Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
23# Dokter Rafa


__ADS_3

ketika Vanesa sedang tertawa melihat Hasby yang bicaranya gelagapan dan wajahnya yang memerah, datang seseorang membuka pintu ruangan tersebut, orang itu adalah laki-laki, wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh Masker dan tinggi badannya cukup ideal, tapi kalau dibandingkan dengan Hasby, laki-laki itu terbilang lebih rendah darinya.


saat laki-laki itu menyadari Vanesa dan Hasby sedang berduaan, ia sedikit merasa canggung, apalagi sekarang Vanesa dan Hasby sudah menyadari keberadaannya dan suasana saat itu menjadi hening.


" Em...maaf kalau mengganggu...mending saya balik lagi aja..." ucap laki-laki itu yang bersiap kembali, namun di cegah oleh Vanesa.


" eh, mas...kalau ada perlu masuk aja...saya gak keberatan kok..." ucap Vanesa yang kini kembali berbicara dengan nada dan wajah yang datar.


" kalau begitu saya masuk..."


laki-laki itu kemudian masuk ke ruangan dimana Vanesa dan Hasby berada, saat sudah mulai mendekat, Vanesa dan Hasby baru menyadari bahwa laki-laki itu adalah seorang dokter, karena terlihat jelas pakaian yang ia kenakan khusus dipakai untuk dokter.


" Loh...Hasby?!..."


mendengar dokter itu mengenal Hasby, Vanesa sedikit heran dan mulai penasaran, padahal mereka baru pertama kali bertemu dalam sepengetahuannya, bukan hanya Vanesa yang bingung, Hasby sendiri juga merasa heran, sampai saat ini ia tidak pernah merasa mempunyai kenalan seorang dokter, tapi...lama-kelamaan ada seseorang yang terlintas dibenaknya saat ini, tapi untuk memastikan, ia lebih dahulu bertanya padanya.


" Maaf...dokter kenal saya?..." ucap Hasby.


" Ya Allah, Hasby...ini gua...masa lo gak kenal sih?..." ucapnya.


" Tapi boleh gak dokter lepas dulu maskernya?... kalau udah di buka mungkin aja saya kenal..." ujar Hasby.


dokter itu kemudian menyadari bahwa dirinya belum membuka masker sedari tadi, dan langsung membukanya saat Hasby memintanya.


wajah pria tampan kini terlihat setelah masker itu terbuka, saat itu juga Hasby langsung mengenali dokter yang ada dihadapannya, bukan hanya pernah bertemu, tapi orang yang ada dihadapannya ini adalah orang yang sering ia jumpai ketika pergi kontrol ke rumah sakit.


" Kak Rafa?!..." ucapnya


" Baru kenal?...kenapa gak dari tadi nyadarnya?..." ucap Dokter itu yang diketahui namanya sebagai Rafa.


" Maaf...gua kan gak tau, lagian kenapa lo pake masker segala?..." ucap Hasby.


" cuma prioritas aja...dan ngomong-ngomong kenapa pala lo diperban?..." tanya Rafa.

__ADS_1


" Cuma luka dikit..."


" Luka?!..."


mendengar Hasby mengatakan bahwa kepalanya terluka, Rafa langsung saja memeriksa luka tersebut, Vanesa yang melihat Hal itu menjadi sedikit khawatir, terlihat jelas dari wajah paniknya Rafa ketika memeriksa kepala Hasby, mungkin saja luka yang dialami Hasby cukup serius.


setelah memeriksa sekitar lima menit, Rafa menghela nafas lega, sejak mendengar kepala Hasby terluka, ia merasa sangat panik, bukan karena lukanya melainkan menghawatirkan tentang tumor yang berada di kepala Hasby.


orang yang memiliki tumor di kepala sangat sensitif terhadap pukulan di daerah tersebut, untung saja luka yang Hasby dapatnya terdapat di bagian leher atas, kalau saja luka itu sedikit lebih ke atas lagi, mungkin saja Hasby akan mengalami pendarahan.


" pyuh...untung aja luka lo bawahan dikit, kalau aja lebih ke atas lagi...bisa gawat nantinya..." ucap Rafa.


mendengar penjelasan Rafa, Vanesa sedikit lega saat itu, tapi ada sedikit kalimat yang Vanesa tidak di mengerti dan kemudian menanyakannya pada Rafa.


" Maaf dokter, saya mau nanya...memangnya kenapa kalau letak pukulan itu agak atas? apa bakalan fatal?" tanya Vanesa.


" Pasti nona...kemungkinan Hasby bakalan ngalamin pendarahan..." ucap Rafa.


" hah?! separah itu? memangnya kenapa?..."


sebelum Rafa menyelesaikan kata-kata yang ia ucapkan, Hasby lebih dahulu membungkam mulut Rafa sambil merangkul lehernya hingga tubuhnya terbungkuk sejajar dengan Hasby yang posisinya kali ini sedang duduk.


melihat Hasby melakukan itu pada dokter yang memeriksanya, Vanesa cukup penasaran antara hubungan keduanya yang terlihat begitu dekat.


" kalau boleh gua tau...kalian ini temen bukan?... kayaknya lo deket banget sama dokter ini..." ucap Vanesa.


" Ini nona...dia ini senior saya, dia udah lulus S1 tahun lalu dan sekarang kerja jadi dokter magang..." ucap Hasby yang masih membungkam mulut Rafa.


Rafa saat itu mulai meronta dan melepaskan diri dari rangkulan tangan Hasby yang berada di lehernya, sedikit susah untuk melakukan hal itu, karena stamina yang Hasby gunakan sedikit besar, namun Rafa berhasil lolos beberapa saat setelah itu.


" Lo apa-apaan sih?!... gua bisa mati kalau gak bisa ngehirup udara tau!..." ucap Rafa dengan nada kesal.


" Maaf, lagian lo hampir keceplosan tadi..." ucap Hasby yang kini membalas dengan tatapan sinis.

__ADS_1


" Iya, gua kan gak sengaja...sekiranya dong jangan nyampe kayak gitu juga kali...".


setelah Rafa merapikan pakaiannya, ia baru menyadari bahwa Vanesa sudah berada di ruangan ini sejak awal, bahkan Vanesa juga sempat bertanya padanya.


" Emh...nona, maaf tadi saya kurang sopan, ngomong-ngomong nona ini siapanya Hasby ya?..." tanya Rafa pada Vanesa.


" Saya majikannya...dan dia ini supir saya..." ucap Vanesa dengan nada datar.


Hasby kini memandang Vanesa sejenak sebelum melirik ke arah Rafa yang sama-sama meliriknya, ia sebenarnya sedikit heran dengan perubahan sikap Vanesa yang ekstrim.


beberapa saat lalu, dia terlihat perhatian walau terkesan dingin dan sesekali bisa tersenyum. Namun saat ini, kepribadian yang selalu membuat Hasby merasa jengkel dan kesal kembali lagi, walaupun tidak sejutek waktu itu, tapi dia kembali bersikap dingin sebagai seorang majikan.


" Kalau boleh...perkenalkan, nama saya Rafa... seniornya Hasby..." ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Vanesa tidak menyambut tangan Rafa dan hanya menyebutkan namanya dengan singkat.


" Vanesa...."


karena uluran tangannya tidak disambut, Rafa kemudian menarik kembali tangannya, sebenarnya Ia merasa kagum akan kecantikan yang Vanesa miliki, namun sayangnya wanita yang ada di sampingnya ini sangat dingin dan juga jutek, sehingga membuat laki-laki yang berada didekatnya akan merasa segan untuk menggodanya.


setelah kejadian itu, Vanesa kini memberitahu Hasby bahwa dirinya akan menginap di hotel, kebetulan hotel tersebut berada di samping rumah sakit, jadi ia akan mudah untuk menjenguk Hasby.


" gua bakalan balik lagi nanti malem, dan...mohon dokter jaga dia..." ucapnya.


" Tenang aja nona, saya bakalan jaga Hasby, karena__..." . sebelum Rafa menyelesaikan kata-katanya, Vanesa sudah lebih dahulu berbalik badan meninggalkan Rafa dan Hasby yang berada di ruangan.


" hah....dia itu kayak es batu aja ya...dingin banget..." ucap Rafa yang menghela nafas.


" Hahaha...baru juga segitu, gua lebih parah dari lo..." ucap Hasby sambil tertawa kecil.


" Iya...gua salut sama lo, kebayang gimana tiap hari bakalan ketemu sama cewek es kayak gitu" ucap Rafa.


Hasby dan Rafa saat itu saling mengobrol satu sama lain, mereka sudah seperti sahabat yang baru bertemu kembali, Rafa juga merupakan salah satu teman baik Hasby.

__ADS_1


Walaupun Rafa ermasuk seniornya, namun dia memperlakukan Hasby seperti orang yang setara. Teman Hasby ini merupakan anak tunggal dari dokter terkenal di kota ini, nama ayahnya bernama Haris, sedangkan ibunya bernama Ziara, keduanya memiliki frovesi yang sama, yaitu seorang dokter, dan frovesi yang Rafa jalani sekarang, karena mengikuti jejak orang tuanya.


Hasby dan Rafa terus saja mengobrol, dan pada saat yang bersamaan, ada seorang wanita yang sedang khawatir dengan keadaan Hasby.


__ADS_2