena kalian udah buat usulan ini, nanti aku omongin sama kak Hasby biar dia temuin dokternya ". ucap Nafsah.
setelah kalimat tadi keluar dari mulutnya, Nafsah, Firdan dan Ardi pun bubar beranjak ke kamar mereka. Sedikit heran bagi Vanesa, buat apa Hasby menemui dokter, apakah dia sedang sakit? atau ada sesuatu yang disembunyikannya selama ini?, saat itu hanyalah ini yang ada dipikiran Vanesa.
' Kalau dipikir-pikir... waktu itu gua liat Hasby pernah batuk darah, apa selama ini dia sakit?... ' Batin Vanesa.
______________________________
Halo gaess...
selamat datang di bulan yang penuh berkah ini, aku secara pribadi minta maaf yang sebesar-besarnya pada kalian, baik dari ucapan mau di ketikan...
buat chapter kali ini, maaf karena up nya lama lagi, dan semoga Ramadhan kali ini, menjadi Ramadhan yang lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya.
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankan ya...
jumpa di chapter selanjutnya